CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
PERTEMPURAN PART 1


__ADS_3

Dari dalam istana Fan Jianying yang telah menebar jaring disepanjang perbatasan ibukota terlihat sedang mengamati pergerakan pasukan kegelapan yang mulai melakukan aksinya.


Diapun segera menyuruh sang suami untuk meningkatkan kewaspadaan pasukan Muanbai terhadap pergerakan musuh yang diperkirakan tak lama lagi akan beraksi.


“ Tak lama lagi mereka akan bergerak….”, ucap Fan Jianying memperingatkan.


Mendengar ucapan istrinya tersebut, Bai Cheung pun segera beranjak pergi dan bergabung dengan kedua kakak iparnya yang sudah menunggunya di luar kediamanannya.


“ Bagaiamana ?....”, tanya pengaran Wei Jie penasaran.


“ Sebentar lagi mereka datang. Siapkan semuanya….”, ucap Bai Cheung dengan tatapan tajam.


Ketiganya pun segera bergerak menuju  pintu gerbang ibukota, menanti serangan dari pasukan musuh yang diperkirakan jumlahnya seribuan orang tersebut.


Dibalik pintu gerbang sudah berjajar rapi pasukan berkuda dengan tombak beracun ditangan mereka.


Sedangkan para pemanah dan pelempar bola api sudah siap siaga diatas gerbang menunggu kedatangan musuh.


Para pemuda dan laki – laki yang bertahan di ibukota sudah siap siaga dengan semua peralatan yang mereka miliki untuk menghadapi serangan musuh yang nantinya menerobos masuk kedalam ibukota.


Mereka akan berjuang untuk mempertahankan pemerintahan yang ada dengan segenap jiwa dan raga.


Sementara itu, para prajurit yang berjaga di dalam istana diam – diam diganti oleh Ratu Qinly dengan pasukan miliknya.


Setelah semuanya telah sesuai dengan apa yang telah dia rencanakan, Ratu Qinly pun tersenyum puas.


Sementara itu, di Megui Palace Fan Jianying yang sudah selesai bermeditasi mulai membuka kedua kelopak matanya dan memandang tajam ke depan.


Diapun segera mengeluarkan kelima hewan kontrak dari dalam cincin ruang untuk membantu peperangan yang sebentar lagi akan berlangsung.


Setelah memberikan instruksi ke masing – masing hewan kontrak miliknya, Fan Jianying pun bergegas menuju kediaman ayahandanya waktu melihat ada sekelebat bayangan hitam bergerak menuju ke Huangwe Palace.


Fan Jianying merasa curiga waktu melihat istana yang terlihat cukup lenggang. Diapun mulai merasa jika ada sesuatu yang tidak beres karena sepanjang perjalanan dia sama sekali tak bertemu dengan para prajurit yang berjaga.


“ Dafu, jalankan plan B !!!....”, perintah Fan Jianying tegas.


“ Siap dijalankan….”, ucap Dafu dan langsung melesat pergi untuk menjalankan perintah junjungannya.

__ADS_1


Fan Jianying semakin mempercepat langkah kakinya waktu melihat pintu gerbang Huangwei Palace kosong tanpa ada satupun prajurit yang berjaga disana.


“ Sesuai dugaan….”, batin Fan Jianying geram.


Diapun segera melesat masuk dengan cepat waktu mendengar bunyi pertarungan didalam ruang pribadi kaisar Huang.


Sethhhh….


Sethhhh….


Sethhhh….


Fan Jianying segera melemparkan jarum beracun dari balik lengan bajunya kearah sekelompok orang yang sedang menyerang ayahandanya dari berbagai sisi tersebut.


Tak ingin membuang tenaga cukup banyak,  Fan Jianyingpun segera mengeluarkan pedang birunya dan bergerak maju dengan gagah.


Saat melihat ada pergerakan yang mencurigakan, diapun langsung memenggal kepala orang yang hendak menyerang ayahandanya dengan menggunakan pisau beracun yang ada ditangannya.


Hiatttt……


Kekuatan besar yang dikeluarkan oleh Fan Jianying mampu melemparkan semua orang yang berada dalam radius lima meter darinya hingga terpental jatuh kelantai dengan keras dan mengeluarkan seteguk darah segar dari mulut mereka.


Diapun berusaha untuk bangkit dan langsung berlari mendekat membawa pedang ditangannya dengan kedua mata merah menyala penuh emosi.


Belum juga pembunuh tersebut berhasil menyentuh tubuh Fan Jianying, pedang birunya sudah lebih dulu memenggal kepala si pembunuh hingga jatuh mengelinding ke lantai.


