
Dengan perawatan dan pengobatan rutin yang Fan Jianying lakukan, kaisar Huang akhirnya sadar setelah mengalami koma selama tiga bulan lamanya.
Kondisi penguasa negara Huangshan tersebut juga berangsung – angsur mulai membaik, bahkan nafsu makannya sudah kembali seperti sedia kala.
Tentu saja hal tersebut membuat seluruh keluarga dan semua orang yang ada di istana merasa bahagia.
Warga ibukota yang mendengar kabar jika orang nomor satu di negara Huangshan tersebut kondisinya sudah mulai stabil dan mebaik turut berbahagia .
“ Berapa lama aku tertidur ?….”, tanya kaisar Huang lemah.
Meski sudah stabil, namun kondisi tubuhnya masih belum begitu baik seperti sedia kala sehingga masih mengharuskannya untuk tetap berbaring diatas ranjang tanpa melakukan aktivitas apapun.
“ Tiga bulan ayahanda tidak sadarkan diri….”, jawab Fan Jianying sambil tersenyum.
“ Ayahanda jangan terlalu banyak berpikir, semua urusan pemerintahan sudah diambil alih oleh kakak untuk sementara waktu….”, ucap Fan Jianying menjelaskan.
Dengan penuh kesabaran, Fan Jianying mengobati beberapa titik syaraf kaisar Huang yang masih belum bisa berfungsi dengan sempurna.
Sambil merawat sang ayah, Fan Jianying menceritakan apa saja hal yang telah ayahnya tersebut lewati selama tak sadarkan diri.
Tanpa sadar, senyum merekah diwajah kaisar Huang waktu mendengar prestasi demi prestasi yang ditorehkan putra sulungnya tersebut selama mengantikannya untuk sementara waktu.
“ Pilihanku memang tak salah….”, guman kaisar Huang senang.
Kaisar Huang yang memang sedari awal berencana ingin memberikan posisinya kepada putra sulungnya itu akhirnya segera mengumumkan hal baik tersebut begitu kondisinya sudah cukup baik.
Kaisar Huang turun dari posisinya dan menyerahkannya kepada putra mahkota Qin Shi Huang yang dianggap mampu untuk meneruskan perjuangannya membangun negara Huangshan tercinta ini.
Tentu saja hal tersebut disambut baik dan antusias oleh semua orang. Apalagi mereka sudah melihat hasil nyata kerja putra sulung kaisr Huang tersebut selama sang ayah terbaring tak sadarkan diri pasca peperangan.
“ Aku senang semuanya berjalan dengan lancar karena waktuku sudah tak lama lagi….”, batin Fan Jianying sedih.
Dia terus mengelus perutnya yang semakin membesar itu sambil sesekali menyenandungkan lagu untuk buah hatinya yang diperkirakan akan lahir sebentar lagi.
Meski tak rela, namun Fan Jianying juga tak bisa menentang takdir. Dia masih diberikan kesempatan waktu hingga anaknya lahir kedunia sudah merupakan suatu berkah yang tak terkira.
__ADS_1
Bai Cheung yang melihat istrinya sudah mempersiapkan semuanya untuk sang buah hati terlihat sangat sedih.
Dia yang selama ini hanya bisa menerka – nerka dalam pikirannya tentang semua hal yang terjadai pada akhirnya tak sanggup membendung semuanya dan memberanikan diri untuk bertanya.
“ Istriku…anak kita belum juga lahir. Kenapa istriku sudah menyiapkan semuanya sedetail ini. Aku rasa pakaian – pakaian ini terlalau besar dan baru bisa anak kita pakai usia empat hingga lima tahunan ?.... ”, tanya Bai Cheung dengan tatapan penuh selidik.
Hati Fan Jianying terasa sangat sedih waktu mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya.
Namun, dia berusaha keras agar air matanya tidak sampai menetes sehingga membuat suaminya tersebut khawatir kepadanya.
“ Umur tak bisa ditebak. Aku hanya mampu mempersiapkan sejauh yang aku bisa….”, ucap Fan Jianying dengan suara sedikit bergetar sambil berusaha untuk tersenyum dihadapan sang suami.
Melihat nada kesedihan disuara sang istri, Bai Cheungpun langsung membawa tubuh Fan Jianying dalam dekapannnya.
“ Aku yakin istriku akan berumur panjang. Kita akan menjaga dan membesarkan anak kita dengan baik hingga dia dewasa nanti….”, ucap Bai Cheung sambil mengecup pucuk kepala istrinya dengan sedih.
Diperlakukan seperti itu, akhirnya membuat pertahanan diri Fan Jianying runtuh juga. Air matanya mulai mengalir deras di pipi.
