
Dalam kegelapan malam, diantara semak – semak terlihat banyak mata berwarna merah menyala menatap seorang gadis yang terlihat sedang berjalan seorang diri dengan pedang ditangannya.
Suara raungan hewan buas dan gelapnya malam tidak membuatnya takut dan terus berjalan maju kedepan meski banyak pasang mata mengintai setiap pergerakannya.
Gadis tersebut melangkah dengan penuh waspada terhadap sekelilingnya hingga tiba – tiba semburan api muncul diudara membuatnya segera melompat mundur secara spontan.
“ Long Wang….”, guman Fan Jianying terkejut.
Diapun kembali bersikap waspada pada saat naga tersebut kembali menyemburkan api dari mulutnya dan mulai menyerangnya.
Gerakan Fan Jianying yang lincah tampaknya sama sekali tak berpengaruh pada Long Wang yang terus saja menyerangnya dengan membabi buta.
Beberapa kali terlihat tubuh Fan Jianying terpental dan jatuh ketanah dengan keras, namun hal itu tak membuat nyalinya menciut.
Fan Jianying terus menyerang Long Wang dari berbagai sisi sambil menghindari semburan api yang dikeluarkan dari mulut naga tersebut sambil berusaha untuk mencari titik lemahnya.
“ Sial !!!...aku tak boleh kalah !!!...”, ucap Fan Jianying geram.
Dia tak menghiraukan luka yang ada disekujur tubuhnya dan terus saja menyerang Long Wang menggunakan pedang biru yang ada ditangannya.
Pada saat Fan Jianying yang sudah terlihat kepayahan berusaha untuk bangkit, dari arah belakang tiba – tiba muncul burung phoenix emas datang menolongnya.
Fan Jianying yang sudah kehabisan energi hanya melihat burung phoenix emas tersebut menyerang Long Wang bertubi - tubi.
Sama - sama memiliki kekuatan api, keduanya terlihat mengeluarkan kekuatan tersebut untuk saling menyerang.
Untuk sementara waktu kedudukan keduanya seimbang. Namun karena ukuran burung phoenix emas yang lebih kecil dari sanga naga dan memiliki gerakan yang gesit.
Samar – samar Fan Jianying melihat jika burung phoenix tersebut mengetahui kelamahn sang naga dan mulai mematuk kedua mata sang naga bertubi – tubi sebelum dirinya jatuh pingsan.
“ Nona….nona….bangunlah….”, ucap Dayu sambil menguncang lengan Fan Jianying berulang kali.
Tidak mendapat respon, Dayupun mulai berteriak memanggil pelayan senior Gaeng setelah merasa jika tubuh madam ketiganya tersebut panas.
Dengan telaten, Dayu menyeka keringat yang mengucur deras di tubuh Fan Jianying dengan handuk kecil dan menganti pakaian madam ketiganya yang basah oleh keringat.
Cukup lama Fan Jianying tak sadarkan diri dan larut dalam mimpi yang sedang dialaminya. Hingga tiba – tiba satu sentuhan lembut dipipinya membuatnya tersadar.
“ Syukurlah kamu sudah bangun….”, ucap lelaki bertopeng emas sambil tersenyum.
__ADS_1
“ Yang Mulia….”, guman Fan Jianying lemah.
“ Istirahatlah….jangan banyak bicara dulu…”, ucapnya lembut.
Diapun kemudian membenarkan posisi selimut hingga menutupi seluruh tubuh Fan Jianying dengan sempurna sambil tersenyum manis.
“ Tenang saja, jangan takut…aku akan selalu ada disampingmu…”, ucap lelaki bertopeng emas tersebut sambil mengecup kening Fan Jianying dengan lembut sebelum akhirnya menghilang.
Fan Jianying yang masih sangat lemah hanya bisa menggerakkan kedua bola matanya tanpa bisa berpindah posisi.
Sayup - sayup dia mendengar suara langkah kaki mendekat dan sedetik kemudian terlihat Dayu dan pelayan senior Gaeng masuk dengan kedua mata berkaca – kaca melihat madam ketiganya telah sadarkan diri.
“ Nona…syukurlah nona sudah sadar. Pelayan ini tak tahu bagaimana bisa hidup jika sampai nona tak pernah sadarkan diri…”, ucap Dayu sambil menangis sesenggukan dan memeluknya dengan erat.
Begitu juga pelayan senior Gaeng yang duduk bersimpuh disamping tempat tidurnya sambil menangis.
Selama beberapa bulan melayani madam ketiganya itu, Gaeng belum pernah melihat Fan Jianying dalam kondisi tak beradaya seperti sekarang.
Biasanya gadis tersebut selalu ceria dan bergerak aktiv. Melihatnya lemah seperti ini membuat hati Gaeng merasa sedih.
“ Aku tidak apa – apa…hanya demam biasa saja. Istirahat sebentar juga akan pulih kembali…”, ucap Fan Jianying sambil tersenyum.
Dia kemudian membelai lembut kepala Dayu, berusaha untuk menenangkannya. Pelayan pribadinya tersebut mulai bisa tersenyum waktu Fan Jianying meminta makan.
Pelayan senior Gaeng pun bergegas keluar dari dalam kamar menuju kearah dapur untuk membuatkan bubur ayam kesukaan madam ketiganya itu.
Merasa jika tubuhnya sangat lengket karena keringat, Fan Jianyingpun segera memerintahkan Dayu untuk menyiapkan air mandi buatnya.
Tubuh Fan Jianying terasa sangat segar waktu menyentuh air hangat yang berada dalam bak. Sambil memejamkan kedua matanya, dia berusaha untuk mengingat kembali mimpinya.
