
Diwilayah perbatasan bagian timur,
Pergerakan kaum pemberontak yang sudah terendus membuat mereka mulai merubah strategi yang mereka susun.
Waktu mendapatkan kabar dari mata - mata yang berada didalam kamp. merekapun berniat untuk melepaskan tikus mutasi yang sebelumnya sudah mereka racuni agar hewan mengerat tersebut hilang kendali.
Malam harinya, ada beberapa hewan mutasi yang sengaja dilepaskan untuk mengambil persediaan pangan para pasukan perbatasan yang berada didalam gudang.
Bai Cheung yang sudah mendapatkan peringatan akan hal tersebut menyuruh beberapa orang untuk bersiap menghadapi serangan yang tak bisa dipastikan waktunya itu.
Dia bersama dengan Liam menunggu dalam diam diatas pohon. Begitu juga beberapa anak buahnya yang disebar di beberap titik.
Sedangkan jenderal besar Tian bersiap di sisi lainnya untuk mengantisipasi datangnya penyusup dari negeri tetangga yang biasanya akan berbarengan dengan serangan hewan mutasi.
Jenderal besar Tian cukup terbantu dengan kedatangan Bai Cheung yang cukup cekatan dan satu pemikiran dengannya.
“ Kini saatnya kita coba menggunakan ramuan ini…”, bisik Bai Cheung sambil memberikan sebagian ramuan kepada Liam untuk dioleskan pada senjata yang akan mereka gunakan.
“ Usahakan semua senjata prajurit dilumuri ramuan itu…”, ucap Bai Cheung mengingatkan sebelum Liam menghilang dari hadapannya.
Sekitar dini hari terlihat suara berisik disemak – semak, tak lama kemudian muncullah segerombolan tikus dengan tubuh sebesar kucing dengan mata merah membara mulai bergerak menuju gudang pangan berada.
Tikus yang sudah diberi racun gila tersebut terlihat menyerang siapa saja yang coba menghalanginya secara membabi buta.
Para prajurit dibuat kualahan menghadapinya. Gigi taringnya yang tajam bahkan tak segan – segan menancap dengan sempurna dan langsung merobek setiap kulit yang berhasil dia sentuh.
Hingga meninggalkan luka yang cukup dalam dan beracun hingga menyebabkan kulit yang terkena gigitan tikus langsung menghitam.
Sedetik kemudian bisa dipastikan prajurit yang terkena racun tersebut akan langsung mengigil kedinginan dan jika peredaran darah dalam luka tersebut tidak segera dihentikan, maka kemungkinan prajurit yang terkena gigitan tersebut dalam waktu 1x24 jam akan langsung meninggal dunia.
Tikus – tikus yang tak terkendali itu bergerak sangat agresif, bahkan kini mereka sudah berhasil masuk kedalam gudang penyimpanan.
“ Cepat halangi !!!...jangan biarkan lolos !!!....”, teriak prajurit yang langsung menghunuskan pedang dan obor mereka untuk menghalangi para tikus yang terlihat mulai semakin banyak yang berhasil menerobos masuk kedalam gudang.
Patra prajurit yang bersiap didalam gudang terus membantai tikus – tikus tersebut dengan senjata yang telah dilumuri oleh ramuan penangkal racun yangdiberikan oleh LIam tadi.
“ Ahhh…tikus sialan !!!...matilah kau !!!....”, ucap salah satu prajurit dan langsung menghunuskan senjata mereka kearah hewan tersebut setelah tangannya berhasil tergigit.
Setelah hewan tersebut terkena tusukan senjata prajurit yang telah dilumuri oleh ramuan penangkal racun, hewan yang tadinya liar berubah menjadi jinak sehingga lebih mudah untuk dimusnahkan.
Seperti dugaan, pada saat tikus mutasi bergerak, ada sekelompok orang berusaha untuk menyusup. Namun sayang pergerakan mereka telah terbaca sehingga mereka memutuskan untuk mundur sementara waktu.
