
Siang hari saat cuaca cerah, Fan Jianying mengajak Binwen berkeliling untuk melihat beberapa sarang hewan mutasi yang sudah dibersihkan guna memastikan bahwa semuanya telah musnah.
Setelah memastikan semuanya telah bersih dan tak ada jejak mencurigakan lainnya, Fan Jianying pun segera menyiramkan cairan racun disepanjang tembok perbatasan wilayah bagian timur Huangshan agar tidak ada hewan aneh lagi yang bisa menyelinap masuk kedalam kawasan kamp militer pasukan Huangshan tanpa terdeteksi.
Selain itu, dia juga meninggalkan semua peralatan perang untuk mengatasi hewan mutasi jika nantinya ada hal yang sama terjadi.
Bukan hanya itu saja, Fan Jianying juga meninggalkan beberapa botol racun kepada jenderal besar Tian agar bisa digunakan untuk melumuri senjata para prajurit pada saat mereka berperang dan menghadapi gerombolan pemberontak yang entah kapan akan kembali menyerang.
Bai Cheung tersenyum bangga dengan semua tindakan pencegahan yang telah dibuat oleh istrinya sebelum meninggalkan kamp militer pasukan Huangshan.
Rasa cinta dalam diri Bai Cheung untuk Fan Jianying bertambah subur dan bermekaran setiap harinya.
Setelah semuanya beres, semua orang terlihat sudah berada diatas kudanya masing – masing agar bisa sampai di pegunungan Weixi lebih cepat dan meminimalisir kecurigaan beberapa pihak jika mereka pergi dengan menggunakan kereta kuda.
Hanya butuh waktu satu hari saja semua orang sudah berada di kaki pegunungan Weixi dan langsung naik menuju dimana paviliun Huangwe berada.
Didepan gerbang pavilun, terlihat Heyna dan tabib Shilin sudah menunggu kedatangan madam muda ketiga Bai tersebut setelah Guang yang menunggu mereka di kaki gunung memberi kabar.
Senyum lebar merekah di wajah Heyna begitu melihat gerombolan pasukan berkuda mendekat kearah pintu gerbang.
Begitu Fan Jianying turun dari kuda, Heyna segera memeluk madam ketiga Bai tersebut sambil berurai air mata.
Dia sangat rindu dan ketakutan karena beberapa kali terjebak dengan situasi rumit disini. Terutama waktu Fan Shaosheng menjenguknya.
Aksinya hampir saja terbongkar, tapi untungnya kecerdikan tabib Shilin berhasil menyelamatkannya.
“ Nyonya…akhirnya anda kembali dengan selamat…”, ucap Heyna sesenggukan.
Hira yang berada dibelakang tubuh Fan Jianying juga tak bisa menahan rasa harunya melihat kakak kembarnya menangis dalam pelukan madam ketiga Bai.
“ Kakak…apa kau tak merindukanku ?...”, tanya Hira sedih.
Mendengar suara yang sangat familier ditelinganya, Heyna buru – buru melepaskan pelukannya ke tubuh Fan Jianying dan berganti memeluk erat adik kembarnya sambil berderai air mata.
“ Adik….aku sangat merindukanmu….kamu tidak tahu apa saja yang aku alami disini…”,ucap Heyna mengadu sambil berderai air mata.
Semua orang pun mulai masuk kedalam paviliun dan membiarkan dua saudara kembar tersebut saling melepas rindu.
Meski saat ini hati Tabib Shilin sudah berlabuh kepada Heyna, tapi dia masih tidak senang waktu melihat Bai Cheung datang bersama Fan Jianying.
Dirinya merasa sangat geram waktu melihat Bai Cheung selalu mengekori dan menempel seperti permen karet kepada Fan Jianying, seakan dia akan mati jika sampai terpisah dengan istrinya.
“ Apa yang aku bilang..... Lihat tingkahnya, begitu menjijikkan bukan ?..…”, ucap Aiguo mencemoh.
Awalnya tabib Shilin tak percaya dengan cerita Aiguo kepadanya dan hanya menganggap hal tersebut hanyalah bualan pemuda itu saja.
Tapi sekarang dia melihat dengan kedua matanya sendiri, tabib Shilin merasa tak terima dengan fakta yang didapatkannya itu.
Bagaimana bisa Fan Jianying memaafkan suaminya itu dengan mudah setelah semua perbuatan buruk yang dilakukan oleh laki – laki itu kepadanya.
