
Pada saat mendengar informasi jika Fan Jianying datang ke acara perjamuan yang diadakan oleh keluarga MIng untuk merayakan ulang tahun tuan besar Ming.
Putri Wei Xieunpun bergegas pergi untuk mengucapkan selamat kepada ayah dari temannya, Ming Chou sekaligus bertemu langsung gadis yang sudah berhasil merebut semua orang yang di sayangi.
Karena sang kakak yang bersahabat dengan Bai Cheung dan sering datang ke kediaman keluarga Bai, putri Wei Xieun yang kadang bosan berada dalam istana sering datang berkunjung bersama sang kakak.
Karena waktu itu hanya ada madam Chou wanita muda disana, jadi saat menunggu kakaknya berlatih pedang bersama Bai Cheung, putri Wei Xieun biasanya menghabiskan waktu mengobrol bersama madam Chou.
Dan sekarang, tujuannya datang adalah melihat langsung bagaimana wajah dan penampilan Fan Jianyimg yang terkenal sangat cantik dan mempesona itu.
Bukan karena kecantikan Fan Jianying saja yang membuat putri Wei Xieun merasa iri hati, tapi karena kedekatannya dengan sang kakak, tabib Shilin, dan menjadi istri Bai Cheung yang membuat api cemburu dalam tubuhnya mulai berkobar.
Setelah gagal menjadikan tabib Shilin menjadi tabib kekaisaran, putri Wei Xieun yang sudah jatuh hati terhadap pemuda tampan itu tak berhenti berusaha untuk mendapatkan perhatian.
Bukannya membalas, tabib Shilin terus saja menghindarinya. Namun tidak dengan Fan Jianying yang terlihat beberapa kali bertemu di luar kediaman Bai dengan tabib Shilin.
Bukan hanya tabib Shilin saja, gadis yang sudah menjadi istri Bai Cheung tersebut nyatanya juga berhasil menarik perhatian sang kakak yang selama ini terkenal sangat dingin dengan perempuan.
Kakaknya itu bahkan sering mengabaikannya dan lebih memilih diam sambil membayangkan gadis yang sudah jadi istri sahabatnya itu.
“ Aku penasaran seberapa cantiknya gadis itu hingga gege memberikan perhatian lebih untuknya…”, ucap putri Wei Xieun geram.
“ Saya rasa, jika tuan muda ketiga Bai saja menolaknya dan tidak bahagia dengan pernikahannya, jelas dia tidak secantik seperti yang dirumorkan…”, ucap pelayan pribadi putri Wei Xieun membesarkan hati majikannya.
“ Betul juga perkataanmu, gege saja menghidarinya dan lebih memilih untuk membasmi hewan mutasi daripada bersama istrinya….”, ucap putri Wei Xieun dengan senyum mengejek.
Putri Wei Xieun semakin bertekad untuk mempermalukan Fan Jianying dan akan membuka wajah asli gadis yang terlihat polos tersebut.
“ Lihat saja, hari ini aku benar – benar tidak akan memberimu muka dihadapan semua orang !!!....”, ucap putri Wei Xieun tersenyum licik.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya kereta kuda yang membawa putri Wei Xieunpun tiba di kediaman keluarga Ming.
Dengan congkak, putri Wei Xieun yang usianya lebih tua tiga tahun dari Fan Jianying itu terlihat mulai berjalan masuk kedalam kediaman Ming dengan dagu terangkat.
Semua orang yang berpapasan dengannya terlihat memberi sikap hormat dan langsung pergi menghindar begitu sang putri berjalan melewati mereka begitu saja.
Mereka tidak ingin menyinggung atau membuat masalah dengan salah satu putri kaisar yang terkenal sangat angkuh dan sering membuat masalah hanya karena hal sepele.
Fan Jianying yang terlihat sedang memberi makan ikan – ikan yang ada di dalam kolam dengan kue yang tadi diambilnya tidak mengetahui jika putri Wei Xieun mentargetkannya, diapun terus melakukan aktivitasnya dengan tenang.
“ Jadi dia yang bernama Fan Jainying ?...”, tanya putri Wei Xieun sinis.
