CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
Bab 43. Dilema Vera


__ADS_3

Pertanyaan ayah dan ibu mertuanya, membuat Damian merasa bahwa mereka tidak setuju, jika Damian membawa Vera ke kota.


"Tentu saja, Damian akan membawa mereka ke ruang Damian. Apakah ada yang salah?" tanya Damian sambil melihat ayah mertuanya.


"Bukan begitu, Damian. Tidak ada yang salah, seorang istri harus ikut suami. Tapi, kenapa harus secepat itu? Biarkan Vera tinggal lebih lama di sini," ucap pak Anto sedih.


Vera memang lebih dekat dengan pak Anto. Bahkan, kekhawatiran pak Anto itu lebih besar daripada kekhawatiran ibunya. Termasuk juga perhatian dan kasih sayang. Jadi, saat Vera pergi, pak Anto yang sangat kehilangan sosok putri kesayangannya. Walaupun dia sadar, setelah menikah, dia akan menjadi milik suaminya.


"Baiklah, Damian akan memberi Vera dan kalian waktu untuk lebih lama bersama. Vera, aku juga tidak ingin egois, seolah aku merebut kamu dari orangtuamu. Maafkan aku, jika aku memutuskan untuk kembali ke kota tanpamu," ucap Damian dengan sedih.


Vera hanya diam. Tetapi, sangat jelas terlihat bahwa dia sangat kecewa dengan keputusan Damian yang tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu. Tetapi, dia harus mencoba mengerti posisi Damian yang serba salah.


Vera sendiri, juga ada dalam dilema itu. Dia juga tidak akan bisa seratus persen bisa memutuskan untuk ikut suaminya atau tetap tinggal di rumah ini menjaga orangtuanya. Karena Vera ingin pergi dengan membawa restu dari ayah dan ibunya.


Selesai makan, Damian mengajak Vera pergi ke tempat wisata yang pernah menjadi kenangan mereka berdua. Mereka selayaknya pengantin baru, yang penuh kemesraan. Vera sengaja melupakan apa yang terjadi semalam maupun pagi ini, untuk membangun kembali hal-hal manis di antara dia dan suaminya.


Mereka akan menikmati setiap detik dan setiap menit kebersamaan mereka. Karena, mumpung Damian belum kembali bekerja dan pergi ke kota. Walaupun Vera juga ingin ikut ke kota, tetapi semua tidak bisa dia putuskan sendiri.


Merasakan indahnya pengantin baru, hanya satu Minggu saja. Karena, Damian sudah harus kembali bekerja. Damian memberi kesempatan Vera untuk bersama orangtuanya, dia Minggu lagi. Setelah itu, Damian akan menjemput Vera.


Bagi Vera, hal itu sangat membuatnya sedih. Sudah menikah, tetapi masih harus menjalani LDR dengan suaminya. Apalagi saat Damian memeluknya terakhir kali, Vera menangis sesenggukan.

__ADS_1


Setelah kepergian suaminya untuk kembali bekerja di kota, Vera juga kembali mengajar bersama Siya. Siya yang selalu bisa membantunya melupakan kesepiannya tanpa Damian.


Sayangnya, kali ini, Vera harus menerima kenyataan jika Siya juga wanita yang memiliki cinta. Cinta pada seorang pria yang tidak lain adalah Doni. Jadi dia tidak bisa terus merepotkan Siya.


Dengan senyum kebahagiaan, Siya menceritakan betapa bahagia dia bertemu dengan Doni. Pria yang baginya sangat istimewa. Baik hati dan penuh perhatian.


Siya dan Doni memutuskan untuk menikah meskipun hubungan mereka bisa dibilang masih seumur jagung.


"Kamu sudah yakin, Siya?" tanya Vera.


"Sudah. Dia juga sudah jujur padaku semuanya. Dan aku tidak keberatan dia pernah mencintaimu," jawab Siya sambil menatap Vera.


"Bagus kalau begitu. Aku juga tidak ingin menyembunyikan darimu, bahwa aku sama sekali tidak pernah mencintai dia. Aku tidak ingin kamu berpikiran yang tidak-tidak padaku," ucap Vera agak takut jika Siya akan cemburu padanya.


