
Awal musim semi yang penuh warna. Bunga persik yang tumbuh subur dihalaman tertiup angin yang berhembus sepoi – sepoi di pagi hari.
Kelopak merah muda itu berputar – putar di udara dan terbang kearah jendela yang terbuka dan jatuh diatas rambut Fan Jianying yang sedang memejamkan kedua matanya sambil menghirup udara pagi hari yang masih segar.
Sinar mentari mulai menyapa kulitnya yang seputih salju dan memberikan kehangatan bagi tubuh gadis cantik itu.
Bai Cheung yang baru saja masuk kedalam kamar kembali terpesona untuk kesekian kalinya akan keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini.
Perlahan, dia ambil kelopak bunga persik yang ada dirambut sang istri sambil memeluknya dari belakang.
“ Selamat pagi istriku….bagaimana pagimu hari ini ?....”, ucap Bai Cheung lembut.
Mendengar suara suaminya, Fan Jianying pun tersenyum kepada Bai CHeung sambil berkata “ Pagiku luar biasa hari ini, semua berkat kamu suamiku….”.
Fan Jianying mulai mengingat kembali semua hal yang dilakukan oleh Bai Cheung kemarin. Bagaimana dengan lembut dan sabarnya sang suami merawat dan melayani kebutuhan makan dan minumnya.
Bai Cheuang juga mengganti kasur dan bantal serta sprei yang ada diranjang agar istrinya bisa tidur dengan nyaman.
Menyalakan lilin aroma terapi dibeberapa sudut ruangan agar kualitas tidur Fan Jianying bisa terjaga. Hingga menjadi suami siap siaga sepanjang malam.
Meski lelah, namun Bai Cheung merasa bahagia karena pagi ini istrinya bangun dengan wajah berseri merah merona.
“ Hari ini aku ada beberapa urusan dipengadilan. Jadi aku mungkin baru kembali kerumah sore hari.….”, ucap Bai Cheung menjelaskan rencananya hari ini.
Setelah mengucapkan hal tersebut, Bai Cheungpun segera berjongkok dihadapan istrinya sambil membelai lembut perut Fan Jianying yang masih rata.
“ Ayah akan pergi bekerja dulu ya sayang….jaga baik – baik ibunda dirumah dan jangan buat ibunda kesusahan….”, ucap Bai Cheung sambil mengecup perut Fan Jianying dengan penuh cinta.
Fan Jianying terlihat sangat terharu menyaksikkan moment tersebut. Selama ini dirinya tak pernah membayangkan jika Bai Cheung akan menjadi lembut dan penuh perhatian seperti itu.
Dulu, pernikahan adalah hal yang masih jauh untuk dipikirkan. Tapi sekarang, didalam dunia asing ini dia sudah memiliki keluarga kecil sendiri.
Dan sekarang, ada makhluk kecil yang perlahan tumbuh dalam perutnya. Suatu moment yang sama sekali tak pernah di bayangkan.
“ Serahkan semua urusan restoran pada servant Meilin. Kamu jangan terlalu capek… Jika ada apa – apa kamu bisa menyuruh Hira atau Heyna untuk memanggilku….”, ucap Bai Cheung sambil mengecup kening istrinya dengan lembut.
Cup….cup…cup…
Kecupan Bai Cheung dari kening turun ke kedua mata, hidung, pipi kiri dan kanan, yang terakhir adalah bibir munggil Fan Jianying yang dikecupnya beberapa kali.
“ Jika suami begini terus…akan terlambat….”, ucap Fan Jianying dengan kedua pipi merona.
Diapun segera mendorong tubuh suaminya agar segera keluar dari kamar dan berangkat kepengadilan.
Bai Cheung terlihat beberapa kali menoleh ke belakang untuk memandang wajah sang istri yang terlihat sangat mengemaskan pagi ini.
__ADS_1
Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah pergi hingga tepukan pelan Liam mulai menyadarkannya dan mempercepat jalannya.
