CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
KEMBALI KE KAMP


__ADS_3

Selama dua hari berada dinegara gurun, Fan Jianying banyak belajar hal disini. Mulai tentang system pemerintahan hingga kebijakan ekonomi yang diambil oleh kaisar Muzeng dipelajarinya dengan seksama.


Karena kondisi geografis yang berbeda dengan negara pada umumnya seperti negara Huangshan. Maka kebijakan yang ada dinegara ini pun terbilang lebih spesial jiak dibandingkan dengan negara lainnya.


Meski sangat kejam namun kaisar Muzeng juga memiliki sisi lembut dan hangat yang bisa Fan Jianying rasakan selama berinteraksi dengannya dua hari ini.


“ Sikap inilah yang mungkin membuat Ratu Elisabeth luluh dan membuatnya lengah hingga Kristal Kehidupan bisa diambil dengan mudah oleh kaisar Muzeng….”, batin Fan Jianying sambil mendesah pelan.


Hal yang tidak mungkin bisa didapatkannya dari sang suami. Jika saja Bai Cheung bisa menempatkan emosi sesuai dengan dimana dan dengan siapa dia berada, mungkin itu akan menjadi hal baik.


“ Tapi itu sepertinya tidak mungkin….”, batin Fan Jianying mencemooh.


Diapun mulai memikirkan lagi tentang siapa orang yang berhasil merebut Kristal kehidupan tersebut dari tangan kaisar Muzeng.


“ Jika kaisar Muzeng memiliki kekuatan sehebat ini…pastinya orang yang merebut Kristal kehidupan adalah orang yang lebih hebat dari kaisar Muzeng atau setidaknya memiliki kekuatan yang setara dengannya….”, batin Fan Jianying penuh tanda tanya.


Diapun mulai memikirkan beberapa nama kaisar yang ada didalam dunia asing ini sepengetahuannya setelah sering berinteraksi dengan Bingwen dan jenderal besar Tian.


Ada empat nama penguasa yang bisa Fan Jianying dapatkan setelah berpikir cukup lama, yang pertama ada kaisar Tang Hao dari negara Tanghinan.


Yang kedua ada kaisar Jin Wang dari negara iceland. Selanjutnya kaisar Chenglu dari negara foresty dan yang terakhir adalah kaisar Huang Lo dari negara Huangshan.


Saat ini yang secepatnya harus Fan Jianying lakukan adalah mengembalikan roh peramal Yan kedalam tubuhnya aga lelaki itu kembali bangun dan bisa menjawab semua pertanyaan yang ada dihatinya.


Pada waktu sarapan, Fan Jianying pun pamit undur diri untuk kembali lagi ke kota Fushou. Meski berat, namun kaisar Muzeng harus melepaskan Fan Jianying pergi setelah berkas kerjasama kedua belah pihak di stempel.


“ Aku akan mengantarmu….”, ucap kaisar Muzeng penuh perhatian.


“ Terimakasih atas perhatian Yang Mulia. Tapi, saya bisa pulang sendiri…”, ucap Fan Jianying rendah hati.


Karena kaisar Muzeng mengancam tidak akan membiarkan Fan Jianying pergi jika menolak keingginannya, maka dengan berat hati diapun menerimanya.


Keduanya segera naik keatas kereta kuda yang sudah disiapkan di depan istana. Begitu Fan Jianying sudah duduk manis didalam kereta bersama kaisar Muzeng, tiba – tiba dia merasa jika kereta sedang melayang.


Dan beberapa menit kemudian dia merasakan jika kereta kuda sudah kembali mendarat ditanah.


Saat Fan Jainying menyibak tirai dia melihat sekarang mereka sudah sampai di bagian ujung negara Yulin yang berbatasn dengan negera Huangshan.


Prajurit yang berjaga di pos sedikit terkejut waktu mereka sedang melihat kondisi sekitar wilayah dengan menggunakan teleskop yang ada disana.


Wajahnya seketika tegang dengan mata melotot dan mulut terbuka waktu melihat pasukan berkuda dengan bendera merah bergerak cepat menuju wilayah perbatasan negara Huangshan.


“ Pasukan King of Devil mendekat !!!….”,teriak prajurit yang berjaga di pos lantang.


Semua orang langsung menghentikan aktivitas mereka waktu mendapat peringatan tersebut dan bersiap – siap mengambil senjata mereka masing – masing.


