CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
INFORMASI


__ADS_3

Demi menghilangkan kekesalan hatinya Fan Nuan yang pada awalnya hanya berniat mencari udara segar di halaman tak terasa terus melangkahkan kakinya cukup jauh hingga sampai dihalaman belakang kediaman Bai sambil menggerutu.


Fan Nuan yang mulai yang mulai tersadar langsung kebinggungan begitu melihat halaman luas yang rimbun dengan pepohonan dan sangat sunyi.


“ Dimana ini ?....”, batin Fan Nuan mulai was – was.


Fan Nuan terlihat menoleh kesana kemari dengan gelisah waktu menyadari jika dirinya sudah sangat jauh dari kediaman utama.


Dia merasa kebinggungan karena tak bisa menemukan seorang pun yang bisa dia tanyai dan mengantarnya kembali ke kediaman uatam, tempat perayaan sedang berlangsung.


Sayup – sayup Fan Nuan mendengar ada suara orang bercakap – cakap di tempat yang tak begitu jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


“ Aku akan bertanya kepada mereka saja agar bisa kembali ke kediaman utama….”, batin Fan Nuan lega.


Para pengawal langsung memberi sikap waspada begitu melihat seorang gadis bercadar sedang berjalan mendekat.


Jika melihat pakaian yang gadis itu kenakan, bisa dipastikan gadis itu merupakan seorang bangsawan yang datang sebagai tamu dari madam muda ketiga yang saat ini sedang merayakan ulang tahunnya yang kelima belas.


“ Siapa dia ?....jika tamu, kenapa ada disini sedangkan pesta berlangsung dihalaman utama. Jarak antara kediaman utama dan halaman belakang cukup jauh .…apa gadis itu memiliki maksud tersembunyi ?.....”, itulah sekelebat pikiran yang ada dibenak masing – masing pengawal saat ini.


Lamunan semua orang langsung buyar begitu suara lembut Fan Nuan menghantam indera pendengaran mereka.


“ Permisi, saya tersesat…bisakan kalian mengantar saya kembali ke kediaman utama….”, ucap Fan Nuan sopan dengan nada lembut.


Salah satu pengawal yang mengetahui jika gadis yang ada dihadapannya tersebut tersesat segera mengantarkannya kembali ke kediaman utama segera.


Sebelum pergi, Fan Nuan terlihat beberapa kali menoleh kebelakang berusaha untuk melihat tempat apa yang dijaga pengawal segitu banyaknya.


Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Fan Nuan pun segera mengeluarkan jurus andalannya untuk merayu pengawal yang mengantarnya tersebut agar bisa mendapatkan informasi yang diinginkan.


Meski pada awalnya pengawal tersebut terkesan berbelit – belit dan terlihat menghindar dari pertanyaan yang diajukannya, namun Fan Nuan tak kehabisan akal.


Diapun terus menerus memberondong pengawal tersebut dengan berbagai macam pertanyaan hingga tak bisa lagi untuk mengelak dan akhirnya menceritakan secara garis besar apa yang dia dan rekan – rekannya jaga ditempat tersebut.


Fan Nuan tak bisa menutupi keterkejutannya waktu mengetahui jika yang dikurung dalam rumah bobrok tersebut adalah madam muda pertama Bai.


Belum juga hilang keterkejutan Fan Nuan, dia kembali dibuat terkejut  waktu mengetahui jika madam muda pertama Bai tersebut dikurung karena berusaha untuk meracuni kakak tirinya namun gagal dan sekarang menjadi gila.


“ Apa ?....madam muda pertama gila ?!!!!....”, Fan Nuan kembali dibuat syok dengan keterangan pengawal tersebut.


Meski dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi didalam kediaman tersebut, tapi setelah mengetahui fakta jika madam pertama Bai gila dan putra kedua mereka masuk penjara karena kasus penggelapan pajak.

__ADS_1


Jadi otomatis sekarang yang berkuasa dalam kediaman Bai adalah keluarga ketiga karena keluarga pertama dan kedua sudah tak bisa diharapkan lagi.


Mengetahui hal tersebut, Fan Nuan yang sejak kecil selalu merasa iri hati terhadap Fan Jianying mencibir dalam hati melihat keberuntungan sang kakak.


“ Kenapa dia selalu saja beruntung seperti itu ?!!!....”, batin Fan Nuan geram.


Kedua tangan Fan Nuan terkepal dengan kuat waktu menyadari jika sekarang kemungkinan besar yang menjadi nyonya rumah adalah Fan Jianying karena semua orang tahu jika Lien Hua sudah lama melepaskan jabatan sebagai nyonya rumah setelah anak pertamanya menikah.


“ Tidak !!!...aku tidak rela dia hidup bahagia seperti itu !!!....”, api kecemburuan semakin berkobar didalam hati Fan Nuan.


Fan Nuan yang sudah ditutupi oleh rasa cemburu dalam hatinya berusaha untuk mencelakai sang kakak.


Setelah berhasil mendapatkan informasi dimana kediaman ketiga berada, Fan Nuan pun segera melaksanakan ide spontan yang melintas dikepalanya.


Hira yang tak sengaja melihat Fan Nuan berjalan bersama salah satu pengawal yang berjaga di halaman belakang langsung berjalan mendekat untuk mencuri dengar semuanya.


“ Aku harus segera melaporkan semuanya kepada nyonya…”, batin Hira bermonolog.


Hirapun segera melesat pergi untuk melaporkan semua hal yang telah dia dengar dari adik tiri nyonya mudanya itu.


