
Setelah memastikan semuanya beres, Fan Jianying pun segera meluncur ke istana bersama Dayu dan Hira yang setia mendampinginya.
Jantung Fan Jianying berdegub sangat kencang ketiga gerbang istana sudah ada didepan mata.
Diapun terlihat beberapa kali menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
“ Tidak apa – apa…tenanglah…semua pasti akan berjalan lancar dan baik – baik saja….”, batin Fan Jianying mensugesti dirinya.
Setelah tiba, Fan Jianying ternyata sudah ditunggu oleh pelayan pribadi permaisuri Wei yang datang menjemputnya sendiri di depan gerbang.
Ketiganya segera mengikuti wanita tua yang berjalan mendahului mereka untuk menunjukkan lokasi dimana permaisuri Wei sudah menunggu.
Bukan hanya Fan Jianying yang terlihat gugup, permaisuri Wei juga merasakan hal yang sama. Bahkan dia terlihat berjalan mondar – mandir didalam kediamnnya sambil meremas kedua tangannya yang sedingin es.
“ Bagaimana ini…jika dia benar putriku, apa yang harus aku lakukan ?....apa yang harus aku katakan padanya ?....”, batin permaisuri Wei gelisah.
Permaisuri Wei segera membenahi bajunya dan merubah ekspresi wajahnya begitu pelayan mengatakan kedatangan Fan Jianying.
Dengan senyum merekah di wajahnya, dia menyambut Fan Jianying dengan sangat ramah dan segera mengajaknya ke teras samping kediamannya yang menghadap kearah kolam ikan yang sangat besar dan indah..
Setelah memberi hormat, Fan Jianyingpun segera memberikan kudapan yang tadi sudah disiapkan sebagai hadiah buat permaisuri Wei karena mendapat kehormatan diundang untuk masuk kedalam istana.
Permaisuri Wei yang ramah segera membuka obrolan, mulai dari pembicaraan ringan tentang berbagai macam kudapan yang telah dia nikmati sampai dengan kehidupan sehari - hari yang dia jalani.
Pembawaan permaisuri Wei yang luwe dan akrab membuat Fan Jianying mulai merasa nyaman dan mereka berdua pun akhirnya bercengkerama dengan bahagia.
Fan Jianying sedikit menoleh waktu menyadari jika ada seseorang yang sedang mengawasinya. Permaisuri Wei yang melihat gelagat yang ditunjukkan oleh gadis yang ada dihadapannya itu segera mengedarkan pandangannya mengikuti kemana arah mata Fan Jianying menuju.
Begitu dia sadar siapa obyek yang mereka lihat, permaisuripun tersenyum simpul dan menagngkat satu tangannya untuk memanggil pelayannya.
“ Ajak putri kesini….”, ucap permaisuri Wei lembut.
Dari balik pohon sakura yang tak jauh dari tempat dimana permaisuri Wei dan Fan Jianying bercengkerama, putri Wei Xieun yang mendengar jika madam ketiga Bai tersebut datang segera menuju tempat pertemuan dan diam – diam mengintai.
Putri Wei Xieun sangat penasaran kenapa ibundanya tersebut mengundang Fan Jianying secara pribadi untuk masuk kedalam istana.
Suatu hal yang sangat langkah menurutnya dan tentu saja tindakan ibundanya yang tak biasa tersebut memancing kecurigaan dalam dirinya.
“ Salam putri…permaisuri memerintahkan putri untuk bergabung…”, ucap pelayan dengan hormat.
__ADS_1
Putri Wei Xieun yang memang sedari tadi sudah sangat ingin bergabung, mendengar undangan ibundanya diapun segera melangkah menuju tempat pertemuan dengan dagu terangkat.
“ Salam hormat ibunda permaisuri…madam ketiga Bai….”, ucap putri Wei Xieun sopan.
Diapun segera duduk disamping ibundanya dengan anggun dan kepala sedikit terangkat. Hal itu tentu saja membuat permaisuri Wei tersenyum melihat tingkah kekanak – kanakan dari sang putri.
Namun kepala putri Wei Xieun tidak bisa terangkat lama, sedetik kemudian dia segera menunduk dengan kedua mata berbinar begitu melihat kudapan cantik yang ada diatas meja.
Karena terburu – buru ingin memakan kudapan tersebut, tak sengaja tangannya menyenggol teh yang ada diatas meja hingga membuat gaun yang di gunakan oleh Fan Jianying basah.
“ Maaf, aku tak sengaja…”, cicit putri Wei Xieun sedikit takut waktu melihat ibundanya melotot tajam kearahnya.
Permaisuri Wei yang melihat kejadian ini adalah kesempatan untuk dirinya melihat tanda lahir di punggung Fan Jianying, tak melepasnya begitu saja.
“ Putriku terlalu ceroboh…pelayan, bawa madam ketiga Bai untuk berganti pakaian…”, ucap permaisuri Wei sambil merasa tak enak.
Dengan ramah Fan Jianying menolak niat baik permaisuri Wei. Karena ini hanya sedikit basah jadi dia tak perlu untuk mengganti pakaian yang digunakannya.
