CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
CAMPUR ADUK


__ADS_3

Seperti yang dijanjikan, setelah semua urusannya selesai pangeran Wei Jie segera melangkah ke kediaman ibunda permaisuri sambil membawa beberapa makanan dan kudapan yang Zoelu beli dari Impereal Restoran.


“ Kuharap dengan makanan yang kubeli ini ibunda kembali berselera…”, batin pangeran Wei Jie sambil menghela nafas cukup dalam.


Sesampainya di kediaman permaisuri Wei, dapat dia lihat ibundanya itu sedang berada di teras paviliun sambil menatap kosong kearah kolam ikan yang ada dihadapannya.


Dua kali dia coba memanggil, tapi tampaknya permaisuri Wei masih larut dalam pikirannya hingga membuat pangeran Wei Jie terpaksa menepuk bahunya pelan untuk menyadarkannya.


“ Ibunda, ini aku bawakan beberapa masakan dan kudapan dari Impereal Restoran…”, ucap pangeran Wei sambil tersenyum.


Mendengar nama Impereal Restoran, atensi permaisuri Wei mulai bangkit. Diapun segera melirik meja kecil yang ada dihadapannya sudah penuh dengan makanan.


Perlahan diapun mulai duduk dan mengambil sumpit yang ada disamping mangkuk. Dengan pandangan senduh, dia mengambil ikan bakar yang di cocolkan kedalam sambal kecap dan memasukkannya kedalam mulut.


Hidangan yang aneh namun sangat lezat tersebut juga menjadi salah satu best seller di Impereal Restoran.


“ Meski tidak bisa bertemu dengannya, setidaknya aku masih bisa merasakan masakannya…”, batin permaisuri Wei sedih.


Secara perlahan namun pasti permaisuri Wei pun mengambil makanan yang tersaji diatas meja hingga tak terasa semua makanan yang pangeran Wei Jie bawa telah habis.


Melihat hal itu tentu saja hati pangeran Wei Jie bahagia. Diapun mulai berpikir apa hubungan sang ibu dengan Fan Jianying hingga membuat wanita yang telah melahirkannya itu begitu terpukul waktu dilarang menemui gadis tersebut.


Setelah selesai makan, pangeran Wei Jie pun mulai melancarkan aksinya guna memenuhi rasa penasaran yang sudah sedari tadi menyelimutinya.


“ Apa aku coba minta bantuan putraku saja. Kulihat hubungan antara pengeran Wei Jie  dengan Fan Jianying cukup bagus…”, batin permaisuri Wei sambil menatap lekat sang putra.


Pangeran Wei Jie yang ditatap oleh ibundanya sedemikian rupa tentunya merasa sangat terkejut karena tak biasanya ibundnaya ragu untuk mengatakan sesuatu kepada dirinya seperti ini.


“ Apa ada yang ingin ibunda sampaikan kepada ananda ?...”, tanya pangeran Wei Jie penasaran.


Permaisuri Wei terlihat meremas – remas kedua tangannya dengan resah. Setelah yakin akan keputusan yang diambilnya, diapun mulai bersuara.


“ Apa ananda mau membantu ibunda, meski hal ini menentang keputusan kaisar?...”, tanya permaisuri Wei gugup.

__ADS_1


Pengeran Wei yang sudah menangkap maksud dari ibundanya mulai menganggukkan kepala tanpa ragu.


Mendapatkan respon positif dari sang putra, permaisuri Wei sangat lega. Semoga kali ini dia bisa benar-benar mendapatkan informasi yang tepat.


“ Cari informasi tentang tanda lahir yang dimiliki oleh Fan Jianying dan semua hal yang berkaitan dengan proses kelahirannya…”, ucap permaisuri Wei dengan tatapan nanar.


Untuk sejenak, pangeran Wei terlihat sedikit mengkerutkan keningnya sambil mencoba menerka apa tujuan sebenarnya yang ingin ibundanya capai tersebut.


“ Jika dugaanku benar, maka dia mungkin adalah adikmu, putri Wei Fei..”, ucap permaisuri We pelan.


Pangeran Wei Jie terbelalak mendengar ucapan ibundanya. Bagaimana bisa, adiknya yang meninggal setelah dilahirkan ternyata masih hidup.


Berbagai perasaan bergejolak dalam diri pangeran Wei Jie saat ini. Semua rasa seakan campur aduk didalam hatinya.


“ Apakah ayahanda tahu akan hal ini ?...”, tanya pengeran Wei Jie sambil menatap ibundanya secara intens.


“ Entahlah…Yang Mulia selalu bungkam jika aku singgung akan hal ini…”, ucap permaisuri Wei sedih.


