CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
PAGI YANG PENUH WARNA


__ADS_3

Sejak Fan Jianying mendapatkan bahan makanan berupa fermentasi susu dia terlihat sangat bersemangat untuk bisa membuat cake seperti yang ada di jaman modern.


Fermentasi susu ini teksturnya lembut mirip margarine atau butter tapi lebih lembek dan aromanya lebih menyengat daripada butter atau margarine pada umumnya yang beraroma gurih dan harum.


Setelah mengetahui bagaimana cara membuat fermentasi susu dari ibu mertuanya, Fan Jianying pun mulai mempraktekkannya.


Dia membuat fermentasi susu dengan resep modifikasi yang dibuatnya sendiri dengan menambahkan beberapa item bahan seperti yang pernah dilihatnya dulu dalam tutorial yang sempat diuanggahnya dari internet.


Meski memakan waktu agak lama dalam pembuatannya, tapi melihat hasilnya Fan Jianying sangat bahagia.


Saat ini musim dingin telah berlalu dan berganti dengan musim semi yang hangat dan ceria.


Semua baju musim dingin yang tebalpun sudah kembali disimpan dan diganti dengan gaun yang lebih tipis penuh warna.


Bunga – bunga juga mulai tumbuh dan bermekaran. Jalanan yang selama ini hanya berwarna putih karena tertutup salju kini sudah kembali berwarna.


Aktivitas warga pun sudah lebih dinamis lagi dari sebelumnya. Hal tersebut terbukti dengan jalanan sudah mulai padat sejak pagi.


Pasar dan perniagaan juga sudah mulai kembali ramai seperti pada saat sebelum musim dingin tiba.


Di gazebo yang berdiri ditengah – tengah taman istana terlihat seorang wanita cantik dengan gaun brokat berwarna unggu tua dengan garis halus berwarna perak dengan pola rumit membentuk aneka macam bunga sedang berdiri menatap kolam ikan yang ada dihadapannya.


Tatapannya jauh menerawang ke depan, tak lama kemudian terlihat keningnya mulai berkerut, semakin lama semakin dalam.


Seakan sedang memikirkan sesuatu yang berat dan serius. Cukup lama keadaan tersebut bertahan tanpa dia sadari ada sepasang mata yang mengawasinya dari kejauhan.


“ Satu minggu lagi Fan’er akan berulang tahun. Apa aku harus mengadakan pesta meriah untuknya ?…”, batin permaisuri Wei bermonolog.


Putri Wei Xieun yang sedang berjalan - jalan menikmati keindahan pagi ini tak sengaja melihat ibundanya di teras gazebo istana dengan wajah sedih.


Dia yang awalnya hendak pergi ke taman mawar akhirnya mengurungkan niatnya dan berbelok menuju tempat permaisuri Wei berada.


“ Salam ibunda permaisuri. Apa gerakan yang membuat ibunda mengkerutkan dahi begitu dalam dipagi yang ceria ini ?....”, tanya putri Wei Xieun cemas dan langsung berdiri disamping ibundanya.


Cukup lama permaisuri Wei terdiam dengan raut wajah sedih. sambil melihat angsa berenang diatas kolam, diapun mulai berkata kepada putrinya.


“ Ini tentang adikmu. Seminggu lagi dia akan berulang tahun. Ibunda ingin sekali merayakannya bersama. Tapi….”, ucapan permaisuri Wei terhenti waktu kembali mengingat jika kondisi didalam istana saat ini sedang dalam kondisi tidak baik - baik saja.

__ADS_1


Pertarungan antara putra mahkota Qin Shi HUang dengan pangeran Song Yu dalam memperebutkan tahta semakin panas saat Ratu Qinly mulai tampil secara terang - terangan membela putra kandungnya.


Dan jika dia akan mengadakan pesta meriah di istana untuk Fan Jianying maka secara otomatis identitas putrinya tersebut akan terungkap.


Jika hal itu terjadi, maka dia akan menjadi sorotan semua orang dan tentunya akan menjadi target utama Ratu Qinly.


Melihat ibundanya terdiam cukup lama sebelum menyelesaikan kalimatnya membuat hati putri Wei Xieun penasaran.


Namun selang beberapa saat, wajah ibundanya tampak sangat sedih. Putri Wei Xieun merasa jika ibundanya sedih dikarena rindu dengan sang adik akhirnya mulia berbicara untuk menghibur hati permaisuri Wei.


“ Bagaimana kalau kita bisa undang adik keistana dan merayakan ualng tahunnya bersama dengan kita disini bu….”, ucap putri Wei Xieun bersemangat.


Dalam benak putri Wei Xieun sudah banyak ide untuk merayakan pesta ulang tahun sang adik. Meski belum terlalu dekat, tapi dia sudah menyayangi Fan Jianying.


Sebenarnya dari awal dia sudah menyukai gadis itu, hanya saja melihatnya dekat dengan lelaki yang disukainya membuat api cemburu menjalar dihatinya hingga dia selalu membuat masalah pada saat bertemu dengan Fan Jianying.


Tapi sekarang kondisinya berbeda sejak dia tahu jika Fan Jianying adalah adik kandungnya, putri Wei Xieun lebih ramah dan hangat kepada Fan Jianying.


