CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
MEMBERANTAS KORUPTOR


__ADS_3

Sambil menunggu istrinya kembali dari ruangan kaisar Huang, Bai Cheung berdiskusi dengan pangeran Wei Jie di Heluo Palace, tentang semua permasalahan yang ada terutama mengenai kakak keduanya, Bai Wang.


“ Aku sama sekali tak menyangka jika Yang Mulia sekarang adalah kakak iparku….”, ucap Bai Cheung tersenyum ramah.


“ Jangan sungkan, kita adalah keluarga sekarang….”, ucap pangeran Wei Jie terkekeh.


“ Baiklah jika itu yang kakak inginkan….,", ucapan Bai Cheung spontan memuat keduanya tertawa bersama.


Meski diluar terlihat tersenyum lebar, namun didalam hati pangeran Wei Jie yang terdalam ada perasaan sedih.


Sampai saat ini dia masih belum sepenuhnya menerima jika Fan Jianying adalah adik kandungnya.


Perasaan sayang yang dimilikinya pun terpaksa dia ubah menjadi kasih sayang terhadap saudara perempuan.


Bukan sebagai lelaki dan perempuan seperti harapannya. Meski begitu, melihat perubahan sikap Bai Cheung terhadap adiknya, membuat hati pangeran Wei Jie sedikit lega.


“ Apa sekarang kamu sudah bisa menerima adikku sebagai istrimu ?….”, tanya pangeran Wei Jie dengan tatapan penuh selidik.


“ Mungkin pada awalnya aku yang terlalu dingin dan acuh kepadanya tanpa berusaha memahaminya terlebih dahulu. Tapi, begitu kami bersama selama diperbatasan timur Huangshan. Aku mulai menyadari jika sikapku selama ini sudah salah dan keterlaluan. Untungnya Fan’er masih memberiku kesempatan untuk menebusnya….”, ucap Bai Cheung dengan tatapan nanar.


Untung saja Bai Chung cepat tersadar dan mulai merubah sikapnya, jika tidak mungkin dia akan menyesal selamanya.


Mendengar hal tersebut, hati pangeran Wei Jie merasa lega dan sakit secara bersamaan. Meski belum berjodoh, tapi dia sangat mengharapkan adiknya itu bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.


“ Aku tak akan pernah memaafkanmu jika sampai kamu membuatnya terluka….”,ucap pangeran Wei Jie penuh ancaman.


Bai Cheung hanya bisa mengangguk dengan wajah serius waktu mendapatkan ancaman seperti itu dari sahabatnya.


Meski tanpa ada peringatan dari pangeran Wei Jie, Bai Cheung sudah bertekad dalam hati, berjanji akan selalu membuat istrinya tersebut bahagia dan tak akan membiarkannya terluka sedikitpun.


Sementara itu, di Qinlong Palace Ratu Qinly terlihat sedikit gelisah. Pasalnya pasukan bayangan yang ditugaskan untuk mencuri dengar pembicaraan suaminya masih belum juga muncul.


Apalagi dia tadi juga melihat jika permaisuri Wei dan kedua anaknya juga ikut serta dalam pembicaraan tersebut.


Membuat jiwa kepo Ratu Qinly meronta – ronta dan kewaspadaan dirinya perlahan mulai meningkat.


Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dan disembunyikan dari dirinya.


Untuk itu, dia harus secepatnya mengetahui apa itu agar bisa segera ditangani sebelum terlambat.


Ratu Qinly tak menyadari jika penjaga bayangan miliknya telah dihabisi oleh pengeran Wei Jie sebelum masuk kedalam ruangan kaisar Huang.

__ADS_1


Sementara itu putra mahkota Qin Shi Huang yang mendapatkan tugas untuk membabat habis para koruptor di kota Banjiwen sudah mulai bergerak.


Inspeksi mendadak yang dilakukan oleh putra mahkota Qin Shi Huang tersebut mmebuat semua orang kalang kabut sehingga tidak ada satupun dari mereka yang bisa lolos.


Banyaknya bukti yang didapatkan oleh putra mahkota Qin Shi Huang membuat tak ada satupun dari mereka yang berani berkutik.


Melihat raut kekesalan dan kemarahan yang dalam dari keluarga Ratu Qinly membuat hati putra mahkota Qin Shi Huang merasa sedikit puas.


Setidaknya dia bisa membasmi tikus – tikus kotor yang haus akan kekayaan tersebut dari kota Banjiwen untuk selamanya.


Satu – persatu pejabat yang melakukan penggelapan pajak dan punggutan liar dilengserkan dari posisinya dan harta bendanya disita oleh negara.


Salah satunya adalah keluarga besar Ding yang sebagian besar memiliki posisi penting di kota Banjiwen/


Kepala keluarga Ding segera mengirimkan surat kepada Ratu Qinly agar bertindak untuk membujuk kaisar.


Mereka tak terima jika harta kekayaan yang sudah mereka kumpulkan dengan susah payah tersebut harus hilang begitu saja.


Hal itu tentunya nanti akan berimbas terhadap status social mereka di masyarakat jika sampai keluarga besar Ding jatuh miskin.


Di istana Huangwei, Fan Jianying yang sudah kembali kedunia nyata terlihat berbicara serius mengenai banyak hal dengan sang ayah.


Kaisar Huang sedikit terkejut dengan pola pikir putri bungsunya tersebut. Dia sama sekali tak menyangka jika Fan Jianying memiliki pemikiran sekritis itu.


“ Ayahanda harap Fan’er bisa tinggal di istana untuk membantu kakak – kakakmu mengelola negara….”, ucap kaisar Huang penuh harap.


