CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
TERHASUT MADAM CHOU


__ADS_3

Berita penangkapan Ming Huan dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap madam muda ketiga Bai dengan cepat beredar di ibukota hanya dalam hitungan jam saja.


Semua orang tak menyangka jika menteri dalam negeri yang terkenal santun dan tak banyak tingkah tersebut akan melakukan hal buruk seperti itu hanya demi memuaskan kecemburuan sang putri kepada adik iparnya.


Bai Axiang yang baru saja tiba di ibukota tentu saja terkejut mendengar berita tersebut. Diapun langsung memacu kudanya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Bai.


Dia ingin bertemu istrinya dan meminta penjelasan tentang semua hal yang baru saja di dengarnya tersebut.


Sesampainya di kediaman, Bai Axiang segera turun dari atas kudanya dan memberikannya kepada pelayan laki – laki miliknya.


Diapun segera masuk kedalam kediamannya sambil berteriak memanggil - manggil nama  sang istri. Cukup lama Bai Axiang berteriak dan mencari keberadaan istrinya tersebut, tapi  wanita yang dicarinya itu  tak kunjung terlihat batang hidungnya.


Bukan hanya sang istri yang tak terlihat dikediaman, kedua putrinya pun juga sedari tadi sama sekali tak terlihat.


Hingga ada seorang pelayan yang tiba – tiba datang menghampiri dan memberi tahunya jika sekarang kedua putrinya dirawat sang Ibunda di kediaman utama, sedangkan istrinya dikurung di halaman belakang oleh matrirak Bai.


Mendengar hal itu, Bai Axiang terlihat sangat murka waktu mengetahui jika istrinya dikurung dalam banggunan tua tak layak tersebut.


Namun, langkah Bai Axing dihentikan oleh dua orang pengawal yang bertugas untuk menjaga madam Chou agar tak kabur.


“ Maaf tuan muda pertama, kami tak bisa membiarkan anda masuk sebelum mendapatkan ijin dari matriark Bai ……”, ucap para pengawal tegas.


Madam Chou yang mendengar suara suaminya di luar ruangan segera menangis tersedu – sedu sambil berteriak minta tolong.


Mendengar tangisan sang istri yang sangat memilukan hati, Bai Axiang pun memberontak dan menghajar semua pengawal yang berusaha untuk menahannya masuk kedalam halaman belakang kediaman Bai tersebut.


Kekuatan Bai Axiang sebagai jenderal muda yang biasa berperang sejak muda tak sebanding dengan para pengawal yang menjaga madam Chou  yang berhasil dengan mudah berhasil dia lumpuhkan.


Fan Jianying yang merasa jika halaman belakang tempat kakak iparnya dikurung ada keributan, segera memerintahkan pelayan senior Gaeng untuk mengeceknya.


Pelayan senior Gaeng yang baru saja datang sangat dikejutkan oleh banyaknya pengawal yang ditugaskan untuk menjaga madam Chou tumbang tergeletak diatas tanah.


Salah satu pengawal yang tidak mengalami luka parah segera dituntun oleh pelayan senior Gaeng ke kediaman utama untuk melaporkan semua kejadian tersebut kepada matriark Bai.


Bai Axiang yang berhasil menerobos masuk dan mendobrak banggunan tua tersebut segera menghampiri sang istri.

__ADS_1


Hati Bai Axing sangat sakit waktu mengetahui kondisi istrinya  yang mengenaskan dnegan tangan dan kaki dirantai, seperti seekor hewan buas.


Karena rantai yang dipergunakan untuk mengikat tangan dan kaki istrinya adalah milik leluhurnya yang tak mudah untuk dipatahkan begitu saja.


Bai Axiang pun memilih untuk mendekat kearah sang istri dan memeluknnya dengan erat. Madam Chou cukup bahagia melihat sikap hangat yang ditunjukkan suaminya kepadanya.


“ Bagaimana kondisimu ?...apa yang sebenarnya terjadi ?....”, tanya Bia Axiang dengan tatapan cemas.


Madam Chou tak menjawab pertanyaan sang suami dan semakin mengeraskan tangisannya. Hal itu tentu saja membuat hati Bai Axiang hancur seketika.


“ Katakan…siapa yang berani menindasmu seperti ini ?...”, tanya Bai Axiang dengan wajah sedih.


Melihat sang istri masih terdiam dengan air mata mengalir dengan deras membuat Bai Axiang kembali memeluk tubuh Madam Chou dengan erat, menyalurkan kehangatan yang ada dalam dirinya.


“ Jangan takut…katakan, siapa yang membuatmu menjadi seperti ini ?....”, ucap Bai Axiang dengan suara lembut sambil memeluk tubuh istrinya dengan erat.


Mendengar ucapan sang suami, madam Chou pun tak mensia –siakan kesempatan baik tersebut untuk mengadu domba antara Bai Axiang dan Bai Cheung.


Kedua tangan Bai Axiang mengepal dengan kuat waktu mendengar cerita sang istri jika yang menyebabkan semua hal tersebut adalah Bai Cheung, sang adik.


Dengan tangis terisak – isak madam Chou semakin membumbui ceritanya dengan beberapa hal hingga membuat rahang Bai Axiang semakin mengeras.


