
Heian yang berhasil lolos dari pertempuran yang sedang terjadi mulai memasuki ibukota. Dia terlihat kebinggungan waktu mendapati kota dalam kondisi kosong melompong.
“ Apa ini ?!!!...kenapa seperti kota mati !!!....”, batin Heian terkejut.
Satu rumah…dua rumah…tiga rumah hingga rumah kelima coba dia masuki namun tak ada satupun orang yang bisa dia temui.
“ Tampaknya mereka sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat rapi….”, guman Heian geram.
Belum juga Heian puas berkeliling mencari mangsa, dia sudah dipergoki oleh beberapa pasukan Muanbai yang berpatroli disana.
Melihat Heian berkeliaran sendirian, pasukan Muanbai langsung datang menyerang dengan membabi buta.
Heian yang sudah kehilangan satu pergelangan tangannya terlihat sedikit kesulitan menghadapi serangan bertubi – tubi yang datang kepadanya.
Sementara itu dalam medan pertempuran, Cheng Lu terlihat sibuk menghadapi serangan demi serangan yang dilancarkan oleh putra mahkota Qin Shi Huang kepadanya.
Meski putra sulung kaisar Huang tersebut bukanlah lawan yang sepadan dengannya, tapi tak urung setiap serangan yang mengarah kepadanya membuatnya sedikit kualahan.
“ Gigih juga anak ini….”, batin Cheng Lu menyeringai tajam.
Sementara itu, pangeran Song Yu yang sudah terpojok akibat serangan yang dilancarkan terus menerus oleh adik keempatnya, pangeran Wei Jie dibantu oleh salah satu anak buah Heian untuk melarikan diri.
Melihat Bai Cheung sedikit kewalahan menghadapi Heng Yuan bersama pasukan Foresty yang mengepungnya, pengeran Wei jie yang hendak mengejar pangeran Song Yu akhirnya mengurungkan niatnya dan mulai membantu sahabatnya tersebut.
Karena kalah jumlah dan kuatnya pasukan kerajaan Foresty membuat pasukan Huangshan sempat terpojok beberapa saat.
Beruntung pasukan rahasia milik putra mahkota Qin Shi Huang dibawah pimpinan Guang datang tepat waktu hingga akhirnya mereka bisa membalikkan keadaan setelah berhasil mengepung pasukan musuh ditengah – tengah medan pertempuran.
Cheng Lu terlihat beberapa kali mencari kesempatan untuk meloloskan diri demi mencapai tujuannya untuk mencari keberadaan Fan Jianying didalam istana.
Tapi putra mahkota Qin Shi Huang sama sekali tak memberikannya kesempatan untuk melakukan hal tersebut.
Dilain sisi, Fan Jianying yang sudah puas bermain – main dengan Ratu Qinly akhirnya mengakhiri semuanya dengan membawa paksa wanita licik tersebut ke penjara bawah tanah rahasia milik kaisar Huang.
Ratu Qinly hanya bisa pasrah menerima keadaannya karena pasukan yang dia susupkan kedalam istana telah dibekuk oleh pasukan milik keluarga Fan.
Pangeran Song Yu yang baru saja hendak bergabung dengan ibundanya setelah berhasil meloloskan diri dari medan pertempuran juga turut diseret kepenjara bawah tanah begitu dia menginjakkan kakinya di halaman istana.
Melihat pangeran Song Yu ditangkap, Fan Nuan yang mengikutinya dari arah belakang langsung menghentikan langkahnya.
“ Kenapa pasukan keluarga Fan ada disini ?....”, batin Fan Nuan terkejut.
Melihat kekasih hatinya diseret paksa oleh pasukan milik keluarganya, Fan Nuan yang semula ingin membantu akhirnya mengurungkan niatnya waktu melihat Changyi datang mendekat.
“ Sepertinya ayah telah memberikan pasukan milik keluarga Fan kepada Fan Jianying….”, batin Fan Nuan geram.
Dengan kedua tangan terkepal dan wajah memerah menahan amarah, Fan Nuanpun melesat pergi untuk kembali ke medan pertempuran membantu Heng Yuan.