“ Ahhh….Kenapa dia sangat mengemaskan begini sih, membuatku enggan untuk pergi meninggalkannya....”, batin Bai Cheung frustasi.
“ Sebaiknya tuan muda segera pergi kepengadilan dan menyelesaikan tugas yang ada secepatnya agar tuan muda bisa kembali cepat ke kediaman…. ”, ucap Liam mengingatkan.
Mendengar ucapan pengawal pribadinya tersebut, Bai Cheung pun segera naik keatas kudanya dan langsung melaju cepat menuju pengadilan istana.
Bukan hanya keluarga Bia yang bersuka cita menyambut kabar bahagia atas kehamilan Fan Jianying.
Hal ini juga terjadi di Heluo palace. Karena tidak memungkinkan bagi permaisuri Wei untuk datang ke kediaman Bai.
Maka dia akan mengundang Fan Jianying untuk masuk kedalam istana jika kondisi putrinya tersebut sudah memungkinkan untuk keluar kediaman.
Heluo palace sudah sejak pagi dihias agar menjadi cantik setelah semalam permaisuri Wei mendengar dari putrinya, Wei Xieun jika Fan Jianying saat ini sedang mengandung.
Jika semua orang terlihat berbahagia lain hal nya dengan pangeran Wei Jie. Semalaman dia tak bisa tidur memikirkan kado apa yang akan dia berikan kepada sang adik.
Belum juga dia menemukan kado yang tepat untuk ulang tahun Fan Jianying yang tinggal beberapa hari itu.
Sekarang kabar jika adiknya itu sedang mengandung membuat kepalanya sedikit pusing karena dia harus memberikan hadiah ganda untuk sang adik dan calon keponakan yang ada didalam kandungannya itu.
“ Kira – kira Fan’er suka apa ya ?....”, batin pangeran Wei Jie gelisah.
Tiba – tiba kedua bola mata pangeran Wei Jie bersinar cerah waktu melihat sosok Bai Cheung lewat dihadapannya.
Bai Cheung segera menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Dia sedikit menaikkan satu alisnya waktu melihat kakak iparnya itu berlari sambil tersenyum kepadanya.
“ Ada apa dengannya ?...apa kepalanya kepentok sesuatu ?....”, batin Bai Cheung sambil mengamati pangeran Wei Jie dari atas kebawah dengan tatapan heran.
“ Cheung, apa kau sibuk ?....”, tanya pangeran Wei Jie basa - basi.
“ Jika ada hal yang ingin kau katakan, ikut keruanganku….”, ucap Bai Cheung sambil berbalik dan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ruangannya.
Bai Cheung saat ini berada dalam kementrian ekonomi dan diplomatik setelah Wang Ho dan kakaknya Bai Wang ditahan.
Pada awalnya Bai Cheung tidak mau berada di posisi tersebut, namun kaisar Huang terus mendesaknya dan mengatakan jika bidang tersebut sesuai dengan dirinya.
Selain itu, jika dia berada dalam pemerintahan maka kemungkinan dirinya untuk kembali berperang atau pergi kewilayah perbatasan seperti kakak dan ayahnya sangatlah kecil.
Hal ini dilakukan oleh kaisar Huang demi putrinya, Fan Jianying. Agar gadis itu bisa menetap ke ibukota, apalagi setelah mendapatkan kabar jika putrinya saat ini sedang hamil membuat kaisar Huang semakin memaksa Bai Cheung agar bertahan di ibukota.
Dia tidak mau selama proses kehamilan ini Bai Cheung pergi bertugas jauh. Meski Fan Jianying memiliki kemampuan hebat dan mandiri, namun kondisi ibu hamil itu berbeda dengan wanita muda normal pada umumnya.
Wanita muda yang sedang hamil akan lebih sensitive dan membutuhkan perhatian yang lebih, terutama dari suaminya.
__ADS_1
Sementara itu, pangeran Wei Jie yang sudah berada dalam ruang kerja Bai Cheung terlihat duduk manis diatas kursinya.
