
Suasana menjadi tegang, saat Vera masuk dan berdiri tepat di depan Rendra. Ditatapnya sepasang mata yang pernah membuatnya terpesona dan hatinya berdebar-debar. Vera berusaha menantang dirinya sendiri untuk bisa menyelesaikan semuanya hari ini.
"Vera, aku ...," ucap Rendra sambil berdiri dan berjalan pelan mendekati Vera.
"Berhenti! Tidak perlu mendekat. Silahkan duduk jika ada yang ingin kamu katakan," ucap Vera tegas.
Rendra kembali duduk di tempatnya semula. Sementara pak Anto, cukup kaget melihat Vera yang terlihat kuat dan keras hari ini. Vera bukan lagi gadis kecil yang mereka manja dan selalu meraka tekan untuk rajin belajar. Vera bukan lagi gadis yang penurut dan patuh serta menjaga setiap ucapannya agar tidak menyakiti orang lain.
Vera kemudian duduk didekat ayahnya yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Vera duduk dengan elegan dan penuh rasa percaya diri. Sementara Damian berdiri di belakang Vera. Damian seolah ingin menjadi pendukung Vera agar Vera tetap percaya diri.
Damian melakukan itu juga untuk dirinya sendiri. Jika Vera dan Damian benar-benar putus hari ini, dia masih ada harapan untuk bisa mengisi hati Vera yang kosong.
"Vera, aku sudah mengaku salah. Aku juga sudah meminta maaf. Aku sudah dimarahi dan nasehati orangtuaku semalaman. Apalagi yang kamu inginkan, agar kamu setuju untuk menikah denganku?" tanya Rendra memelas.
"Rendra. Aku tidak butuh pengakuan, aku juga tidak perlu permintaan maafmu. Apalagi rasa bersalah kamu, setelah orang tuamu memarahi kamu. Jika kamu bertanya, apa yang aku inginkan, aku hanya ingin kamu melepaskan aku," ucap Vera pelan tapi sangat menyakitkan hati Rendra.
Rendra terlihat sangat putus asa. Tetapi, saat dia melakukan kesalahan itu, dia pasti tidak akan menyesal sebelum Vera memergokinya secara langsung. Mungkin saja, sebelum-sebelumnya, Rendra bahkan mungkin sudah tidur dengan banyak wanita.
"Vera, aku sudah merendahkan diri dan memohon padamu. Tidakkah kamu melihat itu?" tanya Rendra sedih.
"Maaf. Hatiku sudah tidak bisa lagi menjadikan dirimu sandaran," jawab Vera tegas.
"Ingat, Vera. Kamu bukan satu-satunya wanita cantik di dunia ini. Masih banyak wanita yang ingin menjadi istriku. Aku kaya, tampan dan punya segalanya. Kamu terlalu sombong, Vera. Aku akan menunjukan padamu, aku akan segera mendapatkan wanita yang lebih segalanya darimu," ucap Rendra penuh emosi.
"Kalau begitu, pergilah!" teriak Vera.
Rendra segera melangkah pergi dengan perasaan kesal. Sedangkan Vera merasa sakit mendengar ucapan Rendra. Vera seger berlari menuju kekamarnya dan menangis.
Dia memang bukan wanita cantik. Dia juga bukan idola kaum pria. Dia hanya wanita biasa yang kebetulan dicintai oleh Rendra. Seharusnya Vera bersyukur. Tapi, pengkhianatan yang Rendra lakukan telah menghapus cinta yang Vera miliki. Laki-laki memang semua sama. Setelah tidak bersama, mereka akan menghinanya sesuka mereka.
Aku tidak akan jatuh cinta sedalam ini, agar sakit ini tidak akan pernah aku rasakan, batinnya.
Sementara, pak Anto mulai menanyakan mengenai pekerjaan Vera yang ditawarkan Damian. Sebagai seorang laki-laki dewasa yang sudah merasakan pahit manisnya kehidupan, pak Anto curiga dengan apa yang lakukan Damian.
"Pak Damian, kamu menyukai Vera?" tanya pak Anto langsung pada intinya.
__ADS_1
Damian terdiam sesaat, mendengar pertanyaan pak Anto yang terdengar jelas.
"Ternyata, saya tidak bisa menyembunyikan apapun dari penglihatan pak Anto," jawab Damian agak gugup. "Saya akui, saya memang mencintai Vera."
"Jadi benar dugaanku selama ini. Sudah berapa lama kalian saling mengenal?" tanya pak Anto mulai keras.
"Saya mengenal Vera, saat dia bertengkar dengan Rendra. Kami tidak sengaja bertemu," jawab Damian.
"Jadi, kamu sengaja menyewa kamar di rumah ini karena Vera?"
"Tidak. Saya tidak tahu kalau dia tinggal di rumah ini. Saya ...," jawab Damian terhenti.
"Cukup, hentikan! Vera adalah putri kami satu-satunya. Dia baru saja mengalami hal yang paling sulit dalam hidupnya. Sebagai seorang ayah, aku tidak ingin Vera mengalami hal yang sama di kemudian hari. Walaupun sebagai sesama laki-laki, aku sangat menghargai usahamu mendekati Vera," ucap pak Anto panjang lebar.
"Tapi, saya berjanji pada pak Anto, saya akan menjaganya dengan baik. Saya juga berjanji, akan selalu membuatnya tersenyum dan selalu merasa bahagia. Saya mohon," ucap Damian memohon restu.
