
Keesokan harinya,
Seperti yang sudah diagendakan sebelumnya, pagi ini Fan Jianying dan Bai Cheung masuk kedalam istana untuk menghadap ke kaisar Huang.
Untuk itu keduanya berangkat setelah pengadilan pagi selesai diadakan. Semua itu mereka lakukan demi menghindari kecurigaan para menteri yang saat ini lebih intens mengawasi setiap gerak – gerik kaisar Huang.
Persaingan antara putra mahkota Qin Shi Huang dan pangeran Song Yu setiap hari semakin memanas.
Apalagi setelah putra mahkota Qin Shi Huang yang kembali berhasil menggagalkan penyelundupan bahan makanan serta senjata keluar ibukota membuat anak kandung Ratu Qinly tersebut berang.
Namun, Ratu Qinly juga tak bisa menyalahkan siapapun dalam kegagalan rencananya kali ini karena perjalanan tersebut di kawal langsung oleh putra kandungnya, pangeran Song Yu.
Justru karena hal inilah kaisar Huang akhirnya menyuruh putra keduanya itu tetap berdiam diri diistana selama tiga bulan dan membantu untuk mengurus administrasi didalam istana.
Melihat hukuman yang diberikan oleh ayahanda kaisar kepada adiknya sangatlah ringan membuat putra mahkota Qin Shi Huang merasa tak puas.
Meski begitu, putra mahkota Qin Shi Huang tak patah arang. Dia akan terus berusaha untuk membuat agar kepercayaan kaisar Huang kepada pangeran Song Yu berkurang hingga akhirnya hilang sepenuhnya.
Begitu juga dengan kepercayaan kaisar Huang terhadap Ratu Qinly yang perlahan dapat putra mahkota Qin Shi Huang sudah mulai luntur.
Dan hal tersebut tampaknya disadari oleh para menteri sehingga banyak pendukung pangeran Song Yu perlahan mulai menarik diri dan berpindah haluan.
“ Arrghhhh !!!….”, teriak pangeran Song Yu lantang.
Pangeran Song Yu terlihat mengamuk setelah sang ayah memberi hukuman untuk tak keluar istana selama tiga bulan hingga tingkah lakunya berubah dan menyuruhnya untuk membereskan beberapa administrasi di dalam istana.
“ Tenangkan dirimu…..”, ucap Ratu Qinly cemas.
“ Masih untung ayahmu tidak menghukummu lebih berat dari ini. Untuk anak sialan itu, biar ibu nantinya yang akan mengurusnya….”, ucap Ratu Qinly mencoba menghibur putranya.
Meski tidak yakin dengan ucapan ibundanya, tapi pengeran Song Yu masih bersyukur ibundanya tersebut selalu mendukung setiap hal yang dilakukannya.
Jika bukan karena ibundanya yang memohon dihadapan kaisar Huang, mungkin dia hari ini mendapatkan hukuman yang lebih berat dari yang sekarang diterimanya.
Begitu kereta kuda yang membawa Bai Cheung dan Fan Jianying tiba di istana, kasim yang menyambut kedatangan mereka segera membawa keduanya ke ruangan pribadi sang kaisar.
“ Yang Mulia, tuan muda ketiga Bai dan madam ketiga Bai sudah tiba….”, ucap kasim melaporkan.
“ Suruh masuk…..”, ucap kaisar Huang lantang.
__ADS_1
Setelah keduanya masuk, kaisar Huang segera menyuruh semua orang untuk keluar, termasuk sang kasim.
“ Bagaimana kondisi kesehatan ayahanda hari ini ?....”, Fan Jianying bertanya dengan penuh perhatian.
“ Seperti yang kamu lihat, ayahanda baik – baik saja…..”, ucap Kaisar Huang berbohong.
Fan Jianying hanya bisa menghela nafas panjang mendengar kebohongan kaisar Huang yang buruk itu.
Diapun segera beranjak dari tempatnya dan duduk disamping ayahnya sambil mengeluarkan kotak berlapis emas dari balik lengan bajunya.
“ Ini sengaja ananda buat sendiri khusus untuk ayahanda….”, ucap Fan Jianying sambil menyerahkan kotak tersebut kepada kaisar Huang.
Perlahan kasiar Huang membuka kota berlapis emas yang ada ditangannya itu. Kaisar Huang tersenyum tipis waktu melihat jika isi dalam kotak tersebut adalah sebuah kalung perak dengan batu zamrud berwarna hijau sebesar buah salah tergantung sebagai bandulnya.
“ Ini batu zamrud yang berasal dari danau kematian, ayahanda bisa menggunakan ini agar tubuh ayahanda tak selemah sekarang.…. ”, ucap Fan Jianying dengan wajah sedih.
Tak ingin mengecewakan sang putri, kaisar Huang pun segera memakai kalung pemberian Fan Jianying itu.
Kedua mata kaisar Huang melotot sempurna waktu merasakan jika tubuhnya kembali segar begitu kalung tersebut dipakainya.
Batu Zamrud yang mengenai jantungnya tersebut seolah memberikan kekuatan tersendiri dan secara tak langsung mengisi kembali kekuatan tubuhnya yang telah diserap oleh calon cucu yang masih ada didalam perut Fan Jianying.