Tak ingin membuang waktu lagi Fan Jianying pun segera bergerak cepat dan membantai habis para pembunuh dengan sadis dan kejam.


Cratttt….


Cratttt….


Cratttt….


Darah segar mengalir dimana – mana hingga mengotori tembok ruang pribadi kaisar Huang akibat pertempuran sengit tersebut.


Dalam keadaan tubuh penuh darah, Fan Jianying yang ingin mengejar seseorang yang sedari tadi mengawasi pergerakannya segera dihentikan oleh kaisar Huang dengan menarik satu lengan putrinya sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


“ Biarkan saja, jangan habiskan tenagamu untuk hal seperti itu….”, ucap kaisar Huang datar.


Meski sedikit enggan, namun Fan Jianying tetap mematuhi ucapan sang ayah. Keduanya pun segera pergi meninggalkan kediaman yang sudah penuh dengan darah tersebut menuju ke atap istana untuk menanti kedatangan musuh yang diperkirakan tidak lama lagi akan datang menyerang.


“ Sudah datang rupanya….”, guman Fan Jianying sambil menatap nyalang ke depan.


Para pasukan dipintu gerbang ibukota langsung siapa siaga begitu mendengar suara derap kaki kuda berjalan mendekat.


Tak lama kemudian, dalam kegelapan muncul rombongan pasukan berkuda yang diperkirakan berjumlah ribuan orang tersebut berjajar sekitar tiga ratus meter dari pintu gerbang lengkap dengan senjata mereka.


“ Serang !!!!.....”, para musuhpun mulai melancarkan aksinya.


Peperangan pun mulai pecah dini hari tersebut. Langit yang masih gelap kini berubah menjadi terang dengan banyaknya bola api yang melayang diudara.


Para pasukan saling serang, begitupun dengan para pasukan berkuda dari kedua kubu yang sudah masuk kedalam medan pertempuran.


Putra mahkota yang pemimpin perang dini hari ini terlihat sedang berjuang untuk mendekat kearah Raja Foresty Cheng Lu dengan membabat habis siapapun yang menghalangi jalannya dengan pedang yang ada ditangannya.


Sedangkan Bai Cheung dan pangeran Wei Jie yang berada disisi lain berusaha untuk menghabisi Heng Yuan dan pangeran Song Yu yang juga turun dimedan pertempuran dini hari tersebut.


Sementara itu didalam istana, Ratu Qinly terlihat sangat marah waktu mendapatkan kabar jika usahanya untuk menghabisi kaisar Huang gagal setelah kedatangan Fan Jianying yang kembali mengacaukan semua rencananya.


“ Cari mereka sampai dapat dan habisi segera !!!.....”, perintah Ratu Qinly penuh emosi.


Tanpa Ratu Qinly sadari, pasukan miliknya yang berada dalam istana sudah habis terbunuh dan digantikan oleh orang – orang milik keluarga Fan yang berada dibawah kendali Fan Jianying.


Fan Shaosheng yang mengetahui jika putri ketiganya Fan Nuan bersengkokol dengan Ratu Qinly untuk melakukan pemberontakan, diam – diam mengirimkan tentara milik keluarga Fan kepada Fan Jianying untuk membantu pertempuran yang akan terjadi.


Fan Jianying menyambut maksud baik lelaki yang sudah dianggap ayahnya tersebut dengan tangan terbuka.


Selain menghabisi prajurit milik Ratu Qinly, prajurit keluarga Fan juga bertugas untuk membebaskan para pejabat yang disandera oleh wanita nomotr satu di negara Huangshan tersebut dan menjamin keselamatan seluruh anggota keluarga pejabat yang setia itu.


Karena pelindung yang dibuat Fan Jianying cukup kuat, tak ada seorang pun yang bisa melihat dan menyadari keberadaan keduanya yang terlihat menonton pertempuran yang sedang berlangsung dihadapan mereka.


Fan Jianying tersenyum sinis kepada para penjaga bayangan milik Ratu Qinly yang dikerahkan untuk mencari keberadaan dirinya dan ayahandanya.


Sebenarnya sangat mudah bagi Fan Jianying untuk langsung menyingkirkan Ratu Qinly saat ini juga, tapi dia masih ingin bermain – main dulu dengan wanita licik tersebut sebentar.

__ADS_1


Kemarahan dan kepanikan yang diperlihatkan oleh Ratu Qinly tampaknya menjadi hiburan sendiri bagi Fan Jianying dipagi buta ini.


__ADS_2