“ Saksi kunci dalam peristiwa ini adalah biksu dan bikuni yang membantu proses kelahiran saat itu. Hanya saja sekarang mereka sudah pergi dari kuil Guandong dan tidak ada yang tahu dimana mereka berada sekarang…”, ucap permaisuri Wei sendu.


Dalam hati, pangeran Wei Jie akan mengungkap semua kebenaran mengenai masalah ini.


Bagaimanapun juga dia harus bisa mengungkap semua rahasia ini secepatnya dan langkah pertama dia akan mencari Fan Shaosheng, ayah dari Fan Jianying.


Sementara itu diwilayah perbatasan timur, Bai Cheung terlihat sedang bersiap untuk mandi setelah lima hari membantai hewan mutasi tanpa henti.


Untung saja ramuan yang dibuat oleh Fan Jianying sangat ampuh hingga hewan mutasi sekarang populasinya sudah menurun drastis.


Informasi yang diberikan oleh pasukan rahasia yang ditugaskan untuk mengawasi istri dan kakaknya tersebut juga sangat berharga dimana dia bisa membasmi hampir setengah populasi hewan mutasi tersebut sebelum semuanya berhasil dipindahkan.


Bahkan kali ini dia juga sudah membantai habis para pasukan yang menjadi mata – mata didalam kampnya sehingga untuk sementara kondisi masih bisa kondusif.


“ Air mandinya sudah siap tuan…”, ucap Liam pelan.

__ADS_1


Bai Cheung yang sedang mengobrol santai dengan para prajurit yang membantu misinya hanya mengangguk dan kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti tadi.


Begitu pembicaraan selesai, Bai Cheung yang sudah merasakan tubuhnya sangat lengket tercampur keringat dan darah mulai beranjak masuk kedalam tenda untuk membersihkan diri.


“ Ada apa ?...”, tanya Bai Cheung begitu melihat Liam memasuki tenda.


“ Saya akan bantu tuan muda untuk membersihkan jenggot dan kumis yang ada diwajah anda…”, ucap Liam sambil mengeluarkan pisau lipar kecil dari sakunya.


“ Tidak usah, pergilah…”, ucap Bai Cheung sambil menggerakkan satu tangannya, mengusir Liam dari tendanya.


“ Tapi tuan….”, belum sempat Liam menyelesaikan kalimatnya, Bai Cheung kembali memerintahkannya untuk keluar.


Dengan langkah berat, Liampun keluar dari dalam tenda dan membiarkan tuan mudanya itu membersihkan diri sambil merilekskan tubuh yang selama lima hari ini dia forsir penuh.


Melihat kondisi tuan mudanya yang saat ini terlihat sangat berantakan membuat hati kecilnya merasa tercubit.


Dulu tuan mudanya itu selalu mengutamakan penampilannya. Bukan hanya kebersihan badan dan pakaian yang dikenakan.


Tapi wajahnya selalu segar dan tak membiarkan satu bulu haluspun tumbuh disana. Tapi, melihat kondisinya sekarang yang sangat kusam tak terawat hati Liam sangat sedih.


Sambil merilekskan tubuhnya didalam bak mandi, kedua mata Bai Cheung mulai terpejam. Tanpa sadar dia mulai memikirkan tentang Fan Jianying.


Dia kembali mengingat laporan yang diberikan oleh pasukan rahasia yang ditugaskan untuk mengawasi sang istri yang mengatakan jika ramuan yang dipergunakan oleh dirinya untuk melawan hewan mutasi adalah buatan sang istri yang dititipkan melalui pangeran ke empat.


Bai Cheung tentunya sangat terkejut mengetahui fakta tersebut. Jika itu dirinya, karena telah mengetahui masalah tersebut dalam kehidupannya terdahulu jadi dia bisa bertindak tepat waktu untuk mencegah kejadian buruk yang akan terjadi.


Namun, istrinya yang dalam kehidupannya terdahulu selalu sibuk dengan keluarga Fan dan masalah Heng Yuan tidak memiliki banyak waktu dan mungkin mengetahui masalah ini.


“ Lalu, bagaimana dia bisa membuat penawar racun dan ramuan untuk melemahkan kekuatan hewan mutasi sehingga mudah untuk dibasmi…”, batin Bai Cheung penasaran.


“ Ini tidak seperti Fan Jianying aku kenal dulu…”, Bai Cheung kembali berkata dalam hati.


Jika Bai Cheung mengetahui fakta yang sebenarnya dia mungkin akan sangat menyesal karena telah menyia – nyiakan istri penuh bakat seperti Fan Jianying.

__ADS_1


__ADS_2