CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
KEKHAWATIRAN MATRIARK BAI


__ADS_3

Pelayan senior Yu dan Gaeng terus saja bergosip tentang kondisi madam ketiga sambil berbisik di lorong halaman depan kediaman utama.


Meski suara mereka sangatlah kecil, namun matriark Bai yang sedang bersama tamunya masih bisa mendengar suara percakapan keduanya, meski samar.


“ Apa yang terjadi di luar ?...”, teriak matriak Bai hingga suaranya menggema diseluruh ruangan.


Pelayan senior Ganeg pun buru – buru pamit dan menyerahkan dua nampan yang tadi dibawa bersamanya kepada pelayan senior Yu.


Tidak ingin mendapat murka, pelayan senior Yu dibantu salah satu pelayan membawa nampan tersebut ke hadapan matriark Bai sekarang juga.


“ Pelayan tua ini melaporkan jika madam ketiga mengirim pelayannya untuk memberikan beberapa kudapan untuk anda, nyonya… ”, ucap pelayan senior Yu sambil menunduk sopan.


“ Benarkah…berikan padaku….”, ucap matriark Bai bersemangat.


Bagaimana tidak, setelah mendapatkan milk tea boba  yang menyegarkan, matriark Bai juga mendapatkan sup wanton, panekuk bawang, dan mandu yang sangat lezat.


Bahkan dia juga sempat merasakan sup sehat yang dibuat oleh gadis itu untuk ibu mertuanya yang tidak memiliki nafsu makan.


Kali ini pun dia ingin mencicipi kudapan apa lagi yang dikirimkan oleh cucu menantu perempuannya tersebut dengan raut muka antusias.


“ Ekspresi apa ini ?...apakah makanan yang dibuat oleh istri Cheung selezat itu ?...”, batin madam Yang penasaran.


Madam Yang adalah teman semasa kecil matriark Bai. Persahabatan mereka telah bertahan selama beberapa dekade, dari mereka baru lahir hingga tua seperti sekarang.


Dan keluarga keduanya juga terbilang sangat dekat jadi wajar jika persahabatan yang terjalin bisa langgeng sampai sekarang.


Tak jarang, jika ada waktu luang  mereka berdua bergantian untuk mengunjungi kediaman masing – masing.


Madam Yang paling senang berkunjung ke kediaman Bai pada saat menjelang siang atau sore hari demi bisa memakan kudapan yang dibuat oleh koki Li Ziqi yang bekerja di kediaman Bai.


Kudapan yang dibuat oleh koki Li Ziqi sangatlah lezat dan sudah diakui oleh seluruh masyarakat ibukota. Meski begitu, matriark Bai tidak pernah memberikan pujian secara khusus untuknya.


Apalagi sampai menampilkan ekpresi seantusias itu. Hal tersebut tentu saja membuat madam Yang sangat penasaran.


Madam Yang memang belum pernah sekalipun bertemu ataupun melihat bagaimana rupa istri dari Bai Cheung itu.


Jadi dia tidak bisa membayangkan jika gadis muda belia yang berasal keluarga besar seperti keluarga Fan yang terkenal manja dan sombong tersebut ternyata mahir dalam urusan dapur.


“ Hei sayangku…kenapa kamu tidak pernah memberitahuku bahwa cucu menantu perempuanmu bisa membuat kudapan yang lezat ?...”, tanya madam Yang dengan nada menggoda.


Mereka berdua adalah sahabat dekat, jadi mereka bisa berbicara bebas antara yang satu dengan yang lainnya dan sering kali menggunakan kata panggilan yang bisa membuat orang yang tidak mengenal mereka akan salah paham.

__ADS_1


Jiwa Madam Yang yang bebas dan seringnya bergaul dengan beberapa warga negara asing karena pernah belajar di luar, membuatnya berpikiran lebih terbuka jika dibandingkan dengan wanita bangsawan lainnya.


Bahkan dirinya memutuskan untuk tidak menikah meski sudah berusia lebih dari setengah abad karena tidak berminat untuk menjalin hubungan yang sacral tersebut seumur hidup.


