CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
TERTAMPAR KENYATAAN


__ADS_3

Begitu mie sudah jadi, seperti biasa Fan Jianying akan mendahulukan menyajikan mie yang akan dia kirim ke ibu mertua dan neneknya.


Baru kemudian dia akan mengambil untuk dirinya sendiri. Dan sisanya, akan dia berikan kepada para pelayan dan penjaga yang sedang bertugas pagi ini.


Tata krama paling dasar baginya dengan mendahulukan orang tua baru kemudian dirinya dan untuk para pelayan dalam kediamanannya.


“ Kemana mereka akan pergi ?...”, batin servant Meilin penasaran waktu melihat pelayan senior dan satu orang pelayan berjalan keluar dapur sambil membawa nampan..


Diapun segera menyuruh si kembar untuk mengikuti kemana Gaeng pergi. Sedangkan dirinya sendiri masih berada didapur untuk mengawasi Fan Jianying.


Melihat semua pelayan segera bergerombol untuk duduk diatas meja bundar yang ada didapur setelah Fan Jianying selesai mengambil mie  untuk dirinya sendiri, perasaan jijik servant Meilin meningkat.


“ Dasar pelayan rendahan…bagaimana mereka bisa terlihat bersemangat hanya melihat semangkuk besar mie. Apa dalam kediaman ini mereka tidak diberi makan…”, ucap servant Meilin mencibir.


Namun sikap angkuh servant Meilin tampaknya tak mempengaruhi para pelayan yang lainnya. Mereka malah semakin ramah kepadanya dan tidak segan untuk mengajaknya bergabiung.


“ Jika anda tidak ingin kehabisan, silahkan ikut bergabung bersama kami…”, ucap salah satu pelayan ramah.


Pada saat mie dalam panci sudah dituang kedalam mangkuk porselen yang cukup besar dan dihias aneka jamur, acar, serta di rendam dengan kuah susu yang sangat harum membuat semua orang terlihat berusaha keras untuk menahan agar air liurnya tidak menetes.


Servant Meilin yang enggan untuk bergabung dengan semua pelayan disana yang menurutnya statusnya lebih rendah dari dirinya,  terpaksa ikut duduk begitu sikembar datang dan menyeretnya untuk bergabung dengan yang lainnya.


Dimangkuk porselen yang cukup besar tersebut terlihat mie yang sangat kenyal berenang didalam kolam susu yang sangat gurih dan harum.


Titik – titik hijau daun  bawang seperti zamrud yang berkilauan diatas lautan susu, ditambah dengan aneka macam jamur yang dimasak menjadi satu terlihat sangat menggoda.


Begitu uap dari mie panas tersebut naik, aromanya langusung masuk kedalam indera penciuman semua orang.


Membuat servant Meilin membelalakkan kedua matanya pada saat melihat jamur hambar yang dimakannya tempo hari mengapung dengan indah diatas mie, terlihat sangat berbeda dan menggiurkan.


Hingga dirinya tak mampu untuk menahan agar tidak menelan ludahnya beberapa kali agar air liuranya tidak menetes karena aroma dan tampilan mie yang begitu sempurna itu.


Selesai berdoa, semua orang segera bergerak tanpa ada satupun yang bersuara. Servant Meilin yang makan dengan anggun kembali tercengang waktu mendapati mangkuk besar tersebut telah kosong.


Padahal dia baru saja makan semangkuk kecil mie dan ingin menambah. Tapi sayang, gerakannya kalah cepat dengan para pelayan lainnya yang sekarang terlihat sedang memegangi perut mereka karena kekenyangan.


Saat melirik kesamping, servan Meilin dapat melihat jika sikembar juga melakukan hal yang sama dengan para pelayan lainnya.

__ADS_1


“ Apa hanya aku yang masih kelaparan disini ?....”, batin servant Meilin kesal.


Servant Meilin pun mulai berdiri dan berjalan menuju panci dimana mie tersebut direbus.


Dia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak muntah darah sekarang juga waktu melihat panci yang tadinya penuh mie tersebut sudah kosong, bahkan tidak ada setetespun kuah yang tersisa.


Melihat wajah kecewa dari servant Meilin, Gaeng yang sedari tadi geram dengan wanita itu diam – diam tersenyum penuh kemenangan.


“ Tadi saja mencemoh…sekarang malah mencari – cari….”, batin Gaeng mencibir.


Servant Meilin menunduk menatap mangkuk kecil yang dibawanya dengan penuh amarah “ Aku hanya  ingin menikmati makanan yang ada dalam mangkukku secara perlahan. Tapi kenapa semua orang gila ini memakan semuanya. Dan sekarang…apa yang akan aku makan ?...”.


Dalam perjalanan kembali kekamar mereka, Hira tidak bisa lagi untuk menahan diri. Mulutnya terus saja memuji masakan lezat yang dibuat oleh madam ketiga keluarga Bia tersebut.


“ Kakak…bukankah mie tadi sangatlah lezat. Seumur hidup aku baru pertama kali menikmati mie selezat itu….”, ucap Hira dengan kedua mata berbinar.


Melihat sikembar terlihat ceria karena berhasil menyantap banyak hidangan lezat tersebut membuat servant Meilin bertambah geram.


“ Jika aku tahu masakannya selezat itu, kedepannya aku akan makan lebih cepat agar tidak kehabisan lagi…”, batin servant Meilin penuh tekad.


Sementara itu, Bai Cheung bersama Liam yang sedang dalam perjalanan menuju wilayah perbatasan Timur terlihat beberapa kali merubah rute untuk menghindari kejaran musuh yang ingin membunuhnya.


