
Baru saja madam Yang turun dari kereta dia sudah disambut oleh Yang Yuwen yang juga baru saja kembali dari pertemuan di istana yang baru saja dihadirinya.
“ Nenek…kemana saja anda seharian ini ?...apakah anda merasa senang ?...”, tanya Yang Yuwen hangat.
Madam Yang pun terkekeh mendengar pertanyaan cucunya itu. Diapun segera mengajak Yang Yuwen untuk masuk kedalam rumah sambil bercengkerama.
“ Hey kucing kecil !!!...apakah kamu mengawasi nenek sekarang !!!...”, ucap madam Yang pura – pura marah.
Melihat neneknya cemberut, Yang Yuwen hanya tertawa lebar sambil bergelayut manja di lengan sang nenek.
“ Cucu ini hanya menghawatirkan kondisi nenek…”, ucap Yang Yuwen merajuk.
“ Nenek baru saja bertemu sahabat lama di kediaman Bai. Ini ada bingkisan untukmu…”, ucap madam Yang sambil menyerahkan bingkisan dari matriark Bai untuk cucu kesayangannya itu.
Kedua mata Yang Yuwen terlihat berbinar cerah setelah membuka bingkisan tersebut dimana dia melihat toples kecil penuh dengan potongan persegi berbagai macam jenis kacang yang menyatu dengan caramel, tampak sangat lezat dan menggiurkan.
“ Camilan khas dari kediaman Bai…”, ucap Yang Yuwen sambil membuka toples kaca tersebut dan mengambil satu isinya.
“ Bukan…madam ketiga, istri Bai Cheung yang membuat ini. Namanya naugat kacang.....Kamu bisa menikmatinya didalam. Nenek sangat lelah sekarang dan ingin beristirahat. Kamu nikmati perlahan kudapan itu dan jangan ganggu nenek…”, ucap madam Yang sambil melangkah cepat menuju ke dalam kamarnya.
Setelah menikmati sensasi kudapan yang ada dalam mulutnya, Yang Yuwen bergegas menuju ruang tamu karena ingat jika ada dua temannya menunggu disana.
Didalam ruang tamu dia melihat ada dua pemuda menggunakan jubah hitam sedang duduk menunggunya.
Salah satu dari pemuda itu memiliki wajah yang tampan dia adalah Heng Yuan dan yang duduk disebelahnya seorang pemuda beralis tebal dengan wajah sedikit lebih tua adalah Kong Lie.
Kong Lie dan Heng Yuan adalah mahasiswa papan atas dalam sekolah kekaisaaran yang akan menempuh ujian beberapa hari lagi untuk bisa lulus dan menjadi pejabat pengadilan.
Posisi yang sangat di idam – idamkan semua orang. Karena selain memiliki status yang tinggi, para pejabat pengadilan juga secara otomatis bisa menaikkan posisi keluarganya di masyarakat.
Kong Lie yang melihat bahwa Yang Yuwen membawa setoples kecil kudapan manis ditangannya merasa sedikit aneh dan mulai bertanya.
“ Yuwen…apa yang sedang kamu pegang itu ?....”, tanya Kong Lie penasaran.
Jika itu kudapan yang akan dihidangkan kepada mereka kenapa Yang Yuwen terus memegangnya dengan erat, itulah pertanyaan yang ada dibenak dua temanya itu.
Yang Yuwen tertawa kecil mendengar pertanyaan Kong Lie dan langsung meletakkan toples tersebut diatas meja dan membuka tutupnya.
__ADS_1
Selanjutnya, dia memerintahkan pelayannya untuk menuangkan teh rempah sebagai teman minum kudapan manis tersebut.
“ Ini adalah kudapan dari kediaman Bai, namanya naugat kacang…”, ucap Yan Yuwen sambil mengambil satu potong naugat kacang dan memakannya dengan sangat berlahan.
Sebagai seorang pemuda yang lahir dari keluarga kaya, Kong Lie sudah terbiasa dengan berbagai makanan dan kudapan lezat yang dia santap setiap hari.
Dia sudah sering mendengar tentang kelezatan kudapan yang dihasilkan oleh kediaman Bai selama ini, namun sayang dia masih belum ada kesempatan untuk mencobanya.
Dan sekarang, dia mendapatkan kesempatan tersebut. Tentu saja hal ini tidak disia – siakan begitu saja. Kong Lie langsung mengambil sepotong naugat kacang dan sedetik kemudian kedua matanya berbinar cerah.
Seumur hidup dia belum pernah merasakan kudapan selezat ini. Rasa manis dan gurih yang tercampur menjadi satu dimulut membuat lidah tidak bisa berhenti bergoyang.
Jika kedua pemuda tersebut tampak sangat menikmati kudapan tersebut, lain halnya dengan Heng Yuan.
Begitu mendengar nama keluarga Bai disebut, dia langsung teringat dengan Fan Jainying, kekasih masa kecilnya yang telah menikah dengan tuan muda ketiga keluarga Bai dan menjadi nyonya muda disana.
Dia kembali mengingat bagaimana pertemuan terakhir mereka yang bagi Heng Yuan adalah pertemuan yang menyakitkan sepanjang hidupnya karena Fan Jianying mengatakan agar pemuda itu melupakan semua kenangan bersamanya.
Sesuatu hal yang sampai saat ini masih belum bisa Heng Yuan percayai dan selalu menganggapnya sebagai mimpi buruk, begitu terbangun semua akan baik – baik saja seperti sedia kala.
Yang Yuwen melihat Heng Yuan tampak linglung mulai memanggilnya, hingga membuat lamunan lelaki tersebut buyar seketika.