Untungnya keluarga besar Yang juga berpikiran terbuka sepertinya, jadi mereka semua menghormati keputusan besar yang telah diambil oleh madam Yang buat hidupnya.


Pada saat dua nampan yang berisi kudapan tersebut dibuka, kedua wanita tua tersebut terlihat tercengang.


Mereka telah banyak makan kudapan selama mereka hidup, tapi tidak ada yang terlihat indah dan semenggiurkan ini.


Bahkan hanya dengan melihatnya saja sudah bisa membuat air liur mereka menetes dengan sendirinya.


“ Makanan apa ini, tampak indah dan lezat ?...”, ucap madam Yang terbelalak.


“ Yang dimangkuk ini namanya salad buah harus dimakan segera dalam kondisi dingin. Sedangkan yang dipotong persegi panjang dalam piring kecil ini namanya naugat kacang…”, ucap pelayan senior Yu menjelaskan dengan sopan.


Tidak menunggu waktu lama lagi, kedua wanita tua itu segera mencicipi kudapan yang diberikan oleh Fan Jianying dengan wajah antusias.


“ Ini sangat lezat dan segar…”, ucap matriark Bai dengan mulut penuh salad buah.


“ Ini juga sangat lezat, perpaduan manisnya caramel dan gurihnya kacang sangat pas di lidah….”, ucap madam Yang sudah mengambil potongan ketiga naugat dan memasukkannya kedalam mulut.


Kedua wanita tersebut menikmati kudapan siang ini dengan perasaan bahagia. Hingga tak terasa semua hidangan yang tersaji dalam nampan telah habis tak bersisa.


“ Aku jadi semakin penasaran dengan cucu menantu perempuanmu itu, karena sepertinya gadis itu sangat berbeda jauh dari rumor yang ada…”, ucap madam Yang sambil tersenyum lembut.


Melihat sahabatnya itu tidak reaksi membuat madam Yang sedikit menaruh rasa curiga  jika wanita tua yang ada dihadapannya itu sedang menyembunyikan sesuatu.


“ Kamu bisa mengatakan semuanya padaku…apapun itu…”, ucap madam Yang sambil mengenggam kedua tangan keriput matriark Bai.


Setelah mengambil nafas dalam – dalam, matriark Bai pun menceritakan semua kesedihan hati yang dirasakannya saat ini.


Tentang bagaimana Bai Cheung meninggalkan istrinya begitu saja dan pergi bergabung dengan pasukan perbatasan wilayan bagian timur.


Matriark Bai merasa jika cucunya itu sudah merencanakan semuanya sejak dari awal, tapi dia tidak mengatakan apapun kepada keluarganya dan hanya meninggalkan sepucuk surat untuknya demi menjelaskan kemana dia akan pergi.


Bai Hongli sang ayah yang kebetulan sedang berada diwilayah yang berdekatan dengan perbatasan timur juga sampai sekarang masih belum mendapatkan kabar apapun tentang Bai Cheung.


Saat ini yang dia pikirkan adalah bagaimana cucu menantu perempuannya akan melewati hari – harinya tanpa suami yang baru dua minggu dia nikahi itu.


“ Sayangku…kamu harus benar – benar mengatur semuanya degan sangat hati – hati dan memastikan semua pekerja yang ada dikediamanmu tutup mulut. Jika tidak, nama baik cucu menantu perempuanmu mungkin akan ternoda…”, madam Yang terlihat mengingatkan matriark Bai akan dampak moril yang akan ditimbulakn oleh Bai Cheung akibat tindakannya.

__ADS_1


Di jaman apapun, masyarakat umum paling sedang dengan yang namanya gosip. Apalagi ini adalah gosip tentang piutri salah satu bangsawan paling berpengaruh di negara ini, tentunya akan menjadi santapan lezat bagi smeua orang.


“ Tentu saja saya tahu itu. Cucu sayalah yang membuat masalah maka sudah sepatutnya saya akan bertanggung jawab penuh untuk Fan Jianying…”, ucap matriark Bai sedih.


