
Malam terasa sunyi, hanya ada suara jangkrik yang mengisi keheningan malam. Saat semua orang sudah berada dialam mimpi, ada seorang wanita cantik terlihat memejamkan matanya dengan raut wajah gelisah.
Beberapa kali terlihat permaisuri Wei membolak – balikkan badanya, terus bergerak gelisah hingga membuatnya tak bisa tertidur meski matanya terpejam.
Pikirannya kembali pada tanda lahir yang ada dipunggung Fan Jianying. Tanda lahir yang sama persis dengan sang putri sebelum dinyatakan meninggal dunia.
" Aku yakin...itu adalah tanda lahir yang sama...", batin permaisuri Wei gelisah.
Setelah pulang dari Impereal Restoran, permaisuri Wei yang sangat penasaran ingin menanyakan langsung mengenai identitas sebenarnya dari Fan Jianying kepada kaisar.
Tapi permaisuri Wei tak berhasil menemui kaisar karena suaminya itu sibuk menyambut tamu yang datang silih berganti tanpa henti, membuat langkahnya kembali mundur.
Menjelang malam, permaisuri Wei yang mendengar jika kaisar Huang sedang duduk bersantai dikediamannya langsung menuju ke Huanglo Palace.
Namun, dipintu masuk permaisuri Wei mendengar suara Ratu Qinly didalam. Niatnya untuk menanyakan hal tersebut kembali diurungkan dan dia berbalik langkah kembali ke kediamanannya.
Sepanjang malam permaisuri tampak gelisah. Bahkan dia tidak menyentuh sama sekali makan malam yang tersaji didepannya.
Hati permaisuri Wei gundah gulana, dia harus segera mendapatkan informasi yang diinginkan agar hatinya merasa tenang.
“ Apa aku harus bertemu dengan Fan Jianying secara pribadi dan menanyakannya langsung ?...”, batin permaisuri Wei bermonolog.
Saat memikirkan kemungkinan jika Fan Jianying juga tidak tahu apa - apa seperti dirinya, permaisuri Wei kembali ragu akan keputusan yang ingin diambilnya tadi.
Dalam diam permaisuri We kembali mengingat semua peristiwa yang terjadi empat belas tahun yang lalu. Meski ada beberapa peristiwa yang samar, namun ingatan akan semua kejadian tersebut tampak sangat jelas dimatanya.
FLASH BACK ON
Suara petir bergemuruh bersautan disusul hujan badai di luar kuil Guandong tak menghalangi permaisuri Wei untuk menjalankan ritual wajib setiap bulannya.
Akibat ucapan peramal Yan yang terkenal dengan kesaktiannya dimana setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah nyata dan tak pernah meleset sekalipun, membuat permaisuri Wei rutin melakukan ritual setiap bulan agar bayinya bisa lahir dengan selamat.
Ditemani istri dari sahabatnya, permaisuri Wei datang kekuil untuk melakukan upacara. Sama seperti sebelumnya, para biksu yang ada dalam kuil menyambut dengan lapang dada istri penguasai negeri ini.
Kali ini permaisuri tidak dikawal oleh kaisar ataupun Fan Shaosheng karena keduanya masih berada dimedan perang sejak satu bulan yang lalu membuat wanita cantik ini terpaksa harus melakukan ritualnya sendiri.
Tanpa semua orang sadari, permaisuri Wei yang datang berasama Nay, istri dari Fan Shaosheng, sahabatnya dan beberapa pelayan dan pengawal kerajaan telah diintai oleh Ratu Qinly.
“ Ingat !!!...rencana hari ini tidak boleh gagal !!!...”, ucap Ratu Qinly tajam.
Untuk memuluskan rencana pangeran kedua menduduki singgasana, maka Ratu Qinly harus menyingkirkan bayi yang ada dalam kandungan permaisuri Wei yang disebutkan oleh peramal Yan jika bayi tersebut akan menjadi penguasa yang tak tertandingi.
Bahkan diramalkan, dengan kekuatan yang dimilikinya tersebut bayi yang diramalkan tersebut dapat menguasai seluruh dunia ditangannya.
Tentu saja ramalan dari peramal Yan membuat Ratu Qinly kebakaran jenggot. Jika keturunan dari permaisuri yang menduduki singgasana, maka kekuasaan yang dimilikinya saat ini pasti akan terbatas.
Setelah semua usahanya untuk membunuh bayi tersebut agar tidak lahir kedunia gagal karena kaisar selalu berada disamping permaisuri Wei, maka kesempatan emas ini tidak bisa dia lewatkan begitu saja.
