
Aurella yang merasa kedinginan mulai membuka matanya sambil mengosok – gosok bahu dengan kedua tangannnya sambil duduk.
“ Kenapa aku tidur dilantai ?....”, guman Aurella dengan wajah kebinggungan.
Aurella pun segera bangkit dan langsung bergegas menuju kedalam kamarnya, naik keatas ranjang masih dengan menggosok – gosokkan kedua telapak tangannya agar hangat.
Begitu merasa jika udara semakin dingin, diapun segera menarik selimut dan membungkus seluruh tubuhnya agar hangat.
“ Sudah jam dua pagi…pantas sangat dingin…..”, gumannya sambil melirik jam weker yang ada diatas nakas samping tempat tidurnya.
Setelah membungkus tubuhnya dengan selimut tebal, matanya yang baru saja tertutup kembali terbuka.
“ Apa itu tadi benar hanya sebuah mimpi ?....”, batinnya penasaran.
Karena memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya setelah pingsan, Aurella memutuskan meluangkan sedikit waktunya nanti untuk pergi ke psikiater.
“ Aku benar – benar harus pergi ke psikiater untuk menemukan jawaban dari semuanya ini….”, guman Aurella tajam.
Karena tak bisa tidur, Aurellapun mulai menyiapkan semua hal yang akan dia bawa kekantor pagi ini dan memulai aktivitas seperti biasa.
Hari iniAurella berusaha untuk fokus pada pekerjaannya dan berusaha, mengesampingkan rasa penasaran terhadap semua hal yang dia alami beberapa waktu terakhir ini.
Melihat jika laporan yang dikirimnya ke pusat sama sekali tak ada revisi, Aurella pun segera membuat janji temu sore nanti dengan salah satu psikiater yang ada dikota tersebut.
Aurella menyelesaikan semua berkas yang ada diatas mejanya dengan cepat, berharap dia bisa keluar dari kantor secepatnya.
Setelah selesai memeriksa dan menandatangani semua berkas yang ada, Aurella meregangkan badannya dan membiarkan sendi – sendi yang ada ditubuhnya melemas.
Bersandar kepada kursi dan membiarkan kepalanya menengadah keatas, menatap langit – langit ruang kerjanya sambil memikirkan berbagai macam hal.
Saat ini banyak pertanyaan keluar begitu saja dari dalam otaknya, membuat kepalanya semakin penuh dan panas.
Tringgg…..
Satu pesan masuk untuk mengkonfirmasi kehadirannya sore ini membuat atensi Aurella sedikit teralihkan.
“ Kurasa aku harus menyelesaikan semuanya sebelum jam tiga sore…”, gumannya sambil mengetikkan pesan balasan diponselnya.
Tubuhnya yang sudah kembali rileks dia gunakan untuk menyelesaikan beberapa laporan dan menandatangani beberapa berkas yang masih tersisa diatas meja.
Tepat pukul tiga sore, Aurella berjalan keluar dari dalam ruangannya. Jika tidak macet, dia bisa sampai ke tempat psikiater sekitar dua puluh menitan.
Namun sayangnya jalanan sore ini tak seperti harapannya. Tiba – tiba ada pipa air bocor hingga jalanan yang biasanya dua arah kini hanya bisa satu arah.
Tentu saja hal ini membuat Aurella harus berjalan memutar dan yang pastinya jarak yang akan ditempuhnya akan lebih jauh dan memakan waktu.
__ADS_1
Untugnya dia sudah mengantisipasi hal tersebut dari awal. Maka dari itu Aurella sudah meluncur sejak jam tiga sore padahal waktu janjian temunya jam empat sore.
Begitu tiba disebuah ruko bertingkat disalah satu jalan poros kota, Aurella pun segera memarkirkan kendaraannya dan bergegas turun.
“ Masih ada waktu lima menit lagi….”, guman Aurella yang menyempatkan diri pergi ke toilet setelah menghadap ke bagian resepsionis.
Didalam ruangan yang tak terlalu besar dengan nuansa putih dan coklat, Aurella pun mulai melakukan sesi konseling.
Dia menceritakan berbagai hal yang telah dialaminya beberapa waktu terakhir. Sang psikolog hanay mendengarkan sambil mencatat berbagai macam hal yang dianggapnya penting sambil sesekali memberi Aurella pertanyaan.
Selanjutnya, Aurella pun disuruh untuk rebahan diatas sofa panjang. Akibat hipnotis yang diberikan, diapun sudah berada dialam bawah sadarnya dan mulai menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Aurella sedikit kecewa denga hasil yang didapatkannya. Bagaimanapun dia tak terima jika dikatakan semua yang telah dialaminya tersebut hanyalah halusinasinya semata karena terlalu keras bekerja hingga membuatnya stress.
“ Hufft…tampaknya ini sama sekali tak membantu….”, ucap Aurella sedih.
Sementara itu di dunia yang lain, tepatnya dinegara Huangshan terlihat Huang Lo beberapa kali menghela nafas berat waktu menantunya itu menceritakan jika Fan Jianying sempat kembali untuk menenangkan sang cucu, meski hanya sekejap sebelum akhirnya dia kembali menghilang.
“ Tampaknya, ikatan batin diantara keduanya cukup kuat. Meski kristal kehidupan sudah tak ada lagi di tubuhnya, bagaimanapun Baoji dan Fan’er pernah menjadi tempat untuk kristal tersebut bersemayam dan berkembang….”, ucap Huang Lo bermonolog.
Keduanya kemudian terdiam cukup lama, berkutat pada pikiran mereka masing – masing dan mencoba menjawab teka – teki yang ada.
