CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
CEKCOK


__ADS_3

Melihat suaminya berjalan menuju kearahnya tergesa – gesa dengan wajah penuh amarah, Fan Jianying pun menatap putra mahkota Qin Shi Huang dengan kesal.


“ Lihatlah kak…kamu membangunkan harimau yang sedang tertidur….”, ucap Fan Jianying sarat akan sindiran.


Melihat Fan Jianying marah dengan pipi menggelembung, putra mahkota Qin Shu Huang bukannya merasa bersalah dengan sang adik malah terkekeh membuat fan Jianying semakin kesal dibuatnya.


“ Andai saja ini bukan dikediaman Bai….”, batin putra mahkota Qin Shu Huang gemas.


Ingin rasanya putra mahkota Qin Shi Huang mencubit dua pipi Fan Jianying yang cubby dan hidung munggilnya yang kembang kempis menahan amarah saat ini juga.


Namun sayangnya hal tersebut tak bisa dia lakukan jika tidak ingin dilempar oleh sang adik keluar dari dalam kediamanannya.


Yang bisa putra mahkota Qin Shi Huang lakukan hanyalah menatap adik seayah itu dengan lembut dan penuh cinta.


Melihat tatapan hangat putra mahkota Qin Shi Huang kepada sang istri, Bai Cheung pun semakin mempercepat langkah kakinya hingga membuat pangeran Wei Jie harus berlari kecil untuk mengejar ketertinggalannya.


Begitu tiba, Bai Cheung langsung berdiri disamping sang istri dan menatap tajam kearah putra mahkota Qin Shi Huang yang ada dihadapannya dengan penuh teguran.


“ Sebaiknya Anda menjaga pandangan Anda Yang Mulia !!!....”, ucap Bai Cheung dengan nada rendah dan penuh penekanan.


Melihat suaminya marah, Fan Jianyingpun bangkit dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Bai Cheung yang wajahnya memerah menahan amarah.


“ Tenanglah….kakak hanya mengodamu tadi….”, ucap Fan Jianying lembut sambil mengelus dada suaminya berulang kali.


Satu tangan putra mahkota Qin Shi Huang yang berada dibawah meja mengepal dengan kuat hingga buku – buku jarinya memutih menahan rasa cemburu melihat gadis yang dicintainya bermesraan dengan suaminya.


Meski begitu, raut wajah putra mahkota Qin Shi Huang sama sekali tak  berubah, tetap ceria seperti sebelumnya padahal darah dalam tubuhnya sudah mulai mendidih.


Bai Cheung yang mendapatkan sentuhan lembut dari istrinya perlahan mulai menghilangkan rasa cemburu yang tadi singgah dihatinya.


Diapun langsung mendekap tubuh istrinya dalam pelukannya sambil tersenyum mengejek kepada putra mahkota Qin Shi Huang yang wajahnya masih ceria tanpa ada sedikitpun riak kecemburuan disana.


“ Kekanak – kanakan….”, guman putra mahkota Qin Shu Huang mencemoh.


Bai Cheung tak perduli dengan sindiran yang diberikan oleh kakak iparnya itu dan semakin menempel erat di tubuh sang istri seakan memberitahukan bahwa Fan Jianying adalah miliknya seorang.


Melihat suasana semakin tegang, pangeran Wei Jie pun segera memerintahkan Zoelu untuk mengambilkan sekendi arak yang tadi sempat dibawanya didalam kereta kudanya dan dialun mulai menggeser kursi agar bisa duduk diantara putra mahkota Qin hi Huang dan Bai Cheung.


Sebagai kakak yang bijak, pangeran Wei Jie berusaha untuk menjadi penengah agar Fan Jianying merasa nyaman dimalam perayaan ulang tahunnya ini.


“ Sudahlah….ayo kita minum….”, ucap pangeran Wei Jie memecah ketegangan yang ada.

__ADS_1


Diapun segera menuangkan sebotol arak yang dibawah oleh Zoelu kepada kakak dan adik iparnya tersebut.


Fan Jianying terus saja bergelayut manja dilengan suaminya agar amarah Bai Cheung cepat menghilang.


Bai Cheung tersenyum penuh kemenangan melihat istrinya begitu manja dengannya dan melayangkan tatapan mengejek kepada putra mahkota Qin Shi Huang yang ada dihadapannya.


Setelah ketiganya meminum arak, perlahan suasana mulai sedikit mencair meski perbincangan yang terjadi sarat akan sindiran dan saling menjatuhkan.


Ating, Zoelu dan Liam hanya bisa menggeleng – gelengkan kepala mereka sambil menarik nafas dalam – dalam melihat tingkah kekanak – kanakan junjungannya ketika sedang cemburu.


Fan Nuan yang berencana  menyusup kedalam kediaman keluarga ketiga, tanpa sengaja melihat Fan Jianying sedang berbincang dengan putra mahkota, pengeran keempat dan suaminya dengan wajah tegang digazebo taman akhirnya memilih untuk menghentikan langkahnya dan berusaha untuk mencuri dengar.


Melihat hal tersebut, Hira segera mengirimkan tanda peringatan kepada Fan Jianying agar waspada.


Tukkk….tukkkk….


Batu kerikil yang dilempar oleh Hira ketas kolam yang ada disamping kiri gazebo membuat Fan Jianying mulai mengedarkan pandangan matanya.


Ketiganya segera mengerti isyarat yang diberikan oleh Fan Jianying waktu mereka menatap sosok Fan Nuan yang bersembunyi dalam kegelapan malam.


“ Sebaiknya, pindahkan kakak ipar secepatnya sebelum vonis pengadilan untuk Ming Huan dijatuhkan….”, ucap Fan Jianying degan suara rendah dan dingin.