“ Apa yang kau inginkan….katakanlah….”, ucap Bai Cheung datar.
Pangeran Wei Jie pun mulai menceritakan kegundahan hatinya selama beberapa hari terakhir ini. Mendengar ucapan kakak iparnya itu, Bai Cheung tak dapat untuk tidak terkejut.
Namun sebisa mungkin raut wajahnya dibuat sedatar mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan pangeran Wei Jie.
“ Fan’er akan berulang tahun….bodohnya aku, kenapa hal penting seperti ini aku sampai tidak tahu…. ”, batin Bai Cheung meruntuki kebodohannya.
Menyadari fakta tersebut Bai Cheung merasa jika dirinya masih belum mengenal lebih dalam tentang istrinya.
Untuk itu mulai sekarang dia akan bertekad untuk mencari informasi apapun mengenai sang istri agar kesalahan kecil seperti ini tidak akan terulang lagi.
“ Setahuku, Fan’er paling suka dengan makanan. Untuk pakaian dan perhiasan, sepertinya dia tidak terlalu menyukainya….”, ucap Bai Cheung sambil mencoba mengingat – ingat lagi apa kesukaan sang istri yang dia ketahui.
“ Makanan….maksudmu adikku tukang makan gitu ?....”, ucap pangeran Wei Jie tak senang.
“ Bukan…bukan seperti itu maksudku….”, ucap Bai Cheung membela diri setelah melihat ekspresi pangeran Wei Jie yang tak biasa.
“ Maksudku…Fan’er sangat menyukai hal – hal yang berhubungan dengan makanan dan proses pembuatannya. Seperti waktu itu, dia mendapatkan resep fermentasi susu dari ibunda. Aku lihat dia sangat bahagia sekali saat itu. kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya seolah – olah dia mendapatkan emas berlian ditangannya….”, ucap Bai Cheung menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman.
Dia kembali mengingat wajah bahagia sang istri waktu ibundanya tersebut bersedia berbagi resep fermentasi susu kepadanya.
Ekspresinya sangat lain waktu dia mendapatkan aneka perhiasan dan pakaian bagus yang terlihat biasa saja.
“ Jika seperti itu….sepertinya akan sedikit sulit….”, ucap pangeran Wei Jie sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
Siapapun di ibukota tahu jika Fan Jianying sangat ahli dalam membuat aneka macam makanan dan kudapan yang selama ini tidak pernah ada di kota Huangwe.
Jadi, sangat mustahil baginya untuk membeli resep dari koki lain yang kemampuannya dibawah standart sang adik
“ Bagaimana jika aku menghadiahi bahan obat – obatan yang langkah. Aku dengar dari tabib Shilin adik sangat berbakat membuat pil dan ramuan….”, ucap pangeran Wei Jie bersemangat.
“ Sepertinya, itu ide yang bagus….”, ucap Bai Cheung sambil menggetuk – nggetukkan jarinya keatas meja beberapa kali.
Setelah mengetahui hadiah apa yang akan dia berikan untuk ulang tahun sang adik, pangeran Wei Jie pun bergegas keluar ruangan untuk pergi keluar bersama Zoelu.
Kali ini dia akan mendatangi pasar gelap, karena disana biasanya ada bahan obat yang sangat langkah untuk di lelang.
Setelah kepergian pangeran Wei Jie, kini giliran Bai Cheung yang terlihat sedang melamun. Dia mulai berpikir keras tentang hadiah apa yang akan diberikannya untuk sang istri.
Karena ini adalah pertama kalinya dia memberi hadiah untuk seorang wanita, mesti itu adalah istrinya sendiri namun Bai Cheung masih merasa kebinggungan.
“ Kurasa aku akan coba menanyakan langsung kepada Fan’er tetang apa yang sedang diinginkannya saat ini….”, batin Bai Cheung sedikit lega karena mendapatkan solusi yang terbaik menurutnya.
__ADS_1
Diapun segera menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk diatas mejanya agar bisa secepatnya pulang dan bertemu istri tercinta.