Sementara Qindao segera naik keatas pos untuk memastikan berapa banyak pasukan King of Devil yang akan kembali menyerang wilayah Huangshan.


“ Kereta kuda milik kekaisaran negara gurun….kaisar Muzeng….”, guman Qindao sambil mengkerutkan keningnya cukup dalam.


Diapun segera turun dan berlari menuju tenda jenderal besar Tian berada untuk melaporkan semuanya.

__ADS_1


“ Kaisar Muzeng katamu ?....”, tanya jenderal besar Tian terkejut.


“ Benar jenderal, saya melihat tanda kereta kuda milik kaisar Muzeng menuju keperbatasan negara Huangshan…”, ucap Qindao yakin.


Jenderal besar Tianpun segera keluar bersama Bai Cheung yang kebetulan ada disana untuk menyambut tamu tak diundang tersebut.


Sebelum kereta kuda milik kaisar Muzeng sampai, salah satu utusan negara gurun sudah menghadap kepada jenderal besar Tian untuk  melaporkan bahwa kedatangan mereka ke kamp militer tersebut adalah untuk mengantar seorang gadis yang bernama Aurella.


Kening semua orang terlihat berkerut sangat dalam waktu mendengar nama asing yang disebutkan utusan negara gurun tersebut.


“ Aurella ?…siapa itu ?...apa mereka tidak salah tempat ?...”, begitulah yang ada dibenak semua orang saat ini waktu mendengar nama yang sangat asing tersebut.


Semua orang terlihat penasaran dengan sosok gadis yang akan turun dari atas kereta yang dikatakan bernama Aurella tersebut.


Begitu gadis tersebut turun sambil tersenyum lebar, semua orang terlihat sangat terkejut karena gadis yang bernama Aurella itu adalah madam ketiga Bai.


Bai Cheung seketika mengepalkan kedua tangannya dengan kuat hingga kuku jarinya memutih dan  menembus telapak tangannya sampai berdarah waktu melihat kaisar Muzeng dengan lembut membantu istrinya turun dari atas kereta kuda.


Jenderal besar Tian yang melihat perubahan ekspresi anak buahnya itu hanya bisa menepuk pundaknya pelan agar Bai Cheung bisa mengontrol emosinya


“ Jangan buat ulah. Dia ljauh lebih kuat dari pada dirimu…”, bisik jenderal besar Tian mengingatkan.


Mendengar ucapan jenderal besar Tian kepadanya, membuat darah yang ada dalam tubuh Bai Cheung semakin mendidih.


Apalagi waktu melihat Fan Jianying tersenyum manis kepada kaisar Muzeng. Senyuman yang tidak pernah istrinya itu berikan kepadanya.


Api cemburu terlihat mulai menguasai hati dan pikiran Bai Cheung hingga suara Liam yang tiba – tiba berdiri disebelahnya membuatnya tersadar.


Bai Cheung pun langsung maju begitu Fan Jianying dan kaisar Muzeng berjalan mendekat kearah gerbang perbatasan.


“ Istriku…akhirnya kamu kembali. Aku sangat merindukanmu….”, ucap Bai Cheung selembut mungkin.


Sambil tersemyum lebar dia memeluk tubuh istrinya dengan erat dihadapan kaisar Muzeng yang sedang mengawasinya dengan pandangan menyelidik.


“ Jadi ini suaminya...ck ck ck…sangat tak pantas…”, batin kaisar Muzeng mencemoh.


Bai Cheung tersenyum senang waktu melihat raut wajah tak bahagia kaisar Muzeng melihat Fan Jianying berada dalam pelukannya.


Fan Jianying terlihat mengerjap beberapa kali, terkejut dengan tingkah laku suaminya yang tiba – tiba menjadi aneh  seperti itu.


Bukan hanya Fan Jianying saja yang terkejut, namun semua prajurit yang menyaksikan peristiwa langkah tersebut tak bia menahan diri untuk tidak terbelalak.


Liam bahkan sudah menitikkan air mata waktu mendengar tuan mudanya itu berkata manis seperti itu kepada istrinya.


Meski semua orang sudah mulai beradaptasi dengan tingkah laku alay Bai Cheung selama ditinggal pergi istrinya.