Peperangan dengan para tikus berhasil dimenangkan oleh para prajurit dengan menyisahkan banyaknya bangkai tikus yang berceceran ditanah.
Untung saja hanya beberapa bagian makanan saja yang berhasil mereka rusak sehingga tidak terlalu mempengaruhi stock pangan para prajurit yang jumlahnya semakin hari semakin menipis tersebut.
__ADS_1
Para prajurit yang sedang terluka segera mendapatkan pertolongan dengan cepat karena gigitan tikus tersebut mengandung racun.
Meski kadarnya tidak terlalu tinggi namun cukup bisa membuat seseorang mengalami demam selama beberapa hari setelah racun dalam tubuhnya berhasil dikeluarkan.
Bahan makanan yang sudah diacak – acak oleh tikus tersebut juga sudah diamankan dan dipisahkan agar tidak membahayakan semua orang yang mengkonsumsinya.
Bai Cheung dan Liam mulai bergerilnya mencari dimana tempat tikus – tikus tersebut muncul dan berkembang biak, tapi belum juga mereka temukan.
“ Bagaimana jika kita memberi umpan mereka. Tapi sebelumnya, umpan tersebut kita lumuri dulu dengan ramuan penangkal racun tersebut…”, Liam memberikan idenya kepada Bai Cheung.
Bai Cheung merasa jika ide Liam cukup bagus, setidaknya hal itu bisa mencegah tikus mutasi bergerak seagresif tadi.
“ Lalu, dimana kita akan menaruh umpan itu ?...”, tanya Bai Cheung sambil mengedarkan pandangan matanya kesegala arah, mencari dari mana hewan – hewan mutasi tersebut mulai bermunculan.
Tiba – tiba salah satu prajurit berteriak hingga membuat semua orang yang sedang mencari sarang tikus mutasi tersebut spontan menoleh dan langsung bergegas menuju dimana prajurit tersebut berteriak.
“ Ada apa ?...”, tanya Bai Cheung penuh selidik.
“Tuan, lihat ini ….”, prajurit tersebut segera menebas semak belukar yang menghalangi sebuah jalur air yang cukup besar hingga mampu dilalui oleh tubuh orang dewasa.
“ Bagaimana kita bisa tidak tahu ada jalur air sebesar ini ?....”, tanya Bai Cheung sambil bergegas turun dan mulai masuk kedalam saluran air tersebut sambil membawa sebuah obor.
Liam dan tiga orang prajurit mulai mengikutinya dari belakang. Sementara yang lainnya berjaga dipintu gerbang.
Ditambah lagi, semakin dalam kaki melangkah, pasokan oksigen semakin menipis sehingga Bai Cheungpun memerintahkan anak buahnya agar berhenti.
Sementara dirinya dan Liam terus maju sambil melewati tulang belulang dan bangkai binatang yang ada disana karena mereka memiliki kekuatan lebih tinggi dari para prajuritr tersebut sehingga bisa mengatur saluran pernafasan yang ada dalam tubuh mereka.
Tampaknya, selain menyerbu pemukiman penduduk untuk mencuri makanan, para hewan buas tersebut juga saling membunuh untuk menyambung hidupnya.
Hal itu bisa terlihat dari banyaknya percikan darah yang menempel ditembok. Bahkan ada darah yang terlihat masih baru dan basah disana.
Kraukkk….kraukkkk….kraukk….
Mendengar suara tulang belulang yang dikunyah membuat Liam dan Bai Cheung segera mematikan obor yang mereka gunakan.
Sekarang mereka hanya bisa mengandalkan penglihatan dari mata batin yang mereka miliki dan kembali berjalan maju.
Didalam lorong paling dalam terdapat tersebut dia mendapati seekor hewan mutasi seperti anjing dengan tubuh lima kali lebih besar dari ukuran sebenarnya.
Berbulu hitam lebat dengan moncong dan gigi yang sangat tajam. Kedua matanya yang berwarna merah mengeluarkan kilatan cahaya yang bisa membuat bulu kudu siapa saja berdiri waktu menatapnya.