Meski tak tahu apa yang telah terjadi, namun Bai Cheung juga melihat jika wajah kaisar hari ini lebih segar jika dibandingkan dengan beberapa waktu sebelumnya.
“ Terimakasih Fan’er….ayah tak tahu apa yang akan terjadi jika tak ada kamu….”, ucap kaisar Huang sambil mengenggam kedua tangan putrinya dengan hangat.
Ketiganya pun mulai berbicara dengan santai dan hangat. Kaisar Huang juga menyinggung masalah percobaan pembunuhan yang telah dialami oleh Fan Jianying.
Waktu membahas hal tersebut, terlihat sekali jika kaisar Huang sangatlah murka. Fan Jianying yang duduk disamping kaisar Huang beberapa kali terlihat mengusap bahu ayahandanya itu agar tak terlalu terbawa emosi.
“ Kamu coba konsultasikan dengan Qin Shi Huang. Setelah semua bukti dan saksi cukup, kita akan mengelar sidang untuk Ming Huan….”, ucap kaisar Huang tajam.
Meski perintah kaisar Huang terkesan mengusirnya secara halus dari tempat tersebut, namun dia cukup sadar jika pemimpin negara Huangshan tersebut ingin berbicara empat mata dengan sang istri.
“ Ananda pamit undur diri dulu ayah…. ”, ucap Bai Cheung dengan sikap hormat.
Setelah kepergian Bai Cheung, Fan Jianying pun segera mencerca ayahandanya dengan berbagai macam pertanyaan yang menganjal dihatinya.
Tentang semua cerita yang diungkapkan oleh peramal Yan hingga kehadiran Chenglu tadi malam ke kediamanannya.
__ADS_1
“ Apa ?!!!...semalam Chenglu menemuimu !!!!....”, tanya kaisar Huang tercenggang.
Dia sama sekali tak menyangka jika siluman ular perak tersebut akan mendatangi putrinya setelah dia tak berhasil menemuinya.
“ Benar ayah, dan dia juga menyampaikan pesan jika akan menunggu ayahanda ditempat yang telah disepakati lima belas tahun yang lalu….”, ucap Fan Jianying menyampaikan pesan Cheunglu yang dititipkan kepadanya.
“ Dia bilang apa lagi kepadamu ?....”, tanya kaisar Huangdengan tatapan penuh selidik.
Fan Jianying pun mulai menceritakan semua hal yang lelaki siluman ular perak tersebut katakan kepadanya semalam.
Apa yang dikatakan oleh Fan Jianying tanpa sadar membuat tubuh kaisar Huang membeku sejenak.
“ Kurasa, ini sudah saatnya Fan’er mengetahui semuanya….”, batin kaisar Huang lemas.
“ Fan’er, dengarkan baik – baik apa yang akan ayahanda katakan padamu. Ayahnda harap kamu tidak bertindak gegabah dan bisa memikirkan semuanya secara mendalam terlebih dahulu sebelum akhirnya mengambil keputusan…. ”, ucap kaisar Huang dengan tatapan cemas.
Melihat putrinya menganggukkan kepala sebagai respon ucapannya, kaisar Huang pun mulai menceritakan semuanya dengan detail kepada Fan Jianying.
Kali ini tak ada lagi hal yang sengaja di tutup – tutupi oleh kaisar Huang karena dirinya tak tahu berapa lama lagi dia mampu bertahan meski sudah ada batu zamrud hijau dari danau kematian melekat ditubuhnya saat ini.
Fan Jianying tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya begitu mendengar semua penuturan yang diberikan oleh ayahandanya itu.
Dia terlihat beberapakali mengerjapkan kedua matanya, berusaha untuk mencerna semuanya dan memasukkannya kedalam akal sehatnya.
Banyak hal yang diucapkan oleh kaisar Huang seakan tak nyata baginya. Namun, jika dia kembali melihat kebelakang selama tinggal dinegara asing ini apakan Fan Jianying pernah merasakan hal yang normal.
Tentu jawabannya adalah tidak karena dunia asing yang dia tinggali ini bukanlah dunia manusia pada umumnya.
Semua adalah buatan tangan sang penulis, dimana banyak hal aneh dan tak nyata serta berada diluar nalar manusia ada disini.
Termasuk dirinya yang saat ini tentunya menjadi obyek yang akan banyak diburu oleh pihak lain yang menginginkan kristal kehidupan yang tampaknya sudah mengakar dalam tubuhnya.
Jika saja Fan Jianying tidak hamil, tentunya dia tak akan serisau sekarang karena dia bebas melakukan apapun tanpa mempertimbangkan yang lainnya.
“ Maaf jika ayahanda semakin membuatmu tertekan. Tapi, ini adalah takdir yang sudah digariskan. Dan semua hal ini berawal dari kesalahan ayahanda….”, ucap kaisar Huang sedih.
“ Tidak…ayahanda tidak salah. Semua ini sudah suratan takdir yang harus aku jalani….”, ucap Fan Jianying berusaha tenang.
Meski dalam hati kecilnya ada banyak kekhawatiran yang melandanya saat ini. Meski begitu, dia akan berusaha untuk mengatasi semua permasalahan tersebut satu – persatu dengan baik.
__ADS_1
Setidaknya saat ini dia sudah mendapatkan titik terang yang mampu menuntunnya untuk menyelesaikan semuanya dan mengembalikannya ke tempatnya semula.