CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
PETI DINGIN


__ADS_3

Setelah puas beristirahat,  Fan Jianying keluar dari cincin ruangnya tepat di semak - semak tak jauh dari kamp militer berada dengan peralatan berburu lengkap ditangannya.


Tujuannya sekarang adalah untuk menangkap kelinci mutasi yang bisa dideteksi dengan alat yang diciptakan oleh Baron untuknya.


Sebagai hewan pemangsa terbesar, Baron yang wujud aslinya singa jantan memiliki indera penciuman dan insting yang tajam.


Dengan kelebihannya itu,  dia membuat alat pendeteksi hewan buruannya,  seperti kelinci,  rusa maupun hewan liar lainnya yang biasanya menjadi santapan singa jantan tersebut.


Fan Jinying terlihat tersenyum lebar waktu berhasil menangkap dua ekor kelinci mutasi dan membawanya kedalam kamp dengan hati riang.


Semua prajurit yang melihat kedatangan Fan Jianying dapat bernafas dengan lega karena sejak tadi jenderal muda Bai Cheung terus menyiksa mereka secara bergantian karena pasukannya itu tidak berhasil menemukan keberadaan sang istri.


“ Cepat, laporkan kepada jenderal muda Bai Cheung jika istrinya sudah ditemukan….”, ucap salah satu prajurit yang berjaga dipintu gerbang dengan lantang.


Koki Lizeng hanya bisa menggeleng - gelengkan kepala waktu melihat Fan Jianying datang sambil membawa dua kelinci mutasi dengan wajah tak berdosa.


Padahal sejak tadi semua orang dibuat binggung dan ketakutan oleh amarah Bai Cheung yang tak terkendali.


“ Darimana saja anda nyonya ?…tahukah anda, jika suamimu sedari tadi menggila karena kehilangan dirimu dan menyiksa seluruh prajurit yang ada….”, ucap koki Lizeng dengan wajah ingin menangis.


“ Saya tadi bosan, lalu jalan – jalan sebentar diluar. Dan saya menemukan ini…..”, ucap Fan Jianying dengan kedua mata berbinar sambil memperlihatkan hewan buruannya.


Koki Lizeng hanya bisa mengelus dadanya beberapa kali sambil menghela nafas panjang melihat gadis muda belia yang ada dihadapannya itu masih tersenyum santai setelah kekacauan yang telah dibuatnya.


Namun kesenangan Fan Jianying tidak bertahan lama setelah ada suara berat dan rendah menagnggu ketenangannya.


“ Puas bermain – mainnya !!!...”, ucap Bai Cheung dengan nada rendah dan dingin.


Koki Lizeng seketika terdiam tak berekspresi, sedangkan Fan Jianying yang tak ingin membuang energinya untuk berdebat memilih bersikap cuek.


Fan Jianying tak menghiraukan kedatangan suaminya dan semua perkataannya. Dengan santai dia melangkah masuk kedalam dapur untuk mengolah hasil buruannya.


Melihat istrinya acuh, rahang Bai Cheungpun seketika mengeras. Koki Lizeng merasakan suhu dapur menurun secara drastis.


Derasnya salju yang turun dan tatapan dingin Bai Cheung seketika membekukan apa saja yang lelaki itu tatap dengan kedua bola matanya yang menghunus langsung tepat sasaran seperti laser.


“ Koki Lizeng, aku akan mengajari anda cara mengolah kelinci mutasi agar bisa dikonsumsi. Jika salah mengolahnya, kemungkinan orang yang memakan akan keracunan sangatlah besar….”, ucap Fan Jianying menjelaskan panjang kali lebar.


Koki Lizeng hanya mengangguk dengan tubuh kaku. Bagaimana dia bisa tenang jika Bai Cheung terus menatap setiap pergerakannya dengan tajam.


“ Nyonya…kenapa anda bisa setenang itu sedangkan ada malaikat pencabut nyawa dibelakangmu…”, batin koki Lizeng dengan tubuh bergetar.


“ Tenanglah...acuhkan saja dia. Anggap sebagai patung…”, guman Fan Jianying dengan suara sangat rendah.

