
Dengan susah payah, akhirnya kereta kuda yang membawa Fan Jianying sampai juga di pegunungan Weixi dan bergerak naik menuju pavilun Huang We berada.
Setelah penyerangan demi penyerangan yang terjadi, para pengawal yang khawatir dengan keselamatan Fan Jianying segera membawa madam ketiga Bai langsung ke pavilion Huang We yang berada dipegunungan Wei Xie.
Bukan ke penginapan yang berada dikaki gunung sesuai dengan instruksi putra mahkota Qin Shi Huang.
Setidaknya, di paviliun Huang Wei ada banyak pengawal yang bisa menjamin keselamatan madam ketiga Bai tersebut.
Putra mahkota Qin Shi Huang yang mendapatkan laporan jika Fan Jianying tidak datang datang ke penginapan yang telah disiapkannya terlihat mengkerutkan keningnya cukup dalam.
“ Ada yang tidak beres ini…”, batin putra mahkota Qin Shi Huang curiga.
Diapun segera membereskan berkas – berkas yang sedang dia kerjakan dan menyimpannya. Putra mahkota Qin Shi Huang berniat untuk menyusul dimana Fan Jianying berada.
Putra mahkota Qin Shi Huang sama sekali tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Fan Jianying, jika hal itu terjadi maka dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
Baru saja putra mahkota Qin Shi Huang ingin pergi, salah satu pasukan bayangan yang ditugaskan untuk mengawal Fan Jianying tiba dan langsung berlutut dihadapannya.
Fan Jianying sudah bisa menebak jika putra mahkot Qin Shi Huang pasti akan langsung menyusulnya begitu tahu jika dirinya tidak berada dalam penginapan yang sudah disiapkannya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut dan tidak semakin menimbulkan kecurigaan diluar, dirinya segera mengutus salah satu pasukan banyangan milik putra mahkota Qin Shi Huang untuk kembali keistana dan melapor.
Putra mahkota Qin Shi Huang sedikit terkejut waktu Fan Jianying menyuruhnya untuk tetap tinggal di dalam istana untuk mengawasi pergerakan pangeran Song Yu dan Ratu Qilin.
Selian itu, Fan Jianying juga menyuruh putra mahkota Qin Shi Huang untuk mengawasi pergerakan kakak ipar keduanya, Bai Wang dan Madam Chou.
Jika untuk Bai Wang, putra mahkota Qin Shi Huang sangat tahu jika kakak Bai Cheung tersebut bekerja sama dengan pangeran kedua Song Yu dan Ratu Qilin untuk melengserkan posisinya agar peluang pangeran kedua menduduki singhasana kaisar semakin terbuka lebar.
Tapi untuk madam Chou dari keluarga Ming, apa yang membuat Fan Jianying menyuruhnya untuk mengawasi.
Meski banyak pertanyaan yang ada dibenaknya, tapi putra mahkota Qin Shi Huang percaya dengan kecurigaan Fan Jianying.
Untuk itu dia segera memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi pergerakan dua orang tersebut.
Sementara itu, di paviliun Huang We terlihat Fan Jianying sudah bersiap dengan memakai baju besi yang begitu pas dibadannya.
Fan Jianying terlihat sangat gagah dan berkharismatik dengan rambut panjangnya yang diikat ekor kuda, jika tak diamati dari dekat mungkin banyak yang akan terkecoh jika yang sedang berdiri diahadapan mereka itu adalah pemuda tampan.
Hira sempat terpana untuk sesaat hingga kesadarannya kembali dan berjalan mengitari tubuh Fan Jianying.
“ Madam ketiga…anda sungguh tampan dan gagah. Jika saja anda lelaki, pasti saya sudah jatuh cinta dan mengejar anda….”, ucap Hira terpesona.
Tabib Shilin dan Heyna pun juga memiliki ekpresi yang sama. Keduanya terlihat melotot dengan mulut terbuka lebar.
Setelah berdiskusi cukup alot akhirnya diputuskan jika Hira, tiga pengawal bayangan putra mahkota Qin Shi Huang dan tiga pengawal bayangan kaisar Huang saja yang akan menemaninya menuju hutan kematian.
Sisanya harus tetap tinggal di paviliun, termasuk Heyna dan tabib Shilin hingga dirinya kembali. Hal ini digunakan untuk mengantisipasi kecurigaan yang datang.
