
Sesampainya didalam rumah makan, para pejabat tersebut segera mencerca Bai Cheung dan Fan Jianying dengan berbagai macam pertanyaan.
Melihat kedua pemuda dihadapannya tersebut menjawab setiap pertanyaan yang mereka ajukan dengan santai dan menyakinkan, akhirnya pak walikotapun melepaskan keduanya.
Meski begitu, mereka akan terus mengawasi pergerakan pedagang yang disinyalir akan tinggal beberapa hari di dalam kota Xiantaro tersebut.
Bai Wang terlihat mengkerutkan keningnya cukup dalam waktu menyadari jika kedua pemuda tadi tampak familiar untuknya.
Tapi sekeras apapun dia mencoba untuk berpikir, apa yang masuk dalam kepalanya terasa sangat tak masuk akal untuk saat ini.
Malam harinya, Fan Jianying dan semua orang terlihat sudah berpakaian hitam – hitam dan berpencar ke berbagai macam area yang sudah dibagi sebelumnya.
Tujuan mereka adalah rumah para pejabat dan kantor pemerintahan. Berharap mereka bisa menemukan titik terang untuk permasalahan kali ini.
Sementara itu, di ibukota Huangsahan pengeran ke empat Wei Jie yang baru saja mendapatkan surat peringatan dari Bai Cheung segera mendiskusikan hal tersebut bersama putra mahkota Qin Shi Huang.
“ Jadi disana tempat pangeran Song Yu melatih pasukannya…”, guman putra mahkota Qin Shi Huang tersenyum licik.
Diapun segera mengirim balasan untuk surat yang dikirimkan oleh Bai Cheung kepada pangeran Wei Jie.
Dimana dalam surat tersebut, Bai Cheung harus mencari kamp masukan militer yang sengaja dibentuk oleh pangeran Song Yu yang diperkirakan letaknya masih di kawasan kota Xiantaro.
Bai Cheung terlihat berpikir keras waktu mendapatkan pesan tersebut dari putra mahkotra Qin Shi Huang.
“ Tampaknya ini adalah tempat dimana pasukan rahasia pengeran Song Yu berada….”, ucap Bai Cheung sambil mengamati sebuah kertas dengan tanda lingkaran merah di salah satu tempat dikota Xiantaro.
Pagi harinya semua orang kembali memberikan bantuan makanan. Kali ini para warga bukan hanya mendapatkan semangkuk bubur hangat dan roti.
Tapi mereka juga mendapatkan pengobatan gratis dan bahan makanan mentah. Tentu saja hal terebut membuat semua warga kota Xiantaro tersenyum bahagia.
__ADS_1
Setidaknya bahan makanan mentah tersebut bisa mereka buat untuk mengisi perut mereka dalam beberapa hari kedepan.
Melihat para pedagang tersebut masih bersikap biasa dan tak ada yang mencurigakan, walikota Xiantaro terlihat tersenyum puas.
Apalagi pedagang tersebut kemarin sudah memberinya upeti berupa emas dan perak yang cukup banyak hingga membuat hatinya sangat senang.
Namun senyum tersebut tak bertahan lama waktu anak buahnya yang ditugasi untuk mengawasi wilayah perbatasan datang.
Ternyata ucapan kedua pedagang tersebut benar adanya. Semua pedagang yang berasal dari pelabuhan Arlian akan melewati kota Xiantaro sebelum menuju ibukota.
“ Apa yang sebenarnya terjadi di kota Hifen ?...kenapa mereka tidak melewati kota tersebut ?....”, itulah berbagai macam pertanyaan yang ada didalam benak pak walikota saat ini.
Tapi pada saat dia membayangkan jika akan mendapatkan upeti berupa emas dan perak yang sangat banyak dari para pedagang yang akan singgah dikotanya tersebut, senyum kembali mereka diwajah tambun walikota Xiantaro.
Sementara itu, hari ini Bai Wang sama sekali tidak ada di pusat kota Xiantaro karena dirinya sudah berada di perbatasan antara kota Xiantaro dengan kota Bangjiwen untuk melatih pasukan rahasia milik pangeran kedua Song Yu.
Meski tak setiap hari berada disana, tapi setidaknya tiap dua bulan sekali Bai Wang akan selama satu minggu untuk melihat perkembangan pasukan yang dilatihnya tersebut.
Sehingga sebagai assisten menteri ekonomi dan diplomatic dirinya setiap dua bulan sekali akan mengunjungi kota Bangjiwen untuk mengawasi roda perekonomian yang ada disana.