Setelah semua ritual telah selesai dijalankan, seperti biasa para pengawal dan pelayan akan membagikan sembako kepada masayarakat miskin yang berada disekitar kuil.
Kesempatan inilah yang digunakan oleh pembunuh bayaran mendapatkan targetnya. Melihat permaisuri Wei hanya berdua dengan Nay, tiba - tiba salah satu pembunuh melemparkan pisau beracunnya.
Untung saja Nay melihat dan langsung menarik tubuh permaisuri Wei sehingga pisau meleset dan menancap ke tembok yanga ada dibelaakang mereka.
Melihat kejadian tersebut, semua pengawal dan pelayan yang tidak membagikan sembako keluar kuil segera bergerak untuk melindungi permaisuri Wei.
Karena jumlahnya tidak terlalu banyak, mereka tak mampu untuk mengalahkan pembunuh bayaran yang sudah terlatih tersebut.
Meski begitu, mereka terus saja menyerang para pembunuh bayaran tersebut agar mereka teralihkan perhatiannya dari permaisuri Wei yang terlihat berlari bersama Nay untuk mencari perlindungan.
Salah satu lelaki berbaju hitam yang berhasikl lolos dari kepungan para pengawal berusaha untuk mengejar kedua wanita yang berlari ke belakang kuil menuju hutam bambo.
“ Nay…aku sudah tidak kuat lagi…”, ucap permaisuri Wei dengan nafas tersenggal – senggal.
__ADS_1
“ Yang Mulia…anda harus kuat…ingat bayi anda…”, ucap Nay memberi semangat.
Mendengar ucapan Nay, semangat permaisuri Wei kembali berkobar. Sambil mengelus perut buncitnya wanita tersebut terus berlari dengan bantuan istri sahabatnya yang dengan setia membantu memegangi tubuhnya agar bisa berlari dengan cepat.
Dengan sabar, Nay memapah tubuh permaisuri Wei yang sudah kelelahan hingga tiba disebuah semak – semak yang cukup rimbun.
Keduanya pun langsung meringkuk untuk bersembunyi sambil membekap mulut mereka agar tidak menimbulkan suara yang memancing kecurigaan.
" Kemana mereka pergi....", ucap lelaki yang mengejar keduanya binggung.
Permaisuri Wei dan Nay masih tetap meringkuk sambil menunduk dan membekap mulutnya dengan tangan. Tak merasakan dinginnya hujan yang membasahi tubuh keduanya.
Saat ini yang ada dalam pikiran mereka hanya menyelamatkan diri dan anak yang ada dalam kandungan masing - masing.
Saat keduanya masih setia meringkuk dibalik semak - semak, pertarungan didalam kuil masih terdengar nyaring. Keduanya terus bersembunyi tak berani untuk menampakkan diri hingga semua suara kebisingan tersebut hilang.
Merasa suasana tiba - tiba hening, perlahan Nay mengintip dari balik semak – semak untuk memastikan jika semuanya sudah aman.
Setelah memastikan semuanya aman, Nay pun membantu permaisuri Wei untuk bangun. Sambil terseok – seok keduanya berjalan menuju kedalam kuil yang telah hancur porak – poranda akibat ulah para pembunuh bayaran yang mentargetkan permaisuri Wei.
Tubuh Nay seketika menegang begitu ada tangan menyentuh pundaknya dari belakang.
Namun sedetik kemudian wajahnya terlihat sangat lega karena yang menepuknya dari belakang tadi adalah salah satu biksu yang ada dalam kuil.
Lelaki tua tersebut segera membantu keduanya untuk masuk kedalam ruangan rahasia tempat semua biksu dan bikuni bersembunyi waktu terjadi penyerangan tadi.
Selama ini dana pemeliharaan dan pembanggunan kuil Guandong adalah sumbangan dari kaisar, sehingga mereka sangat menghormati pemimpin negeri ini.
Merekapun langsung mengamankan permaisuri Wei yang terlihat sangat pucat dan kedinginan akibat terlalu lama terkena guyuran air hujan.
Nay seketika membulatkan kedua matanya waktu melihat darah keluar dari kedua kaki permaisuri Wei.
Salah satu bikuni yang mengerti pengobatan segera menghampiri tubuh permaisuri Wei dan memegang pergelangan tangannya untuk mengecek denyut nadi.
“ Permaisuri sebentar lagi akan melahirkan…”, ucap bikuni tersebut tenang.