Dari balik baju besinya, Fan Jianying memberikan Heyna sebuah topeng kulit wajahnya. Ini Bisa gadis itu gunakan jika ada kondisi mendesak yang mengharuskan Heyna untuk menyamar menjadi dirinya.
__ADS_1
" Pakailah ini jika ada yang penasaran dan menerobos masuk untuk melihat kondisiku....", ucap Fan Jianying sambil memberikan topeng tersebut kepada Heyna.
Meski berat hati, Heyna yang masih terluka menetap di paviliun bersama tabib Shilin seperti perintah Fan Jianying.
“ Aku serahkan madam ketiga Bai kepadamu…”, pesan Heyna sambil menepuk bahu Hira pelan.
“ Tenang saja kakak....Aku akan menjaga madam ketiga Bai dengan nyawaku….”, janji Hira lantang.
Kedua saudara kembar tersebut segera berpelukan sebelum kuda yang membawa mereka menuju jalan berliku menghilang dibalik pintu gerbang paviliun.
Fan jianying sengaja menggunakan cadar untuk menutupi sebagian wajahnya. Selain sebagai penutup wajah, hal itu juga digunakan untuk menghindari debu sepanjang perjalanan.
Sementara itu, Heng Yuang yang baru sampai di wilayah perbatasan timur sudah disambut oleh two dan seven.
Dia tersenyum lebar waktu seven melaporkan jika laba – laba mutasi berhasil menyelesaikan misinya dengan lancar tanpa terkendala apapun.
Sekarang dia hanya tinggal melaksanakan langkah selanjutnya. Heng Yuan sudah tidak sabar ingin menyebar katak mutasi di kamp prajurit dan membantai semuanya.
“ Tampaknya kita harus meng ujicobakan katak mutasi di kota Zhangzhou terlebih dahulu sebelum menyebar langsung ke kamp….”, ucap Heng Yuan dengan smirk devilnya.
“ Dipahami….”, ucap two dan seven serentak.
Selanjutnya, mereka segera membawa Heng Yuan untuk beristirahat di penginapan yang ada dikota Zhangzhou sambil menyiapkan rencana untuk nanti malam.
Zhangzhou adalah salah satu kota kecil yang ada diwilayah perbatasan timur dengan penduduk hanya seratus orang.
Disini juga masih kita jumpai ladang dan perternakan yang masih beroperasi dengan baik. Beda halnya dengan kota Fushou yang dekat dengan kamp militer dimana Bai Cheung dan pasukannya berada.
Disana iklimnya sudah sangat ekstrim bahkan tahun ini diperkirakan jika mereka tidak bisa mengelola bahan pamgan yang ada bisa terjadi bencana kelaparan.
Posisinya yang dekat dengan wilayah tetangga membuat kota ini sering disusupi mata – mata dan para pemberontak hingga para prajurit lebih waspada terhadap seluruh warga kota yang mencapai kisaran tiga ratus orang tersebut.
Dan yang paling ekstrim diantara ketiga kota yang ada diwilayah perbatas timur ini adalah kota Fujian yang terletak dikaki gununng Fujiwa.
Disini hampir sepanjang tahun mengalami musim dingin. Musim panas hanya berlangsung beberapa bulan saja daalm setahun, itupun tidak merata dan hanya terjadi dibagian sisi timur saja yang terkena matahari dimusim panas.
Fan Jianying, Hira dan pasukan bayangan yang sudah seharian ini berkuda memutuskan untuk beristirahat dikota terdekat sebelum mereka melanjutkan perjalanan.
“ Sebaiknya kita bermalam di kota Zhangzau saja nyonya…”, ucap Hira yang terlihat sudah letih karena semalaman tak dapat beristirahat karena harus merawat saudara kembarnya hingga sadar setelah racun dalam tubuhnya berhasil dikeluarkan.
Setelah mendapatkan informasi jika kota tersebut cukup aman, maka Fan Jianyingpun segera menuju penginapan untuk menyewa tiga kamar di penginapan yang ada dipusat kota.
Setelah masuk kedalam kamar, Fan Jianying segera berendam didalam bak mandi berisi air hangat yang sudah disiapkan.
Sementara itu, Hira yang sudah sanagt lapar terlihat sedang memakan camilan dari kotak perbekalan yang mereka bawa.
“ Bagi kudapan tersebut kepada para pengawal…”, teriak Fan Jainying dari bilik tertutup yang dipergunakannya untuk mandi dalam penginapan.
