
Malam ini Fan Jianying kembali bermimpi aneh dan semuanya terlihat sangat nyata hingga membuatnya terbangun ditengah malam dengan keringat bercucuran.
Diapun terbangun dengan nafas tersenggal – senggal dan keringat dingin yang mengucur deras dari dalam tubuhnya.
Setelah agak tenang, Fan Jianying segera menghabiskan segelas air putih dan mulai menganti bajunya.
Fan Jianying yang merasa tubuhnya sangat lengket segera masuk kedalam cincin ruangnya, berniat untuk membersihkan diri dan berendam dengan air hangat didalam bak mandinya.
Dia tidak ingin membangunkan Dayu ataupun pelayan senior Gaeng untuk menyiapkan bak mandi untuknya karena tak ingin kedua pelayan tersebut khawatir kepadanya.
Pada saat berendam, Fan Jianying mencoba untuk mengingat setiap detail yang ada dalam mimpinya tersebut.
“ Hewan apa itu, aneh dan berlendir….”, Fan Jianying seketika bergidik ngeri waktu mengingat lendir berwarna hijau tersebut menyelimuti tubuhnya.
Jika diingat kembali, lendir hijau tersebut cukup beracun dan jika menyelimuti tubuh seseorang akan secara otomatis menghisap kekuatan dan roh pemilik tubuh hingga perlahan – lahan mati lemas.
Dalam mimpinya, Fan Jianying tidak bisa melihat dengan jelas hewan mutasi apa yang menyerangnya karena bentuknya yang transparan.
Hanya lendir hijau yang lengket dan beracun yang menempel kuat dalam ingatannya. Dan banyak mayat bergelimpangan disepanjang jalan akibat serangan lendir tersebut.
“ Apakah itu seperti ubur – ubur dalam film spongebob yang menyemprotkan jelly keuangguan ?...”, guman Fan Jianying bermonolog.
“ Tidak….ubur – ubur tidak bisa hidup didarat….”, Fan Jianying berguman menyangkal asumsinya tadi.
“ Tunggu….”, tiba – tiba dia teringat sesuatu.
Senyum Fan Jianying mulai merekah sempurna waktu dirinya mengingat jika dia sempat mendengar suara yang cukup familier disela – sela jeritan minta tolong yang menggema diudara.
“ Itu suara katak….ya…benar, itu suara katak…tidak salah lagi….”, ucap Fan Jainying bangga karena dirinya akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaannya.
“ Tapi…bagaimana seekor katak transparan bisa menyemburkan lendir berwarna hijau yang mematikan ?... ”, guman Fan Jianying kembali kebinggungan.
Jika saja didunia asing ini ada mesin pencarian, maka dirinya tidak akan sepusing ini sekarang.
Karena dengan hanya mengetikan kata kunci, maka semua informasi yang dibutuhkan akan langsung tersedia dengan cepat.
Setelah selesai membersihkan diri, Fan Jianying yang sudah berganti pakaian terlihat sibuk dengan pena yang ada ditangannya.
Dia mulai mencorat – coret kertas yang ada dihadapannya itu, menulis point – point penting dalam mimpinya tadi.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan dari tabib Shilin, mulai sekarang Fan Jianying tidak bisa meremehkan mimpinya begitu saja.
Karena, mimpi yang dialaminya adalah sebauh pertanda bahwa ada sesuatu hal besar yang akan terjadi.
Fan Jianying terlihat terbelalak waktu tangannya selesai menggambar seekor katak dan menuliskan semua penjelasan fungsi tubuh katak yang bisa diingatnya dalam pelajaran biologi yang pernah dia terima dulu.
“ Kemungkinan besar lendir tersebut berasal dari lidah katak yang bisa memanjang dan mengeluarkan lendir yang kental untuk menjaring mangsanya….”, Fan Jianying mulai bermonolog.
“ Dia bernafas melalu saluran tenggorokan dan melalui kulitnya….”, ucap Fan Jianying menambahkan.
Saat sudah mengetahui dari mana asalnya lendir hijau dalam mimpinya dan mengetahui kelemahan sang katak.
Fan Jianying yang sudah tak bisa tidur kembali segera menuju kearah laboratorium pribadinya untuk membuat racun yang bisa membunuh sang katak dalam sekali serang.
Selain membuat racun, dia juga membuat beberapa balon raksasa yang nantinya bisa dia isi dengan cairan racun hingga bisa membunuh musuh dalam jumlah banyak dengan satu kali serang.
Tak lupa juga dia membuat sebuah jaring yang sangat besar, dimana jaring tersebut sudah dia celupkan kedalam cairan racun.
Setidaknya itu bisa dia gunakan sebagai perangkap hewan mutasi di beberap titik yang dianggap sebagai tempat munculnya hewan - hewan menjijikkan dan berbahaya tersebut.
Untuk mengamankan para prajurit, setidaknya dia akan membuatkan sebuah masker tranparan untuk menutup muka dan kepala para prajurit serta sarung tangan untuk melindungi mereka dari serangan hewan mutasi yang biasanya cenderung menyerang bagian tubuh yang terbuka.
Cukup lama Fan Jianying berkutat dalam laboratorium pribadinya hingga tak terasa sudah hampir seharian dia mengerjakan semuanya.
