
Selesai acara perjamuan, Bai Axiang langsung menyeret Bai Wang kedalam kediamanannya agar tidak berhasil kabur lagi.
Selama perjamuan, Bai Wang terus menempel kepada pangeran kedua Song Yu bukan hanya karena junjungannya itu sedang mengawasi pergerakannya.
Tapi juga dia menghindari kakak serta sang nenek yang menatapnya tajam sedari tadi dia datang kedalam kediaman.
Setelah dihukum cambuk oleh Ratu Qinly, Bai Wang tidak pulang ke kediaman Bai dan memilih untuk menginap di kediaman Heng Yuan.
Hal ini dilakukannya untuk menghindari berbagai macam pertanyaan yang mungkin akan dilayangkan kepadanya melihat kondisinya mengenaskan seperti itu.
Bai Axiang segera mencerca sang adik dengan berbagai macam pertanyaan. Tatapan sang kakak yang penuh dengan intimidasi membuat Bai Wang merasa sedikit terpojok.
Namun dia tak akan menyerah begitu saja dan mulai melakukan perlawanan tentang semua hal yang dituduhkan kepadanya.
“ Jika kakak tidak bisa memberikan bukti apapun , maka aku anggap hal tersebut hanyalah fitnah belaka…”, ucap Bai Wang berusaha tenang.
“ Jika aku bisa membuktikannya, apa yang akan kau lakukan?….”, tanya Bai Axiang tajam.
Untuk Sejenak, raut wajah Bai Wang sedikit menegak. Namu sedetik kemudian diapun mulai terkekeh dengan tatapan menghina kearah Bai Axiang.
“ Jika aku berada dipihak pangeran Song Yu, apakah itu salah ?...lagipula siapapun yang naik menjadi kaisar, itu tidak masalah asalkan kita tidak bersekutu dengan negara lain yang ingin menghancurkan Huangshan. Kenapa hal sekecil itu kakak ributkan?…”, ucap Bai Wang santai.
Yang menjadi Bai Axiang geram bukanlah masalah sang adik berada disisi pangeran kedua Song Yu, tapi lebih kearah pemberontakan serta penggelapan pajak yang dilakukannya.
Pada awalnya mungkin dia masih ragu dengan semua hal yang telah diucapkan oleh Bai Cheung. Tapi mendengar hal tersebut dari mulut putra mahkota Qin Shi Huang sendiri, keraguan dalam hatinya langsung menghilang seketika.
Apalagi kaisar Huang juga sudah mengetahui tentang hal itu. Dan sekarang tinggal menunggu waktu saja hingga semuanya terungkap.
“ Aku tak masalah kamu berdiri disisi siapa !!!.. Tapi, aku tak akan mentolerir sekecil apapun itu jika dalam upayamu mendukung pangeran kedua Song Yu, keluarga Bai dikorbankan !!!...camkan itu !!!....”, ucap Bai Axiang penuh ancaman.
Bai Axiang yang merasa jika emosinya sebentar lagi akan meledak jika meneruskan pembicaraan tersebut denga sang adik, akhirnya memilih bangkit dengan penuh amarah.
Melihat kakaknya semarah itu, Bai Wang sangat yakin jika Bai Cheung pasti sudah mengatakan semua kepada Bai Axiang.
Dia memang terlalu ceroboh akan hal ini. Bai Wang sama sekali tidak menyangka jika perbuatannya akan cepat terekpos seperti ini.
“ Sialan !!!....”, teriak Bai Wang penuh amarah.
Dengan rahang mengeras dan kedua tangan terkepal kuat, Bai Wang pun segera meninggalkan kediaman kakak pertamanya dan kembali kedalam kediamannya untuk menyusun rencana selanjutnya.
__ADS_1
Madam Chou yang sengaja mencuri dengar pembicaraan keduanya terlihat berpikir keras. Meski dia tak tahu pasti tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi dia juga harus mulai waspada. Diam – diam dia memanggil penjaga bayangannya untuk memberi peringatan kepada sang ayah agar lebih waspada dan sebisa mungkin menghindari kontak dengan adik ipar keduanya itu.
Melihat wajah suaminya yang gelap seperti itu, madam Chou punya firasat jika hal buruk sebentar lagi akan terjadi.
Sementara itu dirumah keluarga ketiga, Bai Cheung segera membawa sang istri masuk kedalam kamar begitu acara perjamuan selesai.
Fan Jianying sedikit menyipitkan matanya waktu melihat meja yang ada ditengah kamar terdapat aneka macam kudapan dan sepoci teh dengan dua lilin yang menyala ditengah – tengah meja.
Tak ketinggalan ada bungga mawar merah yang sangat indah terletak didalam vas berwarna putih transparan diatara lilin yang menyala.
“ Apakah dia menyiapkan makan malam romantis ini untukku ?….”, batin Fan Jianying terkejut.
Melihat istrinya hanya berdiri mematung, Bai Cheungpun segera menghampiri dan menarik satu tangannya, membawa Fan Jianying untuk duduk dikursi yang telah disediakannya.