“ Maaf, jika aku masih belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu….”, ucap Fan Jianying sesenggukan.
Melihat istrinya menangis, Bai Cheung semakin mempererat pelukannya. Entah kenapa hatinya merasa sangat sakit melihat istrinya menangis sesenggukan seperti ini.
Mendengar ucapan sang suami, hati Fan Jianying semakin merasa sedih. Jika bisa memilih, tentunya dia akan memilih tetap berada di dunia asing ini hidup bersama suami dan anaknya.
Tapi apa boleh buat, takdir berkata lain. Keduanya berpelukan dengan perasaan sedih yang mendalam.
Setelah merasa sedikit tenang, Fan Jianying pun segera melepaskan pelukan suaminya dan terlihat sedikit ragu untuk berbicara.
Tapi, melihat kesedihan yang cukup dalam dimata sang suami, diapun akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada sang suami.
“ Suamiku, apa kamu ingat ceritaku waktu kita berada di perbatasan timur negara Huangshan…”, ucap Fan Jianying sebagai pembuka.
“ Tentang asal – usulmu yang berasal dari dunia lain ?....”, ucap Bai Cheung dengan suara bergetar.
Melihat istrinya mengangguk sebagai respon atas pertanyaan yang diajukannya, hati Bai Cheung semakin tak tenang.
__ADS_1
“ Apakah kamu akan kembali lagi ke tempat asalmu ?....”, tanyanya dengan tatapan nanar.
Melihat air mata sudah menggenang dipelupuk mata sang suami, Fan Jianying hanya bisa menganggung pelan sambil menunduk.
Tak mampu melihat kesedihan itu disana. Melihat respon sang istri, air mata Bai Cheung pun turun dengan derasnya.
Dia sudah memprediksikan cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. Tapi, dia masih tak sanggup jika harus berpisah dengan Fan Jianying sekarang.
“ Apa sudah tak ada jalan keluar lagi ?....”, tanya Bai Cheung penuh harap.
Melihat istrinya hanya menggeleng lemah, Bai Cheung semakin terisak. Dia mendongak agar air matanya tak semakin mengucur deras di pipi.
Fan Jianying segera mengenggam kedua tangan suaminya dengan erat. Berusaha untuk mengurangi kesedihan yang ada.
“ Kaisar langit mengatakan jika aku masih diberi kesempatan untuk melihat anakku lahir kedunia ini…”, ucap Fan Jianying menjelaskan.
Keduanya sempat terdiam beberapa saat sambil terisak. Berkutat pada pikiran mereka masing – masing.
“ Apakah Fan'er tidak akan pernah lagi kembali kesini….”, Bai Cheung masih berharap ada jalan untuk istrinya bisa kembali bersama dengannya disini.
Fan Jianying terlihat sedikit ragu. Meski kaisar langit mengatakan jika dia masih memiliki kesempatan untuk bisa kembali kenegara asing ini, tapi dia merasa sedikit tak yakin.
“ Kaisar langit mengatakan jika aku bisa saja kembali kedunia ini jika aku melakukan beberapa amalan selama berada di dunia asalku. Tapi, hal itu juga tak bisa menjamin sepenuhnya….”, ucap Fan Jianying ragu.
“ Tak masalah…berapa tahunpun aku dan anakmu akan menunggumu kembali….”, ucap Bai Cheung bersemangat.
“ Selama kamu berusaha disana, aku dan anakmu juga akan brerusaha disini untuk bisa membuatmu kembali….”, ucap Bai Cheung dengan kedua mata berbinar cerah.
“ Tapi….aku tak yakin akan hal ini. Kaisar langit juga tak bisa memastikan jika semua itu bisa membuatku kembali kesini….”, ucap Fan Jianying pesimis.
“ Hey…kenapa istriku jadi pesimis seperti ini.Mana semangat perjuanganmu….”, ucap Bai Cheung menghibur.
Melihat ada secercah harapan, Bai Cheung terlihat mulai bersemangat. Untuk itu, dia segera mengenggam erat kedua tangan Fan Jianying sambil berkata :
“ Selalu ingat aku dan anakmu dalam setiap langkahmu. Jika kita memang ditakdirkan bersama, sejauh apapun jarak yang memisahkan. Kita pasti akan berkumpul kembali….”, Bai Cheung mengucapkan semuanya dengan semangat dan senyum lebar.
__ADS_1
Mendengar ucapan sang suami, Fan Jianying perlahan mulai menghilangkan kesedihan hatinya dan tersenyum lebar.
“ Benar…selama kita berusaha, pasti akan ada jalan untuk setiap permasalahan yang ada….”, batin Fan Jianying optimis.