
Dengan kedatangan tiga pelayan baru yang dikirim oleh Bai Cheung kedalam kediaman, meski tidak takut dengan keberadaan ketiganya, namun Fan Jianying terlihat lebih berhati – hati dalam bertindak.
Dia masih belum tahu pasti apa sebenarnya motif yang diinginkan oleh suaminya itu dengan mengirim tiga pelayan yang Fan Jianying yakini bukan hanya sekedar pelayan biasa, seperti Dayu, Gaeng dan yang lainnya.
Jika hanya ingin mengawasinya bukankah lebih baik menggunakan orang dalam yang sudah ada sehingga dirinya tidak menaruh rasa curiga dan juga lebih menguasai kondisi sekitar..
Tapi ini, Bai Cheung malah mengirimkan orang – orang yang sama sekali asing, baik itu terhadap keluarganya maupun kondisi kediamannya.
Selain asing, ketiga pelayan yang tak biasa ini juga memiliki ilmu beladiri yang cukup tinggi. Sesuatu hal yang dianggap oleh Fan Jianying sangatlah tidak wajar.
Bukan hanya kemampuan beladiri saja, ketiganya juga memiliki kemampuan untuk membaca situasi serta memiliki tingkat kewaspadaan diatas rata – rata orang normal.
Bahkan si kembar Heyna dan Hira, meski tidak terlalu banyak bicara justru keduanya adalah yang harus diwaspadai oleh Fan Jianying daripada servant Meilin sebagai atasan mereka.
Fan JIanying sangat yakin jika pelayan kembar tersebut memiliki kemampuan dan kekuatan kultivasi setara dengan Liam, berada ditingkat bumi akhir dan sebentar lagi akan mencapai tingkat langit.
Meski tingkat kultivasi mereka sengaja ditutupi, namun dari cara mereka berjalan dan bergerak sudah bisa menjelaskan semuanya.
Dengan kemampuan seperti itu, tidak mungkin juga mereka hanya ditugaskan untuk melayaninya dirinya saja tanpa ada maksud tersembunyi.
“ Apakah Bai Cheung menyadari sesuatu tentang diriku ?....", Batin Fan Jianying sambil mengetuk - ngetukkan jarinya diatas meja.
" Tidak !!!...tidak !!!....aku yakin lelaki itu tidak mengetahui tentang kekuatanku...",ucap Fan Jianying sambil menggeleng - gelengkan kepalanya berulang kali.
Fan Jianying terus memutar otaknya untuk menganalisa semuanya. Mengurutkan semua tindakan yang diambil suaminya itu.
Semua hal terjadi secara cepat dan mengejutkan. Tidak mungkin hal ini terjadi secara kebetulan, pasti Bai Cheung sudah merencanakan semuanya ini jauh - jauh hari.
" Tapi...untuk apa ?...”, batin Fan Jianying penuh dengan tanda tanya.
Dia terus saja menarik beberapa kemungkinan dari tindakan suaminya dan beberapa hal rumit tentang intrik yang ada diistana serta keterlibatan kakak ipar keduanya dalam insiden peledakan dapur utama yang menewaskan beberapa orang pelayan dan koki utama mereka, Li Ziqy.
Semakin dikaitkan antara yang satu dengan yang lainnya, Fan Jianying semakin menyadari jika semua hal itu tidak sesimple apa yang terlihat.
Fan Jianying yang masih berkutat dengan pemikirannya tba - tiba kedua matanya terbelalak lebar dengan mulut terbuka waktu mengingat tentang kakak iparnya Bai Wang.
" Apakah ini untuk kakak kedua ?...", guman Fan Jianying menebak.
Jika dipikir kembali, hal itu mungkin saja ada benarnya karena Bai Wang bersekutu dengan pangeran kedua untuk melengserkan posisi putra mahkota sehingga jalan perebutan kursi kekaisaran pun terbuka lebar bagi mereka.
Jadi Bai Cheung mengirim ketiga pelayan tersebut untuk mengawasi gerak - gerik kakak ipar keduanya.
Tapi, sedetik kemudian Fan Jianying kembali ragu dengan apa yang baru saja dia pikirkan saat mengetahui fakta jika pelayan tersebut ditempatkan di dalam kediamanannya.
" Tapi...kenapa juga mereka ditempatkan disini, bukan dikediaman kakak ipar kedua....", guman Fan Jianying semakin binggung
Semakin dipikirkan semakin membuat kepalanya semakin pusing. Fan Jianying yang sudah lelah akhirnya memutuskan jika malam ini dirinya akan beristirahat dengan tenang tanpa melakukan apapun untuk sementara waktu hingga dia benar - benar bisa memastikan semuanya.
Fan Jianying yang tidur nyenyak hingga pagi hari, pikirannya terlihat sangat fresh sehingga ide brilinpun mulai bercokol dikepalanya begitu dia membuka mata.