__ADS_1


Koki Lizeng langsung membulatkan kedua matanya mendengar ucapan berani gadis belia disampingnya itu.


Diapun berusaha untuk mengabaikan keberadaan Bai Cheung dan mulai serius mendengarkan arahan dan semua proses memasak yang diajarkan oleh Fan Jianying kepadanya.


Air rebuisan daging kelinci mutasi yang pada awalnya berwarna hitam pekat tiba – tiba saja berubah menjadi jernih waktu Fan Jianying memasukkan satu butir pil kedalamnya.


“ Simpan ini...masukkan satu butir tiap dua ekor daging kelinci yang anda masak….”, ucap Fan Jianying  menjelaskan.


Lelaki paruh baya itu hanya mengangguk – anggukan kepalanya sambil kedua matanya menatap awas semua gerakan tangan Fan Jianying.


Bau harum yang menyeruak dari dalam kuali membangkitkan rasa lapar bagi siapa saja yang menciumnya.


Krucukkkk….krucuukkkk….


Perut Bai Cheung berbunyi keras, membuat wajah laki – laki tersebut merah seketika. Runtuh sudah harga dirinya, ekpresi datar dan dingin yang sedari tadi diberikannya langsung lenyap begitu saja waktu perutnya tidak bisa diajak kompromi.


Perut Bai Cheung kembali berbunyi dan kali ini lebih keras dari yang tadi membuat Fan Jianying tak bisa lagi menahan tawanya.


Fan Jianying yang mengetahui jika suaminya kelaparan segera mengambil mangkuk kecil dan mengisinya dengan sup kelinci buatannya.


“ Makanlah selagi hangat….”, ucap Fan Jianying sambil berusaha untuk tak tertawa melihat wajah suaminya semakin merah.


Bai Cheung yang merasa jika harga dirinya telah runtuh hanya terdiam ditempat sambil menatap lekat sup kelinci hangat yang tersaji diatas meja.


Melihat suaminya masih terdiam mematung, dengan santai Fan Jianying mengambil kembali mangkok sup yang tadi diletakkan diatas meja.


Bai Cheung yang melihat sup kelincinya hendak diambil kembali langsung merampasnya dari tangan Fan Jianying dan langsung memakannya hingga habis.


Koki Lizeng terlihat mengerjap - ngerjapkan matanya beberapa kali. Dia tak menyangka jika jenderal muda yang garang dan buas tersebut bisa bertingkah kekanak – kanakan dihadapan istrinya.


Melihat suaminya makan dengan lahap, Fan Jianying pu tersenyum bahagia. setelah mengambilkan semangkok lagi sup kelinci untuk suaminya, Fan Jianyingpun segera mengolah sisa daging kelinci yang telah direbusnya tadi dengan rempah – rempah yang telah disiapkannya.


Daging kelinci  yang sudah dilumuri bumbu segera dia masukkan kedalam plastik kedap udara yang telah dia bawa dari dalam cincin ruang.


Dia terus melakukan hal yang sama hingga semua daging masuk kemasing – masing palstik kedap udara tersebut.


“ Jadi, ketika akan dimasak, kita tinggal ambil beberapa bungkus sesuai kebutuhan. Sehingga kita tidak sampai harus menyentuh daging yang lainnya….”, ucap Fan Jianying menjelaskan.


Fan Jianying yang melihat ada kotak terbuat dari besi yang tidak terlalu besar dibawah meja dapur membuatnya memiliki ide untuk menjadikan kotak besi tersebut sebagai kulkas penyimpan makanan.


“ Apa kotak besi itu tak terpakai ?...”, tanya Fan Jianying antusias.


“ Tidak…jika mau, nyonya bisa mengambilnya….”, ucap koki Lizeng mempersilahkan.

__ADS_1


Fan Jianyingpun segera mengambil kotak besi tersebut dan membawanya kesamping gudang.


Selanjunya, dia membuat gundukan besar disekitar kotak tersebut dengan salju ditanah menggunakan sekrop.


