
Fan Jianying masih belum bisa percaya bagaimana suaminya itu bisa mengirim tiga pelayan pribadi untuk melayaninya.
Sedangkan dia sendiri memiliki dua pelayan pribadi dan empat orang pelayan lagi yang selalu siap sedia kapanpun dia membutuhkan.
Bukan hanya itu saja, di kediamannya saat ini sudah ada enam pelayan kelas dua dan delapan pelayan kelas tiga yang berada disekitarnya.
Dan masih ada pelayan yang biasanya bertugas membersihkan kediaman, merawat taman dan bagian dapur.
Pelayan begitu banyak untuk apa jika hanya dirinya seorang yang dilayani disini. Meski begitu, Fan Jianying tetap berwajah tenang dan datar. Hal tersebut tentu saja membuat servant Meilin salah tingkah dibuatnya.
“ Apa ada yang salah dengan madam ketiga ?...kenapa dia bisa setenang itu?...jika pengantin baru pada umumnya dia akan berteriak dan marah karena suaminya telah meninggalkannya begitu saja dan sekarang malah mengirim orang untuk mengawasinya…”, batin Meilin binggung.
Saat servant Meilin mengatakan jika dia membawa surat untuknya, Fan Jianying hanya mengambilnya tanpa merubah ekpresi diwajahnya, tetap tenang seakan tak ada ketertarikan atau rasa penasaran akan surat yang didapatkannya.
Membuat ketiga orang yang dikirim oleh Bai Cheung tersebut terlihat menyelidiki lewat tatapan mata Fan Jianying.
Namun cukup lama mereka mengamati nyatanya ketiganya sama sekali tak mendapatkan apapun selain ketengan tiada batas.
Bahkan saat membaca tulisan tangan suaminya, Fan Jianying juga tetap menunjukkan mimik datar tanpa adanya perubahan yang cukup berarti, meski itu hanya sedikit.
Sebenarnya, dalam hati Fan Jianying sedang tertawa terbahak – bahak waktu pertama kali melihat kata “ Untuk istriku tercinta, Madam ketiga, Fan Jianying….”.
Ditambah lagi pada saat dia membuka amplop coklat yang diterimanya dan mengeluarkan selembar kertas tipis yang hanya ada satu baris kalimat disana “ Sementara aku pergi membunuh musuh di Timur, aku harap istriku mengingat statusnya dan bisa bertidak dan bersikap dengan baik…”.
“ Sungguh konyol Bai Cheung ini….”, batin Fan Jianying merasa geli.
“ Apa dia pikir ancaman ini akan membuatku takut ?...”, Fan Jianyingpun kembali tertawa dalam hati.
Karena ketiga pelayan perempuan tersebut sudah berada dikediamannya, maka Fan Jianying pun dengan terpaksa menerimanya dan memerintahkan pelayan senior Gaeng untuk membawa ketiganya masuk dan menunjukkan kamar mereka.
Servant Meilin bersama dua orang gadis yang bersamanya, Heyna dan Hira hanya bisa mengikuti dibelakang pelayan senior Gaeng tanpa suara karena madam ketiga telah lebih dulu pergi bersama Dayu menuju kamarnya.
Setelah sampai didalam kamar, pelayan senior Gaeng segera meninggalkan mereka bertiga untuk beristirahat sejenak.
__ADS_1
Ketiganya dikumpulkan didalam satu kamar yang sama juga atas kehendak tuan muda ketiga yang juga memberikan pesan untuknya.
“ Ini tidak benar !!!...biasanya gadis belia yang baru saja menikah dan mereka tahu jika suaminya meragukannya, mereka biasanya akan segera berlari menuju ibu mertuanya untuk mengeluh dan menunjukkan betapa dirugikannya perasaan mereka sambil menangis…tapi ini, madam ketiga terlihat sangat tenang dan acuh. Dia bahkan langsung kembali kedalam kamarnya tanpa ekspresi dan mengatakan apapun…”, ucap servant Meilin sedikit cemas.
“ Gadis ini terlalu naïf atau terlalu pemaaf ?...”, ucap Heyna dan Hira bersautan.
Didalam kamarnya, Fan Jianying mulai menyadari sesuatu jika ketiga pelayan yang dikirim oleh suaminya ini bukanlah orang biasa.
Terutama Heyna dan Hira, selain gerakan mereka cepat namun suara langkah kaki mereka sama sekali tak terdengar.
Begitu juga dengan Servant Meilin, meski masih terdengar namun suaranya sangat ringan seolah kaki mereka tidak menyentuh lantai.
Aura yang dikeluarkan pun berbeda, meski berusaha untuk mereka sembunyikan, namun Fan Jianying masih merasakan aura yang cukup kuat dari diri ketiganya, terutama si kembar Heyna dan Hira.
Pada saat Fan Jianying sedang berkutat dengan pemikirannya, tiba – tiba lamunannya buyar saat ada suara pintu diketuk dan tak lama kemudian Dayu datang membawa sebuah kotak kecil berwarna emas.