Meski binggung, namun Fan Jianying menurut saja dengan apa yang dilakukan oleh Bai Cheung kepadanya.
Tak lama, keduanya mulai terlihat berbicara santai dengan nyaman. Bai Cheung memegang cangkir tehnya sambil mendengarkan apa yang diceritakan oleh istrinya dengan cermat.
Fan Jianying pun meneruskan ceritanya dengan sangat antusias waktu melihat suaminya merespon setiap ucapannya.
Disela – sela tanggapan yang dibuatnya, Bai Cheung tersenyum. Pada saat tersenyum wajah tampan Bai Cheung tampak seperti kelopak Begonia yang sedang mekar di musim semi.
Hal itu tentu saja membuat Fan Jianying tercengang dan mulai menatap suaminya itu dengan tatapan menyelidik.
“ Sejak kapan dia menjadi genit seperti itu ?…. ”, Fan Jianying bertanya dalam hatinya dengan raut wajah terkejut.
Setelah kudapan yang ada diatas meja hampir habis, tiba – tiba Bai Cheung melangkah kepadanya dan langsung membungkuk.
Wajah keduanya sangat dekat, membuat jantung Fan Jianying berdetak dengan sangat kencang dan tak beraturan.
Belum sempat Fan Jianying merespon, benda kenyal dan hangat sudah menempel kuat di bibir munggilnya.
Membuat Fan Jianying spontan menutup kedua matanya waktu Bai Cheung mulai m*****t bibir munggilnya dengan lembut.
Ciuman panas yang terjadi seolah – olah membawa emosi yang tak terkatakan membanjiri langit dan bumi.
Semakin keras Fan Jianying menghindar, semakin erat Bai Cheung memeluk dan mengunci gadis tersebut dipelukannya.
__ADS_1
Bai Cheung m*****t bibir munggil Fan Jianying seolah membuat sumpah bahwa hanya dirinyalah yang berhak atas semua hal yang ada ditubuh gadis itu karena dia adalah suaminya yang sah.
Bunga – bunga bermekaran dimusim dingin, kupu – kupu terbang dimusim gugur. Mata air es di musim panas dan kepingan salju dimusim semi, suatau hal yang aneh dan tak masuk akal.
Itulah yang bisa digambarkan dalam kondisi saat ini, mengenai apa yang sedang dirasakan oleh Fan Jianying.
Hingga tanpa sadar keduanya sekarang sudah berbaring diatas ranjang dan mulai bergumul dengan liarnya.
Nyawa Fan Jianying seolah keluar dari dalam tubuhnya dan dia tak bisa melarikan diri lagi saat c****n panas membara tersebut terus diberikan oleh Bai Cheung kepadanya.
Bai Cheung melepaskan istrinya ketika Fan Jianying kehabisan nafas dan mulai menelusupkan kepalanya ke ceruk leher jenjang gadis itu.
Hewan buas dalam diri Bai Cheung pun mulai keluar dan mulai tak terkendali.
Suhu dalam kamar saat ini meningkat secara drastis.
Membuat sepasang keringat mulai mengucur ditubuh keduanya begitu penyatuan akan dilakukan.
Malam ini kupu – kupu mulai berterbangan didalam kamar pasangan muda tersebut dan tak lama kemudian ledakan kembang api mewarnai malam yang indah ini.
Dengan nafas tersenggal – senggal, Bai Cheung tersenyum puas karena dia sudah berhasil menyempurnakan pernikahan mereka dengan menjadikan Fan Jianying miliknya sepenuhnya.
Fan Jianying merasa sangat marah karena kehilangan kendali atas dirinya hingga hal ini bisa terjadi.
Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Dirinya sekarang sudah sempurna menjadi seorang istri tuan muda ketiga Bai dengan adanya penyatuan yang baru saja mereka lewati bersama.
Lamunan Fan Jianying buyar waktu ada benda hangat menyentuh kulitnya.
Fan Jianying sama sekali tak menyangka jika dalam hidupnya dia akan mendapatkan perlakuan istimewa seperti ini.
Dengan lembut Bai Cheung membersihkan tubuh Fan Jianying dengan handuk kecil yang sudah dicelupkan kedalam air hangat.
Dengan penuh kasih sayang, semua bagian tubuh Fan Jianying dibersihkan dengan lembut oleh suaminya.
Setelah selesai, Bai Cheung langsung memasangkan pakaian baru ketubuh sang istri dan mengganti alas tidur mereka dengan yang baru.
Dalam hati Fan Jianying tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan istimewa tersebut dari suaminya.
Fan Jianying hanya menggeleng dan langsung membuang muka.
__ADS_1
Melihat istrinya malu, Bai Cheung pun langsung memeluk tubuh Fan Jianying dari belakang sambil berbisik.
“ Terimakasih karena telah mengijinkanku untuk menyempurnakan pernikahan kita….”, bisik Bai Cheung dengan lembut.