Pada awalnya, Bai Cheung dan Lizeng hanya menganggap jika Fan Jianying hanya ingin bermain – main dengan kotak itu karena melihat jika seluruh sisinya diberi es dan dibentuk seolah – olah kotak tersebut terkubur gundukan salju.


Kening keduanya seketika mengkerut cukup dalam waktu daging yang ada dalam palstik dimasukkannya kedalam kotak besi yang telah ditimbun salju.


“ Dengan begini, daging atau bahan makanan mentah apapun dan sisa masakan anda yang tak habis bisa disimpan disini agar lebih awet…”, ucap Fan Jianying menjelaskan.


Bai Cheung dan koki Lizengpun berjalan mendekat untuk melihat kotak besi yang terlihat sudah dingin tersebut karena salju turun dengan deras sore ini.


“ Ini namanya kul…emmm, peti dingin….”, ucap Fan Jianying spontan.


Dia sebenarnya ingin menyebut kulkas, tapi kata – kata tersebut tentunya sangat aneh didengar jadi dia menggunakan kata yang biasa diapakai saja.


Keduanya terlihat mengangguk – anggukan kepalanya melihat barang aneh tersebut. Sambil mengamati Fan Jainying yang sudah membagi kotak besi tersebut menjadi beberapa sekat.


Dia kemudian memasukkan daging kelinci yang diolahnya tadi, bumbu – bumbu halus dalam botol, serta beberapa olahan daging seperti nugget, sosis, ham dan lain – lainnya yang selama ini belum pernah koki Lizeng maupun Bai Cheung lihat.


“ Ini semua adalah bahan makanan. Yang sebelah sini adalah daging yang sudah dibumbui seperti kelinci tadi. Jadi bisa langsung kita bakar atau kita goreng. Sedangkan yang bagian isebelah sni adalah daging mentah yang harus anda oleh dulu sebelum dimakan. Bagian yang sini adalah bumbu – bumbu. Sedangkan ini dan ini bisa kalian goreng dan dijadikan lauk…”, ucap Fan Jianying menjelaskan satu persatu.


Fan Jiaanying juga menjelaskan fungsi bumbu halus sesuai warnanya yang sudah dia tulis dalam secarik kertas dan diberikannya kepada koki Lizeng untuk disimpannya.


Koki Lizeng merasa sangat terharu waktu melihat Fan Jianying dengan gamblangnya membagikan resep rahasia kepadanya.


Bagi seorang koki atau bangsawan tingkat tinggi seperti Bai Cheung dan Fan Jianying, resep adalah harta paling berharga yang tidak mungkin diberikan kepada sembarang orang.


Namun kini, Fan Jianying dengan murah hati memberikan kepadanya. Bahkan dengan cara memasak dan menyimpan makanan seperti yang tadi dijelaskan.


“ Terimakasih banyak nyonya muda…anda sungguh murah hati….”, ucap koki Lizeng dengan kedua mata berkaca – kaca.


“ Sama – sama…saya juga senang membagikan ilmu yang saya punya. Setidaknya, dengan ilmu saya yang sangat dangkal ini, koki Lizeng bisa mensejahterakan para prajurit yang berjuang digarda terdepan…” , ucap Fan Jainying merendah.


Koki Lizeng tak dapat lagi membendung airmatanya hingga dia terus mengucap kata terimakasih dengan air mata berderai.


Bai Cheung terlihat marah waktu melihat koki Lizeng menyentuh kedua tangan istrinya dan mengenggamnya dengan erat.


Diapun dengan kasar menghempaskan kedua tangan koki Lizeng dari tangan istrinya. Sontak tindakan Bai Cheung tersebut membuat Fan Jianying dan koki Lizeng terkejut.


“ Mohon maaf jenderal…saya khilaf….”, ucap koki Lizeng langsung berlutut memohon ampunan.


Fan Jianying yang paling tak suka ada orang lain berlutut dihadapanya segera bereaksi, namun sebelum kedua tangannya menyentuh tubuh koki Lizeng, Bai Cheung sudah lebih dulu bersuara.

__ADS_1


“ Bangunlah…lain kali perhatikan sikapmu….”, ucap Bai Cheung tajam.


__ADS_2