CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
ANTISIPASI


__ADS_3

Kaisar Huang Lo terlihat sangat terkejut waktu mengetahui jika Fan Jianying hendak dibunuh oleh orang suruhan Ming Huan.


Bahkan ini juga bukan pertama kalinya madam Chou dan Ming Huang mencoba untuk membunuh putri bungsunya itu membuat kaisar Huang murka.


Diapun segera menyuruh kasim untuk memanggil tiga orang pengawal bayangan yang ditugaskannya untuk mengawal perjalanan putri bungsunya itu ke pegunungan Weixi sebelum akhirnya menuju ke hutan kematian dan wilayah perbatasan timur.


Bingwen, Peizhi dan Feng segera menghadap begitu kaisar Huang memanggil mereka untuk menjelaskan semua hal yang terjadi selama mereka menemani perjalanan Fan Jianyingdi wilayah timur.


Meski mereka sudah berjanji kepada Fan Jianying, tapi mengetahui jika kaisar Huang sudah mengetahui semuanya maka tak ada gunanya bagi mereka untuk tetap menggelak.


“ Kenapa kalian merahasiakan masalah sepenting ini dariku ?!!!...”, hardik kaisar Huang murka.


“ Menjawab, kami hanya mengikuti perintah madam muda ketiga Bai untuk merahasiakan semua ini dari siapapun, termasuk kepada anda Yang Mulia….”, ucap Bingwen lantang.


Mendengar ucapan Bingwen, Kaisar Huang pun tak bisa lagi untuk menahan amarah yang sedari tadi bercokol di hatinya.


Melihat wajah junjungannya mulai menggelap, ketiga pengawal bayangan tersebut segera berlutut dihadapan kaisar Huang.


“ Hamba mengaku salah dan siap menerima hukuman….”, ketiganya kompak bersuara waktu melihat rahang kaisar Huang mulai mengeras dengan wajah memerah menahan marah.


Meski ketiganya sudah berjasa dalam menjaga putri bungsunya itu, tapi bagaimanapun juga hal yang menimpah Fan Jianying bukanlah hal sepele.


Apalagi Ming Huan terkenal sebagai menteri yang netral dan selama ini selalu menunjukkan sikap tenang dipermukaan.


Kaisar Huang sama sekali tak menyangka jika menteri dalam negeri tersebut ternyata menyimpan ambisi besar didalam hatinya.


Apalagi waktu kaisar Huang juga mengetahui jika Ming Huan diam - diam bekerja sama dengan Ratu Qinly, membuat amarahnya semakin memuncak.


“ Beri mereka hukuman cambuk seratus kali !!!....”, perintah kaisar Huang penuh amarah.


Ketiganya pun segera keluar ruangan untuk menjalankan hukuman yang baru saja mereka terima.


Setelah ketiganya pergi, permaisuri Wei mengenggam tangan suaminya untuk mengungkapn segala kegundahan yang ada didalam hatinya.


“ Apa tidak sebaiknya Fan’er tinggal didalam istana saja. Aku sangat cemas sesuatu yang buruk akan kembali terjadi padanya….”, ucap permaisuri Wei dengan wajah sedih.

__ADS_1


Kaisar Huang sebenarnya juga ingin agar Fan Jianying tinggal didalam istana. Tapi, melihat kondisi istana yang semakin hari semakin memanas membuatnya sedikit bimbang.


“ Aku akan mengundang Fan’er dan suaminya besok kedalam istana untuk membicarakan semuanya…”, ucap kaisar Huang memutuskan.


Diapun segera memanggil kasim agar membuat surat undangan agar Bai Cheung dan Fan Jianying menghadap kepadanya besok pagi.


Begitu kasim pergi untuk menjalankan tugasnya, permaisuri Wei segera menopang tubuh kaisar Huang yang tiba – tiba saja melemah dan hampir jatuh kelantai.


“ Yang Mulia, sebaiknya anda sekarang beristirahat dikamar hingga kondisi tubuh anda pulih kembali….”, ucap permaisuri Wei penuh perhatian.


Permaisuri Wei segera menuntun suaminya untuk masuk kedalam kamarnya agar bisa beristirahat. Tak lama kemudian, tabib istana datang dan langsung memeriksa kondisi kaisar Huang.


Setelah memeriksa kodisi kaisar Huang, tabib Gaolin segera mengeluarkan pil pemulihan tubuh dari balik saku bajunya dan memberikannya kepada junjungannya yang saat ini terbujur lemah diranjangnya.


“ Katakan dengan jujur, berapa lama lagi aku mampu bertahan dalam kondisi seperti ini ?….”, ucap Kaisar Huang mengambil nafas panjang.


“ Saya yakin tubuh anda masih kuat untuk menahan semuanya Yang Mulia….”, ucap tabib Gaolin menghibur.


“ Tinggal berapa lama ?...”, tanya kaisar Huang sekali lagi.


