
Setelah mengalami mimpi aneh hingga membuatnya tak sadarkan diri dan sakit, Fan Jianying terus mengalami hal serupa selama tiga hari berturut – turut.
“ Apa ini suatu pertanda ?...tapi apa ?....”, batin Fan Jianying gelisah.
Tidak ingin membiarkan semuanya berlarut – larut, Fan Jianying yang ingin segera mendapatkan jawaban dari mimpinya memerintahkan Dayu untuk memanggil tabib Shilin.
Setidaknya, dia bisa berkonsultasi dengan pemuda tersebut karena hanya tabib Shilin lah yang sudah mengetahui rahasia terbesar yang ada dalam dirinya.
Meski tak mempertanyakan apapun, Dayu keluar dari kediaman dengan hati gelisah. Meski dia sudah mengetahui jika sejak kecil nona mudanya itu memiliki tubuh yang lemah dan sering sakit.
Tapi dia tidak pernah mendapati nona mudanya itu mengalami sakit seperti yang terjadi beberapa hari terakhir ini.
Dayu yang tidur di kamar yang bersebelahan dengan Fan Jianying, tiap tengah malam selalu terbangun setelah mendengar suara teriakan dari nona mudanya.
Beberapa kali dia mencoba untuk membangunkan Fan Jianying, namun gadis itu sama sekali tidak terbangun dan terus mengigaukan kata – kata yang sangat aneh.
Pada awalnya, Dayu ingin meminta bantuan pelayan senior Gaeng. Tapi entah kenapa hatinya ragu dan memilih untuk merawat nona mudanya seorang diri.
Sepanjang malam selama tiga hari ini Dayu dengan setia selalu menyeka keringat dingin yang mengucur deras dari tubuh Fan Jianying setiap mengalami mimpi buruk itu.
Bahkan dia harus menganti pakaian nona mudanya itu beberapa kali karena basah oleh keringat deras yang mengucur di tubuhnya setiap mimpi buruk tersebut berlangsung.
Pangeran Wei Jie yang ingin pergi ke kediaman keluarga Bai segera menghentikan kereta kudanya begitu melihat pelayan pribadi Fan Jianying keluar dari dalam kediaman Bai dan berjalan dalam keadaan linglung.
“ Dayu...”, panggil pangeran Wei Jie sedikit cemas.
“ Yang…Yang Mulia…”, ucap Dayu gagap.
Diapun segera berlutut untuk memberikan penghormatan kepada pangeran Wei Jie namun belum juga kakinya menyentuh tanah, tubuhnya sudah langsung ditahan.
Menyadari hal itu, Dayupun segera berdiri tegak dan sedikit membungkuk dengan sikap hormat sambil menunduk.
“ Mau kemana ?...” , tanya pangeran Wei Jie menyelidik.
“ Sa…saya mau ketempat tabib Shilin…”, ucap Dayu cepat.
Pangeran Wei Jie sedikit menaikkan alisnya waktu mendengar nama tabib Shilin keluar dari mulut Dayu.
Diapun berinisiatif untuk mengantarkan Dayu menjemput tabib Shilin karena kebetulan dia juga berniat untuk menjenguk sang adik yang statusnya masih menjadi rahasia tersebut.
Karena terus dipaksa, Dayu pun tidak bisa menolak akan niat baik tabib Shilin kepadanya. Mereka berduapun segera menuju tempat praktek tabib Shilin menggunakan kereta kuda milik pangeran Wei Jie.
__ADS_1
“ Apa sakit madam ketiga Bai parah ?...”, pangeran Wei Jie tak bisa menutupi rasa cemas dihatinya.
Sejak mendengar dari adiknya, putri Wei Xieun jika Fan Jianying sakit, hati pangeran Wei Jie selalu gelisah.
Tapi karena masih banyaknya urusan mendesak yang harus segera diselesaikannya, dia baru bisa berkunjung ke kediaman Bai hari ini.
“ Kondisi tubuh nona masih lemah dan wajahnya semakin hari semakin pucat. Setiap malam juga nona tidak bisa tidur nyenyak karena selalu bermimpi buruk…”, ucap Dayu sedih.
“ Mimpi buruk ?...”, ucap pangeran Wei Jie penuh selidik.
Dayupun kemudian mulai menceritakan tentang mimpi buruk yang dialami oleh Fan Jianying selama dia sakit.
“ Long Wang…sang Ratu…hutan kematian….burung phoenix…dan hal – hal aneh lainnya yang saya tidak bisa mendengar dengan jelas karena nona hanya berguman lirih….”, ucap Dayu berusaha menjelaskan apa yang didengarnya beberapa hari terakhir ini waktu mendapati sang nona sedang bermimpi buruk.
“ Setelah mengucapkan kata – kata itu nona akan terlihat sangat kesakitan dan keringat dingin langsung mengucur deras diseluruh tubuhnya. Mimpi buruk itu berlangsung mulai tengah malam hingga dini hari. Dan….dan nona terlihat sangat kesakitan….”, Dayu berkata sambil menangis.
Dia tak tega jika tiap malam harus melihat nona mudanya menderita seperti itu. Dayu yang penasaran memberanikan diri untuk bertanya, namun Fan Jianying juga tak bisa menjelaskan banyak hal.
Untuk itu dia memerintahkan Dayu agar menjemput tabib Shilin, siapa tahu pemuda tersebut memiliki jawaban atas pertanyaannya.
Pangeran Wei Jie terdiam sesaat setelah mendengar cerita Dayu. Diapun menyadari jika mimpi yang dialami oleh Fan Jianying bukanlah bunga tidur seperti pada umumnya, tapi suatu pertanda yang dia sendiri tidak mengetahui apa itu.
