
Pagi harinya terlihat para prajurit sudah mulai membangun pos sesuai dengan rancangan yang dibuat oleh Fan Jianying dibeberapa titik yang dianggap krusial.
Karena derasnya salju yang turun sepanjang malam hingga menyebabkan tumpukan salju yang menjulang tinggi di lokasi yang akan dibangun pos jaga tersebut membuat pekerjaan mereka terhambat.
Untungnya semua prajurit saling bekerja sama dan bahu membahu untuk menyelesaikan tugas tersebut.
Selain para pekerja yang bertugas membangun pos, para prajurit lainnya yang luang membantu untuk menyingkirkan tumpukan salju yang berada disekitar area yang akan dibangun pos.
Semua prajurit terlihat sangat bersemangat menyingkirkan tumpukan salju tersebut meski udara pagi ini sangatlah dingin.
Berkat kerjasama yang apik, lokasi yang akan dibangun pos tersebut saat ini sudah bersih dan perkerjaan bisa kembali dilanjutkan.
Kali ini pos jaga yang dibangun lebih tinggi dengan ruangan lebih lebar sehingga bisa menampung tiga sampai lima orang prajurit di atas sana.
Meski merasa jika gambar denah pos yang diberikan oleh Fan Jianying sangat aneh, namun Qindao yang merupakan wakil jenderal besar Tian yang sudah mendengar ide – ide brilian dari gadis itu semalam selama rapat berlangsung tetap menjalankannya.
“ Bagaimana kamu bisa merancang banggunan serumit itu ?... ”, tanya Bai Cheung datar.
Fan Jianying yang sedang fokus mengawasi para pekerja sedikit terkejut waktu melihat suaminya itu sudah berdiri disampingnya.
“ Hanya iseng – iseng gambar saja….”, ucap Fan Jianying acuh.
“ Iseng katanya ?...”, batin Bai Cheung tercenggang.
Fan Jianying yang malas menghabiskan waktunya untuk berdebat, pergi begitu saja meninggalkan suaminya yang masih terdiam ditempatnya.
“ Apa dia masih marah padaku ?....”, batin Bai Cheung resah.
Para pekerja yang melihat jika Fan Jianying sangat dingin kepada suaminya tak bisa menyalahkan gadis tersebut.
Seperti yang semua orang tahu, jika Bai Cheung lah yang sudah mencampakkan sang istri dan menyakitinya.
Jadi menurut mereka sangat wajar jika gadis belia itu mengacuhkan laki – laki dingin dan tak berperasaan seperti jenderal mudanya itu.
Mereka sangat berharap jika Fan Jianying kembali lajang agar mereka bisa memiliki kesempatan untuk membahagiakannya.
Tapi tentu saja semua itu hanyalah angan semu para prajurit saja yang sekarang hanya bisa saling pandang dengan rekannya melihat Bai Cheung pergi dengan wajah datar.
Dalam perjalanan Fan Jianying melihat Bingwen dan menghentikannya. Mereka berdua pun mulai terlihat asyik mengobrol sambil berjalan menuju tempat penyimpanan senjata.
Fan Jianying yang ingin mengetahui lebih banyak tentang King of Devil agar misinya segera bisa terselesaikan mulai menghentikan basa - basinya dan mulai berbicara ke intinya.
__ADS_1
“ Kenapa anda begitu tertarik dengan mereka nyonya ?....”, tanya Bingwen penuh selidik.
“ Aku hanya penasaran saja…”, ucap Fan Jianying tersenyum lebar.
Fan Jianying sangat tahu jika Bingwen tak puas dengan jawaban yang diberikan olehnya. Namun dia juga tak bisa membicarakan mengenai misinya ini kesembarang orang.
Melihat Bingwen sudah mulai curiga, Fan Jianyingpun buru – buru mengalihkan topik pembicaraan.
“ Jadi, kalian akan sampai kapan tinggal disini ?...”, tanya Fan Jianying berusaha mengalihkan topik.
“ Kami menunggu instruksi anda nyonya, kami akan mengawal anda sampai anda kembali ke kediaman Bai dengan selamat. Jadi jika anda masih ada hal yang perlu diselesaikan disini, kami akan dengan setia menemani anda disini. Jadi jangan sungkan, anda bisa meminta bantuan apapun kepada kami…”, ucap Bingwen berusaha meyakinkan.
Karena dia merasa jika nyonya muda Bai ini sedang menyembunyikan sesuatu hal yang besar dan feelingnya mengatakan jika hal tersebut ada kaitannya dengan King of Devil.
“ Kurasa aku harus melaporkan hal ini kepada kaisar…”, batin Bingwen cemas.
Bingwen cemas bukan tanpa sebab, siapapun tahu betapa berbahanya pasukan King of Devil tersebut.
Bahkan ada yang menyamakan mereka sebagai titisan iblis. Tidak ada satupun orang yang pernah melihat wajah asli para pasukan King of Devil yang selalu memakai topeng berwarna merah denagn gambar iblis sesuai julukan yang disematkan semua orang kepada mereka.
Jikapun ada pasukan yang mati dalam pertempuran, wajah mereka langsung terbakar hingga tak dikenali begitu topeng yang mereka kenakan terbuka.
Fan Jianying yang sudah mengerti akan makna tersirat dari ucapan Bingwen pun pergi menuju dapur kamp untuk membantu koki Lizeng memasak makan malam hari ini dan membiarkan Bingwen mulai bekerja.
“ Ada urusan apa dia dengan King of Devil ?...”, batin Bai Cheung penuh tanya.
