CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
GELISAH


__ADS_3

Hanya dalam hitungan detik berita mengenai identitas Fan Jianying sebagai putri bungsu kaisar Huang Lo dengan permaisuri Wei  langsung menyebar luas begitu kaisar mengumumkannya.


Kabar mengejutkan tersebut tentu saja membuat warga ibukota menjadi gempar. Semua orangpun mulai berspekulasi tentang keputusan berani kaisar tersebut mengumumkan keberadaan putrinya disaat kondisi istana sedang memanas.


Bukanlah hal yang mudah bagi kerajaan Huangwe untuk memiliki putri yang tiba – tiba muncul di keluarga kekaisaran.


Keputusan berani yang diambil kaisar Huang disaat istana sedang tidak dalam kondisi baik – baik saja tersebut membuat banyak pihak mulai mengeluarkan sikap waspada.


Kemunculan Fan Jianying dalam struktur keluarga kekaisaran telah mempengaruhi rencana tersembunyi dari beberapa orang yang memiliki kepentingan pribadi.


Apalagi sikap yang ditunjukkan kaisar Huang terhadap Fan Jianying terbilang istimewa jika dibandingkan dengan dua putra kaisar yang saat ini sedang berjuang untuk memperebutkan kursi kekuasaan.


Hal tersebut tentu saja membuat para pendukung putra mahkota dan pangeran kedua mulai berpikir untuk berpindah haluan kepada putri bungsu kerajaan Huangwei tersebut.


Apalagi sepak terjang Bai Cheung, suami Fan Jianying  yang akhir – akhir ini cukup bagus membuat semua orang mulai mempertimbangkan keberadaan Fan Jianying yang diyakini semua orang memiliki kesempatan untuk menduduki tahta.


Banyak rumor yang mengatakan jika keberhasilan Bai Cheung semua ada campur tangan istrinya yang memiliki andil besar dibalik layar.


Kemunculan Fan Jianying yang tiba – tiba disaat kondisi istana sedang memanas karena perebutan tahta membuatnya menjadi target serangan dari banyak pihak yang tidak ingin rencana mereka terganggu karena kehadirannya.


Banyak serangan diam – diam ditujukan kepadanya dengan berbagai macam cara dan metode agar bisa membuat gadis tersebut takut dan tidak mencampuri permasalahan yang ada dalam istana.


Banyaknya serangan yang ditujukan kepadanya tak membuat putri bungsu kaisar tersebut mundur. Fan Jianying malah terlihat semakin memperlihatkan kekuasaannya didalam struktur pemerintahan meski tidak secara langsung.


Hal tersebut tentu saja membuat pangeran Song Yu mulai ketar – ketir akan keberadaan Fan Jianying yang dianggap sedikit dominan.


Bahkan tak jarang keputusan pengadilan istana yang dikeluarkan oleh kaisar Huang lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran adik tirinya tersebut.


“ Kamu tenang saja. Sebentar lagi jenderal besar Gao akan segera tiba dan kita bisa secepatnya melaksanakan rencana kita….”, ucap Ratu Qinly menghibur sang putra.


Jika biasanya pangeran Song Yu akan langsung tenang begitu ibundanya mengeluarkan kata – kata manis seperti itu, tapi kali ini tidak.


Justru kata – kata ibundanya itu membuatnya semakin gelisah dan tak tenang. Pangeran Song Yu merasa jika adik tirinya itu lebih berbahaya daripada informasi yang didapatkannya selama ini.


Bahkan kakak tirinya, putra mahkota Qin Shi Huang yang sudah menjadi rival abadinya sejak kecil tak membuatnya sekhawatir dan segelisah ini.


“ Kurasa ini tidak akan berhasil bunda….hingga saat ini, kita masih belum mendapatkan kabar apapun mengenai pasukan Heng Yuan. Aku takut, pasukan Yunyi juga mengalami hal yang sama…..”, ucap pangeran Song Yu pesimis.

__ADS_1


Meski dalam hati Ratu Qinly juga merasa cemas dan gelisah namun sebisa mungkin di menunjukkan sikap tenang dihadapan sang putra.


“ Meski terlambat dari rencana, bunda yakin semuanya akan berjalan dengan lancar….”, Ratu Qinly terlihat berusaha untuk menenangkan kegelisahan hati putra kandungnya itu.


Sementara itu, pasukan yang dikirim oleh pangeran Wei Jie sudah mulai beraksi dengan membuat kocar – kacir sebagian pasukan Yunyi yang hendak melewati perbatasan ibukota.


Jenderal besar Gao yang mendengar kabar tersebut segera menyusun ulang strateginya dengan menarik mundur pasukan Yunyi sejenak.


Dia tak mau bertindak gegabah dan membuat pasukan yang dilatihnya cukup lama tersebut musnah sebelum melaksanakan misi yang mereka emban.


Pangeran Wei Jie yang melihat pasukan Yunyi mulai bergerak mundur secara teratur merasa sangat lega.


Setidaknya hal tersebut bisa mengulur waktu sampai mereka mendapatkan informasi mengenai pasukan rahasia milik Heng Yuan yang dikabarkan juga akan menyerang ibukota bersama dengan pasukan Yunyi.


“ Baguslah jika mereka mundur, kita jadi cukup memiliki waktu untuk mematangkan rencana kita….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang tersenyum lebar.


