CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
TAMU


__ADS_3

DEngan menggunakan waktu istirahat siangnya, Fan Jianyingpun kembali pergi menyelinap keluar untuk memberikan ramuan penawar bagi hewan mutasi yang kehilangan kendali.


Sesampainya di restoran Shadong, Fan Jianying segera memberikan tanda pengenal yang diberikan pengeran ke empat sebagai akses untuk bisa bertemu dengannya.


Begitu melihat tanda pengenal tersebut, Fan Jianying segera dibawa oleh pelayan menuju ke kompartemen yang biasa digunakan pangeran ke empat untuk bertemu koleganya.


“ Ruangan ini sangat mewah dan nyaman….”, guman Fan Jianying sambil mengamati setiap sisi ruangan.


Dilihat dari tempat pertemuannya sekarang dapat Fan Jianying simpulkan jika antara pangeran ke empat dan pangeran ke dua memiliki sifat yang sangat jauh berbeda.


Jika pangeran kedua lebih senang berada ditempat keramaian dan maksiat, namun pangeran keempat memilih suatu tempat yang sunyi dan tenang serta memiliki privasi yang cukup.


Ini juga secara tidak langsung bisa membuat Fan Jianying membaca karakter lawan bicaranya secara langsung, selain dari ekspresi dan sikap yang ditunjukkannya.


Dan dia merasa cukup lega karena karakter pangeran ke empat tidak melenceng jauh dari apa yang dia pikirkan.


Pada saat Fan Jainying menuju kesebuah sofa yang berada di sudut ruangan, tanpa sengaja pandangannya mengarah ke luar jendela.


Diapun seketika mengingat sesuatu waktu dirinya duduk diatas sofa dan memandang keluar jendela, memandang para pengunjung yang berada dibawah sana dengan sangat jelas.


Fan Jianying terdiam cukup lama di atas sofa, dia seperti merasa de javu dan ingatannya melayang di waktu beberapa hari yang lalu.


“ Jadi itu dia…”, guman Fan Jianying terkekeh.


Ternyata memang benar, tidak ada sesuatu yang namanya kebetulan. Semua memang sudah digariskan dari yang di Atas dan kita tak bisa menghindarinya.


“ Apa yang membuat nona kecil ini begitu gembira hari ini ?...”, tanya pangeran Wei Jie ramah.


Tentu saja kehadiran pangeran Wei Jie yang tiba – tiba berada dibelakang tubuh Fan Jianying membuat gadis itu sedikit terkejut dan mulai membenarkan posisi duduknya yang tadi dianggap tidak sopan.


“ Sejak kapan Yang Mulia datang…”, ucap Fan Jianying sambil membenahi bagian bawah gaunnya yang tersingkap.


Sejak pertemuan antara dirinya dan pengeran ke empat di kediaman Wudao Jia keduanya sepakat untuk berbicara sedikit santai agar bisa lebih akrab.


Namun begitu, Fan Jianying tetap memanggil pangeran Wei Jie Yang Mulia sebagai  wujud kesopanan dasar wanita bangsawan.


“ Sejak kamu tersenyum sendiri sambil memandang keluar jendela…”, ucap pangeran Wei Jie yang langsung mendaratkan pantatnya disamping Fan Jianying.

__ADS_1


Tidak ingin terlalu banyak basa – basi, Fan Jianying pun segera mengeluarkan catatan dari balik lengan bajunya.


“ Ini adalah resep ramuan penangkal untuk hewan mutasi yang gila. Aku sudah mencobanya pada tikus dan kelinci. Tapi belum pernah mencobanya secara langsung kepada hewan mutasi. Karena bahan – bahan yang dibutuhkan sangat langkah, maka aku hanya membuatkan resep dan cara membuatnya saja…”, ucap Fan Jianying menjelaskan.


“ Apakah ini semua demi suamimmu ?...”, tanya pangeran Wei Jie penasaran.


Meski hatinya sedikit sakit melihat perhatian Fan Jianying yang sampai rela membuatkan ramuan penangkal racun setelah mendengar jika pangeran kedua dan kroni – kroninya hendak membuat hewan mutasi hilang kendali diwilayah perbatasan Timur.


Tempat dimana Bai Cheung sekarang berada membuat ada sedikit nyeri dalam hatinya, namun rasa penasaran yang tinggi membuat mulutnya terbuka untuk bertanya.


“ Jangan bercanda..... kurasa Yang Mulia sudah mendengarnya langsung dari sumbernya jika sahabatmu itu sama sekali tidak menginginkanku. Jadi untuk apa aku perduli dengannya…. ”, ucap Fan Jianying acuh.


“ Aku membuat ramuan penangkal  ini karena memikirkan nasib  warga yang tinggal di wilayah perbatasan dan sekitarnya. Serta membantu meringankan pekerjaan ayahku saja…”, Fan Jianying kembali berucap dengan santai.


Mendengar hal itu, pangeran Wei Jie seperti mendapatkan air saat berada dalam gurun pasir, penuh dengan kelegaan hati.