Sambil melepas rindu, Heyna mengajak adik kembarnya menuju kearah dapur untuk menyiapkan makanan bagi semua orang.
__ADS_1
Dia memasak sambil menceritakan semua kejadian yang ada di paviliun pasca kepergian manad muda ketiga Bai.
Hira akan menunjukkan ekpresi simpati ketika kakak kembarnya itu ketakutan setiap kali ada yang datang menjenguk.
Takut jika ada seseorang yang menyadari dan membongkar penyamarannya serta menimbulkan masalah bagi madam muda ketiga Bai.
Begitu makanan telah matang, dua saudara kembar tersebut dibantu beberapa orang pengawal segera menata apik hidangan tersebut diatas meja dan segera memanggil semua orang untuk makan.
Bai Cheung terus saja mengenggam tangan sang istri dengan erat, bahkan saat duduk pun tangan Fan Jianying tetap dipegangnya, seoalah dia takut istrinya itu akan pergi jika tangannya terlepas.
Dia tak menghiraukan tatapan aneh semua orang terhadapnya, terutama tiga pemuda yang sedari tadi menatapnya tajam.
Kemesraan terus saja ditunjukkan oleh Bai Cheung kepada semua orang. Bukan hanya mengambilkan lauk buat istrinya, dia bahkan juga mengelap sudut mulut Fan Jianying saat istrinya tersebut belepotan saat makan.
Beberapakali Heyna terlihat hampir tersedak waktu tuan muda ketiganya itu menunjukkan kemesraan dengan istrinya di muka umum.
Dia juga terlihat beberapa kali berbisik kepada adik kembarnya hanya sekedar menanyakan apakah tuan mudanya itu salah minum obat atau kepalanya terantuk benda tajam hingga menyebabkan otaknya bergeser seperti itu.
Hira menanggapi pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh kakak kembarnya itu dengan senyuman.
“ Nanti akan aku ceritakan semuanya…”, bisik Hira sambil tersenyum.
Heyna pun segera menghabiskan makanannya karena tak sabar ingin segera mendengar cerita dari adik kembarnya mengenai perubahan mencolok Bai Cheung.
Liam yang duduk tak jauh dari dua saudara kembar itu tak sabar ingin segera kembali ke kediaman Bai.
Dia ingin melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah nyonya pertama Bai dan matriark Bai begitu melihat perubahan Bai Cheung yang signifikan tersebut.
Sesuai dugaannya, begitu Heng Yuan memberi kabar jika jenderal besar Tian berhasil melakukan perjanjian genjatan senjata dengan kaisar Muzeng.
Ratu Qilin dan pangeran kedua Song Yu akan bergerak cepat dalam menjalankan semua rencana yang sudah mereka susun dengan baik tersebut.
Karena terlalu terburu – buru dalam bertindak, tanpa sadar mereka meninggalkan banyak celah yang bisa digunakan oleh pangeran keempat Wei Jie dan putra mahkota Qin Shi Huang untuk mengagalkan aksi tersebut.
Melihat istrinya terlihat lelah, Bai Cheung pun secarah sepihak menghentikan diskusi malam itu karena merasa jika hal penting yang akan mereka lakukan sudah dibahas semuanya.
Fan Jianying yang memang merasa lelah hanya bisa mengikuti saran suaminya dan kembali kedalam kamar untuk beristirahat.
Didalam kamar, saat Bai Cheung melihat istrinya berbaring di atas ranjang sambil memegangi kepalanya, dengan sigap diapun segera membaringkan kepala Fan Jianying di atas pahanya dan mulai memijit lembut pelipis sang istri.
Fan Jianying terlihat menikmati pijatan lembut yang diberikan oleh suaminya itu. Pening dikepalanya perlahan mulai menghilang.
“ Bagaimana, apa sudah lebih baik ?....”, tanya Bai Cheung lembut.
Fan Jianying hanya mengangguk sambil tersenyum, membuat hati Bai Cheung meleleh dibuatnya.
“ Aku buatkan air jahe agar tubuhmu kembali hangat…”, ucap Bai Cheung sambil berdiri kikuk.
Melihat telinga suaminya memerah, Fan Jianying tak bisa menyembunyikan senyumannya dan menatap suaminya yang terlihat berjalan cepat keluar dari dalam kamar.
Heyna yang melihat Bai Cheung berjalan kearah dapur menaikkan satu alisnya heran dan berjalan cepat untuk menyusul tuan mudanya itu.