Kedua kakak beradik itupun segera mendiskusikan semua rencana baru yang akan mereka jalankan  dengan penuh semangat.


Kehadiran Fan Jianying didalam istana tanpa disadarai membawa semangat baru bagi semua orang terutama putra mahkota Qin Shi Huang.


Ating yang melihat junjungannya akhir – akhir ini bisa tidur nyenyak merasa sangat senang karena suasana hati putra mahkota akan menjadi baik setelah dia bisa beristirahat dengan cukup.


Jika semua orang merasa sangat senang dan bahagia lain lagi dengan perasaan yang ada didalam hati Bai Cheung.


Dia terus merasa resah dan gelisah setiap kali putra mahkota Qin Shi Huang datang berkunjung ke kediamanannya.


Meski kakak iparnya tersebut masih bersikap dan bertindak wajar namun api kecemburuan dalam diri Bai Cheung tak juga kunjung padam.


Seperti sore ini, Bai Cheung sedari tadi terus marah tak jelas membuat Liam kewalahan karena harus melaksanakan semua perintah yang datang kepadanya secara bertubi – tubi tanpa henti tanpa tahu tujuan tuan mudanya melakukan hal tersebut.


“ Tuan muda bisa melanjutkan yang lainnya esok hari, untuk sisa pekerjaan hari ini biar saya saja yang melanjutkannya….”, ucap Liam memberanikan diri bersuara.


“ Aku akan melanjutkannya…kamu siapkan semua berkas pendukung laporan ini…”, Bai Cheung masih bersikeras untuk melanjutkan pekerjaannya meski pikirannya tak bisa fokus.


Ingin sekali Bai Cheung mengikuti saran yang diberikan oleh pengawal pribadinya itu. Tapi dia tak mau istrinya menganggapnya kekanak – kanakan karena cemburu dengan kakak iparnya sendiri.


Bai Cheung yang membayangkan jika saat ini istrinya sedang berduaan dengan putra mahkota Qin Shi Huang dan sesekali tertawa kecil di sela – sela pembahasan permasalahn yang ada membuat darah dalam tubuhnya tiba – tiba mendidih.

__ADS_1


“ Arghhhh !!!.....”, batin Bai Cheung tak tenang.


Diapun segera menghempaskan dengan kasar berkas yang ada ditangannya sambil melotot tajam. Liam yang ada disebelahnya hanya bisa menghela nafas dalam – dalam akan kelakuan tuan mudanya tersebut.


“ Cemburu memang benar – benar menguras hati dan pikiran…”, batin Liam mendesah pasrah.


Sementara itu di Meigui Palace, putra mahkota Qin Shi Huang terlihat sedang bersantai dengan sang adik sambil menyampaikan rencana yang telah disusunnya bersama pangeran Wei Jie pagi tadi.


Fan Jianying mendengar dengan seksama setiap rencana yang telah kedua kakaknya itu susun sambil menyesap teh melati yang ada ditangannya.


“ Meski curiga, namun ayahanda masih berpikiran positif tentang ibunda Ratu. Kita harus bisa secepatnya membuka topeng itu untuk memenangkan langkah awal….”, ucap Fan Jianying tenang.


“ Apa rencana Fan’er ?...”, tanya putra mahkota Qin Shi Huang to the point.


Fan Jianying pun segera menjelaskan semua rencana yang ada dalam kepalanya kepada sang kakak yang terlihat serius mendengarkan setiap kata yang dia ucapkan.


Sementara itu, di halaman luar Meigui Palace terlihat sepasang mata elang menatap tajam kearah keduanya seolah – olah hendak memangsa keduanya dalam satu kali terkam.


“ Tidak bisa...aku harus segera mendesak kaisar untuk melakukan pemilihan putri mahkota sebelum semuanya menjadi terlambat….”, batin Ratu Qinly resah.


Lamunan Ratu Qinly langsung buyar begitu ada sepasang mata menatapnya dengan tajam dan bergegas pergi dengan wajah tegang.


Melihat Ratu Qinly pergi dengan tergesa – gesa, Fan Jianying pun tersenyum samar karena merasa jika langkah pertama yang diambilnya telah berhasil.


“ Ini baru awal ibunda Ratu…aku akan benar – benar membuatmu membayar semua kejahatan yang telah kamu lakukan selama ini….”, batin Fan Jianying penuh dendam.


Selain masalah kesehatan ayahanda kaisar, tujuan utama Fan Jianying masuk kedalam istana adalah untuk menyingkirkan Ratu Qinly dari istana.


Sudah banyak nyawa dari orang – orang tak bersalah diambil secara paksa sejak wanita licik tersebut berkuasa didalam istana.


Jika Fan Jianying tidak pernah meninggalkan kediaman Bai, mungkin dia sama sekali tak akan mengetahui semua kebusukan yang diperbuat oleh wanita nomor satu dinegara Huangshan tersebut.


Tapi setelah tinggal cukup lama dan mengetahui semuanya, Fan Jianying tidak bisa mengabaikan setiap ketidak adilan yang terlihat didepan matanya dan membiarkannya begitu saja.


Apalagi dia memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk bisa mengubah hal tersebut, jadi kenapa hal itu tidak dia gunakan.


Itulah yang ada didalam benaknya selama ini hingga membuatnya mengambil keputusan berani dengan langsung masuk kedalam kandang ular untuk melumpuhkannya.

__ADS_1


__ADS_2