“ Nona, ini ada hadiah dari madam Yang, sahabat matriark Bai yang kemarin datang berkunjung kekediaman. Ini diberikan kepada nona sebagai ucapan terimakasih karena diberi kudapan yang sangat lezat…”, ucap Dayu sambil menyerahkan kotak kecil tersebut.
Saat Fan Jianying membuka kotak itu, kedua matanya langsung terbelalak begitu melihat gelang giok merah yang sangat mahal berada di dlam kotak tersebut.
Fan Jianying segera menyimpan gelang tersebut bersama aksesoris dan perhiasan berharga lainnya.
Kedua mata Fan Jianying terlihat bersinar terang waktu melihat betapa banyak harta yang sudah dia kumpulkan selama berada didunia asing ini.
Bahkan Fan Jianying sudah bercita – cita akan membawa mereka semua jika dirinya diberi kesempatan untuk kembali ke dunia asalnya.
" Lumayan, ini bisa dibilang sebagai kompensasi yang kuterima dinegera asing ini. Andai aku bisa kembali....", batin Fan Jianying sambil menghembuskan nafas pasrah.
Melihat matahari sudah tinggi, Fan Jianying baru sadar jika dirinya belum sarapan, maka dari itu perutnya sudah berdemo minta diisi.
Fan Jianying diikuti oleh Dayu yang berada berjalan dibelakangnya bergegas menuju kearah dapur.
Servant Meilin dan sikembar yang baru saja selesai berbenah bergegas keluar begitu melihat siluet Fan Jianying lewat.
__ADS_1
“ Apakah itu madam ketiga ?...untuk apa dia kedapur ?....”, tanya Heyna penasaran.
Ketiganyapun mulai mengikuti kemana Fan Jianying melangkah. Dan mata ketiganya terbelalak waktu melihat madam ketiga keluarga Bai tersebut menggunakan celemek dan bersiap untuk memasak.
“ Jadi benar dugaanku…”, batin Fan JIanying tersenyum sinis waktu mengetahui jika ketiga pelayan baru tersebut mengikutinya hingga kedapur.
“ Jadi dia benar – benar ingin mengekangku sekarang !!!...kita lihat saja, siapa yang lebih cerdik. Pelayan yang dikirimnya atau aku !!!....”, batin Fan Jianying congkak.
Fan Jianying yang sudah kelaparan mengabaikan kehadiran pelayan yang dikirim oleh suaminya itu dan mulai memasak.
“ Aku tidak salah lihat kan…madam ketiga benar – benar memasak !!!...”, bisik Heyna takjub.
Jika mereka bertiga tidak melihat dengan mata kepala mereka sendiri mungkin mereka masih meragukan ucapan Liam jika masakan madam ketiga sangatlah lezat.
Namun, melihat semua pelayan pribadinya hanya berdiri dan hanya membantu untuk mengupas atau mencuci bahan yang akan digunakan sambil menunggu madam ketiganya memasak dengan air liur seperti mau menetes, lagi - lagi mereka sulit untuk tidak percaya dengan apa yang nampak dihadapan mereka sekarang.
“ Kita akan tahu dia bisa memasak atau tidak setelah merasakannya…”, ucap servant Meilin sinis.
Dia masih percaya dengan semua ucapan tuan mudanya dan menganggap semua yang ada dihadapannya itu hanyalah sebuah ilusi dan memandang remeh Fan Jianying.
“ Hanya membuat mie untuk menganjal perut….apa yang perlu dibanggakan…”, batin servant Meilin semakin sinis.
Servant Meilin memandang Fan Jianying dengan tatapan jijik dan meremehkan. Begitu juga waktu memandnag semua pelayannya yang terlihat sangat kelaparan itu.
Servant Meilin mulai berpikir bahwa tuan muda ketiganya telah bijak mengirim dirinya untuk mengawasi tingkah laku madam ketiga agar tidak sampai membuat malu nama besar keluarga Bai.
“ Putri manja seorang bangsawan kaya, apa yang bisa dia buat. Yang ada malah membuat malu keluarga Bai saja…”, guman servant Meilin kembali mencemoh.
Mendengar ucapan servant Meilin, Heyna dan Hira saling berpandangan merasa tak sependapat dengan argumen wanita paruh baya itu.
Jika dicium dari aroma yang tersebar diseluruh dapur, mereka sangat yakin jika makanan tersebut pasti sangat lezat dan bisa membuat perut keroncongan, apalagi saat sudah memakannya tentu semua orang akan melahapnya dengan cepat.
" Pantas saja semua orang terlihat menunggu dengan sabar untuk bisa mencicipi hidangan sederhana tersebut jika aromanya saja sudah selezat ini...", batin si kembar kompak.
__ADS_1
Sementara itu pelayan senior Gaeng yang menyadari jika ketiga pelayan baru yang dikirim oleh tuan muda ketiganya itu sedang mengawasi semua gerak – gerik madam ketiganya itu merasa geram, terutama kepada servant Meilin yang sedari tadi menujukkan ekpresi meremehkan.
“ Lihat saja !!!...mulutmu akan terkunci rapat begitu merasakan masakan madam ketiga !!!...”, batin Gaeng geram.