Setelah permasalah didalam istana terselesaikan dengan baik, Fan Jianying dan kaisar Huang pun turut bergabung kedalam medan pertempuran waktu melihat jika sudah banyak pasukan Huangshan yang jatuh berguguran.
Tentu saja kedatangan keduanya membuat pasukan Huangshan yang awalnya mulai down kembali memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi.
__ADS_1
Kaisar Huang dan Fan Jianying langsung membabat habis pasukan musuh begitu mereka menginjakkan kaki dimedan pertempuran.
Cheng Lu yang menyadari kehadiran Fan Jianying ditengah – tengah medan pertempuran tersenyum senang.
“ Akhirnya dia turun juga….”, batin Cheng Lu bahagia.
Tujuan Cheng Lu menyerang negara Huangshan, selain untuk menghancurkan kekuatan absolute kaisar Huang juga demi mendapatkan kristal kehidupan yang ada dalam tubuh Fan Jianying.
Beberapa waktu yang lalu, Cheng Lu yang pada akhirnya bisa masuk kedalam hutan kematian tanpa sengaja mendengar suara kaisar Muzeng yang terkurung didalam danau kematian.
Meski dia tak bisa membebaskan penguasa negara gurun tersebut, namun dari kaisar Muzeng akhirnya Cheng Lu mengetahui jika kristal kehidupan yang selama ini dia cari bersemayam didalam tubuh putri bungsu kasiar Huang tersebut.
Untuk itu, dia tak berpikir panjang lagi waktu Ratu Qinly mengajaknya untuk bekerja sama menggulingkan kekuasaan kaisar Huang.
Bai Cheung yang melihat istrinya turun ke medan pertempuran terlihat sangat terkejut dan perasaan khawatir mulai memasuki relung hatinya.
Apalagi saat dia melihat seluruh tubuh dan wajah sang istri yang penuh dengan darah, membuat kecemasan dalam hatinya semakin tinggi.
Tampaknya hal tersebut bukan hanya dirasakan oleh Bai Cheung seorang. Heng Yuan yang bertempur dengannya juga merasakan hal yang sama.
Meski Fan Jianying telah menolaknya dan lebih memilih bersama suaminya, namun rasa cinta yang ada dalam hatinya tidak pernah padam, malah semakin hari semakin kuat dan dalam.
Rasa cemas yang ada dalam hati Heng Yuan disalurkannya melalui amarah kepada Bai Cheung yang mengijinkan Fan Jianying turun ke medan pertempuran dalam kondisi hamil.
Bai Cheung yang melihat pergerakan Heng Yuan lebih agresif daripada sebelumnya terlihat sedikit kualahan menghadapi serangan yang diberikan rivalnya tersebut.
Namun Bai Cheung juga tak kalah semangat dan terus menahan sambil sesekali berbalik menyerang begitu ada kesempatan untuk mengalahkan Heng Yuan agar bisa segera mendekat ketempat sang istri dan membantunya.
Hiatttt….
Begitu pasukan musuh kehilangan kewaspadaannya akibat serangan yang dilancarkan Fan Jianying, dari belakang kaisar Huang menerima dan membantai habis musuh – musuhnya.
Melihat kekuatan besar yang dikeluarkan oleh Fan Jianying, Cheng Lu yang sudah tak sabar ingin bertarung dengan gadis itu dan mengeluarkan kristal kehidupan dari dalam tubuhnya akhirnya menggunakan jurus rahasia miliknya yang tidak pernah dia gunakan jika tidak dalam kondisi benar – benar genting.
Bukkkk….**Bukkkk….Bukkkk….
Uhukkkk…uhukkkkk….**
Begitu telapak tangan Cheng Lu yang diselimuti sinar merah yang kuat menyentuh dada putra mahkota Qin Shui Huang, kakak tiri Fan Jianying tersebut langsung terpental mundur dan mengeluarkan seteguk darah segar dari mulutnya.
Wushhhh….
Cheng Lu segera melesat pergi begitu putra mahkota Qin Shi Huang terduduk ditanah dan langsung menyerang Fan Jianying.
Pertarungan sengit antar keduanya pun tak bisa dihindari. Fan Jianying yang merasa jika Cheng Lu terus menerus menargetkan perutnya terlihat sedikit kalang kabut.