Setelah memberi hormat kepada putra mahkota Qin Shi Huang yang saat ini sedang berbincang dengan Fan Jianying, Hira segera membisikkan semua informasi yang baru saja dia dapatkan tersebut.


“ Awasi dan laporkan perkembangannya….”, ucap Fan Jianying dengan suara rendah dan datar.


Setelah pamit undur diri, Hira pun segera pergi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya.


“ Apakah ada serangga yang datang menganggumu ?....”, tanya putra mahkota Qin Shi Huang tersenyum tipis.


“ Hanya serangga kecil…dia pikir bisa dengan mudah menggigitku. Itu tak akan terjadi sampai kapanpun….”, ucap Fan Jianying santai.


Meski Fan Jianying tahu jika selama ini Fan Nuan tak pernah menunjukkan pergerakan yang berarti.


Namun mengingat dalam novel asli Fan Jianying meninggal karena ulah Fan Nuan dan Heng Yuan, diapun tetap harus mewaspadai pergerakan keduanya dengan seksama.


Apalagi Fan Jianying sama sekali tak mengetahui karakter Fan Nuan karena dia sama sekali tak mendapat ingatan apapun dari si pemilik tubuh asli.


Fan Jainying yang terkesan mengabaikan keberadaan Fan Nuan sebagai salah satu tokoh antagonis utama dalam novel aslinya kali ini akan lebih memperhatikan gerak - gerik adik tirinya itu.


Keberadaan Fan Nuan tentunya bukan hal yang bsia dianggap remeh karena sang penulis menjadikannya tokoh antagonis pertama yang patut dia waspadai.


Putra mahkota Qin Shu Huang yang sedari tadi mengamati keduaa mata Fan Jianying yang bergerak kesana - kemari dengan cepat, menunjukkan jika adiknya itu sedang memikirkan banyak hal dikepalanya berusaha untuk mengalihkan fokus gadis tersebut.

__ADS_1


“ Bagaimana jika Fan’er tinggal didalam istana ?.....”, tanya putra mahkota Qin Shi Huang memecah kesunyian.


Lamunan Fan Jianying pun seketika buyar setelah mendengar pertanyaan dari sang kakak yang baginya lebih mirip sebuah permintaan itu.


“ Tampaknya kakak harus secepatnya mencari istri….”, ucap Fan Jainying dengan senyum menggoda.


Melihat sang kakak malah cemberut, Fan Jianying pun tak bisa untuk menahan tawa. Melihat Fan Jianying tertawa lepas seperti itu, hati putra mahkota Qin Shi Huang perlahan menghangat.


“ Fan’er…aku serius…”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang sambil menatap Fan Jianying tajam.


“ Aku juga serius kak….”, jawab Fan Jianying santai.


“ Akan lebih baik jika kakak mencari istri saja. Lagian, kakak tahu sendiri kan jika suamiku sangatlah pencemburu…”, ucap Fan Jainying sambil melirik sang suami yang berdiri bersama pangeran Wei Jie tak jauh dari tempatnya duduk saat ini sedang menatap kakaknya dengan tajam.


Putra mahkota Qin Shi Huang yang melihat Bai Cheung sama sekali tak melepaskan pandangan kepada keduanyapun mulai berpikir untuk mengerjai suami adiknya itu.


Digenganggamnya kedua tangan Fan Jianying dengan erat sambil menatap kedua mata adiknya itu dengan hangat.


“ Kak…jangan memprovokasinya….”, ucap Fan Jianying mendesah pelan.


Fan Jianying cukup tahu jika putra mahkota Qin Shi Huang kali ini ingin membuat Bai Cheung cemburu dengan bersikap akrab dengannya.


“ Memang salah jika aku memegang tangan adikku sendiri seperti ini….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang tak terima.


Meskipun dalam hati, itu hanyalah alibinya untuk bisa mengenggam tangan halus gadis yang sangat dicintainya itu.


Melihat Bai CHeung mulai kebakaran jenggot, kejailan putra mahkota Qin Shi Huang tidak berhenti sampai disitu saja. Dia tiba – tiba saja mengelus kepala Fan Jianying hingga membuat adiknya itu melotot tajam kepadanya.


“ Ada daun….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang beralibi.


Ternyata, diseberang tempat keduanya asyik bercengkerama dan tertawa. Bukan hanya Bai Cheung saja yang hatinya panas dipenuhi oleh api kecemburuan, pangeran Wei Jie juga.


Tanpa semua orang sadari, pangeran Wei Jie  beberapa kali terlihat mengepalkan kedua tangannya. Jika saja lelaki yang duduk bersama Fan Jianying bukanlah kakaknya, mungkin sudah pangeran Wei Jie datangi dan hajar hingga tak bisa berkutik lagi.


" Aku sudah tak tahan lagi….”, ucap Bai Cheung langsung berjalan cepat menuju ke tempat istrinya berada.


Pangeran Wei Jie melihat api kemerahan yang sangat besar dari sahabatnya segera menyusul langkah Bai Cheung dan berusaha untuk menenangkannya.


“ Tenanglah….kakak tak akan berbuat macam – macam dengan istrimu….”, ucap pangeran Wei Jie membujuk.


Zoelu yang berjalan dibelakang keduanya hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya melihat junjungannya berusaha mendinginkan hati sahabatnya padahal hatinya sendiri sedang panas membara.

__ADS_1


__ADS_2