Putri Wei Xieun yang tidak tahu apa – apa hanya menuruti perintah ibundanya waktu menyuruhnya untuk menemani Fan Jianying berganti pakaian.
Fan Jianying yang merasa tidak enak akhirnya menuruti keingginan dari permaisuri Wei, meski dirinya masih merasa ada yang aneh dari sikap ibunda pangeran Wei Jie tersebut.
Sambil melangkah menuju ke kediaman putri Wei Xieun untuk berganti pakaian, tak lupa Fan Jianying terus menebarkan jaringnya, memindai lokasi yang ada dalam istana yang dilaluinya.
Ratu Qinly tak bisa menyembunyikan raut keterkejutannya waktu menyadari wajah gadis yang bersama putri Wei Xieun sangat mirip dengan permaisuri Wei ketiga masih muda.
“ Siapa gadis itu ?...”, tanya Ratu Qinly penasaran.
“ Menjawab Ratu…dia adalah madam ketiga Bai yang datang ke istana atas undangan pribadi permaisuri….”, ucap pelayannya dengan sikap hormat.
“ Cari tahu, kenapa permaisuri mengundangnya ke istana…”, ucap Ratu Qinly dan bergegas meninggalkan pelataran Heluo Palace.
Sementara itu, putri Wei Xieun mengambilkan gaun baru yang belum pernah dipakainya dan memberikannya kepada Fan Jianying.
“ Apa ini ?...bentuknya sangat indah…”, ucap putri Wei Xieun takjub.
Dia mengusap lembut tanda lahir berbentuk kupu – kupu merah darah yang ada dipunggung kiri Fan Jianying.
“ Itu sejenis tanda lahir putri…saya sudah memilikinya sejak lahir…”, ucap Fan Jiangying ramah.
__ADS_1
“ Aku kira ini sengaja kamu lukis,karena sangat cantik…”, putri Wei Xieun terus memuji dengan tatapan kagum.
Fan Jianying yang menyadari jika ada seseorang yang mencuri dengar pembicaraannya segera menyuruh Hira untuk menangkapnya.
Hira yang mengerti isyarat tersebut segera membereskan seseorang yang sedang mengintai madam ketiganya.
Setelah berganti pakaian, keduanya segera kembali ketempat pertemuan dimana permaisuri masih menunggu.
Di kediamanannya, Ratu Qinly terlihat marah waktu mengetahui jika pelayan yang disuruh untuk mengintai madam ketiga Bai menghilang tanpa jejak.
Diapun segera memerintahkan bawahannya untuk mencari keberadaan pelayan tersebut diseluruh istana.
“ Aku sudah yakin ada seseuatu yang tidak beres waktu permaisuri tiba – tiba keluar istana kemarin….”, guman Ratu Qinly sambil mengepalkan kedua tangannya penuh amarah.
Diapun segera memerintahkan pengawal rahasianya untuk menyelidiki Fan Jianying. Dia harus segera membunuh gadis itu jika perkiraannya benar.
Fan Jianying yang sudah keluar dari istana segera menuju tempat dimana Hira menyekap pelayan wanita yang telah mengintainya tersebut.
“ Siram wajahnya agar bangun…”, perintah Fan Jianying tajam.
Hirapun segera menyiramkan sebotol air yang dibawahnya hingga pelayan wanita tersebut sadar dan bergerak mundur.
Pelayan wanita tersebut terlihat ketakutan waktu melihat sorot mata Fan Jianying yang menatapnya dengan tajam.
Karena pelayan wanita yang ada dihadapannya tersebut tidak mau berbicara, terpaksa dia harus menggunakan cara lainnya.
Dia segera mengambil satu buah pil kejujuran yang sudah dia siapkan tadi saat sedang berganti pakaian dan menyadari ada seseorang yang mengintainya.
Pelayan wanita tersebut terlihat meronta waktu Fan Jianying dengan kasar mencengkeram wajahnya dan memasukkan satu buah pil untuk dia telan.
Setelah memastikan bahwa obat yang dia masukkan sudah tertelan, Fan Jianyingpun kembali duduk diatas kursinya sambil mengeluarkan smirk devilnya.
“ Apa yang tadi aku telan ?....apa ini racun ?...oh tidak, aku masih tidak ingin mati sekarang ?...”, batin pelayan wanita tersebut ketakutan.
Dengan bantuan pil tersebut Fan Jianying mendapatkan informasi jika Ratu Qinly sedang menyelidikinya.
Fan Jianying terlihat memutar bola matanya dengan cepat, memikirkan semuanya. Setelah permaisuri, sekarang Ratu Qinly mencurigainya.
" Ada apa ini sebenarnya ?...kenapa menjadi rumit seperti ini ?...", batin Fan Jianying sedikit kesal.
__ADS_1
Tidak ingin menambah masalah diapu segera memerintahkan Hira untuk melenyapkan pelayan wanita itu.
“ Bereskan dia !!!...”, perintah Fan Jianying tegas.