
Didalam Heluo palace, pageran Wei Jie terlihat sedikit geram waktu mendengar kabar jika sahabatnya itu sudah pergi ke perbatasan dini hari tadi.
“ Sesuai dengan prediksiku, dia pasti menghadap ayahanda secara langsung…”, batin pangeran Wei Jie kecewa karena langkahnya untuk menghalangi Bai Cheung pergi tidak berhasil.
“ Jika tidak berpamitan denganku itu sama sekali bukan masalah. Tapi, kenapa dia juga tidak memberitahu istrinya …”, batin pangeran Wei Jie geram.
Dari Zoelu, pangeran Wei Jie dapat mengetahui jika saat ini Fan Jianying masih sangat syok atas kepergian sang suami sehingga seluruh keluarga Bai berusaha untuk menghiburnya.
Ingin rasanya pangeran Wei Jie pergi ke kediaman keluarga Bai saat ini juga untuk menghibur gadis malang itu.
Tapi, pada saat dirinya mengingat kembali status Fan Jianying, pangeran Wei Jie pun mengurungkan niatnya.
“ Achhh…lalu aku harus bagaimana ?...”, pangeran Wei Jie mengacak kasar rambutnya karena frustasi.
Zoelu, pengawal pribadi pangeran Wei Jie menatap junjungannya itu dengan wajah heran karena selama dia bersama pangeran ke empat, baru kali ini junjungannya itu kehilangan kontrol diri seperti ini.
“ Apa ada masalah serius didalam pengadilan hingga membuat yang mulia frustasi seperti itu ?...”, batin Zoelu cemas.
Meski begitu, dia sama sekali tak berani bersuara dan hanya bisa memandang pengeran Wei Jie yang sekarang berjalan mondar – mandir didalam ruangan seperti setrikaan dengan wajah cemas.
“ Apapun masalah yang sedang dihadapi yang mulia, saya harap yang mulia bisa segera menemukan solusinya…”, batin Zoelu berdoa.
Sementara itu, Fan Jianying pulang kedalam kediamannya dengan wajah ceria sambil membawa setumpuk hadiah yang didapatkannya dari semua orang yang merasa bersimpati dengannya.
“ Jika dengan kepergian Bai Cheung aku bisa mendapatkan harta yang banyak seperti ini, sudah sejak lama seharusnya aku buat dia pergi meninggalkanku…”, batin Fan Jianying penuh kebahagiaan.
Setelah tiba di dalam kamarnya, Fan Jianying segera menyuruh keduanya meletakkan semua hadiah tersebut karena dirinya ingin beristirahat.
Pelayan senior Gaeng dan Dayu yang merasa jika Fan Jianying sangat sedih karena kepergian Bai Cheung, membiarkannya beristirahat dengan tenang agar suasana hatinya kembali bagus.
Diluar kamar, pelayan senior Gaeng yang sedari tadi berusaha menahan diri untuk tidak menangis, namun akhirnya pertahanan tersebut ambruk juga sekarang.
Air matanya lolos begitu saja dan mulai mengalir dengar derasnya membasahi pipi. Pelayan senior Gaeng benar – benar sedih memikirkan nasib madam ketiganya saat ini.
Selama pernikahannya, Gaeng melihat jika madam ketiganya itu tidak pernah mendapatkan kebahagiaan sedikitpun.
Mulai dari ditinggalkan pas malam pengantin, diabaikan oleh tuan mudanya dalam kehidupan sehari - harinya, bahkan tak segan Bai Cheung akan menindasnya setiap ada kesempatan.
Dan sekarang, madam ketiganya ditinggalkan pergi untuk bergabung dengan pasukan yang ada diperbatasan wilayah timur begitu saja tanpa ada pemberitahuan.
“ Meski terlihat riang, aku yakin madam ketiga pasti menyimpan sendiri kesedihan didalam hatinya…”, guman Gaeng berderai air mata.
