
Pagi yang cerah, mentari bersinar dengan terangnya. Sinarnya yang hangat menyentuh kulit Fan Jianying membuat gadis itu merasa sedikit nyaman.
Entah kenapa sejak bangun tidur Fan Jianying merasa jika perutnya tidak beres. Dia terus mual tanpa bisa mengeluarkan apapun dari dalam perutnya.
“ Apa aku salah makan semalam ?....”, batin Fan Jianying penuh tanda tanya.
Diapun kembali mengingat apa saja yang dia makan semalam. Merasa tak ada yang aneh dalam makanan yang dia makan, Fan Jianying hanya bisa mengendikkan bahu sambil berguman lirih “ Mungkin stress aja, jadi asam lambungku naik….”.
Seperti rutinitas harian yang biasa dia lakukan setiap hari. Fan Jianying pergi ke Impereal Restorant bersama Dayu dan servant Meilin untuk membantu persiapan pembukaan restoran hari ini.
Pada awalnya Fan Jianying bersikap biasa saja, meski perutnya masih terasa nyeri tapi dia tetap beraktivitas seperti biasa.
Hingga aroma masakan daging panggang lada hitam yang dibuat koki restoran membuat perutnya terasa sangat mual seperti diaduk – aduk.
Fan Jianyingpun segera berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi dalam perutnya.
Hoekkkk… Hoekkkk… Hoekkkk…
Fan Jianying mengeluarkan semua sarapan yang tadi dia makan dari dalam perutnya hingga habis tak bersisa. Dayu yang berada disampingnya terlihat sangat cemas.
Dengan sigap diapun membantu nona mudanya tersebut dengan mengurut leher Fan Jianying sambil memberikan minyak angin agar dihirup oleh nona mudanya tersebut hingga rasa mualnya segera berkurang.
Setelah semua makanan sudah berhasil dikeluarkan, Fan Jianying segera duduk dibantu dengan Dayu sambil menghirup minyak angin yang ada didalam botol kecil ditangannya.
“ Nona, minumlah ini agar perut nona hangat….”, ucap Dayu penuh perhatian.
Diapun segera meneguk habis teh hangat yang ada ditangannya itu secara perlahan. Wajah Fan Jianying tiba – tiba pucat pasi dengan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya waktu perutnya kembali bergejolak.
Fan Jianying pun segera berlari kekamar mandi karena isi dalam perutnya sudah tak bisa lagi dia tahan.
Hoekkkk… Hoekkkk… Hoekkkk…
Dia kembali memuntahkan apa yang baru saja masuk kedalam perutnya tanpa henti hingga badannya terasa sangat lemas.
Dayu yang melihat tubuh Fan Jianying bergetar dengan wajah pucat segera membantunya untuk kembali duduk.
“ Apa sebaiknya saya memanggil tabib Shilin ?.....”, tanya Dayu cemas.
“ Tidak usah…kita balik ke kediaman saja…”, ucap Fan Jianying lemah.
Fan Jianying memberi istruksi agar servant Meilin tetap berada di Impreal Restoran dulu dan menghandle semuanya ketika dia dan Dayu kembali ke kediaman Bai.
Sepanjang perjalanan, Fan Jianying terus menyandarkan kepalanya di bantal yang ada dalam kereta sambil meluruskan kedua kakinya.
Dayu dengan setia memijat kedua pergelangan kaki nona mudanya yang terasa sangat dingin tersebut.
Naik kereta kuda yang bergoyang seperti ini membuat perut Fan Jianying kembali bergejolak dengan hebat, rasanya seperti diaduk - aduk.
__ADS_1
Dia tak mungkin kembali muntah didalam kereta dan memilih memejamkan kedua matanya untuk menahan rasa mual yang ada.
Alhasil, wajah Fan Jianying terlihat sangat pucat membuat Dayu semakin panik dan terus menggosokkan tangannya ke kaki nona mudanya agar menjadi hangat.
“ Pak kusir…tolong lebih cepat sedikit….”, teriak Dayu panik.
Kusir kereta yang mendengar perintah tersebut segera melarikan kudanya lebih cepat agar segera sampai di kediaman Bai.
Untung saja jalanan tidak terlalu ramai sehingga mereka bisa sampai di kediaman Bai lebih cepat dari pada biasanya.
Dengan tubuh lemas Fan Jianying turun dari atas kereta kuda dibantu oleh Dayu. Kedua alis Fan Jianying menaut sempurna waktu melihat kereta kuda milik putri Wei Xieun ada dihalaman rumah keluarga Bai.
“ Ada keperluan apa putri Wei Xieun datang kemari ?....”, batin Fan Jianying penasaran.
Begitu melewati gerbang tiba – tiba saja pandangan mata Fan Jianying mulai kabur dan kepalanya terasa sangat berat sekali.
Fan Jianying terus memegangi kepalanya dengan satu tangannya sambil mengernyit menahan rasa sakit yang ada dan sedetik kemudian semua menjadi gelap gulita.
Bai Cheung yang baru kembali dari pengadilan melihat Fan Jianying turun dari atas kereta ingin mengejutkan sang istri dari belakang.
Melihat tubuh istrinya tiba – tiba roboh, dengan panik diapun segera berlari dan menangkap tubuh munggil tersebut sebelum jatuh ketanah.
Bai Cheung menepuk – nepuk pipi istrinya berulang kali agar gadis itu bisa tersadar. Melihat Fan Jianying sama sekali tak memberi respon diapun mulai terlihat panik.
“ Kenapa dengan Fan’er ?....”, tanya Bai Cheung cemas.
Dayu pun menceritakan semua hal yang terjadi selama berada di Impreal Restoran kepada Bai Cheung.
“ Panggil tabib Shilin sekarang !!!....”, perintah Bai Cheung tegas.