__ADS_1
“ Apa ada yang bisa saya bantu tuan ?....”, tanya Heyna sopan.
“ Jahe…mana jahe….”, tanya Bai Cheung sambil membuka beberapa kotak penyimpanan bumbu dapur.
Heyna pun segera mengambil beberapa ruas jahe dan memberikannya kepada Bai Cheung. Waktu dia hendak membantu, tuan mudanya itu segera menyuruhnya untuk pergi.
“ Kamu cepat beristirahat di kamar, besok perjalanan kita masih panjang….”, usir Bai Cheung secara halus.
“ Tap…..tapi tuan….”, belum sempat Heyna menyelesaikan ucapannya, tubuhnya sudah didorong kasar oleh Bai Cheung keluar dari dapur hingga hampir jatuh.
Untung saja Liam datang tepat waktu hingga mampu menangkap tubuh Heyna sebelum mencium lantai.
“ Sudahlah…kamu biarkan saja. Tuan muda ingin membuatkan minuman itu untuk nyonya…”, ucap Liam sambil menarik tangan Heyna agar gadis itu menjauh dari dapur.
Bai Cheung yang sejak kecil sudah terbiasa membuatkan jahe panas untuk sang ibunda setiap kali batuknya mendera, tak kesulitan untuk membuat minuman hangat tersebut untuk istrinya.
Setelah semua selesai, diapun segera membawa nampan berisi air jahe hangat masuk kedalam kamar.
Fan Jianying yang terlihat masih berbaring sambil membaca buku pengobatan tingkat lanjut yang diberikan oleh tabib Shilin tadi kepadanya, sedikit mengangkat kepala waktu mendengar suara pintu kamar terbuka.
“ Minumlah selagi hangat…”, ucap Bai Cheung sambil meletakkan cangkir diatas meja.
Dia kemudian membantu istrinya untuk bangun dan menemaninya menikmati jahe panas yang telah dibuatnya bersama kue jahe kiriman ibundanya.
“ Hmmm….sangat pas…”, batin Fan Jianying puas dengan rasa wedang jahe buatan suaminya itu.
Bai Cheung terlihat puas waktu melihat senyum merekah diwajah istrinya setelah selesai meminum seteguk jahe hangat buatannya.
“ Cobalah…ini kue jahe kesukaanku…”, ucap Bai Cheung sambil menyodorkan kue berbentuk lonjong kepada istrinya.
Fan Jianying sedikit ragu untuk mengambil kue jelek tersebut. Tak ingin membuat suaminya kecewa, dengan berat hati diapun mulai mengambil satu potong kue dan memasukkannya sedikit kedalam mulutnya.
Kue yang tak beraturan dengan aroma jahe yang menyengat tersebut perlahan masuk kedalam mulut Fan Jianying.
Sedetik kemudian, kedua mata gadis itu mulai berbinar terang waktu merasa jika kue jahe yang baru saja dimakannya itu sangatlah lezat.
Diapun segera menghabiskan semua potongan yang ada ditangannya dan kembali mengambil satu potong begitu kue dalam mulutnya telah habis.
“ Pelan – pelan makannya…aku tak akan merebutnya darimu….”, ucap Bai Cheung sambil mengusap remah kue yang tertinggal di sudut bibir istrinya dengan lembut.
“ Ini sangat lezat….dimana kamu membelinya ?….”, tanya Fan Jianying antusias dengan mulut penuh kue.
“ Jika kamu suka, aku akan minta ibunda membuatkan banyak untukmu nanti jika kita sudah sampai dikediaman….”, ucap Bai Cheng sambil terkekeh.
Mendengar jika ibu mertuanya bisa membuat kue jahe selezat itu, ide bisnis dalam kepala Fan Jianying pun mulai keluar.
“ Jika aku bisa mendapatkan resep kue ini dari ibunda dan membuat bentuknya cantik, tentunya akan menjadi varian best seller di restoran….”, batin Fan Jianying penuh semangat.
Dia tersenyum lebar waktu membayangkan berapa banyak pundi – pundi uang yang akan dia dapatkan jika berhasil membuat varian kue jahe tersebut.
Hati Bai Cheung menghangat waktu melihat raut bahagia di wajah istri kecilnya itu karena minuman jahe buatannya dan kue buatan ibundanya.
__ADS_1
Dalam hati, Bai Cheung bertekad untuk terus menjaga senyum bahagia tersebut diwajah istrinya bagaimanapun caranya.