" Tampaknya aku harus memastikan terlebih dahulu kemana sebenarnya arah tujuan pelayan tersebut dikirim...untukku atau untuk kakak ipar kedua ?.... ", guman Fan Jianying sambil bersendekap.
Demi menuntaskan rasa penasarannya, Fan Jianyingpun bertekad untuk menjalankan semua rencananya itu pagi ini juga dengan cara memberi sedikit umpan kepada mereka.
__ADS_1
" Semoga umpan ini bisa membantuku...", guman Fan Jianying penuh harap.
Diapun segera menghilangkan aura tubuhnya untuk memancing reaksi ketiga pelayan barunya tersebut. Untungnya apa yang dilakukan oleh Fan Jianying sudah selesai waktu pelayan senior Gaeng mengetuk pintu kamarnya.
Mengetahui jika madam ketiganya sudah bangun, Dayu, Gaeng serta dua pelayan perempuan lainnya bergegas masuk kedalam kamar untuk menyiapkan bak mandi dan semua hal yang diperlukan oleh Fan Jianying pagi ini.
Fan Jianying yang sedang berendam didalam bak mandi terlihat menikmati ritual mandinya pagi ini dengan tenang sambil menunggu umpan yang di lemparkannya diambil.
Hal ini dilakukannya untuk menguji sejauh mana kepekaan ketiganya dan untuk mengetahui siapa sebenarnya yang sedang mereka awasi saat ini.
Bagaiamanapun mereka adalah orang asing yang harus diwaspadai. Apalagi orang tersebut adalah kiriman dari sang suami yang Fan Jianying ketahui sangat membencinya.
Heyna adalah gadis yang paling peka diantara ketiganya seketika terlonjak kaget begitu menyadari jika aura madam ketiga menghilang secara tiba - tiba.
“ Kemana dia pergi pagi – pagi begini ?...kenapa aku tidak bisa merasakan pergerakannya ?...”, batin Heyna cemas.
Diapun kembali memusatkan konsentrasinya untuk mencari jejak terakhir madam ketiga Bai tersebut berada sambil menutup kedua matanya.
Setelah beberapa detik dia terpejam, namun jejak madam ketiga yang harus diawasinya itu sama sekali tidak ditemukan.
" Gawat !!!...aku harus mengeceknya sendiri kesana !!!...", guman Heyna pelan.
Jejak terakhir yang berhasil dia rasakan adalah didalam kamar, maka diapun bergegas menuju kesana dan memastikan semuanya.
Servan Mailin dan Hira yang melihat saudara kembarnya berjalan tergesa – gesa dengan wajah panik bergegas berdiri dan mulai mengikuti kemana Heyna pergi.
“ Bukankah itu arah menuju kamar madam ketiga ?...apa yang sedang terjadi ?...”, tanya servant Mailin yang dibalas Hira dengangelengen kepala.
Tindakan sembrono dan dianggap tidak sopan tersebut tentu saja langsung mendapat teguran keras dari pelayan senior Gaeng yang terlihat membulatkan mata begitu Heyna menerobos masuk dengan kasar..
“ Apa yang kamu lakukan ?...mana sopan santunmu ? !!!...”, hardik pelayan senior Gaeng dengan mata melotot.
Bukannya menjawab, Heyna malah balik bertanya sambil mencari keberadaan madam ketiga Bai tersebut keseluruh ruangan.
“ Apa yang kalian lakukan disini ?...madam ketiga pergi saja kalian tidak tahu !!!...dasar tidak becus !!!....”, Heyna balas memarahi pelayan senior Gaeng dengan mata melotot tak kalah galaknya dengan Gaeng.
Tindakan Heyna yang dianggap kurang ajar tersebut tentu saja membuat Dayu merasa tak senang dan diapun mulai berjalan maju kehadapan pelayan baru yang tak sopan tersebut.
“ Tutup mulutmu dan segera pergi dari sini !!!...., ucap Dayu sambil menyeret tubuh Heyna keluar dari kamar.
Heyna yang tak terima dengan ucapan dan tindakan Dayu kepadanya, dengan kasar menghempaskan tangannya hingga tubuh Dayu jatuh tersungkur di lanatai.
Pelayan diluar yang melihat kejadian tersebut segera membantu Dayu berdiri dan berusaha untuk mengusir Heyna agar keluar dari dalam kamar madam ketiga sekarang juga.
Melihat kedua tangannya ditarik dan tubuhnya di dorong keluar , Heyna yang sudah mulai emosi segera memakai kekuatannya hingga tubuh keempat pelayan yang memeganginya tadi terlempar hingga membentur dinding kamar sebelum menyentuh lantai.
" Panggil pengawal !!!....", teriak pelayan senior Gaeng geram melihat rekannya terluka.
Fan Jianying yang mendengar suara keributan terlihat mulai geram. Dia sama sekali tak menyangka jika umpan kecil yang dilemparkannya akan dimakan begitu cepat.
