
Hari semakin gelap, Huang Lo terlihat masih terdiam termenung di dalam ruang pribadinya, memikirkan banyak hal setelah ritual yang dilakukan bersama istrinya tak berhasil.
Setelah gagal menggunakan kepingan kristal kehidupan yang ada di tubuh sang istri untuk membawa jiwa Fan Jianying kembali, hati dan pikirannya merasa tak tenang.
Cukup lama dia menimbang baik dan buruknya langkah yang hendak dia ambil karena konsekuensi yang akan ditimbulkan dari ritual tersebut cukup signifikan.
Jika salah langkah maka nyawa cucu pertamnya tersebut bisa saja melayang dalam ritual yang menyerap energy tubuh lumayan besar itu.
Huang Lo masih belum terlalu yakin jika tubuh munggil bayi yang baru berusia enam bulan tersebut kuat selama ritual berlangsung, meski dia bukanlah bayi biasa pada umumnya.
“ Kurasa aku harus mendiskusikan semuanya dengan Bai Cheung sekarang juga….”, gumannya langsung beranjak dari tempat duduknya.
Begitu kakinya hendak melangkah keluar kediaman, dia melihat sang menantu berjalan cepat menuju tempatnya berdiri sekarang membuat Huang Lo seketika menghentikan langkah kakinya dan menatap tajam kedepan.
“ Salam ayahanda. ?....”, ucap Bai Cheung dengan sikap hormat.
“ Bagaimana dengan ritual yang ayahanda dan ibunda lakukan hari ini ?....apa membuahkan hasil ?…. ”, Bai Cheung tak lagi bisa menyembunyikan rasa penasaran yang sudah sejak pagi dia pendam.
Dia segera bergegas pergi kekediaman ayah mertuanya begitu melihat permaisuri Wei kembali ke kediamanannya.
Bai Cheung yang pada awalnya terlihat sangat bersemangat tiba – tiba langsung lemas begitu melihat ekspresi Huang Lo.
“ Apakah ritualnya gagal ?....”, batin Bai Cheung penasaran.
Melihat ayah mertuanya terdiam cukup lama, Bai Cheung merasa jika ritual yang dilakukan oleh mertuanya tersebut pasti tidak sesuai harapan yang ada.
Pada saat Bai Cheung sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba – tiba ada tangan kekar yang menyentuh bahunya membuat dirinnya tersadar dari lamunan.
“ Ayo masuk…..”, ucap Huang Lo sambil merangkul menantunya tersebut dan mengiringnya masuk kedalam kediaman.
Didalam ruang pribadinya, Huang Lo langsung mengajak berdiskusi Bai Cheung mengenai apakah akan menggunakan Baoji dalam ritual untuk mengembalikan Fan Jianying kembali ke dunia ini atau tidak.
Bai Cheung terlihat mengkerutkan keningnya cukup dalam, memikirkan semua hal yang mertuanya katakan kepadanya.
Disatu sisi dia ingin istrinya kembali ke sisinya. Namun, dilain sisi dia juga tak ingin membahayakan anaknya yang masih belum genap berusia setahun tersebut.
__ADS_1
Bai Cheung merasa dilema akan semua ini. Meski mertuanya tersebut memberikan waktu untuk berpikir, tapi justru hal itu semakin membuatnya merasa tertekan.
“ Ayahanda, apa tidak ada cara lain lagi untuk bisa mengembalikan Fan Jianying selain menggunakan Baoji?....”, tanya Bai Cheung lemah.
Meski dia tahu bahwa pertanyaan yang baru saja dilontarkannya itu hanyalah harapan semu, tapi Bai Cheung masih berharap ayah mertuanya itu memiliki solusi lain terkait permasalahan tersebut.
Melihat Huang Lo hanya menggeleng lemah, Bai Cheung hanya bisa terdiam dan langsung keluar ruangan untuk memikirkan semuanya secara mendalam.
Didalam Meigui Palace, di ruang pribdainya Bai Cheung terus menatap lukisan wajah sang istri yang sempat dia abadikan dan pasang di dinding.
Dia sangat berharap bisa mengambil keputusan yang tepat agar tidak menyesal nantinya dikemudian hari.
