
Setelah keluar dari kota Banjiwen dan mulai memasuki kota Jinzu semua orang merasa ada keanehan yang terjadi.
Kota Jinzu terlihat seperti kota mati saat ini, sama sekali tidak ada tanda – tanda kehidupan disana.
Bahkan tumbuhan serta hewan yang ada seolah menahan nafas mereka begitu kelompok Fan Jianying datang mendekat.
Tak ada satupun asap mengepul dan keluar dari cerobong asap rumah warga, membuat Fan Jianying dan rekan – rekannya mulai bergerak waspada.
“ Aku tak menyangka jika mereka sudah mempersiapkan semuanya sedetail ini….”, ucap Peizhi sinis.
Perlahan semua orang bergerak maju senormal mungkin agar musuh tidak menjadi waspada.
Didalam kereta, Fan Jianying menggunakan mata batinnya untuk melihat posisi musuh yang ada dihadapannya dengan cepat.
Setelah mendapatkan penglihatan dia segera mengirim isyarat kepada suaminya. Bai Cheung segera membawa kudanya menempel dengan kereta kuda yang dinaiki istrinya setelah mendapatkan isyarat dan muali berguman lirih.
“ Bagaimana ?...”, bisik Bai Cheung sambil mengamati keadaan sekitarnya.
“ Sesuai prediksi. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok dan yang paling ganas adalah kelompok yang disebelah utara….”, guman Fan Jianying pelan.
Fan Jianying pun menjelaskan dengan detail dimana posisi musuh berada beserta senjata yang mereka gunakan untuk menyerang.
Setelah jelas, Bai Cheung pun segera memberi tahukan kepada masing – masing pimpinan regu yang juga telah dibagi menjadi tiga kelompok.
“ Lakukan sesuai rencana !!!....”, perintah Bai Cheung tegas.
Semua orang pun bergegas melesat ke posisi masing – masing, sesuai dengan rencana yang telah mereka susun semalam.
Sementara itu, pasukan rahasia yang sudah dilatih oleh Bai wang juga telah menempati posisi masing – masing sesuai dengan jebakan yang telah mereka buat.
Bai Wang sangat yakin jika pasukannya akan mampu mengalahkan sang adik meski dirasa sedikit agak berat.
Diatas langit ada burung elang besar yang terbang kesana kemari tanpa semua orang sadari. Kedua matanya yang tajam seakan mengintai buruannya untuk ditangkap.
Krtakkkk.....
Satu jebakan bisa dihindari waktu Bia Cheung dengan sengaja melemparkan bongkahan batu besar hingga jala yang ada diatas langsung meluncur turun ketanah.
Setttt....setttt....settt.....
Puluhan anak panah bercun langsung melesat keluar begitu tali yang ada diantara pohon yang akan mereka lewati berhasil diputus dari jauh oleh Bai Cheung.
Satu - persatu jebakan yang dipasang sudah berhasil dihindari setelah mendapatkan peringatan dari Fan Jianying membuat Bai Wang dari atas menatap dengan geram.
__ADS_1
Bia Wang pun segera memberuikan isyarat agar pasukan pemananh bersiap - siap waktu melihat kelompok tersebut mulai memasuki pusat kota.
Saat sudah berada ditengah pusat kota semua orang disambut oleh banyaknya anak panah yang melesat cepat kearah mereka.
Dari dalam kereta kuda, Fan Jianying menggunakan kekuatannya hingga hujan panah tersebut hanya mengantung diudara dan tiba – tiba saja jatuh ke tanah begitu saja tanpa bisa menyentuh tubuh para pasukan yang mengawalnya.
Pasukan musuh terlihat sangat terkejut atas kejadian tersebut, terutama Bai Wang yang sangat penasaran dengan orang yang bisa mengendalikan anak panah tersebut dengan mudah.
Para pemanah kembali melesatkan anak panah mereka, namun kali ini bukan hanya panah mereka tidak bisa melesat keatas.
Bahkan pasukan pemanah juga langsung meninggal ditempat saat ada bongkahan es yang tajam tepat mengenai jantung mereka.
“ Beraninya dia !!!...”, batin Bai Wang geram.
Kesempatan tersebut dipergunakan oleh beberapa orang pasukan bayangan dibawah komando Bingwen untuk menyusup diantara pasukan yang di pimpin oleh Bai Wang tersebut tanpa mereka sadari dan langsung menghunuskan pedang yang mereka bawa tanpa ragu.
Crash…crash….
Tanah yang semula tertutup salju berwarna putih sekarang mulai berubah menjadi merah darah.
Semua pasukan musuh yang masih terkejut dengan kejadian tersebut tak siap waktu mengetahui jika lawan ternyata sudah berada ditengah – tengah mereka.
Suara pedang beradu mulai terdengar dengan nyaring. Pertempuran sengitpun tak bisa dihindari dan semua pihak berusaha untuk menjadi pemenang.
Sesuai dengan prediksi, musuh yang berada dibagian utara sangat kuat serta berbahaya dan hampir mengalahkan pasukan Bingwen.