Bukan hanya Gaeng yang sedih dan menangis, mata Dayu juga terlihat basah dan merah. Kesedihan yang dirasakan oleh gadis itu lebih mengarah kepada kekecewaan dan amarah yang sangat dalam.
__ADS_1
Bagaimana bisa dirinya melihat nona mudanya diperlakukan buruk seperti ini. Apa kata orang nanti, baru saja menikah Fan Jianying sudah ditinggal bertugas.
Dayu yang sedari kecil bersama Fan Jianying menyaksikan bagaimana kedua orang tua dan keluarganya begitu memanjakan nona mudanya itu.
Memiliki kondisi tubuh yang lemah dibandingkan dengan saudara - saudaranya yang lain membuat keluarga Fan lebih perhatian dan memberi apapun yang dia inginkan demi kebahagiaannya.
Tapi sekarang, saat bunga tersebut mulai tumbuh dan mekar dia harus keluar dari rumahnya dan dibawah pergi sang suami ke kediamannya.
Dan disini, bukan hanya diacuhkan dan tidak dihargai oleh suaminya, Fan Jianying bahkan beberapa kali hampir meregangkan nyawa ditangan sang suami.
Dengan kedua tangan mengepal, Dayupun pergi untuk menenangkan diri. Dia benar – benar sudah habis kesabaran terhadap Bai Cheung yang diaggap terus saja menabur kesedihan untuk nona mudanya.
Selama tinggal dikediaman Bai, dia bisa merasakan jika nona mudanya itu tidak menerima kebahagiaan seperti apa yang dibayangkan semua orang.
Akibat sikap dingin dan kekejaman tuan muda ketiga keluarga Bai, yang bagi semua orang terlihat sangat baik dan bertanggung jawab.
Dayu sangat tahu pasti tempat seperti apa wilayah perbatasan bagian timur itu. Saat Bai Cheung bergabung dengan pasukan disana, maka bisa dipastikan jika lima tahun lagi dia akan kembali pulang.
Itupun jika dia berhasil mendapatkan beberapa penghargaan disana. Jika tidak, mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama dari pada itu.
“ Lima tahun !!!...nona akan ditinggal selama itu !!!...”, batin Dayu penuh amarah.
Saat ini nona mudanya masih berusia empat belas tahun, lima tahun kedepan maka saat tuan muda ketiga Bai tersebut kembali, nonanya berusia Sembilan belas tahun.
Dayu terus saja melangkah sambil menggerutu hingga tanpa sadar dia sudah meninggalkan kediaman Bai cukup jauh.
Bruukkk !!!...
“ Awww…”, Dayu berteriak mengadu.
“ Maafkan atas keteledoran saya….”, ucap pangeran Wei Jie merasa bersalah.
Dayu yang hendak marah tiba – tiba saja mengurungkan niatnya waktu mengetahui jika pangeran ke empatlah yang telah menabraknya.
Meski pakaian yang digunakan pangeran ke empat berbeda dari biasanya, namun ketampanan yang dimiliki putra kaisar tersebut tidak bisa disamarkan.
“ Ampun yang mulai…hamba yang salah karena jalan tanpa melihat kedepan…”, Dayu berkata dengan sikap hormat dengan tubuh sedikit bergetar.
“ Tidak apa, bangunlah....", ucap pangeran Wei Jie sopan.
Waktu melihat wajah gadis yang ada dihadapannya, seketika kedua bola mata pangeran Wei Jie membulat sempurna.
" Apa kamu pelayan pribadi madam ketiga ?...”, tanya pangeran Wei Jie terkejut.
__ADS_1
Meski hanya sekilas, pengeran Wei Jie yang pernah melihat Dayu waktu kunjungannya ke kediaman keluarga Bai tempo hari dapat mengenali jika gadis yang ada dihadapannya saat ini adalah pelayan pribadi Fan Jianying.
“ Benar yang mulai. Hamba Dayu, pelayan pribadi madam ketiga…”, ucap Dayu sopan.
