
Seluruh keluarga besar Damian sudah kembali ke kota. Meskipun Abian masih sangat sulit untuk berpisah dengan Vera. Tetapi, Vera berjanji, suatu saat akan mengajak Abian pergi bermain ke taman seperti waktu dulu.
Vera dan Damian mengantar mereka hanya sampai sebatas halaman rumah Vera. Vera termenung sesaat. Dia teringat pesan dari Bu Farida, untuk membujuk ayahnya menyetujui keinginan mereka agar Vera dan Damian menikah secepat mungkin. Apakah Vera memang sudah siap menikah? Pertanyaan yang belum bisa Vera jawab saat ini.
"Vera, aku pamit dulu. Besok kita ketemu di sekolah," pamit Siya sambil menjabat tangan Vera.
"Siya, andai saja, aku bisa. Aku juga pingin tinggal di rumah dinas seperti kamu. Pasti menyenangkan," ucap Vera sambil menatap Damian.
"Aku tidak akan pernah melarang kamu, untuk tinggal di rumah dinas. Karena kita belum menikah. Tapi nanti kalau kita sudah menikah, baru aku akan melarang kamu. Jadi jangan melihatku," ucap Damian sambil meninggalkan Vera dan Siya.
"Hei, bicara apa dia," gumam Vera.
"Vera, itu tandanya, dia sudah ngebet, pingin cepet nikah sama kamu. Supaya bisa melarang-larang kamu secara sah," goda Siya.
"Siya, aku belum seratus persen yakin untuk secepatnya menikah. Aku masih trauma dengan kegagalanku bersama Rendra," ucap Vera sedih.
"Vera, duduklah. Tidak semua laki-laki seperti Rendra. Tidak semua yang kelihatan dari luarnya tidak meyakinkan, akan berkhianat," ucap Siya sambil memegang erat tangan Vera.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Aku ingin hatiku yakin, bahwa cinta yang dimiliki Damian saat ini, tidak akan tergoyahkan oleh jarak dan waktu," ucap Vera sambil menghela napas berat.
Perasaan curiga kadang menghampiri Vera dan berbisik lirih. Cinta, apakah cintanya tidak akan goyah oleh godaan? Apakah cintanya tidak akan terkikis oleh waktu dan keadaan? Apakah cintanya akan bisa menjaganya, ketika saling berjauhan dan terhalang oleh jarak dan waktu?"
Sebulan kemudian.
Tahun ajaran baru telah di mulai. Penerimaan siswa baru di sekolah Madrasah, yayasan Vera Cantika bisa dibilang cukup berhasil. Setidaknya ada 20 siswa yang mendaftar sebagai murid baru. Ini sebuah pencapaian yang bagus diawal tahun ajaran baru ini.
Selain kabar baik itu, ada kabar yang membuat Vera sedih. Damian harus kembali ke kota karena ada masih di perusahaannya yang harus dia tangani. Di sana, sudah ada sang kakak yang menggantikan posisi dia. Tetapi, dengan latar belakang pendidikannya sebagai seorang desainer muda, memang tidak bisa menanggung beban perusahaan yang sangat berat.
Damian tampak sedih, tetapi hati Vera lebih sedih lagi. Tetapi, bagaimanapun juga, Vera tidak mau egois memaksa Damian untuk terus berada disisinya. Dengan derai airmata, Vera mengantar kepergian Damian.
Vera mengangguk pelan tanda mengerti. Vera sebenarnya ingin sekali, segera menikah dengan Damian. Tetapi, hatinya masih diliputi keraguan dan belum bisa melupakan sepenuhnya sakit hatinya setelah dikhianati Rendra. Vera tidak dapat menahan tangisnya saat Damian masuk ke dalam mobil.Dmaian melambaikan tangannya sebelum mobil Damian berlalu pergi.
Setelah beberapa waktu, Vera bisa melupakan semuanya. Tetapi, setelah dia kembali merajut cinta dengan Damian, bayangan itu kembali datang dan menyiksanya.
Hari Demian hari, Vera lalui dengan rasa kesepian. Dia tidak berani menghubungi duluan karena takut jika dia menganggu kesibukan Damian. Jadi, Vera hanya menunggu Damian menghubunginya.
__ADS_1
Menahan rindu selama 5 bulan, membuat Vera memutuskan untuk meminta izin pada orangtuanya, untuk segera menikah dengan Damian. Setelah mendapatkan izin dari orangtuanya, Vera berharap bisa mengatakannya secara langsung pada Damian. Dengan berbekal cinta dan kesetiaan, Vera pergi ke rumah Damian.
Setelah perjalanan setengah hari, sampailah Vera di rumah Damian. Saat itu hari sudah menjelang siang. Bu Farida menyambut kedatangan Vera dengan penuh kasih sayang. Bu Farida meminta Vera untuk mengantarkan makan siang ke kantor Damian sebagai alasan untuk bertemu Damian segera.
Vera menyetujui keinginan calon ibu mertuanya untuk memberi kejutan pada Damian. Dengan diantar sopir pribadi Bu Farida, Vera berangkat menuju ke perusahaan Damian.
Vera menemui resepsionis perusahaan dan mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan pak Damian. Tetapi resepsionis itu tidak mengizinkan Vera bertemu Damian. Akhirnya Vera mengaku sebagai tunangan Damian.
"Mbak, semua orang boleh saja mengaku sebagai tunangannya bos. Tapi setahu kami, pacarnya tadi sudah datang menemui bos. Jadi mbak jangan mangaku sebagai tunangan bos kami," ucap salah satu resepsionis.
Hati Vera sedih, bukan karena dia tidak diizinkan masuk tetapi karena dia mendengar bahwa pacar bos mereka datang hari ini. Vera penasaran meskipun hatinya mencegahnya mencari tahu. Dia juga takut jika apa yang ditakutkannya akan terjadi kembali.
Melihat Vera belum juga masuk, pak sopir pribadi Bu Farida masuk untuk menegur resepsionis yang tidak mengizinkan Vera masuk. Beliau memarahi resepsionis dan mengatakan bahwa Vera bisa saja memecat mereka saat ini juga jika Vera mau.
Vera akhirnya diizinkan masuk atas bantuan pak sopir. Setelah mengucapkan terima kasih, Vera bergegas menuju ruang kerja Damian. Hatinya masih diliputi kekhawatiran dan ketakutan, jika dia melihat Damian bersama orang yang dikatakan resepsionis sebagai pacar Damian.
Vera berhenti di depan pintu yang sedikit terbuka. Hati Vera hancur saat melihat seorang wanita sedang memeluk Damian dari belakang. Ingin rasanya Vera berteriak dan masuk untuk melabrak mereka.
__ADS_1
Tetapi ...
Bersambung