Meski Bai Cheung adalah cucu kesayangannya, namun matriark Bai tetap menyalahkan tindakannya yang dianggap sangat ceroboh dan tidak bertanggung jawab seperti itu.


Bagaimana bisa dia pergi tanpa pamit terhadap keluarganya dan juga istrinya. Tindakan Bai Cheung kali ini dianggap matriark Bai sudah sangat kelewat batas.


Cucunya itu bahkan sama sekali tak mempertimbangkan bagaimana reputasi istrinya setelah kepergiannya tersebut.


Dan tak memikirkan bagaimana reaksi keluarga Fan jika mereka mengetahui cucunya telah menindas putri kesayangan mereka tanpa alasan.


“ Jangan berpikir terlalu banyak. Kurasa, memasak juga cukup baik untuk membuatnya sibuk sehingga tidak sampai larut dalam kesedihan. Apalagi dia memiliki tangan emas yang bisa membuat setiap makanan yang dia olah menjadi sangat lezat…”, ucap madam Yang sambil tersenyum.


Mendengar pujian diberikan secara khusus oleh sahabatnya kepada cucu menantu perempuannya membuat matriark Bai untuk sesaat sedikit melupakan kesedihan hatinya.


“ Untuk balasan atas kudapan yang sangat lezat ini, tolong berikan gelang giok merah ini untuk cucu menantu anda…”, ucap madam Yang sambil melepas giok merah kesayangannya itu.


“ Tidak…ini adalah benda kesayanganmu…”, ucap matriark Bai menolak.


“ Justru ini adalah benda kesayanganku, sekarang aku ingin cucu menantu perempuanmu yang paling berharga itu  membantu menyimpannya untukku…”, ucap madam Yang sambil menaruh gelang giok merah tersebut ke tangan matriark Bai.


Matriark Bai tak bisa lagi membendung air matanya dan membiarkannya lolos begitu saja membasahi kedua pipinya.


Madam Yang membiarkan sahabatnya itu menangis untuk meluapkan kesedihan yang ada dalam hatinya sambil dengan setia mengenggam kedua tangan keriput sahabatnya itu dengan erat.


Setelah beberapa saat, matriark Bai yang sudah merasa  legapun terlihat tersenyum sambil mengusap air matanya dengan sapu tangan putih yang ada didalam sakunya.


“ Terimakasih untuk semuanya…”, matriark Bai merasa sangat bahagia mendapatkan sahabat sebaik dan sepengertian seperti madam Yang.


“ Aku sahabat sekaligus saudaramu….”, ucap madam Yang sambil memeluk matriark Bai dengan hangat.


Saat madam Yang hendak pulang, matriark Bai yang mengetahui jika Fan Jianying kembali mengiriminya setoples kecil naugat kacang menginstruksikan kepada pelayan senior Yu untuk membungkusnya.


“ Berikan ini kepada little Yang, bukankah dia sangat menyukai kudapan manis seperti ini…”, ucap matriark Bai sambil menyerahkan bingkisan berisi setoples kecil naugat kacang kepada sahabatnya.


Matriark Bai sangat ingat, saat Yang Yuwen, cucu keponakan madam Yang dari sang adik dan merupakan calon pewaris satu – satunya keluarga Yang itu selalu membawa pulang kudapan manis dari kediaman Bai.


Bahkan Yang Yuwen yang usianya sama dengan Bia Cheung dulu waktu berkunjung ke kediaman keluarga Bai sering bertengkar gara – gara saling berebut kudapan yang disajikan oleh koki Li Ziqi.


“ Menurut keterangan Fan Jianying, kudapan ini bisa bertahan selama setu bulan asal ditutup dengan rapat…”, ucap matriark Bai menjelaskan.

__ADS_1


“ Aku rasa tidak sampai satu hari kudapan lezat ini akan habis dilahap oleh Yuwen…”, ucap madam Yang terkekeh waktu mengingat betapa sukanya cucunya itu dengan kudapan manis, apalagi ini adalah kudapan dari kediaman Bai yang memiliki rasa sangat lezat.


__ADS_2