
Setelah mengirimkan kepala pelayan yang menyerang istrinya dan surat ancaman untuk Ming Huan, Bai Cheung melangkahkan kakinya menuju ruang doa.
Madam Chou yang melihat Bai Cheung memasuki ruang doa tersenyum sinis sambil berkata “ Apakah kau kesini untuk membunuhku ?....”.
Mendengar hal tersebut, Bai Cheung hanya menatap kakak iparnya itu dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.
Ingin rasanya dia menghabisi kakak iparnya itu saat ini juga. Tapi mengingat jika kematian adalah hukuman paling ringan, Bai Cheung pun mengurungkan niatnya.
“ Tidak…kematian terlalu mudah bagimu….”, ucap Bai Cheung tenang.
“ Kepala salah satu pelayanmu sudah aku kirim ke kediaman Ming. Dan setelah ini kamu bisa menikmati satu persatu keluargamu hancur ditanganku….”, ucap Bai Cheung dengan smirk devilnya.
“ Tidak !!!...kau tak bisa melakukan semua itu !!!....”, teriak madam Chou frustasi.
Meski dia bekerja sama dengan ayahnya dalam rencananya kali ini, tapi dia tak akan pernah rela keluarga besarnya dihancurkan begitu saja oleh Bai Cheung.
“ Ini semua adalah kesalahan gadis busuk itu !!!...Jika suamiku tahu, dia pasti akan membelaku dan menyalahkanmu…”, ucap madam Chou penuh amarah.
“ Benarkah ?...aku rasa, jika kakak sampai tahu masalah ini…apa kau tak takut kakakku akan menceraikanmu. Apalagi sekarang kamu sudah tak bisa hamil lagi, tidak ada anak laki – laki dalam keluarga pertama bukankah itu suatu kerugian yang besar untuk kakakku….”, ucap Bai Cheung penuh provokasi.
Mendengar ucapan Bai Cheung, madam Chou semakin terlihat frustasi dibuatnya. Diapun berteriak dan mulai melemparkan semua benda yang bisa digapainya hingga ruang doa menjadi hancur berantakan.
Melihat tujuannya sudah tercapai, Bai Cheung pun segera pergi dan menyuruh Liam untuk menjalankan rencana selanjutnya.
Pelayan senior Yu yang baru saja mendapatkan laporan dari salah satu pelayan yang mendengar suara gaduh dari ruang doa segera menuju tempat dimana madam Chou menjalani hukuman.
“ Apa lagi yang dilakukan oleh wanita gila ini ?...apa dia tak cukup membuat masalah dikediaman Bai…”, batin pelayan senior Yu terbelalak.
Tak ingin salah melangkah, pelayan senior Yu segera melaporkan kejadian yang ada dalam ruang doa kepada matriark Bai.
“ Chao !!!...hentikan kegilaanmu sekarang juga !!!...”, teriak matriark Bai begitu tiba didalam ruang doa.
Namun teriakan matriark Bia tersebut tidak dihiraukan oleh madam Chou yang terus berusaha membanting apa saja benda yang ada didalam sana.
Keributan tersebut tentu saja memancing banyak orang untuk melihat, terutama kedua putrinya yang memang sengaja datang untuk menjenguk ibundanya diruang doa.
Kegilaan madam Chou terus berlanjut, bahkan dia tak segan – segan untuk mendorong tubuh little Fen hingga tersungkur kelantai waktu putri pertamanya itu hendak memeluknya untuk menenangkannya.
__ADS_1
“ Little Fen !!!....”, teriak Lien Hua terkejut.
Melihat cucu pertamanya terluka dan cucu keduanya menangis ketakutan, Lien Huan pun segera membawa mereka berdua ke kediaman utama bersama dengannya.
Untuk sementara waktu keduanya akan dirawat oleh Lien Hua hingga ayah mereka Bai Axiang kembali ke ibukota.
Melihat madam Chou sudah tak bisa dikendalikan lagi, matriatrk Bai segera menyuruh para pengawal untuk menyeret cucu menantu perempuan pertamanya itu ke banggunan tua yang ada dibelakang kediaman Bai.
Di dalam banggunan tua yang tak layak tersebut kaki dan tangan madam Chou dirantai agar tidak mengamuk dan menimbulkan masalah.
“ Kalian, jaga dia baik – baik disini !!!....”, perintah matriark Bai tajam.
Kedua pengawal yang ditunjuk segera menjalankan tugasnya, sementara itu semua pelayan dan yang lainnya segera bergegas kembali ke kediaman mereka masing – masing.
Termasuk Fan Jianying yang menonton pertunjukan tersebut dari kejauhan sambil tersenyum penuh kemenangan.
“ Ternyata mentalnya sangat lemah, tak sebanding dengan keberaniannya untuk membunuhku…”, guman Fan Jianying sinis.
“ Apakah istri puas dengan apa yang suami lakukan ?....”, ucap Bai Cheung sambil memeluk istrinya dari belakang.
