CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
Bab 41. Belum terbiasa


__ADS_3

Damian berjalan mendekati Vera yang sudah terlelap tidur. Dia tampak kesal, tetapi ketika dia melihat wajah Vera, dia tersenyum sendiri. Hilang kekesalan dihatinya. Masih banyak waktu untuknya melakukan malam pertama dengannya.


Damian bergegas berbaring di samping Vera. Dia memeluk Vera dengan pelan agar Vera tidak terbangun. Damian sangat gugup karena ini pertama kalinya dia tidur seranjang dengan seorang wanita.


Damian menghela napas dalam-dalam, karena dia sudah berusaha untuk bisa Menjadi suami yang perkasa di mata istrinya. Tetapi jika begini keadaannya, bagaimana cara membuktikannya pada Vera?


Tiba-tiba, niat jahilnya muncul. Dia mencubit pelan pipi Vera yang chubby dan menggemaskan itu. Sayangnya Vera hanya menggeliat pelan saja. Damian lalu lebih berani lagi. Dia mencium telinga Vera berkali-kali, sampai Vera menggeliat karena merasa geli.


Dalam keadaan seperti itu, secara reflek, Vera mendorong tubuh Damian hingga terjatuh. Setelah itu, dengan tidak merasa bersalah, Vera tidur kembali.


Damian meringis kesakitan lalu kembali duduk di atas ranjang. Meskipun sakit, tetapi Damian merasa lucu melihat tingkah Vera. Diperlakukan seperti itu, tidak lantas membuat Damian marah pada Vera. Damian perlahan merebahkan diri di atas ranjang yang masih tersisa.


Damian mencoba memejamkan mata meskipun hatinya masih berdebar-debar. Saat itulah Vera terbangun karena mau kebelet mau ke kamar mandi. Damian berpura-pura tidur untuk melihat apa yang akan dilakukan Vera.


Vera sempat kaget melihat Damian tidur di kamarnya. Tetapi karena dia sudah kebelet, dia langsung berlari ke kamar mandi. Setelah keluar kamar mandi, barulah dia sadar kalau sekarang dia sudah menikah.


Vera tersenyum saat menyadari dia bukan lagi gadis, tapi wanita yang sudah bersuami. Dia harus sudah terbiasa tidur seranjang dengan suaminya. Vera berjalan perlahan menuju tempat tidurnya. Untungnya, Damian sudah tertidur, kalau tidak dia pasti akan sangat malu.


Dengan sangat pelan dia naik ke atas ranjang lalu merebahkan diri di samping suaminya. Dia berbaring miring menghadap suaminya yang tampak lelap. Vera merasa sangat beruntung memiliki suami yang sangat tampan dan memiliki bentuk tubuh yang ideal.


Vera menyentuh kening Damian dengan jari telunjuknya. Dia meraba melewati tanjakan hidung yang mancung, lalu turun ke bibirnya yang seksi.

__ADS_1


Tampan sekali. Aku tidak percaya jika semua keindahan ini milikku, batin Vera sambil tersenyum gemas.


"Sudah puas pandanginya?" tanya Damian yang tiba-tiba membuka mata.


Hal itu tentu saja membuat Vera gugup dan malu. Vera menunduk dan wajahnya memerah karena malu. Damian lalu duduk dihadapan Vera sambil mengangkat dagu Vera.


"Mulai sekarang, orang yang ada di hadapanmu ini, adalah milikmu. Kamu mau melakukan apa saja, terserah kamu," ucap Damian sambil tersenyum.


"Apa saja? Boleh cubit, boleh gigit, boleh pukul, boleh injak, boleh tendang, boleh ...," ucap Vera pura-pura bodoh.


"Stop! Kamu pikir suamimu ini bola? Kamu tidak ingat, tadi kamu sudah tendang aku hingga jatuh? Rasanya sakit sekali. Sakit, tidak hanya badanku tapi juga hatiku," ucap Damian sambil menutup mulut Vera dengan telapak tangannya.


"Pak Damian. Kamu panggil aku, Pak? Apa kamu juga ingin aku panggil, ibu Guru?" tanya Damian dengan wajah cemberut.


"Maaf lagi. Aku harus panggil apa?" tanya Vera.


"Panggil saja sesukamu. Yang penting kamu nyaman," ucap Damian tiba-tiba serius.


Damian menatap wajah Vera dengan tatapan lembut. Vera sendiri, menjadi gugup karena wajah mereka yang begitu dekat. Vera bertambah panik ketika Damian lebih mendekatkan wajahnya. Dan Vera tampak gelagapan saat Damian mencium bibirnya. Meskipun tidak lama, hanya menyentuh saja bibir dengan bibir, tapi itu sudah membuat jantung Vera berdetak lebih cepat.


Vera merasa, jika Damian sengaja memancingnya untuk membalasnya. Vera ragu untuk bertindak, tetapi Vera ingin melihat apa yang akan dilakukan Damian saat dia benar-benar memperlakukan Damian sesukanya.

__ADS_1


Vera mengalungkan kedua tangannya ke leher Damian yang tampak terkejut dengan ulah Vera. Tetapi, Vera tidak peduli dengan apa yang dipikirkan Damian. Vera lalu mencium pipi Damian, kiri dan kanan berulang kali.


Apa yang dilakukan Vera membangkitkan gairah Damian yang tertahan karena kegugupannya. Damian kini yang lebih agresif memperlakukan Vera dengan mesra. Tidak hanya mencium pipi seperti yang dilakukan Vera, Damian lebih berani dengan menciumi leher Vera hingga Vera tidak bisa menolak pesona Damian.


Malam pertama yang sangat berkesan bagi Damian. Damian bisa merasakan keindahan berumah tangga dengan memiliki Vera. Setelah melalui banyak perjuangan, akhirnya wanita yang dia cintai menjadi milik dia seutuhnya.


Keesokan harinya, Vera tampak sedih. Dia duduk bersandar di sandaran ranjang. Ada sesuatu yang membuat dia menitikkan air mata.


"Vera, kamu kenapa? Kamu membuatku merasa bersalah. Apa aku menyakitimu?" tanya Damian bingung.


"Sakit ...," jawab Vera sambil menghela napas pelan.


"Apakah masih sakit? Maafkan aku, aku pikir rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya," ucap Damian sambil menggenggam tangan Vera.


"Kenapa orang-orang selalu menunggu malam pertama, padahal ternyata malam pertama rasanya sakit?" tanya Vera sambil menunduk sedih.


"Vera, jangan berkata begitu. Kamu tidak sendirian, aku juga sakit. Tapi, aku mohon, jangan trauma. Aku yakin, di waktu yang lain tidak akan sakit lagi," ucap Damian takut jika sampai Vera trauma, dia pasti yang akan kelabakan.


Vera mengiyakan saja perkataan suaminya. Biarpun dia tidak seratus persen percaya. Apalagi, saat dia juga bilang, kalau dia juga merasakan hal yang sama. Padahal menurut Vera, Damian sangat menikmatinya tanpa keluhan.


Pembohong, batin Vera.

__ADS_1


__ADS_2