“ Karena Baoji masih bayi, aku akan mencobanya kepada permaisuri Wei. Bagaimanapun juga tubuh permaisuri Wei juga sempat didiami kristal kehidupan meski tak terlalu lama…. ”, ucap Huang Lo memberi solusi.
Bagaimanapun juga, tidak ada salahnya dia mencoba solusi yang ditawarkan ayahandanya demi bisa membawa kembali sang istri disisinya.
Tak ingin membuang banyak waktu lagi, Huang Lo segera menemui istrinya untuk bisa menjalankan rencananya.
Permaisuri Wei sedikit terkejut dengan kedatangan Huang Lo yang tanpa pemberitahuan ke kediamanannya.
Apalagi dia melihat raut wajah sang suami yang begitu tegang membuatnya merasa jika ada hal buruk yang telah terjadi.
“ Ada apa suamiku ?..apa ada masalah ?...”, tanya permaisuri Wei begitu sudah berada didalam ruangan.
Tak ingin basa – basi dan membuang waktu lagi, Huang Lo pun menceritakan tujuannya untuk mencari sang istri hari ini.
“ Suamiku…apa itu mungkin ?....”, tanya permaisuri Wei dengan kedua mata terbalalak.
“ Aku akan mencoba untuk membuktikannya. Apa istriku bersedia ?….”, ucap Huang Lo sambil memegang kedua bahu istrinya dengan lembut.
*“ T*entu saja aku bersedia…apapun itu, asal bisa membuat Fan’er kembali lagi ke sisiku….”, ucap permaisuri Wei dengan kedua mata berkaca – kaca karena bahagia.
Hati permaisuri Wei langsung menghangat waktu mengetahui jika putri bungsunya tersebut sempat kembali ke istana meski hanya sekejap mata.
Dan begitu suaminya mengatakan jika mereka memiliki peluang untuk membawa Fan Jianying kembali lagi ke negara Huangshan, hati siapa yang tidak bahagia.
__ADS_1
Dengan penuh semangat, permaisuri Wei segera mengandeng tangan sang suami agar segera kembali ke Huangwei Palace untuk menjalankan ritual seperti yang telah dijelaskan oleh suaminya tadi.
Setelah berada didalam ruangan rahasia milik Huang Lo, keduanya segera duduk berhadapan ditengah – tengah lingkaran yang telah dibuat sambil memejamkan mata.
Huang Lo pun segera melakukan ritualnya dengan mulai mengarahkan tenaga dalamnya ke tubuh pemaisuri Wei hingga sinar cerah mulai keluar dari tubuh sang istri.
Cukup lama Huang Lo mengalirkan tenaga dalamnya, berupaya untuk membangkitkan kepingan – kepingan kecil kristal kehidupan yang tersisa didalam tubuh istrinya.
Berharap kepingan kecil kristal kehidupan tersebut mampu menembus langit hingga bisa membawa jiwa Fan Jianying kembali.
Meski sinar terang tersebut mampu keluar dan terkumpul dengan baik, tapi sayangnya kepingan kristal kehidupan yang ada dalam raga permaisuri Wei tampaknya masih belum mampu digunakan untuk menembus langit.
Uhukkk….uhukkkk….
Seteguk darah segar keluar dari tubuh permaisuri Wei sebagai pertanda jika tubuhnya tak mampu menerima aliran tenaga yang cukup kuat tersebut.
Melihat istrinya tersungkur dilantai, Huang Lo pun segera menghentikan aktivitasnya dan membantu sang istri untuk bangun.
“ Bagaimana keaadaanmu ?....”, tanya Huang Lo cemas.
“ Aku tak apa – apa….lanjutkan saja….”, ucap permaisuri Wei lemah.
“ Tidak….kepingan yang ada dalam tubuhnya sangat kecil. Kekuatannya tak bisa menembus langit…..”, ucap Huang Lo sedih.
Melihat raut sedih dan kecewa dari wajah sang suami, permaisuri Wei pun berusaha untuk kembali membangkitkan semangat lelaki yang ada dihadapannya tersebut.
“ Apa tidak ada lagi cara lain ?....”, tanya permaisuri Wei penuh harap.
Sejenak, Huang Lo terdiam mendengar pertanyaan istrinya. Sebenarnya masih ada cara lainnya, tapi dia masih ragu untuk melakukannya.
“ Suamiku…masih ada harapan kan…apa itu ?....”, permaisuri Wei terlihat mendesak sang suami untuk berbicara.
Setelah menghela nafas dalam beberapa kali, Huang Lo pun mulai bersuara “ Sebenarnya ada satu cara lagi…tapi….”
Melihat sang suami kembali terdiam dengan wajah cemas, permaisuri Wei pun kembali bertanya “ Apa itu ?....”.
“ Baoji….kurasa tubuhnya memiliki pecahan kristal kehidupan lebih banyak jika dibandingkan dirimu….”, ucap Huang Lo bermonolog.
Permaisuri Wei tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Meski dia sangat ingin putri bungsunya tersebut kembali, tapi dia juga tak ingin membahayakan nyawa bayi yang baru berusia enam bulan tersebut.
Menjalankan ritual seperti yang tadi dijalaninya cukup membawa resiko bagi keselamatan cucu pertamanya tersebut.
“ Selain Baoji…apa tidak ada cara lain ?....”, permaisuri Wei berharap suaminya memiliki alternative lainnya yang lebih aman untuk dilakukan.
Melihat suaminya hanya menggeleng pelan, tubuh permaisuri Wei langsung merosot kelantai dengan wajah sedih.
__ADS_1