CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
NIAT BUSUK MADAM CHOU


__ADS_3

Hari ini pengadilan untuk pengelapan pajak dan pungutan liar yang dilakukan oleh menteri ekonomi dan menteri pajak beserta Bai Wang sebagai wakil menteri pajak digelar di istana.


Masing – masing terdakwa sudah berada diposisinya untuk mendengar putusan yang akan diberikan oleh kaisar  Huang Lo  berdasarkan bukti – bukti yang dibawah langsung oleh putra mahkota Qin Shi Huang darikota Banjiwen.


Namun, suasana pengadilan pagi ini sempat ricuh karena adanya masyarakat yang berdemo di depan istana menuntut agar pemerintah membebaskan tiga orang terdakwa yang saat ini sedang diperiksa tersebut.


Namun sayangnya rencana Bai Wang tersebut sudah terbaca sehingga anak buah pangeran Wei Jie dan para pengawal istana bisa membubarkan kerumunan warga dengan cepat sebelum menimbulkan masalah yang pelik.


Bukti – bukti yang ada ditangan kaisar Huang membuat tiga orang terdakwa tersebut  tak bisa berkutik.


Bahkan Bai Wang yang ingin ikut menyeret nama Bai Cheung karena dianggap sang adik lah yang pertama kali menemukan kecurangan yang dilakukannya dikota Xiantaro juga tak merubah apapun.


Kaisar Huang mencabut posisi mereka dan menjatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun serta membayar denda senilai pajak yang berhasil mereka gelapkan.


Meski tak terima tapi karena keluarga Ding juga sudah membayar sebagian penggelapan pajak yang mereka gelapkan.


Mau tidak mau ketiganya pun menerima putusan tersebut dengan berat hati dan langsung digiring menuju penjara bawah tanah.


Tempat para tahanan yang tidak setia kepada negara tersebut dihukum. Ketiganya langsung terduduk lesu begitu sudah berada didalam sel tahanan yang dingin dan kotor tersebut.


Keluarga menteri ekonomi dan menteri pajak terlihat histeris waktu harta benda mereka disita oleh pemerintah, lain halnya dengan keluarga Bai.


Mereka justru merasa lega karena Bai Wang hanya mendapat hukuman penjara dan membayar denda, bukan hukuman mati.


Fan Jianying terlihat sedang menemani ibu mertuanya yang kembali terbaring lemah diatas ranjang waktu mendengar putusan kaisar.


Meski Bai Wang salah, tapi dia adalah anaknya. Sebagai seorang ibu tentunya Lien Hua merasa sedih dan terluka.


“ Ibunda harus tetap makan agar bisa menjenguk kakak dipenjara. Jika kakak melihat kondisi ibunda seperti ini, kakak pasti akan merasa sangat sedih….”, ucap Fan Jianying lembut.


Perkataan manis Fan Jianying nyatanya mampu menggerakkan hati Lien Hua. Diapun segera bangkit dari tempat tidurnya dan mulai meminum sup yang dibuat oleh menantunya tersebut.

__ADS_1


Madam Chou yang kebetulan juga berada disana terlihat geram waktu mengetahui mertuanya langsung mau makan begitu Fan Jianying yang membujuk.


Kata – kata yang diucapkan oleh Fan Jianying sebelumnya telah diucapkan oleh madam Chou, tapi mertuanya tersebut sama sekali tak tergerak hatinya.


Hal ini semakin memperjelas perbedaan sikap mertuanya tersebut kepada dirinya dan Fan Jianying.


Matriark Bai terlihat sangat senang waktu melihat menantunya tersebut akhirnya mau makan setelah dibujuk oleh Fan Jianying.


“ Fan’er, mulai sekarang sering – seringlah temani ibundamu agar tak kesepian. Dan jangan lupa ingatkan dia untuk makan agar tubuhnya tak semakin kurus….”, ucap matriark Bai hangat.


“ Ini sudah menjadi kewajiban Fan’er untuk berbakti kepada ibu…”, ucap Fan Jianying manis.


Setelah sup yang disuapkan kemertuanya telah habis, Fan Jianying pun mengambil kue kacang untuk ibundanya.


“ Sewaktu suami menjenguk Fan’er dipegunungan Weixi, suami memberi Fan’er kue kacang buatan ibunda. Fan’er sangat menyukainya, dan kali ini Fan’er mencoba untuk membuatnya, Ibunda bisa mengoreksi rasanya agar Fan’er bisa belajar lebih baik lagi….”, ucap Fan Jianying rendah hati.