Melihat suaminya pergi dengan penuh amarah, madam Chou diam – diam tersenyum puas. Dia pun kembali berbaring santai sambil menanti drama antara kakak beradik tersebut dengan hati gembira.


Bai Axiang yang sudah termakan hasutan istrinya keluar dari halaman belakang rumah dengan penuh amarah.


Melihat sang adik baru saja masuk kedalam rumah, Bai Axiang yang sudah gelap mata segera menghajar Bai Cheung denagn membabi buta.


Bai Cheung yang tak terima begitu saja dipukul tanpa sebab oleh sang kakakpun membalas perbuatan Bai Axiang kepadanya.


Perkelahian kakak beradik tersebut pun tak terelakkan. Matriark Bai yang hendak menuju halaman belakang setelah mendengar laporan para pengawal yang baru saja dihajar cucu pertamanya hingga babak belur akhirnya menghentikan langkahnya dan beralih ke halaman depan waktu mendengar suara keributan disana.


“ Berhenti sekarang juga !!!!.....”, teriak matriark Bai lantang.


Keduanya segera menghentikan perkelahian waktu sang nenek berteriak keras dihadapan keduanya.

__ADS_1


Matriark Bai segera membawa kedua cucunya tersebut ke kediaman utama untuk diobati. Selanjutnya, diapun segera menanyakan keduanya apa hal yang membuat dua lelaki dewasa tersebut berkelahi seperti anak kecil.


“ Sebaiknya nenek menanyakan hal itu kepada kakak, kenapa tiba – tiba di menghajarku secara membabi buta tanpa sebab….”, ucap Bai Cheung sambil menatap sang kakak dengan tajam.


Meski Bai Axiang merasa jika tindakannya tersebut salah, namun waktu dia kembali mengingat cerita sang istri darah dalam tubuhnya kembali mendidih.


“ Apa kamu sekarang gila kehormatan dan merasa tak puas hanya berhasil menjebloskan Bai Wang kepenjara hingga harus mengincar istriku….”, ucap Bai Axiang mencemoh.


Bai Cheung yang sudah mulai mengerti duduk persoalan yang sebenarnya hanya tersenyum sinis kepada sang kakak.


“ Jika kakak sebagai aku, apa yang akan kakak lakukan jika ada seseorang yang ingin membunuh istri kakak didepan mata tanpa kakak bisa melakukan apapun….”, ucap Bai Cheung tajam.


Bai Axiang yang sudah termakan ucapan istrinya tak bisa mempercayai begitu saja ucapan sang adik, meski hati kecilnya membenarkan ucapan Bai Cheung.


Jika dia berada diposisi sang adik, tentunya dia akan melakukan hal yang sama. Namun karena hasutan madam Chou sudah menancap kuat didalam pikirannya maka fakta tersebut berusaha diabaikannya.


“ Apa ada bukti jika istriku yang melakukannya ?...bisa saja kan itu hanya bualan istrimu saja untuk menjatuhkan nama baik istriku…..”, ucap Bai Axiang sinis.


“ Bukti, tentu saja ada. Aku bukan orang yang asal menuduh jika tak ada bukti kuat dihadapanku…..”, ucap Bai Cheung santai.


“ Bukti sudah aku berikan kepada kaisar Huang semua tadi pagi. Jika kakak ingin mendapatkan keadilan untuk madam muda pertama, maka dia bisa ikut menjalankan sidang bersama ayahandanya yang mungkin dua hari lagi akan digelar….”, ucap Bai Cheung menawarkan.


Matriark Bai yang sedari tadi diam menyimak percakapan kedua cucunya tersebut akhirnya bersuara agar kesalah pahaman antar saudara tersebut bisa secepatnya terselesaikan.


“ Aku sengaja mengurung Chou di halaman belakang agar dia tak terlibat langsung dalam peristiwa ini sehingga nyawanya akan selamat. Tapi jika kamu bersikeras, maka aku tidak akan melindunginya lagi dan menyerahkan semuanya kepada Yang Mulia Kaisar….”, ucap matriark Bai pasrah.


Bai Axiang sedikit binggung, kenapa kaisar Huang ikut campur sedalam ini tentang masalah rumah tangga keluarga ketiga.


Meski dia sangat tahu jika permaisuri Wei sangat sayang terhadap Fan Jianying, tapi perhatian ini dianggapnya terlalu berlebihan.


“ Lalu, apa hubungannya semua ini dengan Yang Mulia Kaisar ?....”, tanya Bai Axing binggung.


“ Tentu saja ada hubungannya karena Fan’er adalah putri bungsu kaisar Huang dan permaisuri Wei….”, ucap Bai Cheung gamblang.


Bai Axiang tentu saja sangat terkejut mendengar fakta tersebut. Belum juga keterkejutannya hilang sepenuhnya, sang adik kembali berkata hingga membuat matanya melotot sempurna.

__ADS_1


“ Aku tidak tahu istrimu mengetahui fakta ini atau tidak. Namun, jika dalam persidangan yang kemungkinan digelar dua hari lagi tersebut terbukti jika rencana pembunuhan Fan’er ada hubungannya dengan rencana pemberontakan Ratu Qinly, maka tentunya kakak bisa memprediksikan sendiri bagaimana nasib kakak ipar selanjutnya….”, Bai Cheung mengungkapkan semuanya agar sang kakak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang hendak dia bela tersebut.


__ADS_2