Semua orang terbelalak saat melihat Heyna berjalan menuju kamar mandi dan langsung membuka tirai penutup dengan kasar.
Kedua mata Heyna seketika membulat sempurna begitu sosok yang sedari tadi dicarinya tengah duduk santai didalam bak mandi sambil menatapnya tajam.
__ADS_1
“ Tidak mungkin…Bagaimana bisa anda disini?....”, tanya Heyna dengan wajah binggung.
Melihat keterkejutan diwajah Heyna, Fan Jianying hanya bisa tersenyum sinis. Dan pada saat dia menoleh, mendapati beberapa pelayannya terluka, Fan Jianying pun terlihat marah.
" Berani sekali kamu melukai pelayanku !!!...", teriak Fan Jianying penuh amarah.
Fan Jianying sama sekali tak menyangka jika Heyna akan lepas kontrol seperti itu waktu mengetahui jika dirinya menghilang.
" Fix...jadi dialah yang sebenarnya ingin Bai Cheung awasi. Tapi...untuk apa ?...", batin Fan Jianying bergejolak.
Saat melihat pengawal yang dipanggil terlihat sudah berada di depan pintu, Dayu dengan gerak cepat langsung menutupi bahu Fan Jainying yang terbuka dengan kain lebar.
“ Seret dan masukkan ke ruang hukuman !!!....”, perintah Fan Jianying tajam..
Para pengawal yang hendak membawa Heyna keluar terlihat sedikit kesulitan waktu gadis itu melawan. Heyna yang tidak terima segera saja bersuara dengan keras sambil menatap Fan Jianying nyalang.
" Aku hanya ingin memastikan keselamatanmu...tapi ini balasanmu !!!... ", teriak Heyna penuh amarah.
" Memastikan keselamatanku ?...apa ini lelucon ?.....", tanya Fan Jianying dengan senyum meremehkan.
Melihat lawan bicaranya masih terdiam ditempat dengan tatapan tajam mengarah kepadanya, dalam hati Fan Jianying hanya bisa tersenyum miris.
" Jadi dia mengirim pelayan bar - bar ini untuk menindasku...baiklah, kita lihat apa yang bisa aku lakukan terhadap pelayan kecilmu itu...", Fan Jianying tersenyum licik dalam hati.
Melihat pergerakan tangan Fan Jianying para pengawal segera menyeret paksa Heyna keluar dari dalam. Waktu gadis itu kembali memberontak tiba - tiba saja servant Meilin datang dan langsung menamparnya dengan keras.
Membuat gadis itu seketika membelalakkan kedua matanya tak terima dengan perlakuan servant Meilin yang dianggap salah saaran itu.
" Ak....", belum selesai Heyna berbicara, servant Meilin kembali menampar wajahya.
“ Tutup mulutmu dan terima hukumanmu !!!....”, teriak servant Meilin marah.
Servant Meilin sama sekali tak menyangka jika Heyna akan bertindak gegabah seperti itu.Tidak ingin membuat madam ketiganya kembali marah, dengan terpaksa dia harus merelakan Heyna untuk dihukum.
Heyna yang diseret keluar sevcara paksa merasa tidak terima dan hendak melawan, namun aksinya tersebut terhenyti waktu melihat Hira, saudara kembarnya itu menggelengkan kepalanya lemah.
“ Sial !!!...padahal aku hanya ingin memastikan keberadaannya saja. Jika tidak dihalangi oleh para pelayan bodoh itu, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi…”, batin Heyna dongkol.
Servan Meilin yang tidak ingin rencana tuan mudanya hancur segera bersujud untuk meminta maaf kepada Fan Jianying.
" Madam ketiga, tolong maafkan kelancangan gadis itu. Saya akan mendidiknya lebih keras lagi....", ucap servant Meilin sambil bersujud.
" Ingat !!!...kalian orang baru disini...meski kalian dikirim langsung oleh tuan muda ketiga, tapi itu tak bisa membuat kalian menjadi istimewa. Aku bisa mengusir kalian kapanpun aku mau jika tidak ingin tunduk pada aturan kediaman ini...", ucap Fan Jianying penuh penekanan.
" Hamba akan selalu ingat pesan madam ketiga....", ucap servant Meilin masih dengan posisi bersujud.
" Jika tidak ada hal lainnya, kamu bisa pergi....", ucap Fan Jianying tajam.
Dia melewati servant Meilin yang masih bersujud di hadapannya begitu saja tanpa berkata apapun dan menuju ruang ganti baju bersama Dayu.
Hira yang melihat servant Meilin keluar dari dalam kamar madam ketiga dengan wajah ditekuk hanya bisa mengikutinya dalam diam tanpa berkata apapun.
Dalam hati, servant Meilin meruntuki kebodohan Heyna yang bertindak sangat ceroboh pagi ini. Apa yang nantinya akan dia katakan kepada tuan muda ketiga jika belum genap satu minggu mereka sudah diusir dari dalam kediaman.
__ADS_1