
Setelah semua rencana berhasil disusun rapi dan tugas masing – masing orang sudah dibagi,Fan Jianying bersama peramal Yan pun segera balik ke kamp militer pasukan Huangsahan untuk segera menjalankan rencana selanjutnya.
Karena, semakin lama rencana tersebut di tunda, maka akan membuat kaisar Muzeng semakin curiga.
Begitu sudah berada di kamp militer, keduanya pun berpisah agar tidak ada yang menimbulkan kecurigaan apapun.
Peramal Yan terlihat langsung berjalan menuju tempat dimana pangeran Xioran melakukan pemulihan tubuhnya.
Sedangkan Fan Jianying terlihat berjalan menuju kearah dapur waktu mendapatkan kabar jika peti dingin yang dibuatnya tertimbun salju lumayan banyak sehingga bahan makanan yang ada di dalamnya masih belum bisa diambil.
Maka dari itu, tadi sewaktu berada didalam cincin ruang Fan Jianying mengambil beberapa bahan makanan yang masih ada disana agar bisa dikonsumsi untuk beberapa hari kedepan sambil menunggu para prajurit berhasil mengeluarkan peti dingin dari timbunan salju.
“ Syukurlah…akhirnya anda datang juga…”, ucap koki Lizeng bahagia waktu melihat Fan Jianying datang sambil membawa beberapa bungkusan bresar.
Fan Jianying pun segera membuka bungkusan yang dibawahnya begitu tiba di dapur dan mulai membantu koki Lizeng untuk membuat sarapan.
Membantu koki Lizeng memasak membuat tubuh Fan Jianying terasa lebih hangat dan kembali ber energi.
Koki Lizeng terlihat beberapakali tersenyum simpul kepada Fan Jianying. Tentu saja hal itu membuat gadis tersebut mengkerutkan kening cukup dalam.
“ Kenapa dari tadi koki Lizeng senyum – senyum sendiri waktu melihatku ?...apa ada yang salah ?...”, batin Fan Jianying resah.
Fan Jianying pun segera mnegecek pakaian yang dikenakannya dengan gerakan memutar tubuhnya untuk mencari bagian mana yang dirasa cukup ganjil.
Beberapa kali Fan Jianying melihat pakaiannya, mungkin ada sesuatu yang salah sehingga membuat lelaki disampingnya itu tersenyum waktu menatapnya.
Dan Fan Jianying baru menemukan jawabannya waktu dia mengambil gelas kaca untuk minum. Kedua matanya langsung membulat sempurna waktu melihat ada bercak merah disekitar lehernya.
Untuk memastikan dengan jelas, diapun segera mengambil kaca yang tersimpan di lenggan bajunya.
“ Astaga !!!...apa ini ?!!!...”, batin Fan Jianying terkejut.
Fan Jianying berusaha untuk menutupi lehernya dengan kerah bajunya, namun hal tersebut tak berhasil.
Bekas merah keungguan tersebut masih terlihat jelas disana. Wajah Fan Jianying pun berubah menjadi merah padam menahan rasa malu.
Dengan gerak kikuk dia mencoba menutupi bekas kissmark tersebut dengan rambut panjangnya yang diarahkan kedepan.
“ Sialan !!!...ini semua pasti ulah lelaki mesum itu !!!....”, batin Fan Jianying geram.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan tugasnya, Fan Jianying pun bergegas mencari sang suami untuk meminta penjelasan.
Fan Jianying berjalan dengan wajah ditekuk dengan sorot mata tajam menatap kedepan, membuat para parjurit yang berpapasan dengannya takut untuk menyapanya.
“ Siap yang berani menyinggung madam muda ketiga hingga dia semarah itu ?...”, batin prajurit yang berpapasan dengannya sambil bergidik ngeri.
Dari kejauhan Fan Jianying bisa melihat jika suaminya saat ini berada di pos penjagaan tengah dan sedang berbincang – bincang dengan Liam dan beberapa orang prajurit yang bertugas disana.
Begitu melihat istrinya datang mendekat, Bai Cheung pun bergegas turun dari atas pos dan langsung menghampiri Fan Jianying.
Begitu Bai Cheung tiba dibawah, Fan Jianying pun segera menyeret suaminya dengan kasar dan membawanya kembali kedalam tendanya.
Semua orang hanya bisa terbelalak waktu melihat jenderal muda mereka diseret begitu saja oleh sang istri tanpa bisa melakukan perlawanan apapun.
“ Kesalahan apa yang dilakukan jenderal muda Bai Cheung hingga bisa membuat istrinya marah seperti itu ?...”, itulah pertanyaan yang ada dibenak semua orang yang melihat kejadian tersebut.
Begitu tiba di dalam tenda, Fan Jianying langsung mencerca suaminya itu dengan berbagai macam pertanyaan yang hanya ditanggapi oleh Bai Cheung dengan cengiran kuda hingga membuat Fan Jianyinng naik pitam.
Melihat istrinya marah, Bai Cheung pun berusaha untuk menjelaskan semuanya dengan harapan istrinya tersebut bisa mengerti.
“ Jika ingin membantu…tak seharusnya kamu melakukan hal buruk seperti ini kepadaku…”, ucap Fan Jianying sinis.