Sementara itu, di dunia nyata Aurella yang pikirannya sangat penat terlihat sedang duduk ditaman yang tak jauh dari apartemennya.
Angin membelai wajah cantik Aurella. Beberapa helai rambutnya yang tergerai bebas dipermainkan oleh angin, namun hal tersebut sama sekali tak mengusik lamunannya.
Hingga kehadiran seorang lelaki yang tiba – tiba duduk disampingnya membuyarkan lamunannya.
“ Takdir tak bisa diubah. Jika pun bisa, harus ada yang dikorbankan….”
“ Jika bisa hidup di dunia nyata…”
Lelaki tua tersebut terus berguman dengan kata yang tak terlalu Aurella mengerti artinya. Meski begitu, ada beberapa kata yang langsung mengena dihatinya.
Melihat gadis yang ada disampingnya menatapnya dengan intens, lelaki tua tersebut hanya tertawa samar.
Sambil tersenyum, diapun segera merogoh saku bajunya dan mengambil sebongkah batu berwarna keemasan sebesar kelereng dan mengulurkan kepadanya.
“ Ambil ini….benda ini bisa menuntunmu masuk kedalam dunia imajiner…. ”, ucapnya sambil mengulurkan satu tangannya kepada Aurella.
Dengan sedikit ragu, Aurella pun mengambil batu tersebut dari tangan lelaki tua yang asing baginya itu.
“ Ambillah….”
“ Tunggu hingga bulan purnama tiba dan lakukan ritual seperti yang tertulis dikertas pada jam dua belas malam tepat….”
__ADS_1
“ Pikirkan baik – baik sebelum kamu mengambil keputusan….”
“ Karena….sekali kamu mengambil keputusan, maka tak akan bisa mundur kembali….”
“ Dan ingatlah satu hal, jika kamu kembali kesana maka tak ada lagi kesempatan untuk bisa kembali kedunia fana ini selamanya…..”
“ Bahkan keberadaanmu disini akan menghilang seolah kamu tak pernah ada….”, ucap laki – laki tersebut sebelum wujudnya menghilang dari pandangan mata.
Aurella terlihat mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, seolah tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya tadi.
“ Ini nyata…bukan mimpi….”, batin Aurella sambil menatap sebongkah batu keemasan yang ada ditelapak tangannya.
Merasa jika suhu udara semakin dingin, Aurella pun segera menyimpan bongkahan batu tersebut dan menyimpannya dalam saku celananya.
Diapun segera beranjak meninggalkan taman dan berjalan dengan gontai menuju apartemennya untuk beristirahat.
Kepala Aurella terasa berat seketika, banyak hal yang melintas dikepalanya saat ini. Semua yang terjadi antara nyata dan tidak tersebut membuatnya semakin frustasi.
“ Apa aku harus mencobanya ?...”
“ Tapi, jika aku kembali kesana maka aku tidak akan pernah bisa kembali kedunia nyata selamanya….”
“ Mengorbankan hidupku dan semua kerja kerasku selama ini akan setimpal dengan kebahagiaanku disana….”
Aurella terus saja berbicara dengan dirinya sendiri sambil berjalan bolak – balik di samping tempat tidurnya.
Diapun menimbang – nimbang semua hal dengan cermat karena sekali dia mengambil keputusan, maka hal tersebut tak bisa dia batalkan lagi.
“ Awww…..”, teriak Aurella sambil memijit pelipisnya saat kepalanya tiba – tiba saja berdenyut dengan kencang.
Diapun segera merogoh tas kerjanya, mencari obat penenang yang diberikan setelah berkonsultasi dengan psikiater tadi.
Setelah meminum obat, Aurella yang merasa jika tubuhnya sudah sedikit rileks mulai merebahkan diri diatas ranjang.
Setidaknya dengan bantuan obat tersebut malam ini dia bisa tertidur nyenyak tanpa memikirkan apapun yang dapat membuat kepala terasa mau pecah.
__ADS_1
Jika Aurella bisa tertidur nyenyak dengan bantuan obat penenang lain halnya dengan Bai Cheung sekarang.
Lelaki tersebut terlihat terjaga semalaman, hati dan pikirannya terasa tak sejalan saat ini. namun, dia tetap berusaha untuk membuat keputusan yang tepat secepatnya.