CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
SIASAT


__ADS_3

Malam ini, salju telah menutupi hampir seluruh jalan yang ada di kota Banjiwen menjadi putih keperakan ketika terkena cahaya lentera.


Pantulan cahaya keperakan dari jalan membuat pemandangan kota terlihat sangat indah dan menawan.


Malam ini seluruh jalan terlihat sangat sunyi karena semua orang sibuk bergelung dibawah selimutnya setelah hujan salju yang turun sangat deras sore tadi.


Sangat kontras dengan keadaan disiang hari dimana hiruk pikuk para pedagang memenuhi pusat kota.


Fan Jianying yang tidak bisa tidur, lewat jendela kamarnya dia melesat cepat menuju atap penginapan.


Dalam keheningan malam, Fan Jianying duduk sambil mengangkat kepalanya dan melihat kearah langit yang baru saja cerah.


Setelah salju turun lebat sejak sore hari ini, malam ini cuaca mulai menghangat dan langit terlihat sangat berwarna.


Hal ini jauh lebih baik daripada dia melihat langit dari dalam jendela apartemennya. Jalanan sangat sepi sehingga tidak mungkin ada orang yang melihat aktivitasnya saat ini.


Fan Jianying masih terus setia memandang keatas langit sambil memikirkan semua hal yang dia alami di dunia asing ini.


Keinginan yang tidak dan belum terpenuhi dikehidupan sebelumnya satu persatu telah terpenuhi dalam kehidupannya saat ini.


Meski negara asing ini hanya karangan imajiner sang penulis, tapi dia merasa jika disini kehidupannya lebih baik dan berwarna.


Perlahan dia mengusap kedua telapak tangannya yang terlihat mulai membeku. Tak lama kemudian  senyuman lebar perlahan muncul diwajah cantiknya.


Sambil menghembuskan nafas panjang, Fan Jianying kembali memikirkan mengenai perjalanan singkatnya dari kota Xiantaro dan Banjiwen.


Meski perjalananya terlihat mulus dan semua misi bisa terselesaikan dengan baik. Tapi ada kejanggalan yang dirasa dan membuatnya khawatir.


Bagaimana bisa semua langkah yang dilakukannya bisa berjalan selancar ini dalam waktu singkat tanpa adanya hambatan apapun yang berarti.


Padahal sebelumnya, orang – orang milik putra mahkota sulit untuk bisa menembus kota Xiantaro, apalagi sampai menyentuh kota Banjiwen.


“ Tampaknya permainan ini tak sesederhana yang terlihat dipermukaan….” , batin Fan Jianying resah.


Diapun mulai merangkai semua urutan peristiwa yang terjadi dan berusaha untuk menarik benang merah yang ada.


“ Tidak….permasalahan yang ada di dua kota ini sepertinya bukan hasil pemikiran pangeran Song Yu sendiri…lantas siapa ?....”, Fan Jianying terlihat bermonolog dalam hatinya sambil memikirkan siapa orang dibalik layar ini.

__ADS_1


Diapun sedikit terperajat waktu memikirkan jika strategi ini seperti mengarah pada skema peperangan yang sempat dia bahas dengan jenderal besar Tian beberapa waktu yang lalu.


“ Jika benar seperti itu….hanya satu kandidat yang pas untuk masalah ini…Bai Wang….”, batin Fan Jianying terkejut.


Skema pertempuran seperti ini hanya kakak iparnya lah yang bisa memikirkan semua permasalahan yang ada sampai sejauh ini.


Membayangkan jika pergerakan mereka telah terbaca membuat Fan Jianying membulatkan kedua matanya dengan sempurna.


Fan Jainying pun bergegas bangun dan langsung melompat turun kembali kedalam kamar untuk mencatat semua yang ada dalam pikirannya kedalam selembar kertas dan mendiskusikannya dengan yang lain.


Begitu masuk kedalam kamar, lagi - lagi Fan Jianying mendapatkan kejutan waktu melihat Bai Cheung berdiri tegak di bawah jendela menantinya.


“ Kenapa kamu ada disini ?....”, tanya Fan Jianying dengan kedua mata melotot karena terkejut.


“ Justru aku yang seharusnya bertanya, darimana saja kamu ?....”, tanya Bai Cheung dengan nada rendah dan dingin.


Fan Jianying tak menanggapi kemarahan suaminya dan langsung menutup jendela kemudian menyeret Bai Cheung menuju ke kursi.


Melihat suaminya terdiam dengan wajah binggung, Fan Jianying pun segera membeberkan apa yang baru saja ditemukan.


Sejenak Bai Cheung terlihat mengkerutkan keningnya cukup dalam waktu mendengarkan semua penjelasan yang diberikan oleh Fan Jianying kepadanya.


