CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
Bab 45. Tujuh bulanan


__ADS_3

Kehidupan Vera dan Damian mulai menapaki babak baru. Setelah mendapatkan restu dari orangtua Vera untuk tinggal di kota, Damian ternyata memberikan kejutan yang teramat indah bagi Vera. Padahal, awalnya Vera ingin memberikan kejutan pada Damian, tetapi kini Damian yang berhasil memberinya sebuah kejutan.


Damian sudah menyiapkan sebuah rumah untuk mereka tinggali bersama dengan calon anak-anak mereka. Sebuah rumah yang bagi Vera merupakan rumah yang sangat mewah. Lengkap dengan isi dan perabotan yang mahal. Tidak pernah terbayangkan dalam hidup Vera, dia akan bisa tinggal di rumah yang semewah itu.


Tidak hanya itu saja, masih ada sertifikat tanah dan surat-surat yayasan Vera Cantika yang diberikan Damian padanya sebagai hadiah pernikahan dan tanda cinta Damian pada Vera.


Vera sangat terharu dan menangis, saat melihat semua itu, hingga Damian harus menenangkannya.


"Vera, jangan menangis lagi. Semua ini adalah anugerah dan rezeki kamu dari Allah. Jangan membuatku menjadi serba salah. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan anak-anakku nanti," ucap Damian sambil memeluk Vera.


"Mereka akan mengira, kamu membeli diriku dengan semua itu," ucap Vera sambil terisak.


"Mereka siapa? Jangan dengarkan mereka. Apa yang aku miliki adalah milikmu," ucap Damian menenangkan Vera.


Vera semakin erat memeluk Damian. Damian hanya bisa tersenyum manis karena merasa Vera sangat manja padanya. Itu yang tidak Damian lihat saat Vera belum menjadi istrinya. Rupanya Vera tahu kepada siapa dia harus bermanja.


Menjalani hidup dengan bergelimang kemewahan, tidak lantas membuat Vera melupakan impiannya. Dia meminta izin dari suaminya untuk menjadi guru.


"Vera, jika menjadi guru membuatmu bahagia, apa yang tidak buat kamu. Tapi ingat, tugas utama seorang istri. Apalagi, kamu sangat menyukai anak-anak. Bagaimana kalau kita segera memiliki anak sendiri," ucap Damian berapi-api.


"Boleh, siapa takut," tantang Vera sambil tersenyum.


"Kamu tidak takut? Dua, tiga, empat, lima," ucap Damian sambil menghitung jumlah anak yang dia mau.

__ADS_1


"Tidak. Aku sama sekali tidak takut," jawab Vera yakin.


Mendengar jawaban Vera, Damian berniat menggodanya. Syukur-syukur apa yang dia inginkan bisa terwujud secepatnya.


"Kalau begitu, kita harus rajin membuatnya. Supaya cepat jadi," bisik Damian manja.


"Apaan sih. Geli tahu," ucap Vera lebih manja dari Damian.


Mereka tenggelam dalam dunia manisnya cinta. Memadu kasih sepanjang waktu dan menikmati hari-hari penuh kebahagiaan. Mereka berharap bisa segera memiliki anak untuk menjadikan pernikahan mereka sempurna.


Beberapa bulan kemudian, Vera dan Damian pergi ke dokter dan Vera dinyatakan hamil 8 Minggu. Untuk merayakan kehamilannya dan sebagai rasa bersyukurnya, Vera dan Damian mengadakan acara makan-makan dengan anak yatim di rumah barunya.


Acaranya berjalan khidmat yang dihadiri tidak hanya keluarga Damian, tetapi juga keluarga Vera. Bahkan beberapa tetangga dekat juga ikut melantunkan doa bersama.


Ketika usia kandungan Vera memasuki bulan ke 7, orangtua Vera mengadakan acara tujuh bulanan. Vera dan Damian pergi ke rumah orangtua Vera untuk menjalani prosesi tujuh bulanan tersebut.


Melihat Vera sangat bahagia, ayah dan ibunya terus bersyukur karena memiliki menantu yang baik dan yang lebih penting, setia dan baik pada Vera. Damian telah berhasil menghapuskan trauma yang pernah dialami oleh Vera.


Keesokan harinya, Vera berjalan-jalan bersama ibunya, agar kondisi tubuhnya sehat meski dalam keadaan hamil tua. Mereka berjalan di sekitar tempat tinggalnya.


Vera menikmati indahnya alam sambil sesekali menghirup segarnya udara pagi. Tetapi, tiba-tiba dia melihat seseorang yang mirip dengan Rendra.


"Bu, itu seperti Rendra. Tapi kok ...," Vera berhenti berkata-kata.

__ADS_1


"Benar, Vera. Dia itu Rendra. Kasihan sekali dia," jawab Bu Hena sambil menarik napas berat.


"Memangnya dia kenapa, Bu?" tanya Vera penasaran.


"Istrinya ketahuan selingkuh dengan teman baiknya. Lalu membawa pergi semua hartanya. Dan yang lebih parah lagi, istrinya pernah menggugurkan kandungannya karena tidak ingin memiliki anak dari Rendra. Benar-benar kasihan."


"Dia pasti sangat terpukul sekali sampai jadi seperti itu," ucap Vera saat melihat kondisi Rendra yang seperti orang yang kena gangguan mental.


Belum lama Vera selesai berbicara, terdengar suara teriakan seorang pengendara sepeda motor. Ternyata, Rendra tertabrak motor karena Rendra tidak mau minggir saat sepeda motor itu lewat.


Kontan saja, Vera dan ibunya berteriak sehingga orang-orang datang menyelamatkan Rendra. Rendra segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Vera sangat syok, wajah Vera tampak pucat dan dia memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit.


Ibunya merasa panik lalu, lalu memapah Vera Kemabli ke rumah. Damian yang sedang duduk bersama pak Anto di teras rumah, kaget melihat kondisi Vera. Damian segera membawa Vera ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan bantuan medis.


Sampai di rumah sakit, Vera langsung ditangani oleh dokter. Dan ternyata, Vera mengalami kontraksi dan akan segera melahirkan. Padahal usia kandungannya belum 9 bulan.


Damian sangat cemas menantikan kelahiran sang buah hati. Secara, bayi itu lahir secara prematur. Setelah beberapa saat menunggu, terdengarlah suara tangis bayi kecil dari ruang bersalin. Dokter memanggil Damian untuk melafalkan adzan dan Iqamah karena sang bayi harus mendapatkan perawatan lebih lanjut.


Vera dibawa ke ruang rawat inap dan Damian dengan sabar menemaninya bersama mertuanya. Damian sangat bahagia, anak dan istrinya baik-baik saja pasca melahirkan. Seorang bayi laki-laki yang cukup sehat, walupun bayi kecilnya harus berada di inkubator karena lahir prematur.


"Damian, aku ingin melihat anakku," suara Vera lemah.


"Sabar ya, Sayang. Nanti aku antar kamu," ucap Damian.

__ADS_1


Damian melangkah pergi mengambil kursi roda. Dia mengangkat tubuh Vera ke atas kursi roda. Lalu Damian mendorong kursi roda menuju ruang NICU. Ruang khusus bayi.


Damian dan Vera hanya bisa melihat bayi kecil mereka lewat jendela kaca. Vera bahagia sekaligus sedih karena dia tidak bisa menggendong bayinya dalam waktu dekat. Semoga anaknya segera bisa berada di dalam pelukannya.


__ADS_2