“ Nenek tadi memberitahuku jika yang membuat kudapan ini adalah madam ketiga keluarga Bai…”, ucap Yang Yuwen sambil tersenyum lebar dan kembali memasukkan sepotong naugat kacang kedalam mulutnya.
Tanpa kedua pemuda itu sadari, tubuh Heng Yuan seketika menegang waktu mendengar Yang Yuwen menyebut nama madam ketiga.
“ Apa kamu bilang, madam ketiga…itu berarti istri Bai Cheung…putri kedua keluarga Fan dan merupakan anak sah mereka, Fan Jianying…”, ucap Kong Lie terkejut.
Sedetik kemudain Kong Lie sudah mengarahkan pandangannya kearah Heng Yuan yang masih terdiam membeku.
“ Yuan…bukankah kamu cukup dekat dengan keluarga Fan….apakah kamu akrab dengan madam ketiga. Ceritakan padaku, apakah semua rumor yang beredar itu benar ?...”, tanya Kong Lie antusias.
Dia cukup penasaran karena jika rumor yang beredar di masyarakat itu benar adanya, tidak mungkin gadis yang hanya hobi berdandan dan belanja itu bisa membuat kudapan seenak ini.
Apalagi katanya dia sangat manja dan sombong. Jadi, jika dia memiliki kudapan yang begitu enak, tentunya akan dia nikmati sedniri tanpa mau membaginya dengan orang lain.
“ Meskipun saya cukup dekat dengan keluarga Fan, bagaimanapun juga saya adalah orang luar…jadi tidak mungkin bagi saya untuk bisa masuk kehalaman dalam apalagi melihat nona kedua keluarga Fan…”, ucap Heng Yuan berbohong.
__ADS_1
Kong Lie merasa bodoh telah menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya. Siapapun sangat tahu, hanya orang – orang tertentu lah yang bisa masuk kedalam halaman dalam kediaman keluarga Fan.
Tidak ada yang pernah melihat dengan jelas bagaimana wajah asli dari para anggota keluarga disana. Bahkan Fan Nuan yang sering mengikuti perlombaan pun selalu menggunakan cadar untuk menutupi wajahnya.
Semua itu dilakukan agar identitas mereka tidak diketahui banyak orang karena rawan menjadi incaran orang - orang yang tidak senang dengan Fan Shaosheng karena posisinya yang sangat dekat dengan kaisar.
Serta status keluarga Fan yang bagi sebagian orang memiliki misteri tersembunyi karena bisa menjaga keluarga kaisar bisa tetap bertahta hingga saat ini.
“ Maaf, saya sudah lancang tak sengaja menuduh kamu seperti itu…”, ucap Kong Lie merasa bersalah.
Heng Yuan pun segera menepuk bahu Kong Lie dengan pelan seolah mengatakan, “ Tidak apa – apa….”.
Bagaimanapun juga, dia tidak bisa menyinggung Kong Lie mengingat siapa keluarganya dan Heng Yuan merasa akan membutuhkan pemuda tersebut dalam kehidupan kedepannya.
Melihat Heng Yuan tak masalah dan kembali santai, Kong Liepun merasa sangat lega. Dia kemudian segera menyesap teh rempah yang ada dihadapannya itu.
“ Oh iya, bukankah madam ketiga juga ahli dalam pembuatan teh rempah. Jika begini, aku rasa koki Li Ziqi tidak dibutuhkan lagi dikediaman Fan…”, ucap Kong Lie santai.
“ Tentu saja dia sudah tidak diperlukan disana karena koki Li Ziqi sudah meninggal…”, ucap Yang Yuwen sedih.
“ Bagaimana bisa ?...kenapa aku tidak mendengarnya ?...”, ucap Kong Lie terkejut.
“ Hal itu hanya beberapa orang dekat saja yang tahu. Menurut nenek ku dia meninggal dalam insiden ledakan didapur utama. Kupikir kediaman Bai sudah tidak akan memiliki kudapan yang lezat setelah Li Ziqi meninggal. Tapi dengan adanya madam ketiga, aku yakin mereka tidak akan lagi merasa khawatir…”, ucap Yang Yuwen menjelaskan.
Kong Lie yang melihat Heng Yuan sama sekali belum merasakan kudapan tersebut segera mengambilkannya sepotong dan langsung memasukkannya kedalam mulut sahabatnya itu begitu melihatnya terbuka.
Jika semua orang merasa kudapan tersebut sangat manis dan gurih, lain halnya dengan apa yang dirasa oleh Heng Yuan saat ini.
Dia merasa naugat kacang tersebut terasa sangat pahit. Bahkan rasa pahitnya begitu merasuk hingga sampai kedalam hatinya.
Heng Yuan terlihat mengunyah dengan mata sedikit berair waktu ingat kenangan menyedihkan antara dirinya dengan Fan Jianying.
Jika bukan karena perjodohan tersebut, mungkin saat ini Fan Jianying sudah menjadi miliknya dan setelah dia lulus dan menjadi pejabat pengadilan, gadis itu pasti akan langsung diboyongnya ke kediaman yang sudah disiapkan sebagai hadiah kejutan untuk gadis yang menemani masa – masa sulitnya selama ini.
Hatinya kembali sakit waktu membayangkan jika yang pertama mencicipi kudapan lezat ini pastinya Bai Cheung yang telah menjadi suami sah Fan Jianying saat ini.
Dibawah penutup lengannya yang lebar, satu tangan Heng Yuan terlihat mengepal dengan kuat hingga buku – buku jarinya memutih.
__ADS_1
Bahkan saking kuatnya dia menekan, dia sama sekali tak merasa jika kuku tangannya menancap ke kulitnya dan membuatnya berdarah.