Meski terkejut, hati Lien Hua langsung menghangat waktu mengetahui jika hubungan Bai Cheung dan Fan Jianying mulai harmonis.


Meski dia sudah melihat jika sikap putra bungsunya tersebut sudah lebih hangat kepada istrinya.


“ Ini sangat lezat hanya saja kamu harus menambahkan sedikit fermentasi susu didalamnya….”, ucap Lien Hua memberi saran.


“ Fermentasi susu ?...”, guman Fan Jianying binggung.


Melihat menantunya kebinggungan, Lien Hua segera memanggil pelayannya agar mengambilkan fermentasi susu yang ada didapur pribadinya.


“ Aku lihat hubunganmu dengan Cheung semakin harmonis. Ini, minum sebelum tidur agar kesehatan tubuhmu tetap terjaga…”, ucap Lien Hua sambil memberikan sebotol tonik dari tangan pelayan pribadinya.


Melihat hal tersebut, wajah madam Chou langsung merah padam. Dia mencengkeram ujung pakaiannya sangat erat melihat mertuanya dengan murah hati memberikan tonik langkah dan mahal tersebut kepada Fan Jianying.


“ Semoga dari rumah ketiga secepatnya ada kabar baik….”, ucap matriark Bai tersenyum lebar.

__ADS_1


“ Terimaksih ibunda, terimakasih nenek atas doanya….”, ucap Fan Jianying sopan.


“ Tabib Shilin sudah memberi Fan’er obat. Semoga dalam waktu dekat Fan’er bisa memberikan kabar baik untuk keluarga Bai…”, Fan Jianying berbicara sambil menunduk, tersipu malu.


Semua orang terkekeh melihat sikap menggemaskan yang ditunjukkan oleh Fan Jianying kecuali madam Chou yang tersenyum sinis melihat semua sandiwara tersebut.


“ Brengsek !!!...lihat saja, akan aku buat kamu menjadi wanita tidak berguna selamanya !!!....”, batin madam Chou penuh amarah.


Tidak kuat terus menyaksikan pemandangan yang menyesakkan, madam Chou segera pamit undur diri.


Madam Chou mengertakkan giginya dengan keras waktu menyadari setelah dia pamit, semua atensi keluarga Bai kembali kepada Fan Jianying seakan kepergiannya sudah semua orang tunggu sejak tadi.


“ Tingkatkan dosis obatnya. Aku ingin dia benar – benar tak bisa lagi berkesempatan mendapatkan keturunan….”, ucap madam Chou penuh penekanan.


Bayangan hitam yang tadi mendapatkan perintah segera menghilang dan mulai menjalankan tugasnya.


Bai Cheung yang kebetulan mendengar semua ucapan kakak iparnya hanya bisa menghela nafas panjang.


“ Ck ck ck.....Istriku memang sangat pintar memprovokasi orang…”, guman Bai Cheung sambil menggeleng – gelengkan kepalanya beberapa kali.


Ternyata, bukan hanya Bai Cheung dan Liam yang mendengar semua ucapan madam Chou denagn jelas.


Pelayan senior Yu yang ditugaskan untuk mematai – matai menantu perempuan pertama keluarga Bai tersebut juga sangat jelas mendengar semuanya dan segera melaporkan hal tersebut kepada matriark Bai.


“ Seperti biasa, bereskan tanpa jejak….”, ucap matriark Bai tegas.


Dari sudut matanya, Fan Jianying yang melihat hal tersebut tersenyum samar. Dia sama sekali tak menyangka jika kakak iparnya begitu gegabah dalam bertindak.


Sejak mengetahui jika kakak iparnya berniat membunuhnya, Fan Jianying tak memberikan toleransi lagi kepada madam Chou untuk berbuat lebih kepadanya.


Karena tidak ingin mengotori tangannya maka dia menggunakan cara untuk memancing kecurigaan matriark Bai.

__ADS_1


Dan ternyata rencana yang disusunnya secara sederhana tersebut berhasil. Dan sekarang, dibawah mata matriark Bai, semua hal yang salah akan mendapatkan konsekuensi yang setimpal.


Madam Chou yang tak sadar jika pergerakannya telah diawasi masih terlihat santai di teras rumahnya sambil meminum teh rempah hangat dan menantikan kehancuran adik iparnya dari rumah.


__ADS_2