Namun mendengar jenderal muda mereka berkata lembut dan bertingkah semanis itu, rasanya mereka ingin memuntahkan seteguk darah.


“ Yang Mulia bisa beristirahat ditenda sebentar, saya akan menyusul setelah urusan saya selesai…”, ucap Fan Jianying undur diri dengan sopan.


“ Santai saja Aurella, aku akan menunggumu sambil berbincang dengan jenderal besar Tian…”, ucap kaisar Muzeng sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Jenderal besar Tian segera mempersilahkan tamunya untuk beristirahat sebentar didalam tendanya.


Sedangkan Bai Cheung mengikuti sang istri sambil mengenggam tangan Fan Jianying dengan erat dengan tatapan penuh selidik.


" Siapa Aurella ?....", tanya Bai Cheung penasaran.


" Nama asliku....", ucap Fan Jianying santai.


Mendenagr ucapan istrinya, rahang Bai Cheung mengeras seketika. Dia pun mengertakkan giginya menahan emosi yang kembali bergejola dalam hatinya.


" Sedekat apa hubungan keduanya hingga gadis ini memberikan anam aslinya kepada Muzeng ?....", batin Bai Cheung terbakar emosi.


Sesampainya didalam tenda, dapat Fan Jianying lihat jika wajah pangeran Xioran sangat pucat dan tubuhnya terlihat lemah.


Tampaknya tubuh pangeran Xioran tak bisa bertahan lebih lama lagi. maka dari itu Fan Jianyingpun segera menyuruh Hira untuk keluar agar dia bisa masuk kedalam cincin ruangnya.


Membawa semua orang kembali ke kamp beserta tubuh peramal Yan yang kondisinya sudah stabil.


Bai Cheung yang sudah tahu mengenai cincin ruang milik istrinya hanya terdiam disamping ranjang pangeran Xioran hingga gadis itu kembali.


Fan Jianying kembali bersama enam rekannya dan tubuh peramal Yan yang ada dalam gendongan Bingwen dan Feng.


Perlahan tubuh peramal Yan diletakkan disamping tubuh pangeran Xioran. Semua orang keluar agar Fan Jianying bisa melakukan ritual pemindahan roh tersebut dengan tenang.


Setelah menutup mata, Fan Jianying segera merapalkan mantra yang entah sejak kapan sudah bisa dia kuasai.


Langit tiba – tiba menjadi sangat gelap dengan petir menyambar bersautan seolah menanggapi panggilan yang dilakukan oleh Fan Jianying.


Tak lama kemudian, angin berhembus sangat kencang hingga merobohkan beberapa tenda yang ada di area kamp militer.


“ Awas !!!...cepat berlindung !!!....”, teriak semua orang waktu beberapa tenda terlihat terbang bebas disana.


Semua orang masih berjaga di depan tenda agar ritual yang dilakukan oleh Fan Jianying tidak terganggu sambil menahan angin yang berusaha menerpa tenda.


Didalam tenda, Fan Jianying terlihat berusaha keras untuk mengangkat roh peramal Yan dari dalam tubuh pangeran Xioran.


Hingga keringat mulai membanjiri tubuhnya, namun Fan Jianying tak putus asa dan terus melakukan ritualnya.


Perlahan – lahan, bola cahaya keluar dari dalam tubuh pangeran Xioran dan masuk kedalam tubuh peramal Yan.


Tubuh peramal Yang terlihat bergetar hebat waktu bola cahaya tersebut masuk kedalam tubuhnya.


Fan Jianying segera memeriksa denyaut nadi peramal Yan. Setelah stabil dan tubuhnya mulai menghangat, diapun berganti tempat untuk mengecek tubuh pangeran Xioran.


“ Syukurlah keduanya sudah stabil kondisinya…”, ucap Fan Jianying sambil mengusap peluh di dahinya.


Begitu Fan Jianying keluar dari dalam tenda, semua orang terlihat bernafas lega. Bai Cheung segera menangkap tubuh sang istri waktu Fan Jianying tiba – tiba tak sadarkan diri.


Bai Cheung segera mengendong tubuh istrinya dan membawanya masuk kedalam tendanya agar gadis itu bisa beristirahat.


Sementara itu, Bingwen terlihat mengistruksikan anak buahnya untuk bergantian menjaga peramal Yan dan pangeran Xioran yang masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2