Sedangkan para biksu terpaksa minggir dan berjaga di pintu masuk ruang rahasia tersebut sambil berdoa agar bayi kaisar tersebut bisa lahir dengan selamat.
Nay yang sangat tegang dan stress dengan semua yang baru saja dialaminya merasakan perutnya sangat sakit sekali.
" Tidak...ini tidak mungkin....", ucap Nay ketakutan waktu melihat darah segar keluar diantara kedua kakinya.
Salah satu bikuni yang mengetahu kejadian tersebut segera membaringkan Nay disamping permaisuri Wei. Semua bikuni dibuat panik karena akan ada dua wanita yang melahirkan secara bersamaan.
Kaisar yang mendapatkan kabar jika ada penyerangan terhadap permaisurinya langsung menuju kuil Guandong bersama Fan Shaosheng begitu peperangan tersebut mereka menangkan.
Oekkk….oekkk…oekkk…
Sinar terang menembus keatas langit begitu bayi perempuan yang dilahirkan permaisuri Wei datang kedunia.
Fenomena yang tak biasa tersebut tentunya menarik perhatian semua orang, termasuk para pembunuh bayaran yang baru saja meninggalkan kuil untuk mengejar permaisuri Wei yang diduga telah melarikan diri.
" Sial !!!...mereka masih berada dalam kuil !!!...", ucap salah satu pembunuh bayaran dengan geram.
Ketujuh pembunuh bayaran tersebut segera melesat dengan cepat untuk berbalik lagi kedalam kuil. Cukup lama ketujuh lelaki bernaju hitam tersebut mengobrak - abrik kuil, namun mereka sama sekali tak melihat banyangan sosok yang dicarinya.
" Cari lebih teliti....jangan biarkan bayi tersebut hidup....", perintah ketua pembunuh bayaran tersebut nyaring.
Sang kaisar yang mengetahui tanda tersebut adalah kelahiran penerusnya segera memacu kudanya dengan kecepatan yang sangat tinggi dan meninggalkan Fan Shaosheng dibelakang.
Permaisuri Wei tersenyum bahagia waktu melihat putri cantiknya lahir dengan selamat tanpa kekurangan apapun.
Sementara Nay, harus kehilangan putrinya karena bayi tersebut meninggal setelah keluar dari rahim sang ibu.
__ADS_1
Belum juga kesedihannya hilang, Nay dikejutkan oleh sekelompok pembunuh yang berhasil menerobos masuk kedalam ruang rahasia dan terlihat mengincar nyawa permaisuri Wei dan bayi yang baru saja dilahirkannya.
Dengan sekuat tenaga, Nay langsung melompat dan memeluk bayi perempuan tersebut yang berada didekapan ibundanya dan melindungi keduanya dengan membiarkan dirinya ditusuk pisau berkali – kali.
Kaisar yang baru saja datang langsung memenggal kepala sang pembunuh tanpa ampun. Namun sayang, Nay sudah tidak bisa terselamatkan karena pedang yang digunakan untuk menusukknya telah dilumuri racun sehingga istri Fan Shaosheng tersebut meninggal seketika ditempat.
Melihat istri sahabatnya itu meninggal demi melindungi istri dan anaknya, Kaisar yang murka segera membantai habis para pembunuh tanpa sisa.
Selanjutnya kaisar Huang segera menghampiri permaisuri Wei yang sudah tak sadarkan diri akibat kelelahan dan syok atas peristiwa yang menimpahnya.
Sementara itu, sang putri yang baru saja dilahirkan oleh istrinya terus menangis dengan kedua matanya memancarkan sinar merah yang aneh.
Sinar merah menyala yang keluar dari sorot mata bayi perempuan tersebut menghancurkan apa saja yang berhasil dicapai sinar tersebut.
Membuat semua orang yang berada dalam ruangan merasa ngeri dan ketakutan dengan adanya kekuatan aneh yang dimiliki sang bayi.
Tak lama kemudian, peramal Yan datang secara tiba – tiba dihadapan semua orang dan mulai melangkah maju kehadapan kaisar Huang dan mengambil bayi yang ada dalam dekapan kaisar.
Bayi yang semula rewel dan mengeluarkan sinar merah mengerikan dari kedua matanya perlahan – lahan mulai tenang dan sinar merah tersebut menghilang begitu peramal Yan meletakkan satu tangannya didada bayi munggil tersebut.