Fan Nuan tak menyadari jika Liam berjalan pergi dari tempat pertemuan. Fokusnya saat ini adalah kepada keempat orang yang duduk melingkar didalam  gazebo tersebut.


Dia terlihat berusaha untuk menajamkan pendengarannya, namun tetap saja pembicaraan mereka berempat tak bisa dia dengar dengan jelas.


Sementara itu, Liam bersama Heyna diam – diam mulai memasuki halaman belakang dan menyusup kedalam rumah yang digunakan untuk mengurung madam Chou.


Dengan satu pukulan di tekuk kepala, Heyna berhasil membuat istri Bai Axiang tersebut tak sadarkan diri.


Melihat madam muda pertama Bai tersebut sudah tak sadarkan diri, Liampun segera mengangkat tubuh madam Chou  dan langsung pergi membawanya masuk kedalam ruang rahasia milik tuan muda ketiga Bai.


Sementara Heyna, terlihat sibuk membuat boneka penganti tubuh madam Chou dengan beberapa bantal yang diikat jadi satu.


Agar tak meninggalkan kecurigaan jika madam muda pertama Bai tersebut sudah tak berada didalam rumah, Heyna yang tadi mengambil gaun luar madam Chou segera memakaikannya diboneka bantal tersebut.


Para pengawal yang berjaga diluar tak diijinkan masuk dan hanya bisa mengintip istri Bai Axiang itu dari sudut pintu yang terbuka untuk melihat kedalam dan memastikan jika wanita terebut masih ada.


Jadi, mereka tak akan tahu jika sekarang yang ada dalam rumah bobrok tersebut hanyalah boneka bantal, bukan madam Chou yang asli.


Begitu selesai mengikat tangan dan kaki madam Chou, Liam segera menyumpal mulut istri Bai Axiang tersebut dengan sehelai kain agar nantinya jika bangun dia tak akan bisa bersuara.

__ADS_1


Madam Chou yang berhasil sadar terlihat ketakutan waktu menyadari jika dirinya sudah berpindah tempat.


Bau anyir dan daging yang mulai membusuk langsung menusuk indera penciumannya begitu kedua matanya terbuka lebar, membuat perutnya terasa diaduk – aduk.


Madam Chou hanya bisa menahan rasa mualnya tanpa bisa memuntahkan isinya karena mulutnya di sumpal oleh kain.


Begitu dia bisa menormalkan rasa mual yang ada dalam perutnya, madam Choupun mulai mengedarkan pandangannya kearea yang minim penerangan tersebut.


“ Dimana ini ?....”, batin madam Chou ketakutan.


Ingin rasanya dia berteriak waktu ada beberapa tikus dan kecoa mulai merambat dikakinya.


Namun apalah daya mulutnya disumpal kain, kedua kaki dan tangan diikat sehingga yang bisa dilakukannya hanya menggigil ketakutan tanpa bisa berbuat apapun.


Ruangan yang ditempati oleh madam Chou sekarang sangat dingin dan lembab. Selain bau darah yang sangat menyengat, bau tanah basah dan lumut juga sangat pekat diudara.


Membuat tubuhnya langsung lemas seketiga. Wajah madam Chou terlihat pucat pasi seakan pasokan oksigen dalam dadanya mulai berkurang hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas.


Madam Chou terlihat berjuang keras untuk memasukkan udara yang sudah tercemar itu kedalam rongga dadanya meski terasa sangat berat.


Sementara itu, Fan Nuan yang berusaha mencuri dengar pembicaraan kakak tirinya merasa sangat kecewa karena tak mendapatkan informasi apapun hingga dia pulang ke kediaman Fan.


“ Aku akan coba menemui pangeran Song Yu nanti. Aku rasa, Ratu Qinly masih belum mengetahui jika Fan Jianying adalah anak bungsu dari kaisar Huang dan permaisuri We mengingat jika fakta tersebut baru saja diungkapkan ayahnya hari ini, sebelum semua keluarga pergi ke pesta perjamuan ulang tahun Fan Jianying dikediaman Bai…..”, batin Fan Nuan bermonolog.


Fan Jianying yang sudah bisa menerka apa yang menjadi pemikiran adik tirinya tersebut segera memerintahkan Hira untuk terus mengikuti dan mengawasi pergerakan Fan Nuan dari dekat.


Diapun segera memberikan Hira petunjuk dan sebuah peta lokasi kediaman keluarga Fan agar pelayannya tersebut bebas untuk bergerak disana tanpa menimbulkan kecurigaan dari para penjaga.


Sertelah Hira pergi, Fan Jianying segera mengantar putra mahkota Qin Shi Huang keluar kediaman bersama sang suami.


“ Sebaiknya Fan’er  pikirkan lagi penawaran kakak tadi. Ayahanda saat ini dalam kondisi tidak bagus. Jika ada Fan’er disisinya, setidaknya hal itu bisa menguatkan beliau…. ”, bujuk putra mahkota Qin Shi Huang secara halus.


“ Baiklah, akan Fan’er coba pertimbangkan lagi…”, ucap Fan Jianying dengan suara lembut.


“ Kakak harap, Fan’er bisa mengambil keputusan yang tepat….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang tersenyum manis.


“ Jaga dirimu baik – baik….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang sambil mengusap kepala Fan Jianying dengan lembut sebelum masuk kedalam kereta kudanya.


Melihat amarah Bai Cheung kembali tersulut, putra mahkota Qin Shu Huangpun menampilkan senyum penuh kemenangan.


“ Seberapa keras upayamu untuk menjauhkanku dengan Fan’er…itu semua tak akan bisa terjadi….”, batin putra mahkota Qin Shi Huang penuh kepuasan.

__ADS_1


__ADS_2