Gerakannya pun sedikit terbatas demi untuk melindungi sang buah hati yang masih ada dalam perutnya.
Para pasukan foresty terus menyerang kaisar Huang dan putra mahkota Qin Shi Huang yang sudah bangkit kembali agar kedua lelaki terkuat dinegara Huangshan tersebut tak mendekati pertarungan pribadi raja mereka dengan Fan Jianying.
Settt……
__ADS_1
Setttt…..
Setttt…..
Wushhhh….
Setttt……..
Saling serang, saling hindar dan saling balas terlihat sangat sengit dalam pertempuran yang terjadi di udara tersebut.
Semua jurus andalan Cheng Lu sudah dia keluarkan dan kerahkan. Namun kekuatan Fan Jianying masih bisa mengimbanginya dengan baik.
Tiba – tiba Fan Jianying merasa jika perutnya mulai kram hingga membuat pergerakannya sedikit melambat.
Kesempatan tersebut tak disia – siakan begitu saja oleh Cheng Lu. Dia segera menyerang dan memusatkan area perut Fan Jianying sebagai sasarannya.
Dengan sigap Fan Jianying berbalik untuk melindungi sang buah hati dan akhirnya serangan Cheng Lu mengenai punggung yang membuatnya langsung tersungkur ketanah.
Bai Cheung dan Heng Yuan menghentikan pergerakan mereka begitu melihat Fan Jianying terduduk lemas sambil memegangi perutnya dengan wajah kesakitan.
Dengan cepat Heng Yuan melindungi tubuh Fan Jianying begitu Cheng Lu datang dengan pedang untuk membunuh wanita yang dicintainya itu.
Jlebbb…..
Pedang dengan sinar kemerahan tersebut menancap ke punggung Heng Yuan dan langsung menembus jantungnya.
“ Maaf, aku sudah tak bisa melindungimu lagi. Jaga dirimu dan bayimu dengan baik…..”, ucap Heng Yuan sebelum akhirnya menutup mata.
“ Tidak !!!.....”, teriak Fan Jianying histeris.
Dia segera menguncang – guncang tubuh heng Yuan yang sudah lemas tersebut beberapa kali sambil terisak.
Melihat Heng Yuan mati demi melindungi istrinya, Bai Cheung yang melihat Cheng Lu kembali berusaha menyerang sang istri langsung datang menghadang.
Begitu juga dengan putra mahkota Qin Shi Huang dan kaisar Huang yang sudah berhasil lolos dari kepungan pasukan Foresty.
Ketiganyapun langsung menyerang Cheng Lu dengan membabi buta. Kaisar Huang yang sudah pernah bertempur dengan raja Foresty tersebut mengetahui titik lemah lelaki itu dan langsung menyerang dibagian tersebut.
Tiga lawan satu membuat raja Foresty tersebut kuwalahan hingga membuat tubuhnya penuh dengan luka akibat serangan demi serangan yang diarahkan kepadanya secara membabi buta.
Dan akhirnya Cheng Lu berhasil dikalahkan meski kaisar Huang mengalami luka dalam yang cukup berat.
Dengan meninggalnya Cheng Lu dan Heng Yuan semangat pasukan Huangshan berkobar semakin tinggi.
Setelah melakukan pertempuran selama dua puluh empat jam akhirnya kemenangan bisa diraih oleh negara Huangshan.
Fan Nuan yang melihat kubunya telah kalah, diam – diam meninggalkan pertempuran demi menyelamatkan nyawanya.
Bai Cheung yang melihat ada darah segar mengalir diantara kedua kaki istrinya segera membawanya kembali istana untuk diobati dengan wajah cemas.
Begitu juga dengan kaisar Huang yang kondisinya kritis langsung dibawah pergi oleh kedua putranya agar segera diobati.
__ADS_1
Sorak sorai kemenangan terdengar begitu semua pasukan musuh telah mati. Meski peperangan tersebut menelan banyak korban, namun dengan kemenangan tersebut setidaknya kembali mengingatkan kepada negara lain agar tak main – main denagn negara Huangshan.
Pertempuran yang hanya memakan waktu dua puluh empat jam tersebut sudah bisa membuktikan kepada dunia bahwa negara Huangshan tetap kokoh dan tangguh seperti dahulu.