Melihat wajah jika kaisar Huang tampaknya sudah mengetahui dengan benar akan penyakit yang mengerogoti tubuhnya, tabib Gaolin hanya mampu mendesah pasrah.


“ Jadi….kurang setahun lagi. Waktu yang singkat….”, ucap kaisar Huang lemah.


Dia tak tahu jika kehamilan Fan Jianying ternyata berimbas cukup besar pada tubuh dan kesehatannya.


Tapi ini juga sudah menjadi konsekuensi yang harus dia tanggung demi menyelamatkan nyawa wanita yang sangat dicintainya itu.


Sementara itu di ruang kerjanya, Bai Cheung mengamati surat undangan yang baru saja diterimanya dari kasim.


Meski tanpa membukapun Bai Cheung sudah tahu apa isi surat undangan yang ditujukan kepadanya dan sang istri.


“ Liam, bagaimana dengan tugas yang kuberikan padamu ?....”, tanya Bai Cheung tajam.


“ Semua sudah saya laksanakan tuan. Pelayan wanita itu juga sudah mengaku setelah seluruh keluarganya berhasil kita selamatkan….”, ucap Liam tenang.

__ADS_1


“ Bagus…pergi sampaikan surat ini kepada pangeran ke empat….”, perintah Bai Cheung sambil menyerahkan secarik kertas kepada pengawal pribadinya itu.


Tanpa banyak bicara, Liam pun segera melaksanakan perintah yang diberikan kepadanya. Sementara itu saat ini pangeran ke empat Wei Jie sedang berdiskusi dengan sang kakak mengenai Ming Huan.


“ Menurutmu, bagaimana dengan rencanaku itu ?....”, tanya putra mahkota Qin Shi Huang dengan wajah serius.


“ Kita harus bergerak cepat kakak, sebelum bukti – bukti tersebut berhasil dihancurkan….”, ucap pangeran Wei Jie bersemangat.


“ Tentu saja. Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk memblokir pengiriman tersebut. Aku tahu pasti ada hal besar didalamnya mengingat pangeran Song Yu turun tangan sendiri mengawalnya hingga keluar dari ibukota…”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang tersenyum sinis.


Obrolan keduanya terhenti waktu pengawal didepan memberitahukan jika Liam sedang mencari pangeran ke empat Wei Jie.


“ Suruh masuk….”, ucap pangeran Wei Jie datar.


Liampun segera masuk kedalam ruangan pangeran Wei Jie dan segera menyerahkan surat Bai CHeung  itu kepada kakak Fan Jianying tersebut.


“ Bilang pada Cheung, besok pesanannya akan diantar langsung ke kediaman Ayahanda Kaisar…”, ucap pangeran Wei Jie lugas.


Liam pun segera pamit undur diri setelah mendapatkan balasan dari pesan yang diberikan oleh tuan mudanya itu.


“ Besok Cheung dan Fan’er akan menghadap ayahanda. Kita tunggu kabar dari mereka dulu agar bisa melakukan langkah selanjutnya…”, ucap pangeran Wei Jie memberi masukan.


“ Baiklah. Hubungi tabib Shilin dan suruh mempersiapkan semuanya….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang sambil menepuk pundak sang adik sebelum pergi.


Putra mahkota Qin Shi Huang sangat yakin jika Ratu Qinly dan pangeran Song Yu tahu bahwa kondisi ayahanda Kaisar sedang lemah, mereka akan segera bertindak.


Demi pencegah adanya penggulingan kekuasaan sebelum waktunya, mereka juga harus mempersiapkan diri sedini mungkin untuk mengantisipasi hal tersebut.


Apalagi dia dapat kabar jika pasukan khususnya yang dibentuk di kota Banjiwen juga sudah mengalami perkembangan pesat dibawah pelatihan Jian, sehingga dia akan mempergunakan pasukan tersebut disaat - saat terdesak.


Sementara untuk pasukan khusus milik Ratu Qinly, putra mahkota sudah mendapatkan informasi jika mereka ada di wilayah perbatasan utara meski untuk posisi pastinya mereka belum mendapatkannya.


Setidaknya jika tahu mereka ada di wilayah perbatasan utara, maka akan mudah bagi putra mahkota Qin Shi Huang untuk memblokirnya masuk ke ibukota jika kondisi buruk yang dia prediksikan terjadi.


“ Kuharap pertemuan antara Cheung dan Fan’er dengan ayahanda besok membuahkan hasil yang bagus sehingga bisa menunjang pergerakanku selanjutnya….”, batin putra mahkota Qin Shi Huang penuh harapan.

__ADS_1


Sebenarnya putra mahkota Qin Shi Huang ingin Fan Jianying tinggal didalam istana. Selain agar dia bisa mengawasi dan menjaga gadis itu secara langsung.


Setidaknya, dengan kehadiran Fan Jianying pergerakan Ratu Qinly dan pengeran Song Yu serta antek – anteknya tak akan seleluasa sekarang karena adiknya itu mempunyai kepekaan lebih jika dibandingkan dengan ayahandanya.


__ADS_2