
Pagi ini Fan Jianying terlihat sibuk berdandan karena hari ini dia akan ikut pergi ke kediaman Ming, rumah mada Chou untuk merayakan ulang tahun sang ayah.
Sebenarnya Fan Jinying sudah menolak secara halus, namun karena madam Chou dan matriark Bai terus saja memaksanya untuk ikut dengan berat hati diapun menyetujuinya.
Akhirnya disinilah dirinya, diatas kereta bersama matriark Bai menuju kediaman keluarga Ming. Keluarga asli madamh Chou yang bernama asli Ming Chou.
Sementara madam Chou beserta kedua putrinya berada didalam kereta yang berada tepat dibelakang kereta yang ditumpanginya.
Sementara satu kereta lagi dibuat untuk para pelayan wanita yang ikut serta besarma nyonya mereka ke acara perjamuan.
Kali ini Fan Jainying keluar bersama Dayu dan Hira untuk mengawalnya. Sebenarnya Heyna ingin ikut untuk menebus kesalahannya kemarin.
Tapi, servant Mailin dengan tegads menolak mengingat gadis tersebut mudah naik darah yang dikhawatirkan akan menimbulkan masalah bagi madam ketiga selama acara berlangsung.
Mengingat keluarga Ming merupakan keluarga terpandang dan memiliki kedudukan tinggi di kekaisan saat ini dengan posisi Ming Huan sebagai menteri dalam negeri, membuat servan Meilin pun waspada agar kediaman Bai tidak membuat malu selama acara berlangsung.
Didalam keretanya Fan Jianying duduk dengan patuh. Penampilannya yang cantik dan imut memberi matriark Bai dorongan untuk mencubit pipinya yang cubby.
Matriark Bai mengakui jika istrinya Bai Cheung itu sangatlah cantik. Bahkan di ibukota yang cukup besar, penampilan Fan Jianying terlihat menonjol dan menjadi salah satu yang terbaik diantara bunga yang sedang bermekaran.
Dalam beberapa hari terakhir mengamati, matriark Bai juga menyadari bahwa Fan Jianying adalah gadis yang memiliki sifat baik dan polos.
Tidak seperti gadis bangsawan kaya lainnya yang sombong dan culas, meski rumor yang beredar di masyarakat seperti itu.
Namun kenyataan yang ada justru mengatakan sebaliknya. Matriark Bai sebisa mungkin untuk memanjakan cucu menantu perempuannya itu sebanyak yang dia bisa.
Serta memberinya saran kapanpun ada kesempatan karena matriark Bai tidak ingin kepolosan dan kebaikan Fan Jianying disalahgunakan dan dimanfaatkan orang lain.
Semua ini matriark Bai lakukan dengan tujuan agar gadis itu hidup bahagia dan mau memberikannya cicit lucu yang banyak.
Sampai saat ini, matriark Bai masih belum paham dan merasa aneh kenapa Bai Cheung meninggalkan rumah dengan begitu tiba – tiba demi untuk bergabung dengan pasukan yang ada diperbatasan timur.
Dan meninggalkan istrinya yang sangat berharga dirumah sendirian. Matriark Bai merasa jika Bai Cheung pasti akan menyesal di kemudian hari jika benar – benar kepergiannya ini untuk mencampakkan permata indah yang ada dihadapannya itu.
Fan Jianying yang larut dalam pemikirannya tak memperhatikan jika sedari tadi matriarka Bai terus mengamatinya.
__ADS_1
“ Bagaimana jika nanti aku bertemu dengan kenalan pemilik tubuh ini ?...apa aku pura – pura hilang ingatan atau sebaiknya menghindar saja dari kerumunan ?...”, batin Fan Jianying berkecamuk.
Seandainya saja pemilik tubuh ini meninggalkan sedikit ingatannya, mungkin dia tidak akan segalau ini sekarang.
“ Jalani saja lah dulu…nanti pasti ada solusi…”, batin Fan Jianying menyerah saat dia tak mendapatkan apapun dalam ingatannya.
Hal inilah yang selalu dia lakukan jika pikirannya sudah macet total. Saat ini yang bisa dilakukan hanyalah mengikuti arus yang ada sambil mengamati keadaan sekitar.
“ Bukankah, dimana ada kemauan, disitulah ada jalan…”, itulah moto yang selalu Fan Jianying pegang dalam hidupnya sehingga apa yang namanya stress pergi jauh – jauh dari dirinya.
Saat Fan Jainying turun, dapat dia lihat madam Chou sudah berdiri disamping kereta bersama dengan kedua putri kecilnya.
Begitu juga dengan para pelayan yang setelah turun langsung menghampiri majikannya. Matriark Bai berjalan terpisah karena perkumpulan orang tua berbeda dengan wanita muda seperti dirinya dan madam Chou.
Saat memasuki gerbang kediaman keluarga Ming, madam Chou segera memerintahkan pengasuh kedua gadis kecil itu agar segera membawa little Fan dan little Kiew untuk bermain dengan sepupu yang usianya seumuran dengan mereka.
Melihat sang pengasuh langsung tanggap dengan perintah madam Chou, Fan Jianying pun mulai menyadari jika kakak iparnya itu sering pulang ke kediamannya bersama kedua putri kecilnya itu.
Sedangkan madam Chou terlihat berdiri dengan seorang gadis yang seusia dengan Fan Jianying yang diperkenalkan sebagai keponakan luar dari madam Chou.
Madam Chou terus mengawasi kedua putri kecilnya hingga sosok keduanya menghilang dari pandangan dan menatap Fan Jianying sambil tersenyum manis.