Keheningan yang menyelimuti dalam kereta tiba – tiba pecah saat kusir mengatakan jika mereka sudah sampai di tempat tabib Shilin.
Tabib Shilin yang baru saja membuka tempat parkteknya dan terlihat sedang membenahi meja kerjanya sangat terkejut melihat kedatangan Dayu sepagi ini.
“ Apa kondisi madam ketiga Bai memburuk ?...”, tanya tabib Shilin dengan mata melotot.
Dayupun mulai menceritakan semua hal seperti yang dia ceritakan kepada pangeran Wei Jie didalam kereta dengan air mata bercucuran.
Tabib Shilin sangat terkejut mendengar semua hal yang diucapkan oleh Dayu. Diapun segera mencari botol obat yang sudah disimpannya cukup lama.
“ Apakah dia sang terpilih ?...”, batin tabib Shilin penasaran.
Setelah mengambil tiga botol obat yang dicarinya dan memasukkannya kedalam tas obat. Tabib Shilin bersama Dayu bergegas pergi ke kediaman keluarga Bai.
“ Jika dia benar sang terpilih, maka aku harus segera memberikannya obat ini…”, batin tabib Shilin cemas.
Tabib Shilin kembali terkejut waktu mengetahui jika Dayu datang bersama dengan pangeran Wei Jie.
Tidak ingin membuang waktu, diapun segera naik keatas kereta dan berharap dugaannya tepat hingga obat yang dibawanya ini bisa meredakan rasa sakit yang diderita oleh Fan Jianying.
__ADS_1
Selama perjalanan, ketiga hanya terdiam tanpa ada satupun yang berbicara. Semuanya terlihat fokus pada pikirannya masing – masing hingga tak terasa kereta kuda sudah sampai di depan pintu gerbang kediaman keluarga Bai.
Tanpa banyak bicara, ketiga segera melesat masuk menuju kediaman tuan muda ketiga Bai. Sesampainya di kediaman, pelayan senior Gaeng segera mengantarkan tabib Shilin kedalam kamar madam ketiga Bai.
Sementara Dayu menjamu pangeran Wei Jie dengan secangkir teh hangat dan kudapan yang entah sejak kapan dibuat oleh nona mudanya itu.
Ini adalah satu hal aneh yang dialami oleh Dayu selama beberapa hari terakhir. Nona mudanya sedang terbaring sakit diatas ranjang.
Tapi, kudapan untuk Impereal Restoran dan beberapa disajika didalam rumah selalu ada. Padahal dia sangat yakin jika nona mudanya tersebut selama sakit tidak sedikitpun menginjakkan kaki di dalam dapur.
Tanpa Dayu sadari, Fan Jinying selama ini membekukan kudapan yang telah dibuatnya dan disimpannya didalam cincin ruangnya.
Hal itu digunakan jika suatu saat dirinya sibuk hingga tak ada waktu membuat kue untuk menu direstorannya, dia masih ada stok.
Hanya dengan mengukusnya saja, maka beraneka macam kudapan sudah bisa tersaji hangat di Impereal Restoran.
Pengeran Wei Jie yang hendak menyantap kudapan cantik yang ada dihadapannya segera menghentikan aktivitasnya waktu melihat Dayu kembali linglung sambil menatap kudapan cantik yang ada diatas meja.
Setelah tersadar dari lamunannya, Dayu pun mulai mengutarakan apa yang menjadi beban pikirannya dan kecurigaannya tentang asal kudapan tersebut.
Sejenak pangeran Wei Jie terlihat mengkerutkan kening cukup dalam waktu kembali mendengar hal aneh yang keluar dari mulut Dayu.
Karena rasa penasaran, pangeran Wei Jie pun mencoba memakan satu buah kudapan cantik yang tersaji dihadapannya tersebut.
“ Rasanya masih sama…masih lezat seperti biasa dan tidak ada perbedaan apapun…”, batin pangeran Wei Jie sambil menyuapkan potongan kedua kue kedalam mulutnya.
Dia kembali mengunyah sambil merasakan setiap tekstur kue yang dia makan saat ini. Dia sama sekali tidak merasakan keanehan apapun disana.
“ Rasa masih lezat seperti biasa…”, ucap pengeran Wei Jie sambil terus mengunyah.
“ Nah…karena hal itu saya merasa aneh. Yang jadi pertanyaan, siapa yang membuat kue itu, sedangkan nona masih sakit. Semua pelayan saya tanyai juga tidak ada yang tahu ?...”, ucap Dayu sambil mengetuk – ngetukkan telunjuknya di dagu.
“ Mungkin ada salah satu pelayan yang dia rahasiakan untuk membuat kue ini….”, pangeran Wei Jie mulai berpendapat.
“ Tapi siapa ?...yang saya tahu, selama ini hanya saya dan pelayan senior Gaeng yang sangat dekat dengan nona…”, ucap Dayu kembali berpikir.
Keduanya pun mulai terdiam memikirkan teka – teki tersebut. Tentang siapa sebenarnya pelayan yang diberikan kepercayaan oleh nona mudanya itu untuk membuat kue.
“ Siapapun itu, dia pasti orang yang special karena nona memberikan resep rahasia kepadanya…”, batin Dayu sedih.
Selama ini dia mengira jika dirinya adalah orang terdekat dan paling dipercaya oleh nona mudanya.
__ADS_1
Tapi setelah mendapat asumsi seperti itu, dia jadi sedih karena ternyata nona mudanya memiliki pelayan lain yang sangat dia percayai dan Dayu tidak mengetahuinya.
“ Tidak…nona tidak mungkin seperti itu…mungkin aku hanya terlalu lelah saja…”, batin Dayu berpositif thinking.