Melihat istrinya bertambah murka, cepat – cepat Bai Cheung memeluk erat tubuh Fan Jianying sambil membelai lembut rambut istrinya tersebut.
“ Istriku…kamu jangan marah lagi ya. Aku berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi dimasa depan tanpa seijinmu…”, ucap Bai Cheung merajuk.
Fan Jianying terlihat terdiam untuk beberapa sesaat. Meski ucapan suaminya itu ada benarnya juga, tapi dia masih belum siap jika harus bermesraan dengan lelaki yang tidak dicintainya, meski itu adalah suaminya sendiri.
Melihat istrinya terdiam, Bai Cheungpun melepas pelukannya dan mengangkat dagu Fan Jianying agar gadis itu menatap matanya.
“ Sekali lagi, maafkan aku karena kembali membuatmu kecewa. Tapi aku berjanji, aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik dan bisa menjagamu, selamanya…. ”, ucap Bai Cheung tulus.
Melihat ada rasa penyesalan yang dalam di kedua mata suaminya, perlahan hati Fan Jianying pun mulai luluh meski rasa kesal dalam hati belum sepenuhnya hilang.
“ Aku tahu jika kamu meminta hakmu, itu adalah hal yang sangat wajar karena aku adalah istrimu. Tapi, aku masih belum siap melakukan itu semua sebelum ada perasaan cinta diantara kita….”, ucap Fan Jianying mengutarakan semua yang ada dalam pikirannya.
Fan Jianying cukup tahu jika penolakannya ini membuat suaminya kecewa. Tapi, dia juga tak bisa membohongi hati nuraninya sendiri.
Meski sudah merasa nyaman, tapi dia juga masih belum memiliki rasa apapun terhadap suaminya itu.
__ADS_1
Apalagi jika harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, sampai detik ini Fan Jianying masih merasa belum siap.
Keduanya pun terdiam cukup lama, membuat suasana menjadi sedikit canggung. Fan Jianying yang tidak ingin larut dalam permasalahan ini pun akhirnya mulai bersuara.
“ Sudahlah…lupakan saja masalah itu….”, ucap Fan Jianying sambil mengalihkan pandangan matanya ke samping.
Melihat sikap istrinya tersebut, Bai Cheung hanya bisa menghela nafas cukup dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
Bagaimanapun juga, semua permasalahan ini akibat ulahnya sendiri hingga membuat istrinya tersebut marah.
Tanpa keduanya sadari, di luar tenda kaisar Muzeng tersenyum bahagia waktu menyadari jika sang Ratu tidak bahagia dengan pernikahannya.
“ Tampaknya, peluangku untuk bisa mendapatkannya sangatlah besar….”, batin kaisar Muzeng bahagia.
Selain mewarisi kekuatan Ratu hutan kematian, wajah Fan Jianying pun dianggap lebih cantik jika dibandingkan dengan Ratu Elisabeth.
Membuat kaisar Muzeng semakin berambisi untuk bisa mendapatkan semuanya, Ratu hutan kematian dan Kristal kehidupan yang sangat dia yakini bisa gadis itu dapatkan kembali.
Sementara itu, di kerajaan Huangwe tampak pangeran kedua Song Yu sedang berdebat dengan pangeran ke empat Wei Jie.
Keduanya bertengkar karena pangeran Wei Jie telah mencampuri urusannya hingga pasokan senjata untuk tentara rahasia miliknya terhenti.
“ Jangan terlalu serakah…jika ayahanda tahu, kakak akan dianggap sebagai pemberontak…”, ucap pangeran ke empat Wei Jie pelan namun penuh dengan penekanan.
Rahang pangeran kedua Song Yu langsung mengeras kuat begitu mendapatkan ancaman dari adiknya tersebut.
Sorot matanya penuh dengan kilat kemarahan yang tertahan dengan kedua tangan terkepal kuat hingga kuku jarinya menancap ke telapak tangannya sehingga membuatnya berdarah.
Zoelu segera maju begitu para pengawal pangeran kedua Song Yu mengarahkan senjata mereka kearah junjungannnya.
Pangeran We Jie hanya tersenyum melihat anak buah kakaknya itu mengarahkan pedang kepadanya.
Dengan santainya dia menepuk pundak pangeran kedua Song Yu sambil berbisik tepat ditelinganya sambil tersenyum.
“ Aku ingin tahu bagaimana pendapat ayahanda jika kasus ini aku bongkar di pengadilan…”, ancam pangeran Wei Jie sambil tersenyum licik.
Setelah mengatakan hal tersebut dan menepuk pundak pangeran Song Yu beberapa kali, pangeran Wei Jie pun berlalu sambil terkekeh diikuti Zoelu yang selalu siap siaga dibelakangnya.
Mendengar ancaman sang adik, pangeran Song Yu hanya mampu mengertakkan giginya hingga bergemelatuk dan mengangkat satu tangannya agar anak buahnya melepaskan sang adik dan kembali menyarungkan pedang mereka.
__ADS_1
“ Lihat saja, aku lah yang nanti akan jadi pemenangnya !!!....”, batin pangeran Song Yu penuh amarah.