“ Terimakasih atas kepercayaan yang ayahanda berikan. Tapi, sekarang bukan waktu yang tepat bagi ananda untuk muncul….”, tolak Fan Jianying secara halus.


Sambil menarik nafas panjang, kaisar Huang mengambil satu tangan Fan JIanying dan menepuk punggung tangannya beberapa kali.


“ Ayah sangat mengerti akan kekhawatiranmu saat ini…”, ucap kaisar Huang penuh pengertian.


Memang benar apa yang dikatakan oleh putrinya tersebut. Dengan kondisi istana yang semakin memanas ini, tak mungkin baginya untuk memunculkan putrinya saat ini juga.


Hal tersebut akan membuat musuh menjadi semakin waspada dan tentunya keselamatan sang putri akan terancam.


Meski Fan Jianying adalah reinkarnasi dari Ratu Elisabeth, tapi tak menutup kemungkinan banyak pihak yang akan memburunya.


Mengingat sang Ratu terkenal memiliki kekuatan yang maha dasyat dan bagi siapapun yang mendapatkan Ratu hutan kematian tersebut disisinya, secara otomatis dia akan menjadi penguasa dunia.


Meski hal tersebut bisa diwujudkan, tapi selama ini Ratu Elisabeth selalu mengurung diri didalam hutan kematian agar tidak dimanfaatkan para penguasa negara yang haus akan kekuasaan.

__ADS_1


“ Ayahanda kaisar, apakah ayah ananda mengetahui semua ini….”, ucap Fan Jianying sedikit ragu.


“ Untuk tetua Fan, mereka sudah mengetahui identitasmu sebenarnya. Tapi mereka tidak memberitahukannya kepada Fan Shaosheng, mengingat bagaimana ayahmu tersebut begitu terpuruk setelah kepergian istrinya demi menyelamatkanmu dan ibundamu…”, ucap kaisar Huang menjelaskan.


Melihat Fan Jianying langsung terdiam dengan wajah sedih, Kaisar Huang pun membelai kepala putri bungsunya dengan lembut.


“ Kamu jangan khawatir, masalah Fan Shaosheng nanti biar ayah yang urus…”, ucap kaisar Huang berusaha menenangkan kekhawatiran putrinya.


Meski dia tahu sangat berat baginya memberitahukan fakta ini kepada sahabatnya. Namun, cepat atau lambat Fan Shaosheng akan mengetahuinya juga.


Begitu semuanya selesai, Fan Jianying dan Bai Cheung segera pamit undur diri dan kembali ke kediaman Bai.


Sepanjang perjalanan keduanya tampak terdiam, sibuk dengan pemikiran masing – masing hingga akhirnya kereta kuda tiba dikediaman keluarga Bai.


Dengan lembut, Bai Cheung membantu istrinya turun dari atas kereta kuda yang membawa mereka kembali.


“ Istirahatlah dahulu, masih ada sesuatu hal yang harus aku kerjakan sekarang. Setelah semeuanya selsai, aku akan menyusul….”, ucap Bai Cheung sambil mengecup kening istrinya dengan lembut.


Fan Jianying hanya mengangguk dan membiarkan suaminya kembali keluar untuk menyelesaikan permasalahn yang ada.


Meski dia tidak tahu pasti apa yang akan dilakukan oleh suaminya selarut ini, tapi Fan Jianying sangat yakin jika ini pasti ada hubungannya dengan permasalahan yang menimpah kakak iparnya dan juga pangeran kedua Song Yu.


Bagaimanapun, rencana pemberontakan ini semakin dekat. Dan tindakan yang sudah diambil putra mahkota Qin Shi Huang hari ini pasti akan menimbulkan amarah keluarga besar Ding.


Sehingga Ratu Qinly pun akan semakin mempercepat rencananya. Untuk itu, semua orang tidak bisa tenang untuk sementara waktu.


Setelah membersihkan diri, Fan Jianying sudah duduk dengan posisi lotus diatas ranjangnya dan mulai berkonsentrasi untuk memantau jaring yang sudah disebarnya selama melakukan perjalanan kewilayah perbatasan timur.


“ Tempat apa ini ?...kenapa aku belum pernah melihatnya ?...”, batin Fan Jianying penasaran.


Dari bayangan samar di lokasi tersebut dapat dia lihat jika ada sekelompok orang dengan persenjataan lengkap berkumpul.


Tapi dia juga tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena jaraknya yang terlalu jauh.


“ Itu bukan pasukan tentara, dan jika dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, mereka seperti sekelompok bandit !!!....”, Fan Jianying terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya dan langsung membukan kedua matanya dengan wajah sedikit pucat.


“ Tidak mungkin kan Ratu Qinly menggunakan mereka untuk menyerang ibukota ?....”, batin Fan Jianying bermonolog.


Dia masih berusaha untuk menyangkal semua hal yang baru saja dilihatnya tersebut. Perlahan, dia membuka jendela dan memanggil pasukan bayangan yang ditempatkan oleh putra mahkota Qin Shi Huang dikediamannya.


Mengingat jika kota Benxie dekat dengan Banjiwen, dia ingin putra mahkota mengecek kebenaran semua hal yang telah dilihatnya tersebut.

__ADS_1


Setelah mendapatkan perintah, pasukan bayangan milik putra mahkota Qin Shi Huang segera melesat pergi untuk menyampaikan pesan tersebut kepada tuannya.


“ Aku harap putra mahkota Qin Shi Huang bisa mendapatkan titik terang akan hal ini….”, batin Fan Jianying resah.


__ADS_2