Pengeran Wei Jie merasa sungguh beruntung bisa bertemu Dayu saat ini. Itu artinya, dia bisa mendapatkan informasi terbaru mengenai kondisi gadis yang seharian ini memenuhi pikirannya.
“ Mungkin ini sudah takdir dari sang dewa…”, batin pangeran Wei Jie senang.
Saat Dayu mengangkat wajahnya, mata sembab, hidung semerah tomat langsung terlihat jelas dan membuat pangeran Wei Jie seketika langsung merasa cemas.
“ Apa kondisi Fan Jianying begitu buruk hingga pelayan pribadinya sampai menangis seperti itu…”, batin pangeran Wei Jie tidak tenang.
Pangeran Wei Jie tak bisa lagi menahan perasaan cemas yang sedari tadi dia rasakan, diapun segera bersuara.
“ Apa terjadi sesuatu pada Fan Jianying ?...bagaiamana kondisinya ?...dia baik – baik saja kan ?...”, pangeran Wei Jie terus saja memberondong Dayu dengan banyak pertanyaan sambil menguncang bahu gadis itu.
“ No…nona muda…hikkksss…hikksss…”, belum juga Dayu menyelesaikan kalimatnya, airmatanya kembali mengucur dengan deras waktu ingat nasib malang yang dialami Fan Jianying saat ini.
Melihat Dayu menangis dan pangeran Wei Jie berwajah panik, Zoelu yang sama sekali tidak terbawa emosi dan paling tenang diantara ketiganya segera membawa keduanya memasuki sebuah kedai agar tidak menarik perhatian orang banyak.
Zoelu sengaja memilih kedai yang terdapat ruang pribadi didalamnya sehingga apa yang nantinya akan mereka bicarakan tidak diketahui oleh orang lain.
Setelah meminum secangkir teh hangat, Dayu yang mulai rileks pun mulai menceritakan kondisi Fan Jianying saat ini.
Melihat Dayu sudah mau terbuka dengannya, pangeran Wei Jie pun sedikit demi sedikit mengorek informasi dari pelayan pribadi Fan Jianying tersebut mengenai kondisi rumah tangga nona mudanya itu.
“ Berarti masalah utamanya memang terletak di Bai Cheung itu sendiri. Tapi kenapa dia terlihat sedih…apa masih ada suatu rahasia lagi yang masih belum aku ketahui ?...”, batin pangeran Wei Jie sambil mengetuk - ngetukkan jarinya di meja, menganalisa semuanya.
Dayu yang melihat jika pangeran ke empat begitu perduli terhadap nona mudanya, perlahan hatinya merasa sedikit lega.
Setidaknya, sekarang nona mudanya itu tak sendirian. Dia masih memiliki pendukung jika nantinya ada hal buruk terjadi.
“ Sebaiknya kamu kembali sekarang....aku yakin madam ketiga pasti akan mencarimu begitu sadar jika keberadaanmu tidak ada di kediaman…”, ucap pangeran Wei Jie mengingatkan.
Mendengar ucapan pangeran ke empat, Dayu terlihat sedikit terkejut dan bergegas bangkit. Namun sebelum membuka pintu, langkah kakinya terhenti ketika pangeran Wei Jie kembali bersuara.
“ Jika ada sesuatu, kamu bisa mencariku atau Zoelu…”, ucap pangeran Wei Jie sambil melirik pegawal pribadinya.
Dayu hanya mengangguk sebagai respon dari ucapan pangeran Wei Jie kepadanya sebelum tubuhnya menghilang dibalik pintu.
Dia melangkah keluar kedai dengan kaki ringan sambil tersenyum tipis. Dia merasa ada secercah harapan bagi nona mudanya itu untuk bahagia.
" Kuharap, kehadiran pangeran ke empat bisa sedikit memberi kebahagiaan tersendiri bagi nona. Meski keduanya tidak bisa bersatu, setidaknya sebagai teman tak ada masalah bukan ?...", Dayu terlihat bermonolog sambil terus melangkah menuju kediaman keluarga Bai dengan riang.
__ADS_1