“ Lalu, apa yang akan kamu perbuat sekarang ?...”, tanya pangeran Wei Jie dengan pandangan penyelidik.


“ Entahlah…aku ikut arus saja dulu…”, ucap Fan Jianying sambil mengangkat kedua bahunya acuh.


Meski pangeran Wei Jie tidak berbahaya dan baik dengannya, tapi entah mengapa Fan Jianying tidak bisa percaya dan terbuka dengannya, seperti saat dia bersama tabib Shilin.


“ Dia benar – benar langsung pada intinya…”, guman pangeran Wei Jie mendesah kecewa.


Meski hanya sebentar, pangeran Wei Jie sudah cukup bahagia bisa melihat dan mendengar suara gadis yang sudah beberapa hari ini mengisi hati dan pikirannya.


“ Cari bahan – bahan itu dan segera kirim ke perbatasan timur !!!....”, perintah pangeran Wei Jie tegas.


Zoelu pun segera menghilang untuk melaksanakan perintah dari junjungannya. Sedangkan pangeran Wei Jie masih berada di restoran Shadong, sambil mengusap lembut sofa tempat Fan Jianying tadi duduk.


“ Andaikan saja aku punya kesempatan untuk memilikinya….”, guman pangeran Wei Jie sambil menghirup nafas dalam – dalam.


Berusaha untuk menghirup semua aroma Fan Jianying yang tertinggal disana dan menguncinya dalam indera penciumannya.


Setidaknya hal inilah yang bisa pangeran Wei Jie lakukan untuk saat ini. Hanya puas sebagai teman dekat tanpa berharap yang lebih, meski hatinya menginginkan.


Saat mendekati pintu gerbang kediaman Bai, tanpa sengaja Fan Jainying mendengar jika ada satu orang wanita paruh baya dan dua orang gadis muda yang wajahnya hampir mirip sedang mencarinya.

__ADS_1


Diapun buru – buru masuk kedalam kediaman Bai melalui pagar samping yang lebih dekat dengan kediamanannya.


Baru saja tubuh Fan Jianying berbaring diatas ranjang, dia mendengar suara kaki berjalan semakin dekat dengan kamarnya dan tak lama kemudian pintu diketuk beberapa kali.


“ Madam ketiga…apakah anda sudah bangun ?...”, ucap pelayan senior Gaeng lirih.


“ Aku sudah bangun…masuklah…”, perintah Fan Jianying lembut.


Fan Jianying terlihat menguap sambil sesekali mengusap kedua matanya, seperti habis bangun tidur. Hal itu membuat Dayu segera membawakannya seember kecil air untuk membasuh wajahnya.


“ Lapor madam ketiga, diluar ada tamu yang menunggu anda…”, ucap pelayan senior Gaeng sopan.


“ Siapa ?...”, tanya Fan Jainying santai.


Meski dia sudah melihat siapa yang datang, namun dirinya penasaran siapa wanita yang ingin bertemu dengannya tadi agar dirinya tidak salah langka.


“ Hamba sendiri kurang tahu siapa mereka nyonya…”, ucap pelayan senior Gaeng sambil membantu Dayu merapikan rambut dan gaun yang dikenakan Fan Jianying sekarang.


Fan Jianying memakai sepatu bersulam sederhana bergambar bunga krisan dimusim gugur yang ringan.


Setelah semua persiapannya selesai, diapun segera melangkah menuju ruang tamu didampingi Dayu dan Gaeng  yang berjalam setia dibelakangnya.


Ketiga tamu yang berada diruang tamu langsung berdiri dan memberi hormat begitu Fan Jianying datang.


Sekilas, gadis itu merasakan aura yang tidak nyaman dari ketiganya hingga membuat tubuhnya menjadi waspada seketika.


“ Siapa kalian dan apa tujuannya datang kesini ?...”, tanya Fan Jianying to the point.


" Menjawab nyonya muda ketiga, kami bertiga diutus tuan muda ketiga Bai untuk melayani nyonya....", ucap wanita paruh baya yang ada dihadapan Fan Jainying itu dengan sopan.


Dari sudut matanya, wanita paruh baya tersebut melihat jika gadis belia yang ada dihadapannya itu sangatlah sederhana dengan pakaian polos yang hanya menggunakan motif simple di beberapa bagian sisinya.


Gadis dihadapannya itu juga tak berias seperti nyonya muda bangsawan pada umumnya. Dan sorot mata yang ditampilkan sangatlah jernih tanpa ada maksud tersembunyi apapun.


“ Apa tuan muda tidak salah ?...”, batin wanita tersebut ragu.


Namun mengingat kembali perintah Bai Cheung kepadanya, wanita paruh baya yang bernama Meilin segera menyingkirkan pendapat pribadinya dan bertekad akan mengawasi gadis yang ada dihadapannya itu dengan ketat, sesuai perintah

__ADS_1


“ Bisa saja pandangan awal itu menipu….”, batin Meilin menghibur diri.


__ADS_2