Entah kenapa Fan Jianying merasa jika mimpi yang dialaminya memiliki pertanda karena waktu burung phoenix mematuk kedua matanya, dalam penglihatan yang samar dia sempat mendengar naga tersebut berbicara.
“ Selamat datang Ratu…”, kata tersebut terus berdenggung ditelingga Fan Jianying hingga membuatnya sedikit linglung.
Melihat Fan Jianying hanya menatap kosong kearah depan, Dayu dan pelayan senior Gaeng tidak bisa berhenti cemas.
“ Apa sebaiknya kita panggil tabib Shilin lagi ?…”, tanya pelayan senior Gaeng setengah berbisik.
Merasa jika ucapan seniornya itu benar, Dayupun segera bangkit untuk kembali memanggil tabib Shilin dan mempercayakan nona mudanya itu kepada pelayan senior Gaeng.
__ADS_1
Tabib Shilin yang hendak pergi langsung mengurungkan niatnya waktu Dayu datang menjemputnya dan mengatakan jika madam ketiga Bai sudah sadar dan kondisinya semakin aneh.
Putri Wei Xieun yang kebetulan lewat didepan tempat prakterk tabib Shilin sedikit memicingkan matanya waktu melihat pemuda tampan tersebut berjalan terburu – buru bersama seorang gadis yang dia yakini sebagai pelayan pribadi Fan Jianying.
“ Bukankan itu pelayan pribadi madam ketiga Bai ?...kenapa mereka terlihat sangat terburu – buru ?...”, guman putri Wei Xieun penasaran.
Tidak ingin penasaran, putri Wei Xieun pun segera meminta kusir untuk mengikuti kemana tabib Shilin dan pelayan pribadi madam ketiga Bai tersebut pergi.
Begitu tiba di depan kediaman Bai, putri Wei Xieun dengan anggun mulai turun dari atas kereta kuda dan segera masuk kedalam bersama pelayannya.
Didalam dia berpapasan dengan matriark Bai yang terlihat sangat marah waktu mengetahui jika cucu menantu perempuannya itu sedang sakit tapi tak ada satupun orang yang memberitahunya.
Masih dengan kedua mata melotot, matriark Bai yang baru menyadari kehadiran putri Wei Xieun didalam kediamannya segera menyambut putri bungsu kaisar Huang tersebut dengan ramah.
“ Hormat kepada putri Wei Xieun. Maaf, wanita tua ini tak mengetahui jika anda akan berkunjung kekediaman Bai…”, ucap matrairk Bai hangat.
“ Saya hanya kebetulan lewat dan sedikit penasaran waktu melihat tabib Shilin berjalan terburu – buru bersama pelayan pribadi madam ketiga Bai. Apa madam ketiga Bai sedang sakit ?...”, tanya putri Wei Xieun cemas.
Bagaimana tidak cemas jika putri Wei Xieun baru mengetahui jika Fan Jianying sebenarnya adalah adik perempuannya yang telah dikabarkan meninggal setelah dilahirkan.
Meski dia mengetahui fakta tersebut karena tak sengaja mendengar pembicaraan yang dilakukan oleh pangeran Wei Jie dan putra mahkota Qin Shi Huang di Heluo Palace kemarin sore.
Meski dia sedikit syok namun melihat jika semua orang menyembunyikan fakta tersebut, termasuk kepada ibunda permaisuri demi keselamatan nyawanya.
Putri Wei Xieun pun berusaha untuk memakluminya, sekarang semua rasa benci yang dulu sempat singgah dihatinya perlahan mulai menghilang.
Bagaimanapun dia sebenarnya cukup kesepian didalam istana karena tidak memiliki teman meski dia mempunyai tiga kakak laki - laki yang kesehariannya dipusingkan oleh tugas negara dan perebutan kekuaasaan.
Suatu hal yang tidak putri Wei Xieun sukai. Maka dari itu dia selalu membuat ulah didalam istana agar kedua orang tua dan kakak - kakaknya memperhatikannya.
Dan sekarang dia mendengar jika adik yang tidak pernah dia ketahui tersebut sakit, hati siapa yang tidak merasa cemas dan sedih.
Begitu tabib Shilun keluar dari kamar Fan Jianying, dia langsung dicerca berbagai macam pertanyaan dari matriark Bai dan putri Wei Xieun yang telah menungunya di depan kamar.
“ Sebaiknya, untuk sementara waktu madam ketiga tidak melakukan aktivitas berat dan lebih banyak beristirahat. Saya tadi sudah memberi madam ketiga Bai obat. Jika rutin diminum, dalam dua hari kedepan kondisinya bisa dipastikan akan pulih seperti sedia kala…”, ucap tabib shilin menjelaskan.
Mendengar ucapan tabib Shilin, matriark Bai dan putri Wei Xieun terlihat sangat lega. Seperti yang semua orang ketahui jika kondisi tubuh nona muda Fan tersebut memang sudah lemah sejak lahir.
Jadi, tampaknya perubahan musim kali ini begitu mempengaruhinya. Apalagi dalam beberapa waktu terakhir dapat semua orang lihat jika Fan Jianying sangat sibuk mengurusi Impereal Restoran yang baru saja dibukanya.
__ADS_1
" Apa dia sakit karena rindu dengan Cheung ?...", batin matriark Bai sedih.
Diapun berinisiatif untuk mengirimi cucunya tersebut surat dan beberapa bahan makanan dan perlengkapan untuk menyambut musim dingin yang sebentar lagi datang.