“ Menjawab yang mulia, benar…gadis itu adalah Fan Jianying…”, ucap pelayan pribadi putri Wei Xieun sopan.
__ADS_1
Melihat kenyataan jika Fan Jianying sangatlah cantik dan lembut membuat darah dalam diri putri Wei Xieun semakin mendidih.
Tatapan matanya tajam dengan warna kemerahan seperti hendak menelan Fan Jianying hidup - hidup saat ini juga.
Apalagi waktu putri Wei Xieun menyadari jika warna gaun yang mereka kenakan sama, membuat api cemburu dalam dirinya bertambah besar.
Karena gaun berwarna pink tersebut sangat cocok dipakai oleh Fan Jainying, dan terlihat mewah serta elegan.
Padahal gaun pink yang dia kenakan jauh lebih mahal dengan banyaknya hiasan dari benang mas dan banyaknya asesoris mahal yang menempel disana.
Melihat dirinya kalah sebelum berperang, putri Wei Xieun yang tak terima dengan penghinaan tersebut segera melancarkan rencana jahatnya.
Fan Jianying yang tidak terlalu mengenal dan hanya tahu jika gadis yang sedang berjalan menuju ketempatnya berdiri sekarang adalah putri Wei Xieun, adik pangeran ke empat hanya menatapnya cuek.
Karena merasa tidak kenal dan tidak terlalu dekat, Fan Jianying pun hanya memberi salam sewajarnya saja dan langsung bergegas pergi karena tak ingin membuat masalah dengan gadis angkuh tersebut.
Namun, baru saja dia membalikkan badan, putri Wei Xieun sudah menegurnya dengan keras dan mengatainya telah berbuat tak sopan kepadanya.
“ Pantas saja suaminya lebih memilih pergi ke perbatasan untuk membasmi hewan mutasi karena memiliki istri yang tidak memiliki sopan santu seperti ini !!!....”, ucap putri Wei Xieun lantang.
Semua orang terlihat langsung berbisik – bisik begitu mendengar apa yang diucapkan oleh putri Wei Xieun kepada Fan Jianying.
Meski ada sebagian orang yang sudah mengetahui informasi tersebut, namun tampaknya banyak juga yang belum tahu tentang berita menghebohkan itu, seperti madam Ronger yang tampak sangat terkejut atas berita yang baru saja didengarnya itu.
“ Informasi ini tampaknya sengaja ditutup rapat – rapat oleh keluarga Bai. Tapi tak tahu siapa yang membocorkannya, hingga ada sebagian orang yang sudah mengetahuinya….”, ucap istri menteri keuangan yang kebetulan duduk disamping madam Ronger.
Semua orang terlihat menatap iba terhadap madam Ronger atas nasib sial yang dialami nona kedua Fan itu.
“ Aku harus segera memberi tahu tetua Fan agar mereka bisa memberi teguran keras kepada keluarga Bai….”, batin madam Ronger geram.
Apa yang dilakukan oleh Bai Cheung ini adalah sebuah penghinaan besar bagi seluruh keluarga Fan. Bagaimana juga Fan Jianying bisa diam saja diperlakukan serendah itu oleh keluarga Bai.
Melihat semua orang mulai berbisik – bisik dan menatap kearah Fan Jianying dengan pandangan meremehkan membuat putri Wei Xieun merasa puas.
Namun, Fan Jianying yang sudah kenyang menghadapi orang seperti putri Wei Xieun tersebut hanya bersikap tenang dan tidak menunjukkan reaksi apapun.
Hal itu tentunya membuat hati putri Wei Xieun merasa terganggu karena apa yang dia harapkan sama sekali tidak tercapai.
“ Kenapa dia bisa setenang itu ?...harusnya kan dia marah atau sedih dan malu karena semua orang telah mengetahui aib yang selama ini dia sembunyikan….”, batin putri Wei Xieun resah.
Fan Jainying terus menatap datar kearah putri Wei Xieun dan menunggu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh gadis pembuat onar yang ada dihadapannya itu.
“ Aku ingin tahu, kamu bisa sampai kapan tenang begitu ?...”, batin putri Wei Xieun tersenyum licik waktu dia memiliki ide lainnya untuk mempermalukan Fan Jianying.