“ Bagaimana menurutmu ?....”, tanya Fan Jianying dengan tatapan mata penuh selidik.


Cukup lama Bai Cheung melihat skema yang dibuat oleh istrinya itu sambil mengetuk – ngetukkan telunjuknya di dagu dengan kedua tangan bersendekap.


“ Skema ini tidak asing dan hanya orang militer yang memilikinya….”, guman Bai Cheung dan mulai mengambil pena, langsung mengisi bagian kertas yang kosong dengan tulisannya.


Fan Jianying melihat dengan cermat apa yang diisi oleh suaminya tersebut dalam bagian yang kosong tersebut.


“ Jadi seperti itu….”, ucap Fan Jianying sambil mengangguk – anggukkan kepalanya.


“ Jika ini benar pikiran kakak, aku rasa ini langkah yang akan diambil selanjutnya…”, ucap Bai Cheung yakin.


Meski dia dan sang kakak sering tak sejalan, tapi sebagai saudara yang tumbuh bersama sedari bayi, sedikit banyak Bai Cheung mengerti arah pemikiran Bai Wang.


“ Jika begini hasilnya, kita harus secepatnya kembali ke ibukota….”, ucap Fan Jianying bersemangat.

__ADS_1


Bai Cheung pun segera membangunkan semua orang dan mulai mendiskusikan langkah yang akan mereka ambil.


Rencananya mereka akan kembali ke ibukota pagi – pagi buta agar pergerakan mereka tidak terlalu mencolok.


Selanjutnya, mereka juga berencana akan membagi menjadi tiga kelompok secara berpencar agar musuh terkecoh.


Terutama mengenai semua barang bukti yang telah  mereka kumpulkan, Fan Jianying simpan dalam cincin ruangnya.


Sehingga jika nantinya ada sesuatu di jalan selama perjalanan yang mereka tempuh, bukti tersebut masih utuh.


Kelompok pertama yang dipimpin oleh Bingwen keluar gerbang kota Banjiwen lebih dulu dan memastikan kondisi didepan mereka aman.


Selanjutnya, keluar kereta kuda yang mengangkut Fan Jianying dan tabib Shilin beserta si kembar dan beberapa orang pengawal mulai terlihat keluar meninggalkan gerbang kota.


Setelah memastikan semuanya aman, kelompok ketiga yang berisi Bai Cheung dan beberapa pasukan milik putra mahkota Qin Shi Huang mulai menyusul.


Sesuai prediksi, pergerakan mereka telah diamati oleh seseorang yang mengintai Fan Jianying dan rekan – rekannya dengan kedua mata elangnya.


“ Laporkan kepada tuan muda Bai…target telah masuk perangkap….”, ucap lelaki tersebut lantang.


“ Dipahami….”, selanjutnya lelaki berbaju hitam yang sedari tadi disampingnya dengan menunduk hormat tiba – tiba menghilang untuk menyampaikan pesan tersebut.


Didalam kereta kudanya, Fan Jianying tersenyum lebar waktu mengetahui jika apa yang direncanakannya berjalan sempurna.


“ Baiklah…permainan akan segera dimulai….”, batin Fan Jianying tenang.


Diapun terlihat menikmati kudapan yang ada ditangannya dengan hati gembira. Tabib Shilin sedikit menautkan kedua alisnya heran.


Bagaimana bisa madam ketiga Bai setenang ini padahal mereka saat ini perlahan masuk kedalam perangkap musuh yang entah sedalam apa perangkap tersebut disiapkan.


Sementara itu Bai Wang yang mendapatkan jika adik dan istrinya perlahan masuk kedalam perangkap yang telah mereka buat tersenyum bahagia.


Dia sama sekali tak menyangka jika adik iparnya akan melangkah sejauh ini, bahkan menggunakan alasan sakit hanya untuk bisa bergabung dengan suaminya.


Bai Wang yang melihat jika ada pengawal kaisar Huang dan putra mahkota Qin Shi Huang yang mengawal perjalanan Fan Jianying membuatnya harus bergerak cepat untuk menyingkirkan keduanya sebelum terlambat.


" Jinzu adalah kota terbaik untuk mengubur mereka semuanya ", batin Bai Wang congkak.

__ADS_1


Selain untuk menlenyapkan adik kandungnya beserta sang istri, tujuan Bai Wang menunggu mereka di kota Jinzu sekaligus untuk menguji pasukan rahasia yang telah dilatihnya selama ini.


Jika mereka berhasil melakukan tugas ini, maka kesiapan mereka untuk menembus benteng pertahanan ibukota dianggap sudah cukup memadai.


__ADS_2