Fan Jianying yang sudah kelelahan pun mulai keluar dari dalam cincin ruangnya dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
Untung saja hari masih gelap, jadi dia masih bisa memejamkan kedua matanya untuk sesaat sebelum pergi keluar untuk menemui tabib Shilin setelah berkunjung ke Impereal Restoran.
Dayu yang masuk kedalam kamar untuk menyiapkan semua keperluan nona mudanya pagi ini memicingkan sebelah matanya sambil menatap Fan Jianying curiga.
“ Apakah semalam nona bermimpi buruk lagi hingga harus berganti pakaian ?...”, batin Dayu penuh tanda tanya.
Saat dirinya mengutarakan kekhawatirannya, lagi – lagi Fan Jianying mengelak dan mengatakan jika di sedikit kegerahan semalam hingga terpaksa harus berganti pakaian yang lebih nyaman.
Tentu saja alasan Fan Jianying tersebut terdengar sangat tidak masuk akan di telinga Dayu. Bagaimana nonanya bisa kepanasan di udara yang begitu dingin, hal itulah yang ada dibenak Dayu saat ini.
Meski begitu, untuk kesekian kalinya Dayu berusaha untuk percaya meski alasan Fan Jianying sangat tak masuk akal.
Setelah selesai dengan semua rutinitas paginya, Fan Jianying pun pergi mengunjungi tabib Shilin yang terlihat sedikit terkejut melihat madam ketiga Bai tersebut menemuinya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
__ADS_1
“ Apakah sudah ada waktunya ?...”, tanya tabib Shilin to the point.
Fan Jianying hanya mengangguk sebagai respon dari pertanyaan yang diajukan oleh tabib Shilin kepadanya.
Tanpa banyak bicara, tabib Shilin segera memberikan sebuah pil kecil yang dibungkus kertas kepada Fan Jianying.
“ Mungkin rasanya agak sedikit sakit…untuk yang lainnya, serahkan semuanya padaku….”, guman tabib Shilin pelan.
Lagi – lagi Fan Jainying hanya mengangguk sebagai respon jawabannya. Semua ini dilakukan karena takut ada yang menguping pembicaraan keduanya.
Mengingat hal ini sangat rahasia, maka mereka lebih banyak berinteraksi menggunakan isyarat.
Dimana semua hal sudah dijelaskan secara terperinci oleh tabib Shilin waktu berkunjung kedalam kediamannya untuk memeriksa kondisi kesehatanya tempo hari.
Sementara itu, Heng Yuan yang sudah meningkatkan populasi katak mutasi terlihat tersenyum lebar karena sebentar lagi rencana besarnya tersebut akan segera dia jalankan.
Dia sangat berharap dalam serangan kali ini Bai Cheung akan tewas disana sehingga kesempatannya untuk kembali memiliki Fan Jianying terbuka lebar.
“ Fan’er tunggulah…sebentar lagi aku akan membebaskanmu dari jeratan keluarga Bai…”, batin Heng Yuan bahagia.
Diapun semakin bersemangat menyuruh anak buahnya untuk segera menyelesaikan tugas mereka masing – masing.
Sementara itu, diwilayah perbatasan timur semua pasukan sedang merayakan keberhasilan jenderal besar Tian dalam membasmi semua pemberontak yang selama ini meresahkan warga.
Meski cukup senang, namun mereka juga tidak terlalu larut dalam euphoria tersebut karena peperangan belum sepenuhnya berakhir selama hewan mutasi belum dimusnahkan seluruhnya.
Sayangnya, waktu perpindahan kemarin mereka hanya mampu membasmi setengah dari populasi hewan mutasi yang ada.
Sehingga semua pasukan masih perlu waspada terhadap setengah populasi hewan mutasi yang masih ada dan posisi sarang mereka masih belum diketahui hingga saat ini.
Jenderal besar Tian perlahan menghampiri Bai Cheung yang terlihat sedang termenung sendirian sambil menatap langit bertabur bintang dibawah sebuah pohon.
“ Apa kamu sedang rindu dengan istrimu ?...”, tanya jenderal besar Tian menggoda.
Bai Cheung hanya tersenyum kecut menanggapi godaan dari atasannya itu. Meski apa yang diucapkan oleh jenderal besar Tian benar adanya, namun ego Bai Cheung yang tinggi masih sulit untuk mengakuinya.
Melihat Bai Cheung tak merespon candaannya, jenderal besar Tianpun mencoba untuk menganti topik pembicaraan.
“ Kurasa biskuit yang kamu berikan tadi pagi bisa menjadi alternative untuk mengatasi krisis pangan disini. Selain rasanya yang lezat, sampai malam juga aku masih belum merasa lapar…. ”, ucap jenderal besar Tian menjelaskan.
__ADS_1
“ Saya hanya memiliki beberapa. Rencananya akan saya buat untuk para prajurit yang akan pergi berperang. Saya mungkin juga akan mengirim surat kerumah agar mereka membuatkan biscuit serupa yang lebih banyak sebagai persiapan menyambut datangnya musim dingin… ”, Bai Cheung pun menjelaskan apa yang menjadi rencananya.
Melihat Bai Cheung mau berbicara panjang lebar dengannya, diam – diam jenderal besar Tian mengulum senyum puas.