__ADS_1
Tidak ingin menyia – nyiakan kesempatan yang datang dihadapannya, putri Wei Xieun kembali bersuara untuk menjatuhkan Fan Jianying.
“ Madam ketiga…bagaimana kamu bisa setenang ini ditinggal pergi oleh suamimu. Apa itu karena kamu sudah memiliki penggantinya ?...tabib Shilin atau kakak ku pangeran Wei Jie…upsss….aku keceplosan….”, putri Wei Xieun berkata sebentar kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangganya dengan sorot mata mengejek.
Fan Jianying yang melihat putri Wei Xieun terus saja menyerangnya dengan omong kosong seperti itu hanya menanggapinya dengan tenang.
“ Wah…saya sama sekali tidak menyangka jika Yang Mulia ternyata mampu menusuk keluarga Bai dari belakang seperti ini…”, ucap Fan Jianying tenang.
“ Saya kira hubungan Yang Mulia cukup dekat dengan keluarga Bai, tapi ternyata…saya sama sekali tak mengira jika Yang Mulia bisa setega ini…..”, Fan Jianying berkata dengan wajah sedih.
Putri Wei Xieun yang melihat Fan Jianying sengaja membawa nama kelurga Bai untuk mengadu domba dirinya merasa tak terima dan dia kembali menyerang Fan Jianying.
“ hahahaaaa…anda sangat lucu madam ketiga\, bagaimanapun j****g tetaplah j****g….”, ucap putri Wei Xieun sambil tersenyum meremehkan.
Melihat putri Wei Xieun berusaha memancing kemarahannya, Fan Jianying yang sudah mengetahui apa sebab adik pangeran ke empat tersebut sengaja membuat masalah dengannya pun terlihat mulai meladeni drama murahan itu.
“ Tabib Shilin menolak Yang Mulia itu bukanlah kesalahan saya….pengeran Wei Jie sudah jenuh dengan sifat manja dan kekanak - kanakan Yang Mulia itu juga bukan salah saya…Apakah Yang Mulia melakukan semua ini kepada saya karena Yang Mulia menginginkan suami saya….”, ucap Fan Jianying tenang.
Semua orang tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutan mereka waktu mendengar jika ternyata putri Wei Xieun menyukai Bai Cheung, sahabat kakaknya.
“ Rumor itu mungkin benar, bukankan putri Wei Xieun sering berkunjung ke keluarga Bai dengan alasan menemani sang kakak…”
“ Makanya dia membongkar aib keluarga Bai disini karena tujuan ini…”
“ Aku tak menyangka jika putri Wei Xieun serendah ini…”
“ Dia sangat arogan karena terlalu dimanja oleh kaisar…”
“ Apa ini alasan Bai Cheung tak bahagia dengan pernikahannya…”
“ Apakah dia sebenarnya juga mencintai putri Wei Xieun…”
“ Apakah kaisar tak merestui hubungan ini dan membuat Bai Cheung menikahi putri dari keluarga Fan…”
Mulai banyak bisik – bisik tak sedap setelah Fan Jianying melayangkan ucapannya. Semua orang baru berhenti berbisik waktu putri Wei Xieun menatap tajam kearah mereka.
Putri Wei Xieun terlihat sangat marah hingga tanpa sadar kedua tangannya mencengkeram erat ujung gaunnya.
Melihat hal tersebut tentu saja Fan Jianying hanya bisa tertawa dalam hati karena menganggap tindakan putri Wei Xieun terlalu sembrono dan tidak memikirkan dampak yang ditimbulkannya.
Sementara itu, kedua pelayan Fan Jianying yang sedari tadi melihat pertengkaran antara madam ketiganya dengan putri Wei Xieun merasa sangat senang melihat wajah putri Wei Xieun terlihat sangat pucat dengan kedua mata berkaca - kaca.
“ Madam ketiga…aku semakin mengagumimu…”, batin Hira bahagia.
__ADS_1
Hira merasa sangat senang dapat ikut bersama madam ketiga dalam acara perjamuan hari ini karena dia bisa melihat secara langsung bagaimana madam ketiganya itu membungkam musuh hanya dengan beberapa kata, tanpa menunjukkan emosi yang berlebihan.