“ Kekuatan sang putri sudah saya segel. Dampak dari penyegelan ini sang putri akan menjadi sangat lemah dan sakit - sakitan. Segel ini hanya bisa dibuka oleh sang putri sendiri begitu menayadari akan kekuatan yang ada dalam tubuhnya. Saya sarankan, hingga putri beranjak dewasa, sebaiknya putri ditempatkan diluar istana untuk menghindari hal buruk terjadi….”, ucap peramal Yan sebelum tiba – tiba menghilang dari pandangan kaisar.
Kaisar sontak langsung membungkam mulut para biksu dan bikuni yang ada dikuil untuk tidak membocorkan rahasia tersebut kepada siapapun.
Begitu Fan Shaosheng datang, Kaisar langsung memberikan putri kandungnya kepada sahabatnya itu dan mengatakan jika istrinya melahirkan secara premature dan meninggal karena melindungi permaisuri Wei.
Fan Shaosheng memandang bayi munggil cantik yang ada dalam dekapannya itu sambil berlinang air mata.
Dalam hatinya dia berjanji akan membesarkan putrinya tersebut dengan penuh cinta dan kasih sayang. Seperti rasa cintanya terhadap Nay, sang istri.
Sementara itu, permaisuri Wei terlihat sangat terpukul waktu mengetahui jika putri yang baru saja dilahirkannya dan dilihatnya sebentar itu telah meninggal dunia.
Dia mengangkat tubuh bayi munggil yang sudah tak bernyawa tersebut dengan sedih. Kedua mata permaisuri Wei seketika terbelalak waktu menyadari jika punggung bayi tersebut mulus tanpa noda.
“ Tidak !!!...tidak !!!...ini bukan putriku !!!....”, teriak permaisuri Wei histeris.
“ Dimana putriku ?...dimana putriku ?....”, permaisuri Wei terus berteriak sambil mencengkeram baju semua orang untuk meminta penjelasan.
Kaisar yang melihat hal tersebut langsung memeluknya dengan sangat erat untuk menenangkan istri yang sangat dicintainya setelah kepergian mendiang Ratu pertama.
“ Yang Mulia…putriku mempunyai tanda lahir merah di punggungnya…sedangkan, bayi itu tidak ada…dia bukan putriku….”, permaisuri Wei terus berkata sambil berderai air mata.
Kaisar Huang sedikit terkejut waktu mendengar ucapan permaisurinya itu. Dia sama sekali tak mengira jika istrinya itu akan melihat detail tubuh sang putri yang baru saja dilahirkannya.
Salah satu biksuni yang menyadari kegelisahaan kaisar Huang segera maju sambil berlutut dihadapan keduanya.
“ Menjawab Yang Mulia....yang anda lihat pada punggung putri anda bukanlah tanda lahir permaisuri, tapi gumpalan darah yang belum sempat kami bersihkan begitu putri terlahir kedunia. Maafkan atas kecerobohan kami….”, ucap bikuni tersebut sambil berlutut.
Mendengar ucapan dari bikuni tersebut, kaisar Huang merasa sangat puas dengan alibi yang dibuat oleh bikuni tersebut.
Diapun kemudian kembali menyakinkan permaisuri Wei bahwa semua yang di ucapkan oleh bikuni tersebut adalah benar adanya.
Meski sedikit ragu, permaisuri Wei akhirnya percaya dengan ucapan sang suami dan bikuni yang membantu proses persalinannya itu.
Untungnya Fan Shaosheng sudah tak berada dalam kuil dan segera membawa jenazah istrinya pulang bersama anaknya.
Jika tidak, mungkin kaisar Huang tidak akan mampu untuk beralibi lagi. Dan sejak saat itu, kaisar selalu mengamati putri kecilnya dari kejauhan.
FLASH BACK OFF
Meski dalam ingatan tersebut permaisuri Wei masih terasa samar, namun gambar tanda bayi itu adalah benar. Itu tanda lahir, bukan gumpalan darah seperti apa yang mereka semua katakan.
“ Berarti aku tidak salah lihat…merekalah yang berbohong kepadaku. Tapi, kenapa ?...”, batin permaisuri Wei penuh tanda tanya.
__ADS_1
Saat ini satu – satunya orang yang bisa dia tanyai hanyalah suaminya itu mengingat jika biksu dan bikuni yang membantu persalinannya sudah tidak berada dikuil Guandong lagi.
" Besok aku harus bertemu Fan Jianying dan melihat tanda lahir itu secara langsung....", batin permaisuri Wei penuh semangat.