Dayupun bergegas pergi untuk memanggil tabib Shilin. Sementara Bai Cheung membawa tubuh istrinya masuk kedalam kediaman diikuti oleh para pelayan rumah ketiga dengan wajah cemas.
Melihat Cucunya berlari sambil membawa tubuh Fan Jianying dalam dekapannya dan diikuti oleh para pelayan yang ikut berlari bersama sang majikan membuat matriark Bai yang baru saja keluar dari kediaman utama hendak mengantar putri Wei Xieun pulang mengkerutkan keningnya cukup dalam.
“ Ada apa ?...kenapa ribut sekali ?....”, tanya matriark Bai penasaran.
Salah satu pelayan yang ada dierumunan segera menghadap dan membungkuk sopan dengan tangan terkepal kedepan dihadapan matriark Bai.
“ Menjawab nyonya besar. Nyonya muda ketiga pingsan setelah kembali dari Impereal Restoran dan sekarang sedang dibawa oleh tuan muda kembali ke kediamanannya…. ”, ucap pelayan tersebut sopan.
“ Fan’er pingsan ?....bagaimana bisa ?....”, tanya matriark Bai cemas.
“ Untuk hal itu, pelayan ini kurang tahu nyonya….”, ucap pelayan tersebut masih dengan sikap sopan.
Mendengar hal tersebut, matriark Bai segera berjalan menuju kediaman ketiga dengan tergesa – gesa dan wajah panik.
Putri Wei Xieun yang juga mendengar jika adiknya pingsan langsung saja mengikuti langkah matriark Bai menuju halaman rumah keluarga ketiga diikuti semua pelayan pribadinya.
__ADS_1
Tak lama kemudian tabib Shilin datang dan segera masuk kedalam kamar Fan Jianying. Bai Cheung pun berdiri disamping ranjang agar istrinya tersebut bisa diperiksa.
Tabib Shilin terlihat menautkan kedua alisnya hingga menukik kebawah, dan tak lama kemudian keningnya juga ikut berkerut cukup dalam.
Melihat tabib Shilin seperti itu tentu saja membuat hati Bai Cheung menjadi tidak tenang. Pikiran buruk pun mulai melintas dalam benaknya.
“ Apakah penyakitnya seserius itu ?....”, tanya Bai Cheung dengan tatapan penuh kekhawatiran.
“ Anda tidak perlu cemas, madam ketiga Bai baik – baik saja dan hanya perlu beristirahat sejenak maka kondisi tubuhnya akan segera pulih….”, ucap tabib Shilin sambil tersenyum.
Namun Bai Cheung tak mempercayai perkataan tabib Shilin begitu saja melihat istrinya masih terbaring lemas diranjang dan belum sadatrkan diri.
“ Apa kamu yakin ?....”, tanya Bai Cheung ragu.
“ Anda bisa mengandalkan saya….”, ucap tabib Shilin sambil menepuk bahu Bai Cheung pelan.
Melihat wajah Bai Cheung masih terlihat cemas, tabib Shilin pun tak mau main - main lagi dan segera memberitahukan kabar bahagia tersebut.
“ Aku ucapkan selamat ya, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah….”, ucap Tabib Shilin sepenuh hati.
“ Ma…maksudmu, Fan’er hamil ?...”, tanya Bai Cheung terkejut.
“ Benar, Madam muda ketiga Bai saat ini sedang hamil muda, jadi wajar jika kondisinya lemah seperti ini…..”, ucap tabib Shilin menjelaskan.
Bai Cheung tak bisa lagi menahan rasa bahagianya, begitu juga dengan Dayu dan pelayan senior Gaeng yang berada dalam ruangan.
Keduanya segera berpelukan mendengar hal baik seperti itu dan segera keluar ruangan untuk mengabarkan kabar bahagia tersebut kepada matriark Bai yang sedang menunggu diluar ruangan.
Bai Cheung segera memeluk istrinya sambil berurai air mata. Fan Jianying yang baru saja tersadar terlihat sedikit linglung waktu suaminya tiba – tiba memeluknya dengan erat sambil menangis.
“ Ada apa ?...kenapa kamu menangis ?...”, tanya Fan Jianying binggung.
“ Terimakasih sayang…kamu sudah membuatku menjadi seorang ayah….”, ucap Bai Cheung sambil mengecupi seluruh wajah istrinya dengan lembut.
Diam – diam tabib Shilin beranjak keluar ruangan dan memberikan pasangan yang sedang berbahagia tersebut waktu untuk sendiri.
Begitu tabib Shilin keluar, dia segera diberondong berbagai macam pertanyaan dari matriark Bai dan putri Wei Xieun.
Dengan sabar tabib Shilin menjawab satu persatu pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Diantara kerumunan pelayan, ada satu pelayan dari kediaman pertama disana.
Diapun diam – diam pergi keruang doa dan memberitahukan kabar yang baru saja dia dengar dari halaman rumah tangga ketiga.
Madam Chou yang dikurung di ruang doa mendengar kabar tersebut tentu saja hatinya merasa sangat tidak puas.
“ Bagaimana bisa gadis busuk itu bisa seberuntung itu !!!....”, guman madam Chou geram.
Diam – diam dia mulai menulis sebuah surat dan diberikan kepada pelayan tersebut melalui celah pintu agar surat tersebut diberikan kepada ayahnya.
__ADS_1
“ Aku tidak akan pernah membiarkan anak itu lahir kedunia !!!...tidak akan pernah !!!....”, guman madam Chou penuh amarah.
Selama dikurung diruang doa, madam Chou bukannya bertobat justru dia menyusun rencana balas dendam kepada Fan Jianying karena dianggap adik iparnya itulah yang membuatnya celaka hingga mendapat hukuman seperti sekarang.