"Sahabatku memang benar-benar sudah dewasa, tidak seperti aku. Di usiaku ini, aku masih kekanak-kanakan. Aku sudah berusaha untuk bersikap dewasa karena aku sudah bukan lagi gadis muda. Tapi, sifat itu kadang masih tidak bisa hilang sepenuhnya," ucap Vera sedih.


"Vera, sifat asli memang sulit diubah. Tapi aku yakin kamu sudah cukup berusaha bersikap dewasa. Semua orang akan membantumu termasuk suamimu," ucap Siya yang membuat Vera agak kaget.


"Maksud kamu, suamiku membantu apa?"


"Menurutku, dia sengaja membiarkan kamu tinggal beberapa hari lagi bersama orangtuamu, karena dia ingin melihatmu melewati masa peralihan sikap. Dia ingin kamu yakin mengikuti dia, tanpa memaksamu," ucap Siya menjelaskan.

__ADS_1


"Mungkin kamu benar. Dia memang tidak pernah memaksa. Dia ingin orangtuaku juga ikhlas membiarkan aku mengikuti dia. Damian tahu jika aku sangat ingin keikhlasan orangtuaku saat meninggalkan mereka," ucap Vera sambil menghela napas panjang.


Setelah pembicaraannya dengan Siya, Vera menyadari jika Damian suami yang sangatlah baik dan sabar terhadapnya. Dia mau membimbing Vera menemukan keyakinan diri dalam mengambil keputusan yang akan dijalaninya seumur hidup.


Baru beberapa hari, rasanya Vera sudah sangat rindu pada Damian. Panggilan video call, tidak mampu mengobati rasa rindunya. Meskipun dia sudah berusaha menyibukkan diri dan sibuk membantu ibunya di dapur.


Saat makan malam, Vera tampak murung dan sedih. Walaupun Vera berusaha menutupinya, tetapi ayah dan ibunya bisa melihat hal itu. Mereka lalu memutuskan untuk memberikan restu pada Vera untuk pergi dan tinggal bersama suaminya. Meskipun mereka sayang dan ingin Vera menemani mereka di usia senja, mereka lebih memilih melihat putri mereka bahagia bersama suaminya. Siapa yang tidak ingin melihat anak mereka bahagia?


"Ayah, ibu. Kalian benar-benar mengizinkan Vera pergi?" tanya Vera senang.


"Iya, Vera. Ibu ingin melihat putri ibu tersenyum dan hidup bahagia. Kamu harus bahagia, oke?" ucap ibunya.


"Vera, kami menghargai sikapmu dan suamimu yang tidak memaksa dan berdebat dengan kami. Ayah menghargai suamimu yang selalu menghormati keinginan kami tanpa mengeluh. Kami juga menghargai sikapmu yang ingin keikhlasan kami. Kami akan sangat bahagia melihat kamu juga bahagia," ucap sang ayah serius.


"Tapi, bagaimana dengan kalian?" tanya Vera sedih.


"Kamu tidak perlu khawatir. Kami tahu kami pasti akan sangat merindukan kamu. Tapi, jika kami kangen, kamu akan mengunjungi kamu dan jika kamu kangen, datanglah mengunjungi ayah dan ibu," kata Bu Hena.


"Vera janji, Vera akan sering-sering datang menemui kalian. Meskipun kami sibuk, kami akan menyempatkan waktu untuk kalian," janji Vera.


"Kami percaya. Kamu bisa menghubungi suamimu untuk menjemputmu," ucap sang ayah.

__ADS_1


"Vera ingin membuat kejutan untuk Damian," ucap Vera sambil tersenyum.


Vera sangat bahagia mendengar ketulusan hati ayah dan ibunya. Vera bergegas tidur setelah makan malam dan menjalankan ibadah. Dia menyiapkan diri untuk pergi esok hari untuk menemui Damian setelah hampir satu Minggu mereka berpisah.


__ADS_2