Meski pada awalnya Fan Jianying sama sekali tak ada permusuhan dengan kepala keluarga Ming itu, tapi melihat dia dengan rela hati membantu kejahatan putrinya maka sekarang lelaki tua tersebut sudah masuk kedalam buku hitamnya.
“ Istri tenang saja, suami akan membereskan masalah keluarga Ming hingga ke akar – akarnya…”, janji Bai Cheung sambil mengusap perut istrinya dengan penuh kasih sayang.
Keduanya segera kembali ke kediaman diikuti oleh para pelayan yang ada dibelakang mereka. Malam ini, setidaknya Fan Jianying bisa tertidur nyenyak melihat mental madam Chou sudah mulai terganggu.
Sementara itu, di Chaotin palace, putra mahkota yang menerima laporan dari anak buahnya jika ada seseorang yang ingin membunuh Fan Jianying terlihat sangat murka.
“ Ming Huan !!!….dia lagi !!!!....”, ucap putra Qin Shi Huang geram.
Kepala keluarga Ming tersebut sudah lama menjadi incaran putra mahkota Qin Shi Huang, namun sayangnya ayahanda Kaisar masih sering membelanya karena dianggap kontribusinya masih diperlukan untuk negara.
Namun sekarang setelah ayahandanya mengetahui jika Ming Huan ingin berniat membunuh Fan Jianying, apakah kaisar Huang akan tetap membelanya seperti biasa.
Celah inilah yang akan dia masuki untuk menyingkirkan pengaruh Ming Huan kepada kaisar Huang.
“ Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui….”, batin putra mahkota Qin Shi Huang tersenyum lebar.
__ADS_1
Jika dia bisa menyingkirkan pengaruh Ming Huan maka secara otomatis kekuatan pangeran Song Yu akan sedikit berkurang.
Meski Ming Huan diluar terlihat netral dan tak memihak siapapun sehingga kaisar Huang sering menanyakan pendapat kepadanya.
Tapi ternyata, diam – diam ketua keluarga Ming tersebut menjalin hubungan dengan Ratu Qinly agar bisa mendukung putranya pangeran Song Yu dalam perebutan kursi kekuasaan.
Dalam diam, putra mahkota Qin Shi Huang mulai menyusun rencana bagaimana caranya agar ayahanda kaisar mengetahui perbuatan Ming Huan dan madam Chou kepada Fan Jianying.
“ Tidak mungkin memberi tahukan kepada ayahanda kaisar secara langsung, karena itu akan membuatnya curiga….”, batin putra mahkota Qin Shi Huang resah.
Tiba – tiba dia memiliki ide waktu melihat ibunda permaisuri Wei sedang berjalan menuju kolam angsa disamping Chaotian palace.
“ Apa ?!!!...lalu, bagaimana kondisi Fan’er sekarang ?...”, tanya putra mahkota Qin Shi Huang cemas.
Pengawal bayangan miliknya yang sudah di kode oleh putra mahkota Qin Shi Huang segera mengulang kembali apa yang telah dilaporkannya tadi mengenai peristiwa yang menimpah Fan Jianying.
Permaisuri Wei yang tak sengaja mendengar pembicaraan antara putra mahkota Qin Shi Huang dengan bawahannya terlihat sangat syok.
“ Terus awasi pergerakan madam Chou dan Ming Huan, laporkan segera begitu ada pergerakan yang mencurigakan….”, perintah putra mahkota Qin Shi Huang tegas.
“ Dimengerti….”, pengawal bayangan tersebut segera menghilang begitu putra mahkota Qin Shi Huang selesai memberi perintah.
Melihat upayanya sudah berhasil, putra mahkota Qin Shi Huang pun meninggalkan tempat dan kembali ke kediamannya.
Permaisuri Wei yang masih syok mendengar jika Ming Huan ingin membunuh putrinya segera mengutus seseorang untuk mencari informasi di kediaman Bai.
Dibantu dua pelayan pribadinya, permaisuri Wei pun kembali ke Heluo Palace dengan tubuh bergetar.
“ Tidak !!!...kali ini aku tidak akan membiarkan siapapun melukai Fan’er….”, batin permaisuri Wei geram.
Tidak perlu menunggu waktu yang lama, orang milik permaisuri Wei sudah menghadap kepadanya dan melaporkan semua kejadian yang terjadi di kediaman Bai.
“ Aku harus segera melaporkan semuanya kepada Yang Mulia Kaisar sekarang juga !!!....”, batin permaisuri Wei penuh amarah.
Permaisuri Wei segera melangkah pergi menuju raung kerja kaisar Huang dengan tergesa - gesa untuk melaporkan semua kejadian yang menimpah putri bungsunya itu.
Dia berharap agar suaminya itu mau membujuk Fan Jianying untuk tinggal didalam istana agar dia bisa menjaga anak dan calon cucunya disini.
__ADS_1