Semakin dipikir dia semakin pusing karena tambah kesini semua alur semakin rumit dan tidak jelas.
Bukan hanya sikap istrinya yang tak dapat ditebak, tapi alur cerita kehidupan yang sekarang dijalaninya juga sulit untuk diprediksi.
Sementara itu, di kerajaan Huangwe kaisar Huang terlihat resah dengan berita yang diterimanya dari Bingwen.
“ Akhirnya hari ini datang juga. Tapi, aku sama sekali tak berharap jika akan secepat ini…”, batin kaisar Huang gelisah.
Diapun mulai membalas surat Bingwen agar dia terus bersama Fan Jianying agar keamanan gadis itu tetap terjamin.
Kaisar Huang juga berpesan, sebisa mungkin jauhkan Fan Jianying dari pasukan King of Devil. Jika memungkinkan, ajak pergi gadis itu dari wilayah perbatasan timur secepatnya.
Mengingat sifat keras kepala Fan Jianying yang didapatkan dari dirinya, Kaisar Huang sangat yakin jika gadis itu tidak akan mau pergi dari wilayah perbatasan timur begitu saja sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.
Apalagi setelah mendengar tentang kemungkina King of Devil akan menyerang kawasan tersebut, hati kaisar Huang tentunya bertambah gelisah.
__ADS_1
Putra mahkota Qin Shi Huang yang baru saja datang ke tempat kerja ayahandanya untuk mendiskusikan masalah King of Devil yang berusaha untuk merebut Yulin menaikkan satu alisnya waktu melihat kaisar Huang berjalan mondar – mandir dengan wajah cemas.
“ Hormat ayahanda. Maaf jika ananda menganggu waktu istirahat ayahanda saat ini….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang dengan sikap hormat.
“ Bangunlah…”, ucap kaisar Huang ramah.
“ Hal apa yang sampai membuat ayahnda resah seperti ini ?…”, tanya putra mahkota Qin Shi Huang penuh perhatian.
Kaisar Huang menghela nafas cukup dalam sebelum menjawab pertanyaan anaknya. Untuk sekian detik, kaisar Huang tampak berpikir cukup dalam sebelum akhirnya bersuara.
“ Menurutmu, bagaimana Bai Cheung itu ?...”, tanya kaisar Huang serius.
Meski binggung, namun putra mahkota Qin Shi Huang berusaha menjawab agar tidak mengecewakan sang ayah.
“ Sebagai jenderal muda, tentunya ayahanda dan semua orang sudah tahu bagaimana performanya. Bai Cheung memiliki kesetiaan yang tinggi terhadap negara dan hal itu tak perlu diragukan lagi….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang bangga.
“ Jika dalam keluarga Bai, sebagai anak bungsu Bai Hongli, dia juga cukup membanggakan. Meski kadang sikap arogannya itu sedikit menganggu, namun semua keangkuhannya tersebut sesuai dengan kemampuan yang dia miliki. Jadi masih layak…”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang menambahkan.
“ Tapi, jika itu sebagai suami dari Fan Jianying. Ananda tidak bisa berkomentar banyak. Selama ini kita hanya mengetahui rumor yang beredar dimasyarakat saja tanpa mengetahui kebenaran sesungguhnya. Karena baik itu Bai Cheung maupun Fan Jianying terlihat menutup rapat masalah tersebut…”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang sedikit ragu untuk menjawab.
Kaisar Huang kembali menarik nafas cukup dalam waktu mendengar penuturan putra sulungnya itu.
Semua orang tidak mengetahui fakta sebenarnya dalam rumah tangga mereka. Bahkan pangeran ke empat Wei Jie yang merupakan sahabat dekat Bai Cheung saja tak bisa membuat lelaki itu berbicara, apalagi orang lain
Begitu juga dengan Fan Jianying yang terlihat bersikap acuh terhadap semua hal buruk yang dibuat oleh suaminya dan lebih memilih untuk membahagiakan dirinya sendiri dengan caranya.
“ Jika saja dia bukan adikmu, mungkin aku sudah menjodohkannya denganmu…”, ucap Kaisar Huang pelan.
“ Tapi, takdir berkata lain. Umurmu sudah cukup untuk menikah, sebaiknya kamu cepat memilih putri mahkota untuk mendampingimu…”, ucap kaisar Huang menasehati.
Putra mahota Qin Shi Huang sangat tahu jika ayahnya suatu saat akan menanyakan perihal pernikahannya ini, meski sekeras apapun dia coba menghindar.
“ Ananda masih belum terpikir kearah sana ayahanda. Saat ini, negara masih membutuhkan ananda, sehingga ananda fokus pada apa yang saat ini sedang ananda kerjakan…”, tolak putra mahkota Qin Shi Huang dengan halus.
Kaisar Huang yang sudah memprediksi jawaban dari sang putra terlihat beberapa kali menghela nafas panjang.
“ Sebaiknya hilangkan perasaan itu, sampai kapanpun kalian tidak mungkin bisa bersatu…”, ucap kaisar Huang penuh peringatan.
“ Dimengerti…”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang sebelum beranjak pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya dengan sedih.
Putra mahkota sangat tahu jika perasaan yang dimilikinya terhadap Fan Jianying tidak akan pernah bisa untuk direalisasikan.
__ADS_1
Meski begitu, dia masih berharap jika sang dewa bermurah hati memberikan keajaiban untuknya hingga hal yang mustahil terjadi tersebut bisa terwujud.