Mendengar teriakan Fan Jianying, Hirapun segera mengambil satu kotak besar kudapan dan keluar untuk diberikan kepada anggota pasukan bayangan yang mendapatkan kamar di bawah karena kamar diatas tersisa satu hanya untuk Fan Jianying dan dirinya.
__ADS_1
Hira yang baru saja turun dari tangga segera bersembunyi dibalik tembok waktu melihat salah satu pelayan yang tempo hari memberinya surat lewat tak jauh dari tempatnya turun tadi.
“ Ada urusan apa dia kemari…”, batin Hira penasaran.
Hira yang penasaran segera mengikuti pelayan tersebut pergi. Dia terlihat sedikit terkejutr waktu mendengar jika mereka akan melepaskan hewan mutasi malam ini untuk menyerang warga kota.
Brakkk….
Hira yang terkejut segera berjalan mundur sambil membungkam mulutnya dengan kedua tangannya dan tak sengaja kakinya menyenggol pot bunga kecil yang ada disampingnya hingga jatuh.
Untung saja pot tersebut hanya jatuh sehingga bisa posisinya bisa dikembalikan seperti semula oleh Hira sebelum tubuhnya ditarik oleh salah satu pasukan bayangan kaisar Huang yang langsung membawanya pergi.
Mendengar suara benda jatuh, Seven segera berlari untuk melihat siapa yang mencuri dengar pembicaraan mereka.
Namun tak mendapati apapun dan melihat kondisi sekitar masih sunyi seperti sedia kala, diapun segera mengajak two dan three pergi dari tempat tersebut.
“ Ceroboh….”, ucap lelaki yang menyelamatkan Hira tadi dengan tatapan galak.
“ Ini buat kalian, bagi dengan teman – temanmu….”, ucap Hira yang langsung pergi dengan wajah cemberut setelah memberikan sekotak besar kudapan kepada lelaki itu.
“ Tak tahu berterimakasih…”, ucap lelaki itu bersungut – sungut.
Diapun segera memanggil teman – temannya yang ada dikamar sebelahnya untuk memakan kudapan bersama didalam kamarnya.
Fan Jianying menatap curiga waktu Hira balik kedalam kamar dengan wajah tegang.
Setelah pelayan pribadinya itu selesai membersihkan diri, barulah dia mulai menginterogasinya.
Awalnya Hira selalu mengelak dan tidak ingin mengatakan apapun kepada Fan Jianying.
Tapi setelah dipikir lagi, informasi ini mungkin sangat penting, demi keselamatan warga kota maka gadis itupun mulai bersuara.
Fan Jianying fokus mendengarkan semua cerita Hira tanpa berusaha untuk menyela hingga gadis tersebut selesai.
“ Jadi maksudmu, pelayan yang pernah memberikanmu surat dari seorang laki – laki bernama Heng Yuan datang kesini ingin melepaskan hewan mutasi…”, ucap Fan Jianying memastikan.
“ Benar begitu nyonya..... Dan masalah surat tersebut, maaf jika pelayan ini dengan lancang langsung membakarnya tanpa memberikan kepada anda terlebih dahulu…”, ucap Hira dengan penuh rasa bersalah.
“ Waktu itu hamba hanya takut nama baik anda ternoda jika ada yang mengetahui ada lelaki asing mengirimi anda surat sewaktu tuan muda ketiga tidak berda di ibukota, jadi pelayan rendah ini langsung berinisiatif…”, Hira mengatakan semuanya dengan mata berkaca – kaca.
Meski Fan Jianying tahu jika tindakan yang Hira lakukan salah. Tapi, jika dia mengingat tentang status dan posisinya saat ini, mungkin dengan Hira membakar surat tersebut menjadi berkah tersendiri bagi Fan Jianying.
Karena dalam diakhir novel dia terbunuh karena Heng Yuan. Untuk itu dia tidak akan pernah mencoba untuk bersinggungan dengan laki - laki tersebut sebisa mungkin.
Meski semua orang terlihat baik, namun dia juga tak tahu siapa saja orang yang ingin mencelakainya.
Bahkan kaka iparnya madam Chou, yang selama ini selalu baik dihadapannya nyatanya mampu membayar pembunuh untuk melenyapkan nyawanya dalam perjalanan.
“ Tidak…justru aku harus berterimakasih karena kamu sudah melindungi martabatku sebagai istri tuan muda ketiga Bai…”, ucap Fan Jiamying sambil mengenggam kedua tanga Hira agar gadis itu tenang.
__ADS_1