"Aku yakin, Vera tidak tahu semua ini. Dan aku berharap, kamu tidak akan mengatakan apapun padanya. Jangan dekati Vera lagi. Dan secepatnya, pecat Vera. Lebih baik dia menjadi pengangguran dari pada dia masuk dalam perangkap kamu. Aku tidak ingin, dia salah memilih pasangan lagi," ucap pak Anto agak kasar.
"Apa kekurangan saya dimata pak Anto? Apakah saya tidak bisa masuk dalam daftar menantu idaman pak Anto?" tanya Damian tidak mengerti dengan sikap pak Anto.
Damian merasa, dirinya pria yang cukup sempurna. Kaya, ganteng dan memiliki banyak uang.
Damian terdiam mendengar perkataan pak Anto yang terlihat marah dan emosi. Damian tidak mengerti, dia juga manusia biasa yang juga butuh cinta. Kenapa kekayaannya justru menjadi penghalang cintanya.
Damian bergegas pamit pergi seperti yang pak Anto inginkan. Hatinya sedih dan patah hati. Dia belum mengungkapkan perasaannya pada Vera, tetapi dia sudah dibuat patah hati oleh sikap ayahnya. Memangnya, menjadi kaya itu kesalahan?
Damian bergegas kembali ke area proyek, untuk menemui Tristan. Wajahnya terlihat penuh kekecewaan dan kesedihan. Hal itu membuat Tristan penasaran. Padahal, tadi waktu pergi Damian tampak senang sekali.
Damian duduk termenung sambil bersandar di kursi. Matanya menerawang jauh, mengingat saat-saat bersama Vera. Ada rasa sesak di dadanya yang sulit untuk bernapas. Sakit, dan sangat sakit. Apa yang dulu pernah dia rasakan, saat kekasihnya selingkuh, masih lebih sakit ini.
Ini seperti cinta yang tak tergapai. Hanya bisa mencintai dan tidak bisa memiliki. Damian sadar, halangan ini, tidak hanya dari orangtua Vera saja. Bahkan mungkin dari orangtuanya sendiri juga akan menjadi masalah.
Mungkin memang sebaiknya, aku menyerah, batin Damian.
"Damian, ada apa?" tanya Tristan sambil membawakan minuman untuk sahabatnya itu.
__ADS_1
"Tristan, aku ... aku akan menyerahkan semua urusan proyek ini padamu. Mulai hari ini, aku tidak akan datang lagi ke tempat ini. Dan, tentang Vera, bantu aku memecat dia," ucap Damian sambil menghela napas berat.
"Apa, memecat Vera? Bukannya baru tadi pagi kamu memintanya bekerja? Aku harus bilang apa, jika di bertanya?" tanya Tristan panik.
"Katakan saja, proyek ini kamu sendiri yang pegang dan tidak butuh asisten. Kalau dia marah, biarkan saja. Dia pasti hanya akan marah padaku karena mempermainkannya," jawab Damian terlihat sedih.
"Damian, katakan ada apa? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Tristan berusaha membuat Damian bercerita padanya tentang apa yang Damian rasakan saat ini.
Damian mulai bercerita tentang apa yang dikatakan oleh ayahnya Vera padanya. Tidak ada yang Damian tutupi lagi. Hati Damian rasanya ingin meledak, jika tidak dia ungkapkan semuanya pada seseorang.
"Menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Damian setelah selesai bercerita.
"Menurutku, cinta itu perlu perjuangan. Cinta itu butuh pembuktian bukan hanya kata-kata saja. Cinta itu, harus bisa menyatukan bukan malah memisahkan," kata Tristan sok bijak.
"Maksud kamu apa? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu katakan," tanya Damian bingung.
"Damian, Damian. Artinya, kamu jangan mudah menyerah. Buktikan pada ayah Vera, kalau kamu bukan pria seperti yang pak Anto kira. Kamu punya banyak uang, tetapi uang itu kamu gunakan untuk hal-hal yang baik. Seperti, proyek kamu ini. Kamu harus semangat. Karena bisa jadi, semua itu adalah salah satu godaan agar proyek kamu ini berhenti," jawab Tristan.
"Bagaimana kamu tahu, kalau apa yang aku lakukan ini, demi dia?" tanya Damian malu.
"Damian. Kamu pikir, aku ini bodoh. Tidak bisa melihat. Pak Anto saja tahu, kamu menyukai anaknya. Apalagi aku? Kita sudah kenal puluhan tahun, Damian," jawab Tristan.
"Tristan, saat ini aku benar-benar sangat bingung. Kamu lakukan saja, apa yang aku katakan tadi. Selanjutnya, aku akan memikirkan langkah kedepannya," ucap Damian sedih.
"Oke, aku akan melakukan semua, sesuai keinginanmu. Tapi, pikirkan apa yang aku katakan dengan baik. Semangat," ucap Tristan penuh semangat.
Damian segera bersiap untuk pulang kembali, ke rumahnya, tanpa pamit pada Vera. Damian ingin menenangkan diri sejenak. Dan akan membuat sebuah keputusan pada akhirnya.
Keputusan apa yang akan Damian ambil?
Bersambung
Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku judulnya Cinta Aku Menyerah karya Dtyas
Jangan lupa mampir ya , ceritanya keren
__ADS_1
banget loh...g