Saat ini terlihat hewan tersebut sedang asyik makan hewan lainnya yang berhasil dia bantai didalam saluran air tersebut.
Semakin berjalan mendekat, Bai Cheung dan Liam semakin melihat jika dibelakang hewan tersebut ada sebuah area yang cukup lebar berbentuk lingkaran.
__ADS_1
Dari area tersebut mereka kembali mendengar suara tulang yang diremukkan oleh gigi.
Bukan hanya satu, setidaknya mereka melihat ada lima ekor anjing mutasi yang terlihat sedang menikmati santapan yang ada dihadapannya.
Bai Cheungpun segera memberi isyarat agar berdiam diri dulu sambil mengamati keadaan sekitar.
Setelah mendapati beberapa titik celah, keduanyapun mulai berjalan secara terpisah untuk mulai menyerang.
Crashhhh….
Satu sabetan pedang Bai Cheung berhasil mengenai tubuh dua anjing mutasi tersebut. Saat terkena sabetan pisau yang dilumuri ramuan, kedua mata merah menyala tersebut mulai meredup.
Meski semua hewan sudah terkena sabetan pedang yang telah dilumuri oleh ramuan, tapi tampaknya hal itu sama sekali tidak mempengaruhi kekuatan asli tubuhnya.
Pertarungan sengitpun terjadi didalam lorong, membuat ketiga prajurit yang masih terdiam dalam lorong mulai bergegas masuk kedalam.
Sambil mengatur pernafasannya, ketiga prajurit tersebut membantu Bai Cheung dan Liam untuk menyerang para anjing mutasi yang sangat kuat tersebut.
Beberapa kali tubuh anjing mutasi tersebut terpental membentur tembok, namun sedetik kemudian dia berhasil bangkit kembali seakan – akan kekuatan dalam tubuh mereka sama sekali tidak berkurang.
Bahkan luka yang ada dalam tubuh mereka juga cepat menutup membuat semua orang kesulitan untuk menghadapinya.
“ Sial !!!...kenapa lukanya cepat menutup dan tenaga mereka sama sekali tak berkurang ?...”, batin Bai Cheung geram.
Crashhhh…crashhh….crashhh….
Bai Cheung dan Liam terus menyerang anjing mutasi tersebut secara bertubi – tubi dengan pedang yang mereka gunakan.
Sedangkan ketiga prajurit yang tadi membantunya diperintah untuk mundur setelah salah satu dari mereka terluka terkena cakaran dari salah satu anjing mutasi tersebut.
Anjing mutasi tersebut baru bisa mati setelah Bai Cheung bekerja sama dengan Liam hingga mengakibatkan kepala salah satu anjing mutasi tersebut terputus dari badannya.
Mengetahui celah tersebut, keduanyapun mulai bahu membahu menyerang bagian kepala anjing mutasi meski hal tersebut sangatlah sulit.
Namun dengan kegigihan keduanya, satu persatu anjing mutasi tersebut berhasil mereka tumpas.
Dengan nafas tersenggal – senggal dan darah yang mengotori tubuh dan pakaian, keduanya keluar dari dalam lorong.
“ Kita harus secepatnya menyiapkan umpan untuk mereka. Lebih baik lagi kalau kita bisa menggunakan racun yang bisa mengurangi tenang besar yang mereka miliki bahkan membunuhnya…”, ucap Bai Cheung berpendapat.
Liam yang ada disebelahnya hanya bisa menyimak dengan seksama setiap kata yang diucapan oleh tuan mudanya tersebut sambil berpikir kira – kira siapa yang bisa membuat ramuan seperti itu, mengingat ahli racun dinegeri ini tidak terlalu banyak jumlahnya.
“ Sebaiknya kita harus segera melaporkan hal ini kepada pangeran ke empat. Siapa tahu Yang Mulia memiliki solusi yang tepat buat kita….”, ucap Liam memberi saran.
Mendengar ucapan Liam, Bai Cheungpun segera mengirim pesan kepada pangeran ke empat tentang apa saja yang diperlukannya disini.
__ADS_1