CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
Bab 40. Pasangan Resmi


__ADS_3

Upacara pernikahan antara Damian dan Vera berlangsung meriah. Banyak anggota keluarga dan tetangga-tetangga yang datang untuk mengikuti acara akad nikah yang akan dilaksanakan tepat pukul 9 pagi.?


Sejak pagi sekali, Vera sudah di make over oleh penata rias agar menjadi pengantin yang paling cantik hari ini. Di sampingnya, beberapa gadis cilik ikut di rias sebagai pengapit pengantin. Damian juga sudah dirias meskipun menjadi yang terakhir.


Menjelang pukul 9 pagi, pak penghulu sudah datang dan sudah bersiap di tempat yang sudah disediakan. Vera segera di antarkan oleh penata rias, setelah Damian duduk terlebih dulu di hadapan pak penghulu. Vera duduk disamping Damian yang terpesona saat melihat Vera dengan riasan pengantinnya.


Damian tidak berkedip menatap wajah Vera yang terlihat sangat cantik dengan kebaya putih. Ada sedikit penyesalan dihati Damian melihat Vera. Damian merasa prosesi pernikahan begitu lama. Andai tahu begitu, sejak menikah siri kemarin, harusnya dia sudah melakukan malam pertama dengan Vera.


Vera sempat kaget melihat Damian menghela napas berat. Pikiran Vera menjadi kacau. Dia sangat takut, jika Damian menyesal telah memilihnya menjadi istri. Vera menatap wajah Damian yang sudah resmi menjadi suaminya beberapa hari lalu. Sekarang hanya menjalani legalitas saja.


Tetapi tetap saja, Damian kembali mengucapkan ijab Kabul, dan menandatangani surat nikah. Dan setelah acara pernikahan selesai, Vera dan Damian akan menjalani prosesi pernikahan selanjutnya.


Mereka mengganti pakaian dengan pakaian adat Jawa. Mereka naik ke pelaminan untuk disaksikan begitu banyak orang. Dilanjutkan dengan foto-foto kenangan bersama keluarga besar Damian dan keluarga besar Vera.


Tetapi, ada satu hal yang membuat Vera sedih. Sang kakak tidak bisa hadir ke pernikahannya karena dia sedang bertugas di Aceh. Mas Darma hanya memberikan ucapan selamat lewat video call saja. Sedangkan hadiah pernikahan, uang sebesar 3 juta sudah dikirimkan lebih awal untuk digunakan sebagai tambahan biaya pernikahan.


"Bu Guru, boleh tidak, aku ikut duduk di sini sama Bu Guru?" tanya Abian manja.


"Tidak boleh," jawab Damian secepat kilat, sebelum Vera sempat menjawab.

__ADS_1


"Paman, Abian tidak bertanya pada Paman. Kenapa Paman yang jawab?" tanya Abian kesal.


"Ee, Bu Guru sekarang sudah jadi istri paman. Jadi dia akan menuruti semua keinginan paman. Kalau paman bilang tidak boleh ya tidak boleh," jawab Damian menggoda Abian.


"Paman jahat. Bu Guru cantik, Abian mau dicium Bu Guru," ucap Abian yang membuat Damian terdiam.


Damian yang sudah berstatus suaminya saja, masih sungkan mencium Vera. Ini malah Abian kecil minta di cium. Tidak boleh, kalau Abian dicium, tentu saja sebagai suami Damian juga berhak dicium juga.


Damian menatap tajam Vera dengan tatapan larangan. Tetapi, Abian hanya anak kecil, tidak bisakah Damian tidak menunjukan rasa cemburunya?


Vera tersenyum manis lalu mencium pipin Abian kiri dan kanan. Vera tidak menyadari jika Damian sangat kesal melihat itu semua. Sementara Abian bersorak kegirangan sudah mendapatkan ciuman dari Vera.


Setelah Abian pergi kembali pada ibunya, Vera meraih tangan Damian dan berusaha menenangkan hati Damian.


Mendapatkan bidikan mesra dari Vera, cukup membuat Damian tersenyum kembali. Dan mereka menikmati prosesi pernikahan ini dengan bahagia. Sebenarnya, Damian hanya menggoda Vera dan Abian saja. Tapi lebih baik, jika Vera berjanji akan melakukan itu untuknya.


Hari sudah menjelang sore. Semua yang hadir sudah pulang satu persatu ke rumahnya masing untuk beristirahat. Seluruh keluarga Damian juga sudah kembali ke kota. Sementara Damian akan tinggal di rumah Vera, hingga batas waktu yang tidak ditentukan.


Vera dan Damian bergegas membersihkan diri dari make up yang menghias di wajahnya seharian ini. Setelah itu, mereka makan malam bersama keluarga besar Vera.

__ADS_1


"Damian, ayo makan yang banyak. Jangan sungkan-sungkan. Biar nanti, kamu memiliki tenaga yang kuat untuk bekerja malam," ucap pamannya Vera.


"Damian tidak akan sungkan. Dia pernah tinggal di rumah ini. Benar, Damian?" tanya bibi.


"Benar. Tapi rasanya berbeda ketika makan sebagai tamu dan makan sebagai menantu," jawab Damian sambil tersenyum.


"Tentu saja berbeda. Kamu sekarang pasti sudah merasa memiliki keluarga ini, memiliki merasa tanggung jawab untuk kedepannya. Terutama terhadap Vera," ucap paman lagi.


Dian tersenyum sambil melihat ke arah Vera yang membalas tatapan Damian dengan senyum termanisnya.


"Sudah-sudah, ayo makan. Nanti keburu dingin," ajak pak Anto.


Mereka menikmati kebersamaan yang belum tentu bisa membuat mereka berkumpul bersama. Hanya ketika ada acara besar saja, seperti acara pernikahan ini, mereka baru bisa berkumpul bersama.


Selesai makan, seluruh anggota keluarga Vera, pamit pulang setelah membantu membersihkan bekas makan malam mereka. Damian duduk bersama pak Anto dan Bu Hena di ruang keluarga sambil mengobrol santai. Rupanya pak Anto tidak peka dengan jeritan hati Damian yang sudah tidak sabar ingin menemui istrinya.


Untung saja, Bu Hena segera mengajak pak Anto pergi untuk beristirahat di kamar saja. Damian merasa lega dan hatinya berdebar-debar menuju ke kamar Vera. Ini pertama kalinya, Damian memasuki kamar Vera sebagai suaminya.


Damian berhenti sejenak di depan pintu. Dia lalu membuka pintu pelan-pelan agar Vera tidak merasa kaget. Walaupun Damian berharap, Vera akan menyambut kehadirannya dengan mesra.

__ADS_1


Tetapi, apa yang terjadi, membuat Damian menghela napas kesal.


Bersambung


__ADS_2