Karena Bai Cheung sudah tahu dalam kehidupannya yang lalu, jika kakak keduanya Bai Wang bersekutu dengan pangeran kedua untuk melengserkan putra mahkota dengan menggunakan hewan mutasi untuk membunuh jenderal besar Tian agar wilayan bagian timur bisa mereka kuasai.


Karena tidak adanya bukti, makanya Bai Cheung turun sendiri untuk mencarinya yang dia yakini bukti – buti tersebut ada diwilayah perbatasan Timur, mengandalkan ingatan dari kehidupan masa lalunya.


Baru saja memasuki wilayan timur, Bai Cheung  dan Liam sudah disambut oleh iklim yang terkenal ekstrim tersebut.


Sejauh mata memandang hanya ada padang rumput kering yang berdebu hingga membuat udara menjadi pengap seperti oksigen terasa menipis disini.


Namun, Bai Cheung dan Liam terus memacu kudanya dengan kecepatan tinggi sambil menghindari beberapa panah yang meluncur kearah mereka.


Keduanya berkuda seharian hingga paha dalam mereka terasa terbakar. Bukan hanya tubuh mereka yang terlihat lelah, bahkan kuda yang mereka tunggangipun hampir mencapai ujung daya tahannya.


Dibawah sinar bulan yang samar, Liam melihat gubuk rumput di pinggiran jalan yang akan mereka lalui membuat wajah lelahnya berubah menjadi ceria.


“ Tuan muda ketiga, ada gubuk rumput didepan. Mengapa kita tidak beristiraha disini saja malam ini ?...”, ucap Liam sambil memacu kudanya agar segera sampai didepan gubuk.

__ADS_1


Bai Cheungpun mengangguk setuju. Bagaimanapun juga, masih ada lima puluh mil lagi untuk sampai kepusat kota tempat semua pasukan perbatasan berada,begitu juga dengan jenderal besar Tian.


Untuk itu, dia memutuskan bermalam disini sambil mengistirahatkan tubuh dan memberi makan kudanya yang seharian ini dia kuras habis tenaganya.


Meski kondisi gubuk sangat tidak layak, namun mereka juga tidak bisa pilih – pilih karena hal itu lebih baik daripada mereka tidur di jalan dengan cuaca dingin seekstrim ini.


Mereka tidak bisa menggunakan api unggun agar tidak menarik musuh dan hewan mutasi yang sedang berkeliaran dialam bebas tersebut.


Bai Cheung mengambil pao kukus yang tadi dibelinya dalam perjalanan dan membaginya kepada Liam. Begitu juga dengan dendeng kering yang dibawanya dari kediamanannya.


Pao kukus dan dendeng kering setidaknya tidak terlalu buruk jika dia mengingat dalam kehidupannya terdahulu, bahkan dia pernah makan rumput saat sedang menderita dan berkeliaran digurun akibat dikhianati oleh Fan Jianying.


Meskipun dia berpikir jika makanan hanyalah sarana untuk mengisi perut, namun entah mengapa makan dendeng kering dengan pao kukus yang sudah dingin dan keras membuatnya kesal.


Sambil mengunyah, Bai Cheung memejamkan kedua matanya membayangkan sup wonton yang segar dan lezat dan  pancake daun bawang yang gurih dan renyah.


Waktu membayangkan uap yang menyembul seolah menyerang indera penciumannya dengan aroma lezat dan gurih itu tiba - tiba saja kesadarannya pulih saat dia merasakan tenggorokannya kering hingga susah untuk menelan makanannya.


“ Berhentilah memikirkan makanan yang dibuat oleh wanita jahat itu !!!...”, batin Bai Cheung kesal sambil mengambil sebotol air minum dan meneguknya.


Setelah tenggorokannya sudah tidsk sakit lagi, Bai Cheung kembali mengigit dendeng kering yang masih tersisa ditanganya.


Saat dia memikirkan jika istrinya saat ini sedang makan malam dengan makanan lezat dalam konidisi yang nyaman, membuat hatinya bertambah kesal.


Setelah memaksa mulutnya untuk mengunyah agar perutnya tidak kelaparan, Bai Cheung melemparkan sisa pao dingin yang keras itu ke sembarang arah sambil mengambil air minum dan mengisi perutnya dengan air.


Dia kemudian mulai berbaring dan berusaha untuk membuat matanya terpejam, meski hanya sesaat. Untuk beristirahat, keduanya bergantian karena musuh yang tidak bisa diprediksi kapan akan datang menyerang.


Liam yang mendapat giliran jaga pertama terlihat sedang menikmati pao kukus dingin yang keras sambil menerawang jauh kedepan.


“ Jika begini, aku merindukan sup wanton berisi daging dan daun bawang yang terasa segar dilidah. Yang dibuat oleh tangan madam ketiga sendiri. Tapi sayang sekali, sepertinya aku sudah tidak bisa memakannya lagi sekarang…”, guman Liam sedih.


Liam segera menoleh waktu merasa punggungnya sangat dingin. Saat memutar kepalanya, dia bertemu dengan mata Bai Cheung yang dingin dan menusuk membuat Liam kesulitan untuk menelan pao yang ada ditenggorokannya.


Tidak ingin mati tersedak, Liampun buru -  buru mengambil air minum dan langsung membasahi tenggorokannya dengan cepat.


Bai Cheung yang sudah tidak mendengar suara apapun berusaha untuk kembali memejamkan matanya dengan ekspresi kaku.

__ADS_1


“ Sial !!!... Kenapa semua orang begitu merindukan wanita jahat itu !!!...”, batin Bai Cheung geram.


Jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam, Bai Cheung sendiri merindukan sosok istri yang sangat dibencinya itu, meski sebisa mungkin dia tutup rapat – rapat agar tidak muncul kepermukaan.


__ADS_2