CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
Bab 32. Persetujuan Ayah


__ADS_3

Selesai mandi dan berganti pakaian, Damian makan ditemani Vera. Sebenarnya Vera tidak ingin menemani Damian, tetapi, Damian seperti anak kecil. Dia tidak mau makan jika tidak ada yang menemani. Damian tampak senang, bisa makan ditemani Vera.


"Apa-apaan ini. Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke rumah ini!" teriak pak Anto saat melihat Damian makan dirumahnya.


Damian dan Vera tampak terkejut. Mereka saling berpandangan dan hampir tidak bisa berkata-kata. Vera menarik napas panjang dan mencoba untuk tidak gugup melihat ayahnya.


"Ayah, ayah baru pulang dari sawah. Badan ayah masih kotor. Kenapa Ayah tidak mandi dulu? Nanti Vera siapkan makanan untuk Ayah," ucap Vera sambil mendekati ayahnya.


"Awas kamu!" ancam pak Anto.


Pak Anto bergegas mandi dan berganti pakaian. Sementara Vera meminta Damian untuk tenang dan tidak perlu takut pada ayahnya. Vera juga mengatakan bahwa ayahnya sangat baik kepada semua orang.


Tadi, ayahnya pasti hanya kaget saja.


Apa yang dikatakan Vera, bagi Damian tidak berpengaruh apa-apa. Karena Damian sudah tahu, orang seperti apa, ayahnya Vera. Dulu Damian memang takut karena menghormati pilihan pak Anto. Tetapi kini, demi mengejar cintanya pada Vera, dia akan berani menghadapi kemarahan pak Anto. Damian ingin berusaha sekuat tenaga agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.


Vera, menyiapkan makanan untuk ayahnya. Damian berusaha membantu meskipun hanya menyediakan piring dan gelas saja. Sambil sesekali melihat Vera dengan cekatan memanaskan makanan dan menyiapkannya di atas meja makan. Cocok untuk calon istri ideal. Damian tersenyum sendiri sambil melamun.


"Hai, jangan melamun di meja makan, nanti kalau lauk kamu hilang jangan tanya aku, ya?" ledek Vera sambil tersenyum manis bak madu.


Bagaimana Damian tidak sering melamun, jika Vera terus saja memberikan senyuman termanisnya setiap saat.

__ADS_1


"Ehem. Apa makanan ayah sudah siap?" tanya pak Anto sambil duduk.


"Sudah, Ayah. Tadi ibu bilang mau ke rumah Wak Dedi. Pulangnya, abis sholat Maghrib, Ayah," jawab Vera sambil ikut duduk di dekat ayahnya.


"Ya, kemarin juga sudah pernah bilang ke ayah. Seharusnya, ibumu tidak membiarkan kalian berduaan di rumah. Bikin cemas saja," ucap pak Anto sambil menghela napas.


"Ayah, kami sudah dewasa dan tahu, mana yang boleh dan tidak. Ayah jangan menganggap Vera anak kecil lagi," ucap Vera sambil mengambilkan nasi untuk ayahnya.


"Benar, kata Vera. Kami ...," ucap Damian terhenti oleh tatapan pak Anto yang menunjukan ketidaksukaan pada Damian.


"Aku percaya pada Vera, tapi aku tidak percaya pada kamu, pak Damian," gumam pak Anto masih dengan tatapan tajamnya.


Selesai makan, Damian pamit pergi kekamarnya, sementara pak Anto masih meminta penjelasan dari Vera.


"Ayah, ibu memang sudah menandatangani surat perjanjian sewa kamar. Karena ibu tahu, ayah membutuhkan uang tersebut untuk memulai sawah. Ayah, sebenarnya apa yang Ayah takutkan? Ayah tidak menyukai pak Damian? Pak Damian tidak ada bedanya dengan laki-laki lain dan dia juga berhak menyewa kamar ini," tanya Vera.


"Bukan ayah tidak menyukai Damian, tapi ayah hanya tidak ingin orang menganggap kamu bisa bekerja karena dia tinggal di sini,"jawab ayahnya berusaha menyembunyikan kekhawatirannya tentang Damian.


"Kalau begitu, tidak masalah, pak Damian menyewa kamar kakak. Benar, 'kan Ayah?" tanya Vera.


Pak Anto akhirnya hanya bisa setuju. Vera tidak boleh tahu jika dia khawatir jika Damian memanfaatkan ini, untuk mendekati Vera. Untung saja Damian belum mengungkapkan perasaannya pada Vera. Karena melihat gelagat Vera menunjukan jika Vera sebenarnya juga ada rasa dengan Damian.

__ADS_1


Keesokan harinya, Vera bangun pagi-pagi sekali untuk menyimak sarapan. Karena sesuai perjanjian sewa, makan dan dan kenyamanan beristirahat menjadi poin penting. Jadi sejak hari ini, Mereka akan seperti keluarga, makan bersama setiap hari.


Selesai sarapan, Vera sudah bersiap berangkat bekerja. Vera menyiapkan sepedanya dengan mengecek ban depan dan belakang. Takutnya jika nanti ada masalah di jalan. Ayah dan ibunya sudah lebih dulu berangkat ke sawah.


"Vera, naik mobil aku saja," ajak Damian yang juga sudah bersiap berangkat.


"Tidak perlu, Pak Damian. Saya terbiasa naik sepeda. Sekalian olahraga," jawab Vera sambil meletakkan tas ke dalam keranjang sepeda.


Damian tidak bisa memaksa Vera untuk naik mobilnya. Dia tidak ingin Vera merasa ilfil padanya. Damian harus mencari cara lain untuk mendekati Vera.


Sebelum pergi, Vera mengunci pintu rumah dan kuncinya ditaruh diatas pintu, supaya jika orangtuanya pulang dari sawah, bisa masuk dan Inis udah kebiasaan lama. Vera segera mengayuh sepedanya menuju sekolah diikuti mobil Damian dari belakang.


Sampai sekolah, Damian memimpin rapat dan memutuskan bahwa para staf pengajar akan dibagikan tugas mengenakan sekolah mereka beserta program-program pelajaran, yang akan mereka laksanakan untuk meraih simpati anak-anak.


Karena sebentar lagi tahun ajaran baru, dan belum ada murid, Damian dan pihak yayasan sepakat untuk membagi tugas pergi ke sekolah-sekolah. Setiap satu tim, ada dua orang. Sementara, Vera satu tim dengan Damian, ditugaskan untuk mengenalkan sekolah mereka ke beberapa sekolah dasar yang sudah ditentukan. Mereka akan berusaha menarik simpati anak-anak sehingga mereka memilih sekolah di sana.


Vera dan Damian, saling bekerja sama dan mengabaikan rasa canggung karen mereka akan bersama selama beberapa hari ke depan.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2