Tak membuang waktu lagi, diapun segera munuju kearah utara, membantu Bingwen dan pasukannya yang terlihat mulai kuwalahan menghadapi serangan musuh yang sangat agresif dan kuat.
“ Siapa lelaki bertopeng perak itu…kenapa gerakannya begitu cepat ?...”, batin Bai Wang cemas.
Ya...Fan Jainying saat ini sedang menyamar menjadi laki - laki bertopeng perak untuk menutupi identitasnya.
Bai Wang hanya mampu mengawasi dari atas rumah salah satu warga tanpa sedikitpun niatan untuk ikut bergabung dalam pertempuran tersebut.
Bersama pasukan Bingwen, Fan Jianying menggunakan pedang birunya membabat habis musuh yang datang mendekat.
Dengan satu gerakan memutar di udara, mengambil bongkahan es yang ada ditanah dengan kekuatannya yang dibuat menjadi belati kecil yang sangat tajam, Fan Jianying berhasil membunuh puluhan musuh yang datang kepadanya dalam satu kali serang.
Melihat musuh yang datang semakin banyak, Fan Jianying segera memberikan instruksi agar anak buah Bingwen agar segera merapat ke bagian tengah dan membantu Bai Cheung disana.
Sementara dirinya akan menghabiskan seluruh pasukan di bagian utara seorang diri dalam satu kali serang.
Sambil tersenyum licik Fan Jianying segera mengambil sebuah bola hitam dari dalam sakunya dan langsung melemparkannya kebawah dengan kuat.
__ADS_1
Bommm…..
Duarrrr..........
Fan Jianying meledakkan semua pasukan Bai Wang dalam sekejap mata. Melihat pasukan yang dilatihnya dengan susah payah jatuh berguguran dengan cepat.
Bai Wang pun segera menarik mundur sisa pasukannya karena tak ingin mengambil resiko lebih besar.
Mengingat jika pasukan tersebut akan digunakan oleh pangeran kedua Song Yu untuk menyerang istana dalam waktu dekat.
Melihat musuh kabur dengan terbirit – birit senyum mengejek muncul diwajah cantik Fan Jianying.
“ Ternyata, hanya segitu kemampuan mereka….”, ucap Fan Jianying sinis.
Melihat Bai Wang ada diantara pasukan yang kabur, Bai Cheung pun berusaha untuk mengejar sang kakak dan menantangnya bertarung.
Tapi keingginannya tersebut dihalangi oleh Fan Jianying yang segera menghentikan laju kuda Bai Cheung dan memberinya untuk memberinya pengertian.
“ Tidak sekarang….”, ucap Fan Jianying sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali saat berada dihadapan suaminya.
Dengan rahang mengeras dan kedua mata mengeluarkan api membunuh, Bai Cheung pun menghentikan aksinya dan perlahan mulai turun dari atas kudanya pada saat istrinya mengulurkan tangan kepadanya.
“ Sabar…semua ada waktunya...”, ucap Fan Jianying sambil mengelus dada bidang suaminya saat suaminya itu sudah ada dihadapannya dengan tatapan lembut.
Hati Bai Cheung pun langsung melunak dan tatapannya berubah menjadi hangat waktu melihat wajah istrinya yang teduh.
“ Terimakasih…”, ucap Bai Cheung sambil mengenggam kedua tangan Fan Jianying dengan tatapan lembut.
Semua orang yang tidak ingin menyaksikan romansa yang menyesakkan jiwa bagi kaum jomblo tersebut mulai sibuk membantu rekan – rekannya yang terluka.
Dengan bantuan tabib Shilin, pasukan yang terluka tersebut segera mendapatkan pengobatan agar bisa segera melanjutkan perjalanan menuju ibukota.
Meski sudah berhasil melalui serangan di pusat kota Jinzu, tapi Fan Jianying sadar jika perjalanan mereka menuju ibukota tak akan mudah.
Bai Wang pasti sudah menyiapkan rencana lain untuk menghambat mereka tiba di ibukota dengan cepat.
Melihat banyak rekan – rekannya mengalami cidera, Bingwen pun segera berbicara dengan Fan Jianying untuk mengamankan posisi bagian depan.
“ Biarkan kami yang maju dahulu….”, ucap Bingwen dengan sikap hormat.
Sambil mengangguk, Fan Jianying mengeluarkan beberapa bom molotof kecil yang bisa digunakan oleh Bingwen untuk membunuh musuh – musuhnya tanpa harus mengeluarkan tenaga banyak.
“ Lempar sekuat tenaga. Satu bom bisa membunuh sampai sepuluh orang sekaligus….”, ucap Fan Jianying tajam.
__ADS_1
“ Dipahami….”, ucap BIngwensambil menerima bola hitam seukuran bola kasti dengan kedua tangannya.
Bingwen bersama kelima anak buahnya segera melesat pergi untuk membersihkan bagian depan jalan yang akan Fan Jianying lewati.