Dia bahkan akan mengajak sang adik agar bisa masuk dalam lingkungan wanita bangsawan, agar lingkaran sosialnya dapat terbentuk dengan luas.


“ Tidak….kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk membawa Fan’er ke istana.…”, ucap permaisuri Wei lesu.


Saat ini, hanya mereka saja yang mengetahui jika Fan Jianying adalah adik kandungnya, putri bungsu kaisar Huang Lo bersama permaisuri Wei.


Dan untuk sekarang, identitas tersebut akan tetap menjadi rahasia agar keselamatan Fan Jianying dapat tetap terjaga.


“ Bagaimana kalau kita membuat pestanya di kediaman Bai saja. Nanti aku akan berkunjung kesana untuk membicarakan semuanya dengan adik….”, ucap putri Wei Xieun bersemangat.


Permaisuri Wei hanya bisa mengangguk sambil tersenyum lembut. Putrinya itu sangat suka kemeriahan dan pesta.


Meski dia melarang sekeras apapun, putri Wei Xieun pasti memiliki seribu cara untuk bisa merayakan ulang tahun sang adik yang baru saja dia miliki.


Melihat ibundanya sudah memberi ijin, putri Wei Xieun pun bergegas pergi. Dia akan bersiap – siap untuk pergi ke kediaman Bai sekarang juga.


Pangeran Wei Jie yang  baru saja hendak menemui ibundanya tak sengaja berpapasan dengan sang adik menautkan kedua alisnya heran.


“ Salam hormat ibunda…. ”, ucap pangeran Wei Jie dengan sikap hormat.

__ADS_1


“ Kenapa Xin’er terlihat sangat  terburu – buru seperti itu ?...mau kemana dia ?....”, tanya pangeran Wei Jie heran.


Dia tak bisa lagi menutupi rasa keinggin tahuannya melihat sang adik yang biasanya akan langsung bergelayut manja padanya saat bertemu.


Tapi, hari ini putri Wei Xieun hanya tersenyum menyapanya dan langsung berlalu begitu saja dengan  wajah berbinar penuh kebahagiaan.


“ Dia ingin berkunjung ke kediaman  Bai menemui Fan’er….”, Permaisuri Wei berkata sambil mengusap bahu pangeran Wei Jie sambil tersenyum.


Melihat putra sulungnya merasa kurang puas dengan jawabannya,  permaisuri Wei pun tersenyum lembut sambil menatap pangeran Wei Jie dengan penuh kasih sayang.


“ Seminggu lagi Fan'er akan berulang tahun. Dan, adikmu itu sudah tak bisa menahan diri lagi. Di ingin membuat pesta perayaan dikediaman Bai….”, ucap permaisuri Wei menjelaskan.


“ Fan’er berulang tahun ?...Seminggu lagi ?.... ”, tanya pangeran Wei Jie berusaha memastikan apa yang baru saja didengarnya.


Melihat ibundanya mengangguk sambil tersenyum, pengeran Wei Jie pun segera pamit undur diri untuk menghadiri pengadilan pagi ini.


Sepanjang perjalanan menuju pengadilan, pangeran Wei Jie terus memikirkan mengenai hadiah apa yang akan dia berikan kepada adiknya itu.


Karena sibuk dengan pikirannya sendiri, pangeran Wei Jie tak menyadari jika putra mahkota Qin Shi Huang sudah berjalan disampingnya hingga suara dehemen mengembalikan kesadarannya.


“ Kakak….kapan kakak datang ?....”, tanya pangeran Wei Jie terkejut.


“ Apa ada hal serius hingga adik tak menyadari kehadiran kakak ?....”,  ucap putra mahkota Qin Shi Huang tersenyum menggoda.


Panggeran Wei Jie hanya tersenyum menghadapi candaan sang kakak. Keduanya mengobrol ringan hingga sampai di pengadilan.


Sejak dua menteri dicopot dari jabatannya, kini semua menteri terlihat lebih berhati – hati lagi dalam melangkah.


Apalagi Fan Shaosheng selaku menteri keuangan sudah mulai mengadakan pemeriksaan rutin ke berbagai departemen yang ada.


Membuat semua orang memutuskan untuk tetap diam dan tak melakukan pergerakan yang memancing kecurigaan untuk sementara waktu.


Keberhasilan putra mahkota Qin Shi Huang di kota Banjiwen membuat para menteri yang pada awalnya bersikap netral mulai menunjukkan perhatian khusus kepadanya.


Bahkan ada beberapa yang sangat terlihat berusaha untuk menjilatnya. Mengingat kaisar Huang lebih menaruh atensi kepada putra mahkota Qin Shi Huang mereka sangat yakin putra pertama kaisar Huang itulah yang nantinya akan mewarisi tahtanya.


Apalagi kemampuan dan kecerdasan yang dimiliki oleh putra Ratu Shua tersebut diatas pangeran Song Yu yang selama ini selalu mengandalkan dukungan dari Ratu Qinly setiap menghadapi permasalahan yang ada.

__ADS_1


Pengeran Song Yu yang melihat hal tersebut merasa tak senang karena melihat semua orang mengelu – elukan putra mahkota Qin Shi Huang.


“ Sial !!!...kenapa itu harus dia dan bukan aku !!!....”, batin pangeran Song Yu iri hati.


__ADS_2