Melihat kedua bola mata Fan Jianying bergerak cepat kesana kemari, madam Chou yang merasa jika Fan Jianying sangat gugup segera mengambil satu tangannya dan mengenggamnya dengan lembut.
“ Jangan gugup…mungkin disini kamu akan bertemu dengan salah satu anggota keluarga atau temanmu…”, ucap madam Chou menenangkan.
Meski madam Chou mendengar rumor jika Fan Jianying tidak memiliki teman satu orang pun di ibukota karena sifatnya yang buruk dan kondisi kesehatannya yang lemah sehingga tidak memungkinkan baginya untuk sering datang dalam perjamuan teh yang diselanggarakan oleh para gadis bangsawan disini.
Madam Chou masih berharap jika rumor tersebut salah karena rumor yang mengatakan jika Fan Jianying adalah gadis sombong dan kejam nyatanya tak terbukti.
Fakta yang ada malah menunjukkan hal sebaliknya. Begitu juga dengan saat ini, madam Chou masih berharap ada satu orang teman yang mengenalnya dalam acara hari ini sehingga dia tidak lagi canggung dan bisa membaur dengan gadis bangsawan yang lainnya.
Bukannya menenangkan, perkataan madam Chou justru memunculkan kembali kegalauan hatinya. Bagaimanapun berada ditempat baru dan asing membuat dirinya menaruh kewaspadaan tinggi.
Fan Jainying terus saja menyebarkan jaringnya kesegala arah matanya menuju. Berharap inilah cara yang bisa dia gunakan untuk memindai dengan cepat sehingga situasi yang ada pun bisa segera diadaptasi olehnya.
__ADS_1
Madam Chou terus saja berjalan mengelilingi rumahnya sambil memperkenalkan pemandangan menarik yang ada didalam kediamannya.
Seperti saat ini, madam Chou menunjukkan kepada Fan Jianying sebuah kolam ikan yang sangat besar dimana permukaan kolam tersebut hampir seluruhnya tertutup bunga teratai yang mengapung indah diatas kolam.
“ Adik ipar, lihatlah....disana adalah ruangan tempat gadis muda dan para wanita berkumpul. Sedangkan yang sebelah sana adalah ruangan tempat matriark Bai berkumpul bersama dengan teman – teman seusianya…”, ucap madam Chou sambil menunjukkan jarinya ke beberapa tempat yang bisa dia lihat dari pinggir kolam ikan tersebut.
Fan Jianying melihat kearah ruangan, tempat berkumpulnya para gadis dan wanita bangsawan yang ditunjuk oleh madam Chou tadi.
Seperti apa yang sudah dia bayangkan sebelumnya, disana dia melihat para gadis dan wanita duduk dengan anggun dikursi yang telah disediakan sambil tertawa saat mereka mengobrol.
Sedangkan para pelayan terlihat sibuk keluar masuk dari pintu yang ada disamping ruangan tersebut untuk membawakan makanan dan minuman bagi maikannya Suasana terlihat semarak dan menyenangkan.
Fan Jianyingpun menyapukan pandangannya keselompok gadis bangsawan yang berkumpul disatu titik.
Cukup lama dia mengamati, namun tidak ada satupun gambaran seseorang yang menyerupai figuran yang ada dalam novel.
Dimana keberadaan figuran tersebut hanya disebut satu atau dua kali dengan gambaran sepintas hanya sebagai pemanis dalam novel.
Saat Fan Jianying sibuk memindai wilayah yang berhasil masuk kedalam jaring yang ditebarnya tadi agar bisa mendengar perbincangan dari sekelompok gadis itu, konsentrasinya langsung buyar begitu bahunya ditepuk pelan dari samping.
“ Adik ipar, bukankah itu Yihua dan madam Ronger, keluargamu…”, ucap madam Chou sambil menatap kearah dua perempuan beda usia yang baru saja datang tersebut.
Fan Jianying membuka matanya yang berkilau dan hitam saat melihat sepupunya, Yihua baru saja datang bersama dengan seorang wanita yang dia yakini sebagai madam Ronger, selir pertama ayahnya.
Mereka terlihat langsung bergabung dengan yang lainnya sambil tertawa terbahak – bahak.
Meski keduanya menggunakan cadar tipis yang menutupi wajahnya, namun dari postur tubuh dan gaya mereka berjalan dia bisa mengenali keduanya dengan mudah.
“ Kakak ipar, mata anda sungguh tajam. Mereka mengenakan cadar diwajahnya, tapi anda dengan mudah bisa menebaknya…”, ucap Fan Jianying memuji.
“ Karena mereka berdua sering datang ke berbagai acara, jadi aku bisa mengenali keduanya meski wajah mereka tertutup cadar…”, madam Chou berusaha untuk merendah.
Seperti yang sudah semua orang ketahui, hanya orang – orang tertentu saja yang bisa melihat wajah anggota keluarga Fan dengan alasan keamanan.
Namun, karena sekarang Fan Jianying sudah menikah dengan Bai Cheung, maka secara tidak langsung dia sudah terlepas dari aturan keluarga Fan tersebut.
__ADS_1
Sedangkan dalam keluarga Bai, tidak ada aturan seketat yang ada dalam keluarga Fan sehingga Fan Jianying bebas berkeliaran di luar kediaman tanpa menggunakan cadar selain pada saat dia sedang menjalankan misinya dan menyelinap keluar.
“ Aku rasa ada baiknya juga anggota keluarga Fan melakukan hal tersebut sehingga privasi masing – masing anggota keluarga dapat terjaga…”, batin Fan Jianying bermonolog.