Dan hal tersebut dijadikannya sebagai alasan untuk bisa pergi melihat pasukan rahasia yang dibentuk oleh sekutunya, pangeran kedua Song Yu.
Bai Cheung yang mendapatkan laporan jika sang kakak lah yang telah melatih pasukan rahasia milik pangeran kedua Song Yu yang nantinya akan digunakannya untuk menggulingkan pemerintahan terlihat sangat marah.
Fan Jianying yang melihat hal tersebut, berusaha untuk menenangkan suaminya agar tidak bertindak gegabah dan menghancurkan semua rencana yang sudah berhasil mereka susun.
“ Tenanglah…malam ini akan kita ambil semua bukti yang sudah berhasil kita ketahui, dan untuk masalah pasukan rahasia tersebut, tampaknya kita harus menyusupkan mata – mata disana…”, ucap Fan Jianying memberikan saran.
Mendengar ucapan istrinya tersebut, hati Bai Cheung sedikit tenang. Benar, dia tak boleh tersulut emosi dan bertindak gegabah.
__ADS_1
Semua harus sesuai rencana dan tetap tenang agar pergerakan mereka tidak akan dicurigai. Dan untuk masalah menempatkan mata – mata dalam pasukan rahasia milik pangeran Song Yu.
Bai Cheung pun sudah memikirkannya dan sudah mengirim dua anak buahnya untuk bergabung didalamnya.
“ Ayah pasti akan sangat kecewa jika sampai mengetahui jika kakak berbuat hal seperti ini….”, batin Bai Cheung sedih.
Malam harinya, semua orang sudah bergerak sesuai dengan rencana yang telah mereka susun. Satu persatu barang bukti berhasil mereka dapatkan dengan mudah.
Kedatangan satu persatu pedagang didalam kota Xiantaro membuat semua orang tak lagi memperhatikan pergerakan Fan Jianying dan rekan – rekannya.
Kesempatan tersebut dipergunakan oleh Fan Jianying dengan sebaik – baiknya untuk kembali mengumpulkan lebih banyak bukti agar kuat untuk menganti seluruh pejabat korup yang ada di kota Xiantaro.
Setelah semua bukti dikota Xiantaro berhasil terkumpul, merekapun segera melanjutkan perjalann menuju kota Banjiwen begitu Heyna dan dua pasukan putra mahkota Qin Shi Huang bergabung dengan mereka.
Tujuan mereka kekota tersebut untuk mengumpulkan bukti penggelapan pajak yang diduga dilakukan oleh pejabat setempat bersama Bai Wang untuk mendanai operasional pasukan khusus pangeran Song Yu.
Bukti tersebut akan Fan Jainying berikan kepada sanga ayah selaku menteri keuangan agar mengusut mengenai pembukuan dan penggelapan dana perpajakan di kota Banjiwen .
Hanya butuh waktu setengah hari, semua orang terlihat sudah berada di dalam kota Banjiwen. Sebagai kota perniagaan, kedatangan pendatang disambut hangat oleh semua warga.
Bahkan kondisi dalam kota tersebut lebih ramai jika dibandingkan dengan ibukota dimana banyak toko dan rentoran serta penginapan tumbuh dimana – mana.
“ Kota Banjiwen adalah surge bagi para koruptor…”, ucap Fan Jianying penuh sindiran.
Meski baru saja datang, tapi mereka sudah bisa melihat banyak celah yang bisa di pergunakan untuk menimbun kekayaan pribadi.
Banyak sekali punggutan liar yang Fan Jianying yakini tidak pernah masuk kedalam kas negara dan langsung masuk kedalam kantong walikota setempat.
Bai Cheung dan yang lainnya terlihat mulai mengumpulkan beberapa bukti dan informasi dari para pedagang yang membuka usaha disana.
__ADS_1
Selain pungutan liar yang ditarik setiap hari oleh paratur setempat, mereka juga mendapatkan informasi jika para pedangan tiap bulan akan menyetorkan keuntungan mereka sebanyak sepuluh persen terhadap pemerintah jika ingin usaha mereka bisa terus berjalan di kota tersebut.
Melihat secara kasar banyaknya bangunan yang menjamur dikota tersebut sudah bisa Fan Jianying hitung secara kasar jika walikota tersebut mengantongi setidaknya dua puluh sampai lima puluh ribu tael emas tiap bulannya.